
Asyaa curiga Rafka adalah Hansel sejak Asyaa bertanya apakah Rafka pernah ke Negara B, Rafka menjawab belum pernah tanpa berpikir, Rafka seorang pejabat pemerintah, hal tidak mungkin dia belum pernah ke Negara B.
Asyaa mulai curiga kalau Rafka adalah kakak Hanselnya, tetapi dia membutuhkan bukti yang kuat agar hatinya bisa tenang,
"Aku berdoa semoga kamu bisa segera menemukan kakak Hanselmu" ujar Rafka seolah yang di cari bukan dirinya.
"Terima kasih Tuan Rafka" Asyaa berdiri dan akan keluar ruangan, Rafka juga bangkit dan mengikutinya dari belakang, tetapi sebelum keluar Asyaa kembali berkata,
"Tuan Rafka, saya merasa kamu mirip dengan kakak Hanselku, bisakah saya memeluk anda untuk mengobati kerinduan saya?" Tanya Asyaa tersenyum, perlahan Rafka menganggukkan kepala, tidak mungkin dia mau menolak, dia saja sejak tadi sudah ingin memeluk Asyaa, pikir Rafka.
Asyaa mendekat ke arah Rafka, tetapi saat jarak mereka sudah begitu dekat, Asyaa kembali berkata.
"Maaf Tuan Rafka, seharusnya saya tidak meminta hal aneh-aneh kepada Anda, sekali lagi saya ucapkan terima kasih" Asyaa pergi begitu saja dan pelukan itu tidak terjadi, Rafka yang sudah berharap bisa memeluk Asyaa untuk pertama kali setelah mereka dewasa menjadi kecewa.
Di luar ruangan Freya dan Theo berjalan mencari Asyaa, Asyaa segera menghampiri mereka.
"Kak Theo, Freya kalian mencariku?"
"Asyaa.. syukurlah kamu baik-baik saja, kamu dari mana saja, jika kamu hilang bagaimana aku akan menjelaskan kepada orang tuamu, aku mungkin juga akan dibuat hilang oleh ayahmu jika tidak menemukanmu" ujar Freya memeluk Asyaa dengan erat,
"Ini di dalam istana, bagaimana mungkin aku bisa hilang, oh ya.. bagaimana dengan para penjaga tadi?"
"Akh.. mereka mengejar kita hanya untuk mengingatkan area-area yang tidak boleh di masuki, karena kita sudah masuk ke salah satu area tersebut, tetapi untung kak Theo juga datang, jadi dia menjelaskan bahwa aku adalah adiknya, jadi para penjaga itu melepaskanku"
"Ya sudah... Ayo kita pulang" Theo berbalik dan memimpin jalan, Asyaa dan Freya tidak memiliki pilihan lain, selain mengikutinya.
Di malam hari Asyaa dan Freya sedang menyiapkan makan malam, tiba-tiba bel pintu berbunyi, itu artinya ada orang yang datang. Theo yang sedang menonton tv bangkit berjalan ke arah pintu dan membukanya, dia terkejut karena yang datang adalah Rafka,
"Kamu..?"
"Iya, apakah kamu tidak ingin mengundangku masuk?"
"Masuklah" Theo memberi jalan dan membiarkan Rafka masuk, Freya dan Asyaa terkejut dengan kedatangan Rafka.
"Mau minum apa?" Tanya Theo berjalan ke arah kulkas.
"Apakah kamu memiliki bir, aku ingin minum malam ini, maukah kamu menemaniku?" Theo melihat ke arah Rafka, dengan penuh arti, Theo tidak menjawab melainkan membawakan dua kaleng bir kepada Rafka yang sedang duduk di sofa, mereka meminum bir itu sambil menonton tv.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Theo basa basi,
"Jika aku baik-baik saja tidak mungkin aku datang untuk mengajakmu minum"
"Apakah karena gadis kecilmu?" Rafka tidak menjawab namun dia melihat ke arah Asyaa yang sedang sibuk bersama Freya di dapur. Melihat reaksi Rafka Theo hanya bisa menghela napas.
"Kakak, makan malam sudah siap"
"Baiklah" jawab Theo singkat.
