That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 54



Di sebuah vila yang cukup mewah Asyaa yang sedang tertidur di kasur mulai terbangun, dia membuka matanya dan melihat seisi ruangan itu berbeda dengan kamarnya maupun kamar Viana dan Jebby, Asyaa bangun dan membuka pintu kamar tersebut, dia melihat tiga meter dari kamarnya ada sebuah tangga menuju ke bawah, ternyata kamar tempatnya tinggal berada di lantai dua, Asyaa menuruni tangga dengan kaki kecilnya sambil memanggil Viana dan Jebby,


"Ayaaah.. Ibuuu.., Ayaaah.. Ibu..,mengapa tidak ada yang menjawabku" ujar Asyaa, tiba-tiba dari arah dapur seorang pelayan wanita berlari menghampiri Asyaa,


"Nona kecil sudah bangun?" Tanya pelayan itu, Asyaa tidak menjawab melainkan memperhatikan pelayan itu dengan baik,


"Di mana Ayah dan Ibuku?" Tanya Asyaa


"Soal itu saya tidak tahu Nona, lebih baik Nona menanyakannya pada Tuan, jika Tuan sudah kembali" ujar pelayan itu,


"Siapa Tuan?" Asyaa melihat pelayan itu dengan tatapan dingin, sikap itu seperti Jebby yang mempertanyakan sesuatu yang penting, pelayan itu merasa tertekan dan salah tingkah di tatap seperti itu oleh Asyaa, bagaimana mungkin seorang anak kecil membuat aku merasa tertekan pikir pelayan itu,


"Di mana Tuan yang bibi bilang? Aku ingin menanyakan orang tuaku, dan kita ada di mana saat ini?"


"Tuan belum pulang, aku tidak diizinkan mengatakan apapun, oh ya.. apa Nona kecil lapar? Aku sudah membuatkan makanan"


"Baiklah, bawa aku untuk makan" saat perjalanan ke dapur Asyaa baru ingat bahwa dia diculik di depan gerbang sekolah, dia sempat menghentikan langkahnya, tetapi dia sudah lapar jadi dia tetap harus makan walaupun diculik pikirnya, jadi dia kembali mengikuti langkah pelayan itu ke dapur, sesampai di dapur Asyaa duduk di kursi di meja makan sudah tertata berbagai macam makanan dan juga ada berbagai kue tart, pelayan melayani Asyaa untuk makan,


"apa Nona kecil ingin makan nasi?" Asyaa menganggukkan kepalanya, pelayan itu mengambilkan nasi ke mangkuk Asyaa,


"Apa Nona kecil mau udang?" Lagi-lagi Asyaa hanya menganggukkan kepalanya, pelayan itu mengupaskan udang satu persatu, juga meletakkan sayur dan daging lainnya di mangkuk Asyaa, Asyaa makan sampai kenyang, kemudian dia menunjuk kue stoberi di atas meja, pelayan itu memberikan kue yang tadi ditunjuk kepada Asyaa, Asyaa turun dari kursi dan menuju ruang tamu sambil membawa potongan kue stoberi itu, dia duduk di sofa, di hadapannya ada sebuah tv besar juga ada remot tv terletak di atas meja, Asyaa meletakkan kuenya di sofa lalu mengambil remot itu kemudian kembali ke sofa, dia menyalakan tv dan mulai mencari siaran untuk anak-anak, Asyaa menonton tv sambil memakan kue yang tadi dibawanya dari ruang makan, Asyaa memang terlihat sedang menonton tv, tetapi kepala kecilnya sedang berpikir, siapa orang yang membawanya ke sini dan untuk apa orang itu membawanya ke sini,


"Nona kecil, saya akan menemani anda menonton ya" ujar pelayan itu dengan senyum manisnya, kedatangan pelayan membuyarkan pikiran Asyaa, Asyaa hanya melihat pelayan itu tanpa menanggapinya, pelayan itu duduk di sofa yang sama dengan Asyaa.


"Nona kecil, siapa namamu?" Pelayan itu bertanya dengan senyum riang berusaha mendekatkan diri, tetapi lagi-lagi Asyaa tidak menanggapinya,


"Nona kecil kamu sangat menggemaskan, aku ingin berteman denganmu, perkenalkan namaku Alin, panggil saja aku bibi Alin" Pelayan itu kembali berbicara, Asyaa hanya melihatnya sekilas lalu kembali meleparkan tatapan ke arah tv yang sedang menayangkan kartun favoritnya,


Tiba-tiba ponsel Alin berbunyi, Alin menjawab ponsel itu tanpa beranjak dari duduknya,


"Halo.. ya Tuan"


"Iya Tuan, Nona kecil sudah bangun" Asyaa melirik Alin yang sedang berbicara di telepon,


"Iya, saya sudah memberinya makan, dan saat ini Nona kecil sedang menonton tv"


"Tidak... Iya, baiklah" hanya terdengar Alin yang menjawab, suara dari seberang telepon tidak terdengar sama sekali, setelah itu Alin menutup teleponnya, Asyaa kembali melihat ke arah tv, seolah-olah tidak memperhatikan Alin yang menjawab telepon tadi,


"Bibi Alin, sejak tadi kamu menyebut Tuan Tuan terus, siapa nama Tuanmu?, dan mengapa tidak mengembalikan aku kepada orang tuaku saja jika dia tidak bisa pulang?"


