
Jebby membuka pintu kamar dengan sangat pelan agar tidak membuat Viana terbangun, tetapi Viana tetap terbangun kali ini, Viana melihat Jebby baru masuk ke kamar dan melihat jam kecil di atas nakas samping tempat tidur sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi,
"Kamu baru selesai bekerja?" Tanya Viana
"Mm" jawab Jebby singkat,
Setelah bertanya Viana kembali tidur, Jebby juga naik ke atas kasur dan bersiap untuk tidur, keesokan paginya Viana bangun tetapi masih menutup matanya, dia merasa ada sesuatu yang menindihnya dan sedang bergerak-gerak di atas tubuhnya, Viana membuka matanya dan melihat seorang gadis berada di atas tubuhnya sedang memeluknya Viana sangat terkejut dan berteriak. Begitu pun dengan Nina dia juga berteriak karena orang yang dia peluk bukanlah kakaknya Jebby.
"Siapa kamu?" Tanya Viana
"Kamu siapa" Nina tidak menjawab justru kembali bertanya, Jebby yang sedang bekerja di ruang kerja karena akhir pekan mendengar teriakan dari kamar Viana langsung bergegas untuk melihatnya, sesampai di kamar dia melihat Viana dan Nina saling memandang satu sama lain, setelah ke datangan Jebby Nina langsung bertanya
"kakak siapa dia? kamu membawa pacarmu ke rumah?, Waahh baru kali ini aku melihat kamu menyukai seorang wanita, halo kakak cantik namaku Nina, aku adik kandungnya kakak Jebby"
"Halo... Aku Viana" Viana juga memperkenalkan dirinya sambil tersenyum melihat tingkah Nina yang sangat manis,
"Siapa yang kamu panggil kakak cantik? Panggil kakak ipar, dia adalah istriku kami sudah mengambil surat nikah" ujar Jebby
"Waaahhh kakak, kamu menikah dan tidak memberitahu ibu dan ayah? Kamu benar-benar luar biasa, nanti saat aku menikah juga tidak akan memberitahu keluarga kita, dan juga tidak akan memberi tahumu"
"Apa kamu berani? Aku akan mengirimmu kembali ke Amerika hari ini juga, aku tidak punya waktu menjaga gadis nakal sepertimu,"
Nina langsung berlari ke belakang Viana dan memegang lengannya yang sedang berdiri,
"Kakak ipar.. tolong aku, aku tidak ingin kembali ke Amerika, bicaralah pada kakakku, aku mohon ya..ya.."
Viana tersenyum dengan tingkah Nina dan membantunya berbicara kepada Jebby,
"Kamu jangan galak kepadanya, biarkan saja dia tinggal di sini bersama kita, dia juga sudah besar tidak mungkin merepotkanmu" Ujar Viana
"Tidak mungkin merepotkanku? Huuuhh" Jawab Jebby dengan sinis
"mengapa kamu begitu galak, dia adikmu" Viana memarahi Jebby, membuat Jebby harus mengalah.
"Oke..baiklah, Nina boleh tinggal di sini tetapi jangan membuat kekacauan seperti yang sering kamu lakukan" Ujar Jebby kepada Nina, mendengar dapat izin dari kakaknya Nina sangat senang dan langsung memeluk Viana.
"Aku kembali ke kamar ya.." Nina kembali ke kamarnya dengan senang, sesampai di kamarnya Nina langsung menekan ponselnya dan mulai menghubungi seseorang, setelah teleponnya terhubung orang di seberang langsung marah-marah.
"Halo, anak nakal di mana kamu?..berani-beraninya kamu kabur lagi dari rumah?" Teriak orang yang di seberang telepon.
"Aduuuhh, ibuuuu.. kamu tidak perlu marah-marah, Nina punya kabar bahagia untukmu" ucap Nina
"Anak nakal, kamu jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan"
"Aduuuhh... Ibu aku serius"
"Serius-serius, cepat kamu pulang kalau tidak kakakmu akan sangat marah"
"Apa yang kamu bicarakan? Istri kakakmu apa?"
"Ibuuu, kakak sudah menikah, dan istrinya sangat hebat, istrinya memarahinya dan kakak hanya bisa mematuhinya"
"Apaaa, kamu bilang Jebby sudah menikah?"