"Ada apa ini? Apakah kamu pura-pura tidak mengenaliku hingga tidak menyapaku?" Tanya Rafka kepada Freya.
"Kakak Rafka aku masih sangat kesal padamu, karena kamu tidak pernah menghubungiku sejak kamu pergi waktu itu, jadi aku tidak ingin menyapamu, huh" Freya membuang mukanya dengan cemberut,
"Baiklah.. kalau begitu aku akan pulang" Rafka berbalik dan berjalan ke arah pintu, namun tiba-tiba tangannya di tahan oleh Freya,
"Maaf kakak, aku hanya sedikit marah padamu, tetapi kali ini aku akan memaafkanmu, maukah kamu makan malam bersama kami" Rafka mengusap kepala Freya dan berjalan ke meja makan, Theo juga berjalan di belakang Freya dan Rafka menuju meja makan, Asyaa ada di ruang makan menunggu mereka, Rafka tersenyum ke arah Asyaa, Asyaa juga membalas senyum itu dengan sopan.
"Kakak Rafka, perkenalkan ini sahabatku Asyaa, dia dari Negara B"
"Hallo, Rafka" Rafka mengulurkan tangannya seolah dia belum pernah bertemu dengannya, melihat hal itu Asyaa juga tidak punya pilihan selain berpura-pura belum pernah bertemu dengannya,
"Hallo Tuan Rafka, saya Asyaa" Asyaa menyambut uluran tangan Rafka, dapat memegang tangan Asyaa sedikit mengobati kerinduan Rafka, sebenarnya Rafka tidak ingin melepas tangan lembut itu, tetapi dia tidak punya pilihan lain.
"Kamu tidak perlu memanggilku dengan sebutan Tuan, kamu adalah sahabatnya Freya jadi bisakah kita berbicara santai"
"Akh.. baiklah kakak Rafka" ujar Asyaa tersenyum manis, mendengar panggilan Asyaa membuat jantung Rafka berdebar kencang.
Saat makan Freya menyadari Rafka sering kali mencuri pandang ke arah Asyaa, dia jadi ingin mengetahui sesuatu,
"Kakak Rafka, dahulu waktu kecil kamu sering main ke rumah kami, tetapi mengapa waktu itu kamu seperti menghilang? Kamu tidak pernah datang lagi, saat aku pergi mengunjungimu mereka mengatakan kamu sedang fokus belajar sehingga tidak boleh keluar, apakah itu benar?" Mendengar pertanyaan Freya Rafka terdiam sejenak, sedangkan Theo juga terkejut Freya akan bertanya soal itu,
"Freya, apa yang kamu tanyakan? Rafka saat itu adalah pewaris sang Raja, bagaimana mungkin dia akan bersantai-santai seperti kamu, cepat makan.. habiskan makananmu" perintah Theo mengalihkan perhatian Freya, namun Freya juga tidak bodoh, dia dan Asyaa saling menatap penuh arti.
Setelah makan mereka berkumpul, di gazebo yang ada di belakang rumah, sambil bercerita, Rafka dan Theo kembali minum bir, Freya juga tidak mau kalah, dia mengambil dua kaleng bir untuk dirinya dan Asyaa, Rafka dan Theo terkejut.
"Apa yang kamu lakukan? Kalian belum boleh minum" ujar Theo menatap galak kepada Freya,
"Kakak, kami sudah 17 tahun, sedikit lagi 18, jadi kami sudah bisa minum, lagian ini hanya bir, tingkat alkoholnya tidak begitu tinggi"
"Aku bilang tidak boleh, ya tidak boleh" jawab Theo dengan tegas, Freya cemberut dan menatap Rafka dengan wajah menyedihkan, membuat Rafka mau tidak mau membantunya bicara,
"Sudahlah Theo, izinkan sekali ini saja, lagian mereka bersama kita, bukan dengan orang lain jadi tidak berbahaya jika mereka mabuk"
"Terserah, tetapi awas saja jika kamu melakukan hal-hal aneh saat mabuk" mendengar Theo memberi izin Freya dan Asyaa merasa senang, Rafka reflek mengambil bir yang ada di tangan Asyaa dan membantunya membukakan kaleng, Freya dan Asyaa terdiam, mereka melihat Rafka, seolah membantu Asyaa adalah hal biasa.