
Nina dan teman-temannya menikmati ruangan yang indah serta hidangan yang enak dan mewah, sedangkan Bella dan teman-temannya sudah tidak memiliki ***** untuk makan, mereka tetap duduk dan menunggu Nina dan teman-teman yang lain selesai makan, Bella ingin bertanya langsung kepada Nina siapa yang membantu Nina, Bella tidak percaya bahwa Nina bisa menggunakan ruangan VVIP karena berasal dari keluarga konglomerat, Bella berpikir bahwa Nina pasti telah mendapatkan dukungan dari kenalannya yang konglomerat, sehingga bisa menggunakan ruangan VVIP, tiga puluh menit kemudian Nina dan teman-teman kelasnya keluar dengan senyum bahagia yang terlihat di wajah mereka, Bella sangat kesal melihat pemandangan itu, saat Nina sudah berjalan ke kasir untuk membayar makanan yang dihidangkan di ruang VVIP, Bella langsung mengikutinya, Nina menyerahkan sebuah kartu hitam tanpa batas ke kasir, tetapi sebelum pelayan kasir mengambilnya Bella terlebih dahulu merampas kartu itu,
"Hey Nina... Lebih baik kamu jujur saja, konglomerat mana yang sudah membantumu?, Kalau tidak aku akan mematahkan kartu ini" ujar Bella yang sudah jelas terlihat iri. Nina benar-benar sudah tidak tahu mau melakukan apa dengan sikap Bella yang sangat kekanak-kanakan baginya, siapa lagi yang mendukungnya jika bukan keluarganya sendiri pikir Nina,
"Bella.. kembalikan kartuku jika tidak kamu tidak akan bisa menanggung resikonya" Ujar Nina
Mendengar peringatan Nina, Bella hanya tertawa mengejek,
"memangnya apa yang bisa kamu lakukan?, Ayo cepat panggil pendukungmu itu, aku mau lihat orang bodoh seperti apa yang sudah mendukungmu"
"Bella, sekali lagi aku katakan padamu, serahkan kartu itu padaku sekarang juga, aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu" ujar Nina lagi
"Kalau kamu bisa, ambil saja sendiri" jawab Bella dengan tatapan profokasi, Nina sangat kesal, tetapi dia tetap melangkah ke hadapan Bella dan berusaha merebut kartu itu, Bella tidak mau memberikan kartu itu dan malah mempermainkan Nina, di saat Nina akan berhasil merebut kartu itu Bella mendorongnya dengan kuat, di saat akan terjatuh Nina melihat bahwa dirinya akan membentur dinding kaca Cafe itu tetapi tubuh Nina sudah tidak mampu menghindar lagi, sehingga dia hanya bisa menutup matanya dan membiarkan tubuhnya akan membentur dinding itu, Sera dan teman-teman sekelasnya juga sudah tidak mampu menolong Nina karena dorongan Bella yang cepat, tetapi tiba-tiba ada sebuah tangan yang kuat yang memeluknya dan menahan tubuh Nina agar tidak membentur dinding kaca itu. Nina membuka matanya, dia melihat wajah pria tampan yang sangat dekat dengan wajahnya, Daren juga menatap Nina yang sedang menatapnya.. setelah beberapa detik Nina menyadari bahwa orang yang menolongnya agar tidak terbentur dan jatuh adalah Daren, Nina melepas pelukan Daren yang menahannya dengan canggung,
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Daren dengan wajah datarnya yang tampan,
"Iya... Aku tidak apa-apa" jawab Nina
Daren langsung melihat ke arah Bella dan langsung merebut kartu di tangannya dengan kasar kemudian memberikannya kepada Nina,
"Apa ini milikmu?" Tanya Daren kepada Nina
"Mm" Nina menjawab sambil menganggukkan kepala
"Kalau begitu cepat bayarlah, lalu kita kembali"
Nina hanya bisa menuruti permintaan Daren, dia langsung menyerahkan kartu itu kepada pelayan kasir, setelah melihat Nina selesai membayar Daren berjalan keluar, sedangkan Nina masih berdiri diam di depan kasir, mengetahui Nina tidak mengikutinya Daren berhenti dan melihat ke arah Nina,
"Apa kamu tidak ingin kembali?" Ujar Daren