"Nona kecil, aku tidak bisa mengembalikanmu, karena Tuan akan sangat marah kepadaku"


"Mengapa Tuanmu membawaku ke sini?"


"Aku juga tidak tahu Nona kecil, tetapi Nona kecil tenang saja, Tuan adalah orang yang baik" tidak mendapat jawaban yang memuaskan, Asyaa kembali memperhatikan kartun yang sedang tayang, tetapi dia kembali memperhatikan se isi ruangan, Asyaa tidak menemukan telepon rumah satu pun di rumah itu, jika dia ingin meminjam ponsel kepada Bibi Alin, Bibi Alin pasti tidak akan memberikannya, pikir Asyaa.


"Bibi Alin, aku ingin jalan-jalan di luar, aku ingin melihat pemandangan, sepertinya di luar pemandangannya sangat cantik" ujar Asyaa


"Baik Nona kecil, mari saya antar" Alin berdiri untuk menuntun Asyaa jalan-jalan, benar saja setelah keluar terlihat sebuah danau yang cukup luas di samping rumah itu, dan tidak ada tetangga atau gedung lainnya, rumah itu lebih cocok disebut vila, pemandangannya sangat indah, terlihat pegunungan yang cantik setiap melemparkan pandangan dikejauhan, vila itu membawa kadamaian untuk setiap orang yang tinggal di dalamnya, setelah melihat-lihat se keliling vila, Asyaa paham bahwa vila itu jauh dari pusat kota, Asyaa kembali ke dalam vila,


"Loh.. Nona kecil, sudah tidak ingin jalan-jalan lagi?" Ujar pelayan yang sedang mengikuti di blakangnya,


"Siapa yang ingin jalan-jalan dalam keadaan diculik, dasar bodoh" gumam Asyaa cemberut. Setelah sampai di dalam vila, Asyaa naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya, saat bangun tadi dia tidak terlalu memperhatikan sekeliling kamar, ternyata di dalam kamar itu ada banyak boneka dari ukuran kecil sampai ukuran besar, tetapi Asyaa tidak berminat pada semua itu, meskipun Asyaa anak yang cerdas tetapi dia tetap saja anak kecil yang memiliki rasa takut terhadap lingkungan dan orang yang tidak dia kenal, air mata Asyaa mengalir di pipinya, Asyaa mengambil salah satu boneka beruang yang mirip dengan boneka kesayangannya dan memeluknya erat-erat.


"Ayaaah.. ibuuu... Kalian di mana? Aku takuuut, Kakak Daren, Nenek, kakek.. datang jemput aku, aku merindukan kalian, aku takuuut" Asyaa menangis tersedu-sedu, Alin yang datang untuk mengantarkan ice crem buatannya terkejut mendengar Asyaa menangis, Alin mempercepat langkahnya dan memasuki kamar Asyaa, Alin meletakkan ice cream di meja samping tempat tidur setelah itu dia menggendong Asyaa untuk menenangkannya,


"Nona kecil, Nona kecil jangan menangis lagi ya, bibi Alin membuatkan ice cream untuk Nona, maukah Nona mencobanya?" Ujar Alin sambil menggendong dan mengelus-elus punggung Asyaa yang sedang menangis.


"Bibi Alin, aku ingin pulang, aku rindu ibu, ayah dan semua orang di rumah, aku mohon antar aku pulang" ujar Asyaa sambil menangis,


"Bibi Alin tidak bisa Nona kecil"


"Mengapa tidak bisa? Kalau begitu aku mau menelpon orang tuaku, pinjami aku telepon, aku akan meminta mereka menjemputku"


"Maaf Nona kecil, Tuan tidak akan mengizinkannya"


"Tuanmu tidak ada"


"Maaf Nona" Asyaa tahu seberapa pun dia memohon untuk meminjam ponsel tidak akan diberikan oleh Bibi Alin,


"Turunkan aku, dan kamu keluar dari sini" Bibi Alin menuruti permintaan Asyaa, setelah dia menurunkan Asyaa, dia keluar dari kamar Asyaa. Asyaa sudah tidak menangis lagi, dia melihat ice cream yang di bawa oleh bibi Alin tadi, dia naik ke tempat tidur dan mengambil ice cream itu lalu mulai memakannya,


Di ruang tamu Alin menelpon Tuannya lagi..