
Asyaa dan Hansel terkejut karena melihat Viana yang tidak bangun dalam waktu lama membuka matanya,
"Ibuuu" Asyaa segera berlari ke ranjang Viana dan memegang tangannya, sedangkan Hansel segera menekan bel di samping ranjang Viana agar dokter datang, tidak butuh waktu lama tiga orang dokter datang, Hansel segera menghubungi Jebby,
"Datanglah ke rumah sakit sekarang" ucap Hansel saat telepon sudah terhubung, setelah berbicara dia segera menutup teleponnya,
Jebby yang menerima panggilan itu merasa kesal, biasanya dialah orang yang menelpon orang lain hanya memberikan perintah, tetapi barusan Hansel memerintahnya dan sebelum Jebby berbicara Hansel sudah mematikan teleponnya, jika anak itu tidak memiliki posisi di hati Asyaa maka Jebby benar-benar ingin membuatnya hilang,
"Ada apa Hansel meminta aku ke rumah sakit sekarang ya?" Jebby bangkit berdiri dan bergegas pergi ke rumah sakit,
Saat membuka pintu kamar Viana, Jebby terdiam karena melihat Viana yang duduk bersandar di ranjang rumah sakit sambil memeluk Asyaa, matanya berkaca-kaca sebab dia sudah lama mengharapkan Viana sadar, Viana dan Asyaa tersenyum ke arahnya, Jebby melangkah perlahan dia takut semua ini hanya mimpi atau halusinasinya saja, setelah sampai ke samping ranjang Viana, Viana mengulurkan tangannya dan memegang tangan Jebby, seketika air mata Jebby menetes menyadari bahwa itu bukan halusinasinya, Jebby segera memeluk Viana dengan lembut, setelah Viana merasa cukup dipeluk oleh Jebby dia perlahan melepaskannya,
"Aku tidak tahu kamu ternyata bisa menangis juga" ejek Viana sambil menghapus air mata Jebby, diejek oleh Viana Jebby tidak keberatan yang penting baginya senyum Viana lebih penting,
Pintu diketuk dari luar, itu adalah Maya dan Hasan serta Daren yang bergegas datang setelah mendapat kabar kalau Viana sudah sadar. Sama seperti Jebby, Maya menangis karena bahagia melihat Viana yang sudah sadar, Maya bergantian memeluk Viana,
"Sayang... Ibu sangat senang karena kamu sudah sadar, ibu benar-benar sangat senang, ibu pikir kamu akan meninggalkan ibu" ujar Maya sambil menangis memeluk Viana, setelah Maya, Hasan dan Daren bergantian memeluk Viana,
Viana yang kembali sehat sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, Jebby begitu protektif terhadap Viana, dia menempatkan beberapa pengawal di rumah mereka, Viana yang sedang berada di kamar merasa bosan, jadi dia turun ke ruang tamu, saat tiba di ruang tamu dia melihat Asyaa yang sedang bermain rumah-rumahan ditemani oleh Hansel, Viana melihat Hansel yang tersenyum lembut bermain dengan Asyaa, bahkan terlihat mereka sedang berbicara, namun karena jarak Viana dan Asyaa begitu jauh membuatnya tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, sejak Viana sehat dan kembali ke rumah, dia tidak pernah mendengar Hansel berbicara, tatapan Hansel terhadap orang lain begitu dingin, tetapi saat melihat Asyaa tatapannya begitu lembut, Viana tersenyum dia memikirkan seandainya Hansel bisa menjadi pasangan Asyaa disaat dia dewasa nanti dirinya mungkin tidak akan khawatir, Jebby yang keluar dari ruang kerja tidak melihat keberadaan Viana di kamar segera turun untuk mencarinya, saat sampai di ruang tamu dia melihat Viana yang tersenyum melihat Hansel, Jebby benar-benar kesal karena cemburu melihat istrinya menatap pria lain dengan tatapan seperti itu, dia segera datang kepada Viana dan memeluknya dari belakang,
"Saat suamimu, tidak ada kamu berani menatap pria lain dengan tatapan seperti itu?"
