
Setelah mengantarkan kopi untuk Hasan Maya juga bergegas ke dapur, semua hidangan hasil masakan Maya sudah tertata di atas meja, Hasan juga setelah menyeruput seteguk kopi yang diantarkan Maya datang ke ruang makan, Maya sadar bahwa Daren tidak ada,
"loh, Daren belum bangun ya? tidak biasanya dia bangun terlambat" ujar Maya
"sepertinya Daren tidak pulang semalam bu, mungkin dia menginap di rumah temannya" jawab Viana
"benarkah" ujar Maya mengerti,
setelah makan Jebby dan Viana mengantar Asyaa ke sekolah, baru pergi ke Perusahaan, di dalam mobil Jebby sedang menyetir sedangkan Viana dan Asyaa duduk di kursi penumpang, mereka bermain dan kadang-kadang terdengar suara tawa Asyaa, Jebby merasa senang melihat Viana dan Asyaa yang terlihat bahagia, tidak lama kemudian mobil sampai di depan gerbang sekolah, Viana membawa Asyaa turun, Jebby mengikuti mereka dari belakang, sebelum masuk Asyaa berpamitan kepada Jebby dan Viana,
"Paman, Kakak, cepat jongkok" ujar Asyaa, Viana dan Jebby saling memandang dan mengikuti kemauan Asyaa, setelah mereka berjongkok Asyaa memberikan kecupan di pipi Viana dan Jebby masing-masing, kemudian dia melambaikan tangannya dan masuk ke sekolah, mendapat Ciuman dari Asyaa Viana dan Jebby tersenyum senang terutama Jebby,
dalam perjalanan ke kantor,
"Viana bagaimana kalau kita memberitahukan kepada ayah dan ibumu dahulu soal aku adalah ayah kandung Asyaa" ujar Jebby, mendengar permintaan Jebby Viana refleks melihat ke arahnya,
"Mm, kita akan mencari waktu yang tepat untuk memberitahukan kepada ayah dan ibu" jawab Viana
"tidak.. kita akan memberitahukannya sekarang" Ujar Jebby lagi
"sungguh akan memberitahukan kepada ayah dan ibu sekarang?" Tanya Viana,
"iya" jawab Jebby yang sudah bertekad
"aku hanya takut, ibu dan ayah akan marah padamu"
"aku akan membuat mereka mengerti, dan aku juga akan menerima jika ayah dan ibumu akan memarahi atau memukulku" ujar Jebby meyakinkan Viana,
mereka kembali ke rumah Hasan dan Maya, di depan pintu Viana melihat ke arah Jebby dengan khawatir, tetapi lagi-lagi Jebby meyakinkan Viana bahwa dia akan baik-baik saja, Maya yang membukakan pintu heran karena Jebby dan Viana yang kembali,
"mengapa kalian kembali? apakah ada yang ketinggalan" Tanya Maya, sambil melangkah masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh Viana dan Jebby.
"tidak ibu, kami ingin mengatakan sesuatu" ujar Jebby, mereka duduk di sofa sambil berhadapan, Hasan duduk di sofa tunggal sedangkan Maya duduk di sofa yang lainnya, Jebby dan Viana duduk berdua di sofa yang satu lagi,
"kalian ingin membicarakan apa? sepertinya hal yang serius" ujar Hasan sambil menyeruput kopinya,
"iya.. ada apa? Mengapa begitu serius? kita kan keluarga, santai saja" ujar Maya, Jebby dan Viana saling memandang, kemudian Jebby memulai pembicaraan,
"ayah, ibu, pertama maafkan aku, karena saat Viana dalam kesulitan aku tidak berada di sampingnya, aku ingin mengatakan bahwa Asyaa adalah putri kandungku?" ujar Jebby
Hasan dan Maya saling memandang, Jebby dan Viana tidak melihat ada keterkejutan di wajah mereka,
"ayah, ibu, kalian tidak terkejut?" Tanya Viana bingung,
"mengapa kami harus terkejut?" jawab Hasan dengan santai, Jebby dan Viana saling memandang kebingungan,
"ibu dan ayah tahu dari mana? apa dari Daren" tanya Jebby penasaran
"apa Daren juga sudah mengetahuinya? tidak... Daren tidak memberitahu kami, tetapi Asyaa" Jelas Maya
"Asyaa?" Jebby dan Viana terkejut serempak
"Mm, Asyaa yang memberitahukan Ayah dan Ibu tadi, saat kalian berdua pergi ke kamar untuk bersiap ke kantor, dia bilang kalian berdua adalah Ayah dan Ibunya, awalnya ibu dan ayah terkejut, tetapi kami mengerti itu sebabnya kalian begitu cepat menikah" Jelas Maya lagi
"tetapi dari mana Asyaa mengetahuinya? Tanya Viana lagi,
"Asyaa tidak memberitahukan kepada Ayah dan ibu soal itu, katanya itu rahasia" ujar Maya yang ikut bingung.