Mendengar perkataan Daren Nina langsung berpamitan kepada Sera, lalu dia langsung bergegas ke arah Daren, di saat mereka sudah keluar dari cafe itu terlihat Bella berlari dan menghampiri Daren dan Nina, Bella terpesona dengan ketampanan Daren begitu pun dengan teman-teman sekelas Nina termasuk Sera, meskipun Daren baru 14 tahun tetapi tinggi dan bentuk tubuhnya sangat profosional untuk anak remaja seukuran mereka,
"Hallo.. perkenalkan namaku Bella, aku dan Nina serta teman-teman lain sedang mengadakan reuni SMP kami, ada terjadi sedikit kesalahpahaman di antara aku dan Nina iya kan Nina" Ujar Bella, Nina yang melihat tingkah laku Bella sedikit jijik,
"Oh ya.. kamu SMA mana?" Tanya Bella kepada Daren, Daren tidak menghiraukan Bella dan langsung melangkahkan kakinya untuk pergi, melihat hal itu Nina langsung tertawa lepas, membuat Bella melihatnya dengan tatapan benci,
"maaf.. kami pergi ya" ujar Nina dengan senyum mengejek kepada Bella, Daren langsung menghentikan taksi yang lewat dan masuk ke dalam taksi tersebut, Nina juga langsung bergegas masuk ke dalam taksi yang di hentikan Daren, setelah keduanya masuk, sopir taksi mulai menjalankan mobilnya, dalam perjalanan tidak ada yang berbicara, Nina melihat Daren bersandar di kursi dan menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menutup mata, Nina sudah mulai bosan, kemudian Nina mulai mencari topik pembicaraan,
"Terima kasih ya atas bantuanmu tadi, jika tidak aku mungkin sekarang sudah di rumah sakit" ujar Nina, tetapi setelah berbicara dia tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Daren, Nina masih berusaha sabar,
"Apakah kamu sudah SMA? Kamu sekolah di mana? Sepertinya kita seumuran" Lagi-lagi Daren tidak menjawab pertanyaan Nina, Nina juga sadar diri dan langsung diam, dia berusaha menahan rasa kesalnya, untuk mengalihkan rasa kesalnya Nina melihat pemandangan di luar jendela, Daren yang sedang menutup mata itu membuka matanya dan melihat Nina yang sedang menikmati pemandangan di luar jendela mobil,
"Tidak perlu berterima kasih padaku, kakakku khawatir padamu itu sebabnya dia memintaku mengikutimu, aku baru saja masuk SMA Nian dan sekarang kelas 1, umurku 14 tahun" ujar Daren, Nina yang sudah ikhlas tidak mendapat tanggapan dan jawaban dari Daren itu sedang menikmati pemandangan di luar jendela mobil, tiba-tiba mendengar Daren menjawab semua pertanyaannya, dia melihat ke arah Daren yang juga sedang menatapnya,
"Kamu sekolah di SMA Nian juga? Aku juga kelas 1 di SMA Nian, tetapi mengapa aku tidak pernah melihatmu ya, berarti aku lebih tua setahun darimu, apa kamu lompat kelas"
"Mm" jawab Daren singkat
"Apa kamu membenciku?" Tanya Nina
"Apa aku punya alasanku untuk membencimu?" Ujar Daren
"Tetapi kamu sering mengabaikanku, apa kamu tidak menyukaiku"
"Tidak"
"Berarti kamu menyukaiku?" Tanya Nina dengan senyum jahil, Daren sadar Nina menjebaknya dengan kata-kata sehingga dia diam dan tidak mau berbicara lagi. Nina melihat Daren tidak mau menjawab lagi langsung memegang tangan Daren untuk berjabat tangan,
"Berarti mulai sekarang kita adalah teman yah, kamu harus mengajakku bermain setelah pulang sekolah, aku tidak punya teman bermain, sahabatku Sera sangat sibuk dengan kerja paruh waktunya, sehingga tidak ada waktu untuk menemaniku bermain oke" Daren yang tiba-tiba tangannya di tarik terkejut dan setelah mendengar permintaan Nina Daren langsung melepaskan tangannya,
"Aku sibuk" jawab Daren
"Aku tidak peduli.. sekarang kamu adalah temanku, satu-satunya yang bisa ku andalkan, jadi kamu tidak bisa mengabaikanku" ujar Nina lagi, Daren hanya bisa menghela nafasnya, berarti sekarang dia harus melayani dua wanita untuk bermain, satu Asyaa dan sekarang Nina.