That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 81



Sudah sebulan Hansel tidak bersama Asyaa, Asyaa merasa sangat sedih, setiap kali dia sedih dia akan memegang bandul kalung yang dipakainya. Demi untuk menghibur Asyaa meskipun lelah pulang kantor Daren setiap hari datang untuk menemaninya bermain.


Beberapa tahun telah berlalu, hari ini ulang tahun Asyaa yang ke 17 tahun, Jebby dan Viana mengadakan pesta untuknya, semua tamu mulai berdatangan, memenuhi ruang pesta, Jebby, Viana Hasan, Maya, serta Daren sedang menunggu di aula, tidak butuh waktu lama Asyaa turun, dia menggunakan gaun putih dengan panjang selutut, rambut hitam yang terurai membuat Asyaa terlihat sangat cantik dan imut, di tangan kanannya memegang seorang pria kecil yang sangat tampan tetapi tidak tampak senyum di wajahnya, Asyaa merasa kesal dalam hatinya, "Hey, hari ini ulang tahunku, tidak bisakah kamu tersenyum sebentar saja" bisik Asyaa dengan raut wajah yang masih tersenyum, "Kakak, ini adalah ulang tahunmu bukan ulang tahunku" jawabnya dengan dingin, Asyaa dibuat kesal oleh adiknya. Meski merasa kesal Asyaa masih tersenyum, dan menuruni tangga pelan-pelan dengan Ayden sang adik. Semua orang terkagum-kagum dengan kecantikan dan ketampanan dua orang yang sedang bergandengan tangan itu, sesampai di bawah Viana menyambut Asyaa dengan pelukan,


"Selamat ulang tahun ya sayang" Viana tersenyum manis melihat putrinya yang sudah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik, Viana melihat kalung yang tidak pernah dilepas oleh Asyaa itu, meskipun Viana memberikannya sebuah kalung waktu Asyaa ulang tahun yang ke 15, waktu itu Asyaa membuat Viana mengerti mengapa dia tidak ingin melepas kalung itu, karena dalam hatinya masih terus mengingat janji Hansel yang akan selamanya berada di sisinya, dan dia sangat yakin bahwa Hansel belum meninggal. Setelah Viana Jebby bergantian memeluknya, dan mengucapkan selamat, selanjutnya Maya dan Hasan, setelah itu giliran Daren,


"Selamat ulang tahun Asyaa"


"Terima kasih Paman" Asyaa tersenyum manis ke arah Daren, melihat Daren Asyaa teringat Hansel, jika kakak Hanselnya ada di sini pasti umurnya sama dengan Pamannya Daren yaitu 27 tahun, Pamannya saja setampan itu, bagaimana dengan kakak Hanselnya yang jauh lebih tampan dari Pamannya waktu remaja, dia pasti sudah begitu dewasa pikir Asyaa. Asyaa membiasakan memanggil Daren paman sejak Hansel tidak ada, karena baginya orang yang ingin dia panggil kakak hanya satu yaitu Hansel, Daren juga sangat senang karena Asyaa mengganti panggilannya, sejak Asyaa lahir dia sudah berharap waktu itu akan dipanggil Paman, tetapi karena situasi Viana saat itu yang tidak ingin Asyaa bertanya soal ayahnya mengharuskan mereka membiarkan Asyaa mengenali Viana dan Daren sebagai kakak serta Hasan dan Maya sebagai ibu dan ayah. Ghena mengucapkan selamat melalui panggilan video, dan mengirimkan hadiah sehari sebelum pesta ulang tahun, begitu pun dengan Nina, Nina memang sudah menyelesaikan studinya namun belum bisa kembali karena ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan, beberapa kali dia datang mengunjungi Daren dan kadang-kadang Daren yang pergi menemuinya di Amerika, hubungan mereka sangat baik meski pacaran jarak jauh.


Seorang wanita seumuran Viana datang ke hadapan Asyaa sambil membawa sebuah hadiah, di belakang wanita itu ada seorang pria dengan senyum lembut. Asyaa yang melihat wanita itu sangat senang dan segera menyapanya,


"Tante Anet, tante datang?"


