That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 103



Dalam lima jam setelah bencana sudah banyak tim medis dan relawan yang datang ke lokasi bencana tersebut, begitu pun dengan bantuan logistik yang dibutuhkan masyarakat seperti bahan makanan, pakaian, selimut, hingga kebutuhan anak-anak.


Sesampainya di daerah bencana Rafka dan rombongan disambut antusias oleh masyarakat setempat, mereka sangat senang karena Presiden yang baru terangkat mau menemui mereka dalam kondisi daerah mereka porak poranda, Rafka memberikan sambutan kepada masyarakat yang ada di tenda pengungsian, sambutan itu berisi kata-kata penyemangat, setelah sambutan itu para relawan dan tim pengamanan Presiden berjibaku membagikan sembako dan kebutuhan masyarakat di setiap tenda pengungsian, sedangkan Rafka sebagai Presiden di bawa ke tenda khusus yang sudah di siapkan oleh tim pengamanan Presiden.


Asyaa yang bersiap pulang ke Negara B di hari itu melihat berita telah terjadi gempa yang cukup besar di provinsi bagian barat mengurungkan niatnya untuk pulang, Asyaa yang sangat suka menjadi relawan, maka dari itu dia mencari di internet relawan yang akan berangkat ke daerah bencana, tidak butuh waktu lama Asyaa telah menemukan situs yang mengumpulkan para relawan yang ingin ikut membantu di daerah bencana, mereka dijadwalkan akan berangkat pukul 13.00 siang dan akan berkumpul di alun-alun kota. Asyaa tidak lupa meminta izin Theo dan Freya untuk ikut menjadi relawan, Freya tidak ikut karena takut jika menemui mayat di daerah itu.


Pukul 13.00 semua relawan yang ingin pergi telah berkumpul di alun-alun kota termasuk Asyaa, semua relawan yang terdaftar berjumlah 12 orang, terdiri dari 10 orang laki-laki dan 2 orang perempuan, melihat Asyaa yang bertubuh mungil dan cantik dengan sebuah ransel di belakangnya, semua orang di tempat itu terkejut, mereka melihat penampilan Asyaa seperti seorang anak yang di rawat dengan hati-hati oleh kedua orang tuanya, dan terlihat seperti gadis kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa tanpa bantuan orang lain, Ketua tim yang penasaran segera bertanya kepada Asyaa,


"Hallo Nona, aku Dany ketua Tim Relawan, apakah kamu salah tempat? Kami di sini akan pergi ke provinsi bagian barat untuk menjadi relawan" ujar ketua Tim tersebut,


"Hallo ketua Tim, aku Asyaa, aku adalah orang yang mendaftar menjadi relawan di situs Relawan Bencana, maka dari itu aku ada di sini" jelas Asyaa yang membuat semua orang terkejut, jumlah yang terdaftar ada 12 orang, tetapi yang hadir hanya 11 orang kehadiran Asyaa melengkapi jumlah Relawan yang mendaftar membuat mereka percaya bahwa Asyaa adalah orang yang ikut mendaftar, meski begitu penampilan Asyaa yang seperti seorang bangsawan meski hanya memakai pakaian sederhana membuat mereka ragu.


"Hallo nama kamu Asyaa ya? Perkenalkan aku Bella, apa kamu benar-benar ingin ikut menjadi Relawan di daerah bencana? Daerah bencana sangat berbahaya loh, jika kamu berubah pikiran tidak masalah kok" wanita satu-satunya yang menjadi Relawan datang memberitahukan keadaan lokasi bencana kepada Asyaa.


"Kak Bella, aku benar-benar ingin menjadi Relawan, aku juga tahu medan di lokasi bencana seperti apa, jadi kalian semua tidak usah khawatir, jika kalian tidak percaya akulah yang mendaftar ini kartu mahasiswaku yang aku pakai untuk mendaftar di situs tadi pagi, karena saat ini aku belum punya KTP"


Bella mengambil kartu nama itu, dia melihat nama lengkap Asyaa yaitu Asyaa Jebby Arya Putra, Mahasiswa Universitas Negara B, baru berumur 17 tahun, identitas itu adalah nama yang terdaftar di situs Relawan Bencana, Dany yang penasaran juga datang dan melihat kartu mahasiswa Asyaa, setelah memastikannya mereka percaya bahwa Asyaa benar-benar Relawan yang sudah mendaftar, meski ragu mereka tidak punya cara lain selain mengajak Asyaa ke lokasi bencana.


