
"Apa anda tidak ingin menemuinya?" Tanya Theo
"Cukup mengetahui kabarnya baik-baik saja aku sudah sangat senang, aku tidak berani menemuinya, kamu tahu sendiri aku sudah bertunangan, bagaimana mungkin aku bersikap serakah" jawab Hansel dengan suara lemah,
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa" telepon di matikan dari seberang, Theo merasa sangat kasihan, seorang pria yang begitu mencintai satu wanita, tetapi dia harus menikah dengan orang lain, ternyata sungguh ada cinta yang seperi itu, dia pikir hanya ada dalam novel dan drama tv.
Keesokan harinya Asyaa dan Freya sedang duduk di sofa membahas bagaimana bisa menemukan Hansel,
"Apa kamu ingat wajahnya?" Asyaa menggelengkan kepala, Freya dan Asyaa sama-sama berpikir, tiba-tiba Asyaa ingat kalung yang diberikan Hansel, kalung itu bergambar sebuah simbol, dia langsung menghadap Freya,
"Ada apa?" Tanya Freya bingung melihat Asyaa memegang bandul kalung yang sedang dipakainya,
"Kalung ini diberikan oleh Kakak Hansel waktu aku kecil" ujar Asyaa,
"Benarkah?" Freya mendekat dan melihat kalung itu dari dekat, dan membalik bandul kalung itu, Freya terkejut melihat simbol yang tergambar di atasnya, melihat wajah Freya yang terkejut Asyaa bertanya,
"Ada apa? Apakah ini tidak bisa memberi petunjuk?"
"Tidak-tidak.. justru ini bisa membuat kita bisa menemukan kakak Hanselmu..!"
"Benarkah?" Mata Asyaa berbinar hampir tidak percaya,
"Iya, ini adalah simbol keturunan Raja, dan tidak sembarang orang di Negara ini yang bisa memakai simbol itu jika bukan keturunan Raja langsung, itu berarti kakak Hanselmu adalah keturunan kerajaan Negara M, jika kamu tidak percaya aku akan mencarinya di internet" Freya segera mengotak atik ponselnya mencari simbol keturunan kerajaan Negara M, benar saja mesin pencarian menampilkan gambar yang sama dengan gambar yang ada di kalung Asyaa, hal itu membuat mereka bahagia dan saling berpelukan, tetapi tiba-tiba raut wajah Asyaa berubah sedih,
"jika Kakak Hansel adalah keturunan Raja, berarti dia bukan orang biasa, dia mungkin tidak ingin mengenaliku lagi kan, itu sebabnya dia tidak pernah menemuiku meski dia tahu aku berada di mana"
"Asyaa, apa kamu ingin menyerah sebelum berjuang? Tidak peduli siapa dia, kita akan menemuinya, bukankah kamu sangat merindukannya?" Freya berusaha menyemangati Asyaa yang kehilangan kepercayaan diri.
"Tetapi, bagaimana jika dia mengusirku saat bertemu? Apa yang harus aku lakukan?"
"Mengapa dia harus mengusirmu? Lihat dirimu, kamu adalah wanita yang sangat cantik, imut dan cerdas, kamu putri dari seorang pebisnis hebat bahkan ayahmu adalah orang terkaya ke dua di dunia, laki-laki mana yang tidak ingin memilikimu, semua pria-pria di kampus kita mengenalmu dan menjadi penggemarmu, kamu menjadi bahan pembicaraan di antara mereka, kamu gadis yang cantik lah, gadis yang cerdas lah, gadis yang baik dan ramah lah, begitu pun di kalangan wanita, hanya saja kamu tidak tahu, dahulu aku tidak mengerti mengapa kamu tidak tahu bahwa kamu begitu populer, tetapi sejak mengenalmu aku baru tahu bahwa kamu tidak peduli dengan pandangan orang lain, kamu hanya melakukan apa yang ingin kamu lakukan, dan aku pun tahu mengapa tidak ada satu pria pun yang bisa meluluhkan hatimu, itu karena posisi kakak Hanselmu begitu kuat menempati ruang di hatimu" jelas Freya
"Freya terima kasih karena sudah menghiburku" mendengar Asyaa mengatakan bahwa dirinya menghibur Asyaa Freya ingin menangis, dia mengatakan kenyataannya, apakah Asyaa begitu tidak tahu bahwa dirinya sebaik itu, pikir Freya merasa frustrasi.