"Mm.. bagaimana mungkin tante tidak datang di hari ulang tahun Asyaa" Anet memeluk Asyaa dengan lembut, dan tersenyum kepada Viana yang sedang berdiri di samping Asyaa. Setelah mengucapkan ulang tahun dan memberi hadiah kepada Asyaa Anet memeluk Viana,


"Terima kasih sudah datang Anet" ujar Viana, dengan senyum lembut,


"Apa yang kamu katakan? Asyaa sudah aku anggap sebagai keponakanku sendiri" kemudian Anet menarik seorang pria muda yang datang bersamanya, dan memperkenalkannya kepada Asyaa,


"Asyaa kenalkan, ini keponakan tante namanya Gian" Gian tersenyum dan mengulurkan tangannya, Asyaa menyambut tangan itu, "Hallo, aku Asyaa".


"Kebetulan, Gian juga kuliah di sana dia semester 5, dan saat ini sementara menyusun proposalnya" ujar Anet,


"Oh ya, kakak tingkat dong, salam kenal ya"


"Salam kenal juga" Gian sangat senang karena Asyaa menyambutnya dengan baik, dia sering melihat Asyaa di kampus, Asyaa adalah gadis yang populer di kalangan pria bahkan wanita tetapi Asyaa tidak menyadarinya, dia gadis yang sangat cantik dan aktif dan juga ramah, dia sering sekali ikut kegiatan bakti sosial dan sering kali menjadi relawan, banyak pria di kampus yang ingin mendekatinya, tetapi meski ramah Asyaa sering kali menghindari jika ada pria yang sangat jelas mendekatinya dengan niat lain, Gian sudah tertarik kepada Asyaa sejak melihatnya di kampus, tetapi melihat Asyaa yang sering menghindari pria yang ingin mendekatinya membuat Gian harus mencari cara untuk bisa dekat dengannya, dan saat mengetahui Anet adalah teman dari ibunya Asyaa Gian meminta Anet untuk membawanya ke pesta ulang tahun Asyaa, itulah mengapa dia ada di sini saat ini.


Sahabat Asyaa Freya juga datang mengucapkan selamat,


"Aku pikir kamu tidak akan datang, kamu bilang tidak bisa datang karena harus menemani ibumu di rumah sakit, mengapa memaksakan diri?" Ujar Asyaa kepada sahabatnya,


"Kebetulan kakakku datang dan mengatakan akan menginap di rumah sakit jadi aku meminta izin untuk datang ke ulang tahunmu, dan kebetulan kakakku juga setuju, kamu tahu ibuku hanya demam, tetapi dia tidak ingin pulang hanya agar kakakku itu datang, ibuku benar-benar sangat manja bukan" ujar Freya cemberut, mendengar cerita Freya Asyaa tertawa.


Freya adalah sahabatnya sejak dia pertama kali mendaftar di kampus, Freya mendekatinya dan mengajaknya kenalan terlebih dahulu, dan ke mana-mana terus menempel kepada Asyaa, Asyaa merasa senang dengan sifat Freya yang sangat aktif dan suka membantu orang lain membuat Asyaa merasa nyaman, mereka sering kali ikut menjadi relawan jika ada kegiatan kunjungan ke panti asuhan, membantu korban bencana banjir dan bakti sosial lainnya, meskipun persahabatan mereka baru berjalan satu tahun Freya dan Asyaa seperti sudah saling memahami satu sama lain, mereka sering kali menghabiskan waktu bersama.


Freya berasal dari keluarga dengan latar belakang militer, ayahnya adalah seorang jenderal, dan ibunya seorang perajin keramik terkenal yang memiliki beberapa galeri di berbagai kota, sedangkan kakak laki-lakinya juga seorang tentara yang saat ini menjabat sebagai kapten dari sebuah tim elite. Sedangkan Freya sendiri mengambil jurusan manajemen dan bisnis membuat dia bertemu Asyaa karena satu jurusan.


Pesta berlangsung dengan meriah meski yang hadir hanya keluarga inti, teman-teman bisnis Jebby, teman-teman perkumpulan Viana, dan teman-teman Asyaa satu jurusan.