That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 101



Sebelum mengganti pakaian Asyaa berusaha menelpon Theo untuk berjaga-jaga bila sesuatu terjadi padanya, namun Theo tidak mengangkatnya, maka dari itu Asyaa mengirim pesan bahwa seorang pengawal datang menjemputnya untuk menemui seseorang, sebelum pergi Asyaa juga menelpon Rafka tetapi Rafka juga tidak mengangkatnya karena sedang rapat, ponselnya dalam mode diam. saat Asyaa merasa dalam bahaya orang yang dia pikirkan pertama kali adalah Rafka, tetapi karena status Rafka yang sudah memiliki tunangan membuat Asyaa lebih memilih menelpon Theo, namun di saat Theo tidak menjawabnya maka dia kembali mengikuti kata hatinya untuk menelpon Rafka. 1 jam kemudian Theo yang baru saja selesai melatih beberapa prajurit baru untuk latihan tembak melepaskan pelindung telinganya, barulah memeriksa ponselnya, ternyata ada 2 panggilan masuk dari Asyaa dan 2 pesan, pesan pertama berisi pemberitahuan bahwa Asyaa di jemput seseorang, pesan ke dua adalah pesan yang berisi alamat, yang di kirim Asyaa setelah sampai di depan sebuah restoran tersebut. Setelah melihat pesan itu Theo tahu siapa orang yang mengajak Asyaa bertemu. Theo bergegas pergi menuju restoran tersebut, dalam perjalanan Theo juga menghubungi Rafka, tetapi tidak terhubung sama sekali. Sesampainya di restoran Theo melihat Asyaa keluar dari ruangan vvip seorang diri, melihat Asyaa baik-baik saja Theo merasa lega, karena jika terjadi sesuatu kepada Asyaa dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya kepada Rafka dan Freya.


"Mana orang yang mengajak kamu bertemu?" Ujar Theo melihat ke sekeliling mereka.


"Sudah pergi"


"Apa kamu baik-baik saja?" Jelas Theo tahu orang yang mengajak Asyaa bertemu adalah Paman Ali, dan kurang lebih dia tahu isi pembicaraannya, yaitu meminta Asyaa untuk menjauhi Rafka. Theo dan Rafka teman sejak kecil, dan Paman Ali sudah seperti Ayah dan Kakak bagi mereka berdua, jadi Theo tahu bagaimana sifatnya. Paman Ali adalah orang yang tidak suka jika kerja kerasnya sia-sia, selama ini Rafka dan Theo mengira Paman Ali tidak tahu keberadaan Asyaa di Negara ini, tapi ternyata mereka salah. Theo membawa Asyaa pulang ke rumah.


Di kantornya Rafka yang baru selesai Rapat mulai memeriksa dokumen, tidak lama kemudian ponselnya berbunyi itu adalah Theo,


"Halo"


"Apa yang sedang kamu lakukan?"


"Apa lagi?, Jelas sedang bekerja"


"Wah, gadis kecilmu telah diancam oleh Paman Ali bisa-bisanya kamu malah bekerja?


"Kapan?" Nada Rafka berubah menjadi dingin,


"Baru saja, kami baru kembali dari restoran tempat mereka bertemu"


Setelah mendengar jawaban Theo Rafka segera menutup teleponnya. Rafka bergegas ke parkiran mengambil mobilnya dan mengendarainya menuju kediaman Paman Ali.


Sesampainya di kediaman Paman Ali, Rafka bergegas masuk tanpa mengetuk pintu. Paman Ali yang sedang sibuk memilih buku yang ingin dia baca di rak ruang kerjanya tidak terkejut sedikit pun, seolah-olah dia tahu Rafka akan datang untuk mencarinya.


"Aku sudah bilang jangan pernah menemuinya, mengapa Paman lakukan itu?" Baru kali ini Paman Ali melihat Rafka marah, karena selama ini Rafka begitu patuh padanya dalam hatinya sedikit terkejut, tetapi dia menjadi paham, kelemahan Rafka adalah Asyaa.


