
Setelah mengantar Nina Daren berpamitan kepada Viana,
"Kakak aku ada urusan sebentar, nanti malam aku akan menjemput Asyaa ya"
"Iya, jangan pulang terlalu malam" ujar Viana.
***
Keesokan paginya Viana, Jebby, dan Nina sarapan bersama di ruang makan,
"Nina kamu ikut naik mobil kakak saja, biar kami antar kamu ke sekolah, lagi pula sekolah dan Perusahaan jalannya searah" ujar Jebby
"Tidak kakak, kalian tidak perlu mengantarku, aku akan naik Bus saja" Nina menolak sambil melambaikan tangannya,
"Mengapa" tanya Viana
"Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin terlalu menonjol, jika aku naik mobil kakak, aku mungkin akan punya banyak teman yang munafik, aku tidak ingin itu terjadi, lebih baik punya sedikit teman tetapi benar-benar tulus, dibandingkan punya banyak teman tetapi palsu semua"
"Baiklah terserah kamu, tetapi kamu jangan buat masalah di sekolah, jika tidak kamu tahu akibatnya" ujar Jebby mengancam
"Kakak tidak perlu mengancamku, aku paham" ujar Nina ketus
Viana hanya bisa tersenyum melihat mereka, setelah makan Nina pergi ke halte bus, sedangkan Viana dan Jebby pergi ke kantor bersama, karena semua orang sudah tahu bahwa Viana adalah istri Jebby, jadi Viana sudah tidak sembunyi-sembunyi lagi untuk keluar masuk mobil Jebby, karena permintaan Viana semua karyawan juga memperlakukan Viana seperti karyawan biasa dan bukan sebagai istri Direktur,
Di ruangannya Jebby sedang memeriksa dokumen,
Pintu ruangannya di ketuk dari luar, yang masuk adalah asistennya Viko,
"Ada apa?" Tanya Jebby
"Bos ini ada dokumen yang membutuhkan tanda tangan anda" ujar Viko sambil menyerahkan dokumen yang ada di tangannya, Jebby mengambil dokumen itu, setelah membacanya dan tidak ada kesalahan maka Jebby langsung menandatanganinya, kemudian menyerahkannya kembali ke Viko, Viko mengambil berkas itu tetapi tidak pergi, Jebby melihat Viko tidak seperti biasa langsung bertanya,
"Apa masih ada lagi?"
Viko terlihat ragu-ragu untuk menjawabnya, tetapi akhirnya dia mengatakan,
"Hanya mengatakan ada rapat saja mengapa harus ragu-ragu begitu? Ujar Jebby
Dalam hati Viko sebenarnya bukan itu yang ingin dia katakan, Viko ingin memberitahu kecurigaan dia soal Asyaa adalah putri Jebby, tetapi saat jam istirahat tadi, Viko pergi ke rumah sakit untuk mengambil laporan hasil tes DNA, tetapi berkas itu sudah tidak ada, seorang perawat asisten Felix berkata bahwa Felix pergi ke Jerman selama 2 minggu untuk penelitian, dan Felix sudah meminta asistennya memberikan laporan itu kepada Viko jika Viko datang, tetapi berkas itu hilang, perawat itu mencarinya ke mana-mana tetapi tidak menemukannya, Viko jadi tidak bisa memastikan apakah kecurigaan dia benar atau tidak. Di saat Viko akan pergi ke luar tiba-tiba seorang karyawan mengetuk pintu dan bergegas masuk dengan napas yang tidak teratur karena berlari kemari,
"Direktur.. Perusahaan kita di serang oleh hacker, kami tidak bisa menghentikannya, hacker itu sangat hebat" ujar karyawan itu, mendengar laporan karyawan itu Jebby langsung berdiri dan bergegas ke ruang IT Perusahaan, para karyawan di ruang IT sibuk berusaha menghentikan hacker tersebut, tetapi tetap tidak bisa menghentikannya, sudah ada beberapa file yang hilang dan itu adalah file-file penting Perusahaan, kepala bagian IT datang menghampiri Jebby,
"Direktur sepertinya kami benar-benar tidak bisa menghentikannya, kami hanya bisa berusaha bertahan, tetapi kalau begini caranya kita akan kehilangan makin banyak" ujar kepala bagian IT itu, tiba-tiba Jebby memiliki ide di pikirannya,
