
"Baiklah, kalau begitu aku ingin kamu menemaniku bermain selama dua minggu, kapan pun aku mau bagaimana? Tadi kamu sudah bilang akan memenuhinya" Ujar Rafka menatap Asyaa dengan serius,
"Oke, lagi pula Asyaa juga tidak bisa menolak lagi kan" jawab Asyaa dengan pasrah.
Di tempat lain, Martin dan Freya sedang makan malam yang romantis di sebuah restoran, selesai makan Martin memulai pembicaraan,
"Freya, aku tahu kamu pasti sudah tahu perasaanku terhadapmu, tetapi malam ini aku ingin menegaskan bahwa aku benar-benar menyukaimu, aku serius padamu, maukah kamu menerimaku sebagai kekasihmu?" Mendengar pernyataan Martin Freya memang tidak terkejut, tetapi dia masih merasa ragu,
"Lalu bagaimana dengan wanita-wanitamu yang ada di luar sana?"
"Aku tidak lagi berhubungan dengan mereka sejak seminggu yang lalu, karena aku tidak ingin hubungan kita di ganggu oleh orang lain"
"Tetapi bagaimana dengan kak Theo? Dia belum mengizinkanku untuk berpacaran, apa pendapatmu?"
"Kakakmu adalah sahabatku, aku yakin lama-lama dia akan mengerti, kamu cukup mempercayai aku saja"
"Baiklah, aku mau menjadi kekasihmu, tetapi Aku tidak mau kak Theo mengetahuinya saat ini, biarkan aku akan mencari waktu yang tepat untuk memberitahunya"
"Mengapa kamu tidak ingin memberitahukan kepadanya sekarang"
"Aku belum siap, beri aku waktu... Aku akan mencari kesempatan untuk memberitahukannya"
"Baiklah"
Setelah saling mengungkapkan perasaan Martin dan Freya tidak malu-malu lagi berpegangan tangan dan bermesraan, waktu sudah menunjukkan pukul 12.30, Freya menelpon Asyaa dan mengatakan bahwa Martin dan dia sudah dalam perjalanan pulang, Asyaa segera memberitahu Rafka bahwa dirinya akan pulang, Rafka mengantar Asyaa.
Di komplek perumahan Martin menunggu mobil Rafka, karena Asyaa mengatakan dia di antar oleh Rafka, tidak butuh waktu lama Martin dan Freya melihat mobil Rafka mendekat, Freya segera masuk ke mobil Rafka setelah berpamitan kepada Martin, agar kakaknya Theo tidak bertanya macam-macam. Melihat kelakuan Martin dan Freya Rafka tahu bahwa mereka sudah berpacaran.
"Kak Rafka, kamu jangan kasih tahu kakak Theo apa yang kamu lihat ya, kalau tidak aku tidak akan memaafkanmu" ujar Freya mengancam Rafka yang sedang menyetir mobil, Rafka hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Bukankah kamu pergi dengan Arbi? Mengapa jadi Kak Rafka yang mengantarmu?" Tanya Freya
"Akh.. tadi Arbi ada urusan mendadak jadi harus pergi, setelah itu aku tidak sengaja ketemu kak Rafka saat sedang bermain sepeda di sekitar danau" ujar Asyaa menjelaskan, setelah mendengar penjelasan Asyaa, Freya melihat ke arah Rafka, dia tahu Rafka bukan orang yang akan menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak berguna, tetapi dia bersepeda di sekitar danau? Meski Freya curiga tetapi dia sedikit ragu, jadi tidak melanjutkan kecurigaannya lagi.
Setelah sampai di rumah, Theo menunggu mereka di ruang tamu,
"Mengapa lama sekali? Siapa yang mengantar kalian pulang?" Tanya Theo menatap tajam.
"Kebetulan saat akan pulang kami ketemu kak Rafka, kami masih bermain sebentar, jadi pulang sedikit terlambat" jelas Freya berbohong.
"Mm.. baiklah, kalau begitu aku tidur dulu, kalian cepat istirahat" Theo meninggalkan Freya dan Asyaa di ruang tamu. Setelah kepergian Theo Freya menghela napas dengan lega, dia pikir dia akan ketahuan.