"Jika dari awal kamu mendengarkan apa yang Paman katakan, maka Paman mungkin tidak akan pernah menemuinya, tetapi apa yang kamu lakukan? Kamu justru hampir setiap hari bertemu dengannya, dan apa kamu tahu? Menteri Pertahanan 3 hari yang lalu menghubungiku, dia mengatakan bahwa kamu membuat Helena menangis, kamu jelas tahu betapa dia menyayangi putrinya, dan kamu tahu apa yang dia katakan kepada Paman? Dia memintaku untuk memperingatimu, jika tidak kamu akan menyesalinya"


"Apa karena itu Paman menemui Asyaa?"


"Jika aku tidak menemuinya, apa kamu ingin melepas semua yang sudah kita capai saat ini? Apa kamu lupa bagaimana perjuangan kita menjebloskan kedua kakakmu di penjara? Apa kamu lupa bagaimana susahnya meyakinkan orang-orang yang memihak ayahmu dulu agar bisa memihak kita? Kamu jangan bertindak bodoh hanya karena wanita yang kamu sukai"


"Aku yang akan mengurusnya, Paman jangan pernah menemui Asyaa lagi, jika tidak aku tidak akan peduli dengan apapun" Rafka berbalik dan akan keluar tetapi suara Paman Ali kembali terdengar.


"Rafka.. jika kamu berani menemui Asyaa sebelum pelantikan ini kamu akan menanggung risikonya, kamu tahu sifat Paman kan?" Mendengar hal itu Rafka berhenti sejenak, dia mengepalkan tangannya dengan erat karena menahan amarahnya, kemudian melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan ruangan itu.


Setelah keluar dari ruangan itu Rafka kembali ke kediamannya, tidak lama kemudian seseorang datang ke kediamannya dengan membawa banyak dokumen yang harus dia tanda tangani,


"Apa di masalah di tempatmu?" Rafka menandatangi dokumen-dokumen tersebut sambil mengajukan beberapa pertanyaan.


"Sampai saat ini tidak ada masalah, Tuan tenang saja, justru perkembangannya sangat baik di setiap bulannya," jelas orang tersebut.


"Tidak Tuan, saya yang seharusnya berterima kasih, karena berkat anda saya bisa memiliki pekerjaan yang sangat layak, sampai kapan pun saya akan menjaga amanah anda"


"Baiklah, Terima kasih"


"saya pamit terlebih dahulu Tuan" Pria itu pergi dengan semua dokumen yang sudah di tanda tangani oleh Rafka"


Setelah kepergian orang itu, Rafka kembali merasa kesepian, dia sangat ingin menghubungi Asyaa, tetapi dia tidak bisa karena mengingat peringatan Paman Ali.


Setelah keluar dari ruangan itu Rafka kembali ke kediamannya, tidak lama kemudian seseorang datang ke kediamannya dengan membawa banyak dokumen yang harus dia tanda tangani,


"Apa di masalah di tempatmu?" Rafka menandatangi dokumen-dokumen tersebut sambil mengajukan beberapa pertanyaan.


"Sampai saat ini tidak ada masalah, Tuan tenang saja, justru perkembangannya sangat baik di setiap bulannya," jelas orang tersebut.


"Tidak Tuan, saya yang seharusnya berterima kasih, karena berkat anda saya bisa memiliki pekerjaan yang sangat layak, sampai kapan pun saya akan menjaga amanah anda"


"Baiklah, Terima kasih"


"saya pamit terlebih dahulu Tuan" Pria itu pergi dengan semua dokumen yang sudah di tanda tangani oleh Rafka"


Setelah kepergian orang itu, Rafka kembali merasa kesepian, dia sangat ingin menghubungi Asyaa, tetapi dia tidak bisa karena mengingat peringatan Paman Ali, Rafka hanya bisa menahannya rindunya dengan foto Asyaa yang ada di ponselnya.


Sedangkan Asyaa yang berada di rumah Theo sedang duduk melamun di sofa, Freya yang baru selesai mandi melihat tingkah Asyaa tidak seperti biasanya.


"Asyaa.. Asyaa.." Freya memanggil Asyaa dua kali tetapi Asyaa tidak mendengarnya.


"Hey Asyaa.." Freya datang ke samping Asyaa lalu menepuk bahunya, hal itu membuat Asyaa terkejut.


"Freya, ada apa?" Tanya Asyaa dalam keadaan bingung.


"Ada apa, ada apa, seharusnya aku yang bertanya padamu, ada apa? Mengapa kamu melamun, apa ada masalah?"