"Viko, cepat kamu jemput Asyaa di sekolahnya, dan segera bawa dia kemari, cepat.." perintah Jebby, Viko yang mendengar perintah Jebby tidak habis pikir, Perusahaan sedang di serang hacker untuk apa membawa Asyaa kemari,
"Tetapi boss... Perusahaan sedang di serang dan sudah kehilangan berkas-berkas penting, untuk apa membawa Asyaa kemari?" Tanya Viko dengan bingung, melihat Viko tidak melaksanakan perintahnya Jebby sangat marah,
"Viko sekali lagi aku katakan, segera bawa Asyaa ke sini, cepaaaatt" bentak Jebby, Viko yang dibentak langsung sadar meskipun dia tidak mengerti mengapa harus membawa Asyaa ke Perusahaan, Viko bergegas pergi untuk menjemput Asyaa, sampai di sekolah Asyaa, Viko langsung meminta kepala sekolah untuk membawa Asyaa kepadanya, kepala sekolah mengenal Viko sebagai asisten Jebby jadi dia langsung menurutinya, Viko membawa Asyaa ke mobil, di dalam mobil Asyaa bertanya kepada Viko,
"Paman, ada apa? Mengapa menjemputku padahal belum waktunya pulang sekolah"
"Paman tidak tahu sayang, paman Viko hanya disuruh oleh paman Jebby untuk menjemput Asyaa, Asyaa duduk dengan baik ya, kita akan main balap-balapan apa Asyaa takut?" Tanya Viko sambil memasang sabuk pengaman Asyaa dan memastikan bahwa sabuknya terpasang dengan baik, Asyaa yang mendengar bahwa mereka akan main balap-balapan matanya langsung bersinar,
"Asyaa tidak takut paman, ayo main balap-balapan"
Viko mempercepat mobil agar sesegera mungkin cepat sampai ke Perusahaan, Asyaa merasa senang meskipun kecepatan mobil di atas rata-rata tetapi Viko tetap terus memastikan kondisi Asyaa apakah Asyaa takut atau tidak, tetapi diluar dugaan Viko, Asyaa sama sekali tidak takut, justru dia terlihat sangat gembira, meskipun mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Beberapa menit kemudian Viko sampai juga di Perusahaan, Viko langsung bergegas memeluk Asyaa dan membawa Asyaa kepada Jebby yang sedang berada di ruang IT, sesampainya di ruang IT mata Asyaa langsung berbinar melihat begitu banyak komputer di mana-mana, Viko langsung menurunkan Asyaa dari pelukannya, Jebby yang melihat kedatangan Asyaa langsung menghampirinya dan berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Asyaa, semua para karyawan IT bingung dengan kelakuan Direktur mereka, mereka mengira Jebby ingin bermain dengan Asyaa,
"Asyaa, Perusahaan paman sedang diserang hacker, bisakah Asyaa membantu paman? Ujar Jebby, mendengar perkataan Jebby semua karyawan terkejut dan langsung melihat ke arah Jebby dan Asyaa, bahkan kepala IT merasa Jebby sedang bercanda, begitu pun dengan Viko,
"Boss, apakah anda sedang bercanda? Bahkan semua karyawan kita yang ahli di bidang IT tidak bisa menghentikan hacker ini, apalagi Asyaa yang bahkan mungkin menyalakan komputer saja tidak bisa" ujar Viko, Jebby yang mendengar ucapan meremehkan Viko tehadap Asyaa hanya tersenyum sinis,
"Paman Viko, Asyaa bisa kok menyalakan komputer, jangankan menyalakan komputer, Asyaa juga bisa mematikan komputernya" ujar Asyaa kesal, hanya menyalakan komputer saja bagaimana mungkin dia tidak bisa, kakak Darennya mengajarkan banyak hal padanya, dia tidak ingin hal-hal yang diajarkan oleh kakaknya itu sia-sia. Semua karyawan mendengar perkataan Asyaa langsung tertawa kecuali Jebby, Jebby langsung memeluk Asyaa dan berjalan ke depan komputer yang di duduki oleh karyawan yang terkenal paling di andalkan oleh perusahaan,
"Berdiri" ujar Jebby
karyawan itu bingung dengan hal yang dilakukan Jebby, melihat karyawan itu tidak mau berdiri dari tempat duduknya Jebby menatapnya dengan marah, melihat tatapan marah Jebby karyawan itu langsung paham dan berdiri dari kursinya, setelah karyawan itu berdiri Jebby langsung mendudukkan Asyaa di kursi itu.