Asyaa dan Freya masuk ke kamar, setelah membersihkan diri, mereka bersiap untuk tidur namun tiba-tiba ponsel Asyaa berbunyi tanda ada pesan masuk, setelah membuka ponselnya dia melihat itu adalah chat dari Rafka, tadi Rafka meminta nomor ponselnya agar dia bisa menghubungi Asyaa, karena Asyaa sudah berjanji akan menemani Rafka bermain selama dua minggu.
"Besok temani aku sarapan" melihat pesan itu Asyaa terkejut,
"Bermain artinya mulai dari makan dan jalan-jalan, mengapa tidak setuju? Apa kamu ingin mengingkari janjimu?"
"Tidak.. baiklah sampai jumpa besok pagi"
"Aku akan menjemputmu" setelah membaca pesan itu Asyaa mematikan ponselnya dan tidur.
Keesokan paginya Theo yang bangun lebih pagi terkejut saat membuka gorden melihat Rafka sedang berdiri di samping mobilnya di depan rumah, Theo menghampiri Rafka,
"Ada perlu apa pagi-pagi begini kamu sudah datang?"
"Aku ingin menjemput Asyaa untuk sarapan bersama" mendengar hal itu dalam hatinya Theo sedikit terkejut, Rafka seorang pria yang sudah memiliki tunangan mengajak Asyaa seorang gadis untuk sarapan bersama? Siapapun yang melihatnya pasti akan salah paham.
"Apa kamu sudah gila? Bagaimana jika mereka mengetahui tentang Asyaa?" Pertanyaan Theo membuat Rafka ragu, dia juga tidak ingin membahayakan Asyaa,
"Aku akan hati-hati" ujar Rafka dengan suara berbisik, dan tampak ketegasan dalam suaranya.
"Baiklah terserah kamu saja" setelah mereka mengobrol terlihat Asyaa keluar dari rumah dan sudah siap untuk pergi, pandangan Rafka yang tadi seolah tidak memiliki kehidupan seketika bersinar lembut menatap Asyaa, Theo yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala, apakah cinta bisa merubah orang yang dingin dan tidak berperasaan menjadi begitu lembut? Pikir Theo, lalu dia pergi masuk ke dalam rumah,
"Kak Theo, aku izin pergi sama kak Rafka ya" Asyaa meminta izin kepada Theo saat berpapasan.
"Iya.. pergilah, hati-hati".
Rafka membawa Asyaa sarapan di sebuah restoran, saat menunggu makanan dihidangkan, Asyaa mulai mencari topik pembicaraan, dia merasa bosan kerena Rafka bukan orang yang suka berbicara tetapi meskipun begitu Asyaa merasa nyaman bersama dengannya,
"Kak Rafka, mengapa kamu mengajak Asyaa sarapan? Bukankah jika tunanganmu melihat kita dia bisa salah paham?"
"Dia tidak akan salah paham"
"Wah.. tunanganmu benar-benar keren" mendengar Asyaa memuji tunangannya, dalam hati Rafka merasa kesal, apakah Asyaa tidak tertarik padanya sedikit pun? Pikir Rafka.
"Bagaimana denganmu? Apa kamu punya pacar atau seseorang yang spesial?" Mendengar pertanyaan Rafka seketika Asyaa terdiam sejenak, namun kemudian dia tetap menjawab,
"Aku punya seorang kakak yang spesial dalam hatiku"
"Spesialnya seperti apa?" Tanya Rafka penasaran
"Mm.. seperti aku rela melakukan apa saja agar bisa bertemu dengannya"
"Jika sudah bertemu apa yang ingin kamu katakan?"
"A..aku, begitu merindukannya, dia sudah berjanji akan menjagaku selamanya, aku ingin bertanya apakah dia akan membatalkan janjinya atau tidak, jika dia ingin membatalkannya, setidaknya dia katakan sendiri kepadaku" jelas Asyaa dengan mata berkaca-kaca, jawaban Asyaa membuat Rafka sedih, dia tidak pernah berpikir akan membatalkan janjinya, saat ini pun dia sedang berusaha untuk kembali ke pelukan gadis kecilnya itu, dia hanya berharap agar Asyaa bisa menunggunya sedikit lagi, hanya sedikit lagi, setelah itu dia akan menjadikan Asyaa miliknya seutuhnya, dia akan menjaga dan melindunginya sepenuh hati, dan akan memberikan segalanya yang terbaik yang bisa dia lakukan.