"Iya, kakak sudah menikah ibu, dan harapan ibu untuk punya cucu akan segera terkabul karena kakak sudah punya istri"
"Berani-beraninya dia menikah tanpa memberitahukan kepada orang tuanya? Lihat saja aku akan datang untuk menemuinya segera, kamu jangan kasih tahu kakakmu"
"Memangnya mengapa? Yang penting kan dia sudah menikah" ujar Nina dengan santai,
"Dasar anak nakal, ibu tidak mau bicara lagi, ibu tutup teleponnya"
Telepon dimatikan oleh ibunya Nina dari seberang,
"Huuhh, ibuu aku akan menunggu kejutanmu untuk kakak" ujar Viana tersenyum jahil,
Tiba-tiba terdengar suara bel pintu rumah berbunyi, Nina keluar dari kamar dan membukakan pintu, terlihat seorang anak laki-laki tampan dan seorang gadis kecil yang sangat cantik yang begitu mirip dengan kakaknya Jebby,
"Aaaaaaaa" Nina langsung berteriak, Jebby dan Viana mendengar teriakan Nina langsung bergegas keluar dari kamar,
"Ada apa" tanya Jebby dan Viana serempak
Nina langsung melihat dan menunjuk Jebby,
"Kakak, kamu menikah dan tidak memberitahukan kepada orang tua kita, semua keluarga mungkin bisa memaafkanmu, tetapi kamu bahkan sudah lama menikah, dan sudah punya anak sebesar ini tetapi tidak memberitahu ayah dan ibu?" Ujar Nina
Mendengar perkataan Nina, Jebby dan Viana hanya saling memandang, tetapi tidak dengan Daren,
"Hey bibi cerewet, siapa bilang aku anaknya Paman Jebby, aku ini adiknya kakak Viana" Ujar Asyaa sambil berlari ke pelukan Viana
"Apaaa? Adik? Bagaimana mungkin..tetapi mengapa begitu mirip" beberapa menit kemudian Jebby menjelaskan kepada Nina bahwa Asyaa benar-benar bukan putrinya melainkan adik dari Viana, Nina menganggukkan kepala tanda bahwa dia sudah mengerti, tetapi dalam hatinya menaruh curiga yang kuat ke Viana bahwa Asyaa kemungkinan besar anak dari kakaknya, tetapi dia akan membiarkannya terlebih dahulu, nanti baru akan dia selidiki sendiri pikir Nina, setelah semua itu fokus Nina teralihkan kepada Daren yang sejak datang tidak pernah di dengar oleh Nina berbicara, Jebby kembali ke ruang kerjanya, sedangkan Viana memasak untuk mereka sarapan, Asyaa sedang bermain di lantai yang dilapisi karpet di depan sofa yang di duduki oleh Daren dan Nina, Daren fokus bermain ponselnya seolah tidak ada orang yang duduk di sebelahnya, Nina merasa kesal dalam hatinya, dia merasa umurnya dan Daren mungkin sama, dan Nina temasuk gadis yang sangat cantik tetapi Daren bahkan tidak meliriknya sedikit pun, membuat Nina sangat kesal.
"Hey.. kita belum kenalan kan?, perkenalkan namaku Nina, aku adiknya kakak Jebby"
Daren hanya melirik Nina sebentar tanpa berkata apapun dan kembali sibuk dengan ponselnya, hal itu makin membuat Nina kesal.
"Apa kamu tidak dengar? Namaku Nina nama kamu siapa?" Lagi-lagi pertanyaan Nina tidak mendapat respons dari Daren, Nina hanya bisa menahan kesal dalam hatinya dan bergumam sendiri,
"Huuuhh, ingin menunjukkan ke siapa wajah dingin itu, percuma tampan tetapi tidak bisa tersenyum"
Daren mendengar gumaman Nina, tetapi tetap tidak merespon, tiba-tiba sebuah email masuk ke dalam ponselnya, Daren membuka email itu, dan ekspresinya berubah makin dingin, Nina yang melihat ekspresi Daren seperti sangat marah langsung diam dan tidak berani lagi untuk berbicara.