Di dalam mobil Bus Mini mereka mulai saling berkenalan satu sama lain, Asyaa duduk bersama Bella, mereka saling bercerita dan tertawa, yang lain ada yang tertidur dan lainnya mendengarkan musik lewat airpods, perjalanan membutuhkan waktu 5 jam sampai ke lokasi bencana.


Pukul 17.20 Tim Relawan Asyaa tiba di lokasi bencana, mereka segera turun dan mulai mempersiapkan diri, mereka melihat sudah banyak Relawan yang berada di lokasi, mereka segera mencari lokasi yang tanahnya rata untuk membangun tenda, setelah beres-beres semua orang mulai membantu mencari para korban yang dicurigai masih berada di bawah reruntuhan, Dany membagi kelompok menjadi 3, yang artinya setiap kelompok terdiri dari 4 orang, Dany menempatkan Asyaa di Timnya agar bisa mengawasi Asyaa dengan baik, karena Asyaa adalah Relawan yang paling muda di antara mereka. Setelah dibagi, tiap kelompok bergabung dengan Tim pemadam kebakaran, Polisi, dan TNI untuk mencari para korban.


Tiba-tiba Asyaa mendengar suara rintihan di bawah reruntuhan, suara itu sangat kecil hingga tidak semua orang mendengarnya, Asyaa segera memberi tahu Dany, serta polisi, pemadam, dan TNI yang menjadi Tim mereka, Tim tersebut segera mencari ke tempat di mana asal suara yang ditunjuk Asyaa, mereka mulai menyingkirkan reruntuhan bangunan yang ada di permukaan, setelah semuanya di singkirkan ternyata apa yang di dengar Asyaa benar, seorang gadis remaja tertimbun di reruntuhan itu. Tim pencari segera mengevakuasi dan berusaha mengeluarkan gadis tersebut, dalam beberapa menit mereka telah berhasil dan gadis itu segera mendapat perawatan.


"Berani beraninya dia datang ke sini? Apakah dia tidak tahu bahwa tempat ini begitu berbahaya? Dasar gadis bodoh" Gumam Rafka, Rafka segera pergi ke tenda di mana Asyaa berada, setelah mengantar korban tadi Asyaa dan Dany segera kembali ke tenda mereka, di tenda itu baru ada Dany dan Asyaa karena anggota tim yang lain belum tiba. Rafka yang diikuti asistennya sampai di dalam tenda tim Asyaa, Dany dan Asyaa merasa terkejut karena kehadiran Presiden mereka, terutama Dany. Dany yang tersenyum menyapa Presiden Rafka tidak mendapat tanggapan, Dany melihat tatapan marah Presiden menatap ke arah Asyaa.


"Mohon tinggalkan tenda ini sebentar" ujar asisten Rafka kepada Dany, Dany penasaran tetapi dia tidak bisa melakukan apapun selain keluar, Dany keluar di ikuti oleh asisten Rafka, Dany dan Asisten Rafka menunggu di luar, namun suara Rafka dan Asyaa dapat di dengar oleh mereka,


"Mengapa kamu datang ke sini? Apakah kamu tidak tahu di sini berbahaya? Cepat bereskan barangmu, aku akan mengantarmu kembali" mendengar ucapan Rafka Asyaa tersenyum sinis,


"Memangnya mengapa jika Asyaa di sini? Asyaa datang bersama Tim Relawan, dan Asyaa terdaftar sebagai Relawan, mengapa Asyaa harus kembali"


"Tidak bisa, kamu harus kembali" Rafka menarik tangan Asyaa untuk membawanya pergi, namun Asyaa menolak.


"Tidak mau, Asyaa tidak mau pergi, mau ke mana pun Asyaa pergi tidak ada hubungannya dengan kak Rafka, maaf maksud saya Pak Presiden"


"Asyaa.."


"Ada apa? Bapak tidak bisa melarang Asyaa, karena bapak bukan siapa-siapanya Asyaa" ucapan Asyaa membuat Rafka terdiam sejenak.


"Baiklah.. aku memang bukan siapa-siapa bagimu, tetapi aku mohon jangan sampai terluka sedikit pun, jika tidak aku akan mengantarmu untuk kembali dengan tanganku sendiri"


Setelah mengingatkan Asyaa untuk tidak terluka Rafka keluar dari tenda itu, Dany dapat melihat wajah Rafka yang lesu dan tatapan sedih di matanya, asisten Rafka segera mengikutinya untuk kembali ke tendanya.