Viana terkejut karena tiba-tiba dipeluk dari belakang, "Apa yang kamu katakan? Aku hanya berpikir bahwa Hansel sangat cocok untuk menjadi suami Asyaa di masa depan, dia sangat tampan dan juga terlihat jelas bahwa dia sangat menyayangi Asyaa, dan lagi sepertinya dia laki-laki yang bertanggung jawab, jadi Asyaa pasti akan bahagia jika bisa punya pasangan seperti itu"
"Putri kita masih kecil tetapi kamu sudah mulai mencarikannya suami? Aku tidak akan membiarkan pria lain merebut putriku, aku akan menjaganya seumur hidupku, kalau perlu dia tidak perlu menikah, aku ayahnya akan menjaganya dan akan membuat dia bahagia, lagi pula umur Hansel jauh lebih tua dari Asyaa, apanya yang cocok" Jebby makin kesal melihat Hansel, dia belum tahu siapa Hansel sebenarnya, karena Viko dan anak buahnya masih terus menyelidikinya, tetapi satu hal yang sudah dia ketahui adalah Hansel bukan orang Negara B, lagi pula orang-orang Viko kesulitan menyelidikinya itulah yang membuat Jebby curiga bahwa Hansel bukanlah orang biasa. Viana tersenyum melihat Jebby yang terlalu protektif kepada putri kecilnya, "Apanya tidak cocok, lagian perbedaan umur Asyaa dan Hansel hanya sepuluh tahun, aku rasa itu umur yang cocok untuk bisa melindungi Asyaa yang kekanak-kanakan" Jebby tidak menjawab lagi, karena meskipun tidak setuju tetapi dia tidak ingin membuat istrinya tidak senang.
Bulan demi bulan telah berlalu, Daren dan Nina telah lulus dari SMA, Jebby menyuruh Daren magang di VN Corporation disela-sela kuliahnya, Jebby meminta orang-orangnya melatih Daren dalam urusan bisnis karena suatu saat Daren akan mengambil alih VN Corporation yang sudah seharusnya menjadi miliknya, begitu pun dengan Nina dia melanjutkan sekolah aktingnya di Amerika, karena Ghena juga sudah kembali ke Amerika, sejujurnya Daren tidak setuju dalam hatinya jika harus pacaran jarak jauh dengan Nina, tetapi dia tidak ingin menjadi pria yang egois, dia ingin mendukung Nina untuk mencapai karirnya meskipun harus bersabar.
Enam bulan sudah Hansel tinggal bersama Asyaa, Viana, dan Jebby, dia merasa sangat bahagia karena meskipun Jebby terlihat dingin tetapi dia melindungi Hansel seperti putranya sendiri, Jebby sering membelikan pakaian dan sepatu untuknya, dia sering bertanya apakah Hansel sudah makan atau belum, meskipun Jebby bertanya dengan raut wajah yang datar, Jebby juga kadang bertanya apakah ada yang dia perlukan atau tidak, begitu pun dengan Viana, meskipun ada Bibi Ajeng sebagai asisten rumah tangga Viana tetap suka memasak sendiri, dia sering menanyakan Hansel ingin makan apa agar Viana bisa membuatkannya, saat Viana merajut pakaian untuk Jebby dan Asyaa, Viana tidak lupa merajutkan untuk Hansel juga, Hansel benar-benar merasa seperti memiliki keluarga yang hangat, dia ingin terus berada di keluarga Jebby, kehangatan itu membuatnya nyaman.
Seperti biasa hari itu saat Hansel dan Asyaa pergi ke sekolah menaiki mobil yang dikemudikan oleh pengawal yang di suruh Jebby yaitu Andi, tiba-tiba di persimpangan jalan Hansel meminta Andi mengambil jalan yang tidak pernah mereka gunakan untuk pergi ke sekolah Asyaa, "Ada apa? Mengapa kita harus mengambil jalan lain?" Andi melihat Hansel dari kaca spion, melihat tatapan Hansel Andi hanya bisa mengikuti arahannya.