Selama seminggu Asyaa dan Freya berusaha mencari tahu keturunan Raja, mereka mengetahui bahwa Raja memiliki 3 orang putra dan 3 orang keponakan. Keponakan adalah keturunan Raja jadi itu berarti ada kemungkinan Hansel merupakan anak Raja atau keponakan Raja, namun hanya dua orang yang umurnya sesuai dengan Hansel, satu Putra Raja dan satu lagi keponakan Raja, hal itu membuat Asyaa dan Freya akan lebih cepat mengenali Hansel.
Tiga hari lagi akan ada pesta ulang tahun seorang putra menteri, dan putra menteri tersebut terkenal berteman dengan para keturunan Raja, itu berarti ada kemungkinan Asyaa bisa bertemu Hansel, kebetulan Theo mendapat undangan dari putra menteri tersebut,
"Kakak, tolong bantu aku ya, Asyaa ingin bersenang-senang di Negara ini tetapi aku tidak tahu harus membawanya ke mana, karena kamu bawa dia ke pesta ya, aku akan pergi bersama Marvin" ujar Freya,
"Apa, mengapa kamu akan pergi bersama Marvin?" Tanya Theo dengan ekspresi tidak senang,
"Kakak, Marvin itu sahabatmu untuk apa begitu galak?" Jawab Freya cemberut,
"Kali ini aku izinkan kamu pergi bersama Marvin, tetapi jangan macam-macam, Marvin itu playboy"
Mendengar penjelasan Freya Theo akhirnya tenang, melihat pertengkaran mereka Asyaa jadi merindukan Ayden, dia masuk ke kamarnya dan melakukan panggilan video kepada Viana, setelah di angkat Viana terkejut melihat Asyaa sangat sedih,
"Ibuuuu..."
"Sayang, ada apa? Mengapa menangis? Apa ada yang mengganggumu?" Mendengar pertanyaan Viana Asyaa menggelengkan kepala,
"Lalu mengapa menangis?"
"Aku merindukan Ayah, ibu, dan Ayden, hiks..hiks..hiks"
"Sayang, bagaimana kalau kamu kembali saja" ujar Viana, Jebby yang masuk ke kamar setelah bekerja itu mendengar Asyaa menangis dalam panggilan Video segera bergegas ke samping Viana?"
"Ada apa? Mengapa menangis, bukankah ayah bilang harus kuat? harus sabar?, Ayah akan segera datang menjemputmu" ujar Jebby yang akan berdiri, mendengar Jebby akan datang menjemputnya, Asyaa segera berkata,
"Ayah, aku tidak apa-apa, aku hanya merindukan kalian?, Jadi tidak perlu menjemputku, aku yakin sebentar lagi aku akan bertemu Kakak Hansel"
"Kamu harus janji kepada ayah, setelah bertemu Hansel kamu harus segera kembali, kalau tidak ayah sendiri yang akan datang menjemputmu" ujar Jebby dengan tegas,
"Ayaaah.." tidak tahan melihat wajah Asyaa yang kasihan Jebby segera mengalihkan pandangannya dan membiarkan Viana mengambil alih panggilan Video itu.
"Ibuuu.. "
"Sayang, apa yang ayahmu katakan demi kebaikanmu, kamu harus baik-baik saja di sana, kalau tidak kamu tahu sendiri bagaimana sikap ayahmu kan" Viana berusaha membuat Asyaa mengerti,
"Baik ibuuu, aku janji"
"Jika kamu tidak tahan, segera telepon ibu atau ayah, kami akan segera datang menjemputmu"
"Iya ibuuu, aku tutup ya teleponnya" setelah berbicara dengan Jebby dan Viana, Asyaa janji untuk tidak bersedih lagi, kalau tidak ayahnya akan datang menjemputnya.
Hari pesta ulang tahun putra menteri telah tiba, Theo dan Marvin sedang menunggu Asyaa dan Freya yang belum selesai berdandan,
"Kamu jangan macam-macam kepada Freya" ujar Theo kepada Marvin, mendengar hal itu Marvin hanya tersenyum,
"Kamu tahu aku menyukai Freya sejak lama, tidak bisakah kamu mengikhlaskan adikmu untukku?
"Aku tidak percaya padamu, wanitamu di mana-mana, bisa-bisa adikku akan terus menangis disakiti olehmu"
"Apakah kamu begitu tidak percaya padaku?"
"Apakah kamu tidak tahu" Marvin hanya bisa meringis mendengar ucapan Theo.