***
beberapa hari kemudian Viana dan Jebby menceritakan soal mereka adalah orang tua kandungnya kepada Asyaa, Asyaa juga mengerti dan menerima mengapa selama ini dia harus memanggil kakek dan neneknya sebagai ibu dan ayah,
di dalam mobil Viko sedang menyetir, Jebby, Viana dan Asyaa sedang duduk di kursi penumpang, sambil bersenda gurau. Asyaa duduk menghadap Jebby di pangkuannya dan berkata,
"Ayah kita akan ke mana?" Mendengar sebutan Asyaa untuk dirinya, Jebby terdiam karena begitu bahagia dalam hatinya,
"Asyaa, bisakah panggil ayah sekali lagi" ujar Jebby yang tidak bisa mengendalikan rasa senangnya, Asyaa juga adalah anak yang baik dan penurut, dia tahu bahwa Jebby sangat senang karena dipanggil ayah olehnya,
"Ayah.. Asyaa tanya kita akan pergi ke mana?"
"Ayah akan menunjukkan sesuatu kepada Asyaa dan Ibu" ujar Jebby sambil mencium kening dan pipi Asyaa bergantian
Viko dan Viana melihat interaksi Asyaa dan Jebby itu tersenyum,
"Kamu ingin menunjukkan apa kepada kami" Tanya Viana yang juga penasaran
"Kalau aku bilang sekarang, itu tidak akan jadi kejutan lagi" ujar Jebby sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian mobil mereka sampai di sebuah area rumah yang sangat mewah, Jebby menggendong Asyaa untuk turun diikuti oleh Viana, Viko memimpin di depan mereka, sampai di halaman rumah itu Viana kembali bertanya,
"Jebby ini rumah siapa benar-benar sangat mewah" ujar Viana,
"Ini adalah rumah yang akan menjadi tempat tinggal kita mulai hari ini" jawab Jebby tersenyum, Viana terkejut hingga menutup mulutnya,
"Jebby dari mana kamu bisa membeli rumah ini, rumah ini sekilas dilihat saja pasti harganya miliaran, kita tidak membutuhkan rumah semewah ini, apartemen sebelumnya saja sudah cukup untukku dan Asyaa, aku tidak ingin kamu terlibat korupsi, penggelapan dana atau hal-hal ilegal lainnya, ayo kita pergi dari sini secepatnya" ujar Viana sambil menarik tangan Jebby. Mendengar perkataan Viana, Viko langsung tertawa lepas, ini adalah rumah yang dikembangkan oleh JB Grup, bahkan jika Nyonya Viana ingin membeli seratus rumah yang seperti ini bosnya bisa memenuhi permintaanya, bagaimana bisa Nyonya mencurigai bos melakukan korupsi atau penggelapan, pikir Viko.
"Apa yang kamu tertawakan" ujar Jebby dengan dingin yang membuat Viko berhenti tertawa, tetapi meskipun begitu Viko tidak bisa untuk menahan senyumnya,
"Viana, aku tidak mungkin terlibat korupsi atau hal-hal ilegal yang lainnya, ini adalah rumah yang dikembangkan oleh JB Grup, karena aku salah satu Direktur Perusahaan di bawah naungan JB Grup itu sebabnya aku bisa mendapatkan fasilitas ini" Jelas Jebby berbohong. mendengar penjelasan Jebby Viana percaya, dan ikut masuk ke dalam rumah bersama-sama, saat masuk Viana disuguhkan dengan ruang tamu dengan unsur kayu dan besi yang terlihat kokoh, dan juga hanya ada warna cokelat kayu, warna hitam besi dan ada warna putih, ada warna hijau yang berasal dari tanaman yang menghiasi di beberapa sudut ruangan.