That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 86



Setelah kembali dari pesta Asyaa dan Freya merasa lelah, mereka segera membersihkan diri setelah itu mereka mulai membahas soal Arbi,


"Asyaa, tidak ada orang yang bernama Hansel baik itu Putra Raja atau Keponakan Raja, lalu bagaimana kita bisa menemukan kakak Hansel kamu?, Hansel pasti bukan nama aslinya kan?" Mendengar perkataan Freya Asyaa juga berpikir seperti itu, dia yakin Hansel bukanlah nama asli kakak Hanselnya, tidak mendapat tanggapan dari Asyaa Freya kembali bertanya,


"Bagaimana? Apakah Tuan Arbi itu adalah kakak Hansel kamu?"


"Entahlah, wajahnya sedikit mirip dengan kakak Hansel dalam ingatanku, umurnya juga sama, tetapi aku tidak merasa senang dalam hatiku" jawab Asyaa dengan lesu.


"Mungkin kamu tidak merasa senang karena kalian sudah sama-sama dewasa, kalian harus saling mengenal dari awal lagi, mungkin saja nanti perasaan kalian akan tumbuh seiring berjalannya waktu"


"Iya.. aku akan pelan-pelan bertanya apakah dia pernah tinggal di Negara B dan menjaga seorang anak kecil, sesungguhnya tadi di pesta aku sangat ingin menanyakan hal itu, tetapi itu akan tampak terburu-buru, jadi aku memutuskan untuk mengenalinya pelan-pelan"


"Lalu bagaimana jika setelah mengenalinya dan ternyata dia bukan kakak Hansel kamu? Apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku tidak tahu, mungkin saja aku akan menyerah dan melupakannya, kemudian kembali ke Negara B untuk melanjutkan hidupku, akh.. mengapa rasanya sangat sulit menerima kenyataan jika aku tidak bisa menemukannya" Asyaa segera menutup wajahnya karena merasa frustrasi, Freya segera memeluk dan menghiburnya,


"Jangan sedih, selama masih ada harapan untuk menemukannya kita tidak akan menyerah ya, bukankah masih ada satu orang lagi dari keturunan Raja yang memiliki umur yang sama dengan kakak Hanselmu? Jika sudah mengenali Arbi dan ternyata dia bukan Kakak Hanselmu, kita masih bisa menaruh harapan kepada Putra Raja itu bukan? Tunggu sebentar aku akan mengecek profilnya di internet, tadi Arbi mengatakan namanya Rafka kan" Freya segera menyalakan ponselnya dan mencari profil Rafka di internet, dalam beberapa detik hasil pencarian menampilkan berbagai foto Rafka menghadiri acara amal, kegiatan politik dan pemerintahan, dan juga artikel bahwa Rafka telah bertunangan dengan seorang wanita cantik, putri dari menteri pertahanan, Asyaa dan Freya yang melihat artikel tersebut terkagum-kagum dengan visual Rafka, namun juga merasa kecewa, karena Rafka sudah memiliki tunangan.


"Dia sudah memiliki tunangan, dan juga dia orang yang berpengaruh di Negara ini, orang yang begitu luar biasa, pasti dia bukan kakak Hanselku kan?"


"Memangnya mengapa jika dia sudah bertunangan dan orang yang berpengaruh di Negara ini, bukankah kamu mencari kakak Hanselmu? Tidak peduli apa identitasnya dan siapa dia, kamu cukup mencari kakak Hanselmu dan mengenalinya bukan?" Mendengar penjelasan Freya Asyaa menganggukkan kepala, benar apa yang dikatakan Freya, bukankah cukup mengenalinya sebagai kakak Hanselku tidak peduli apa identitasnya, pikir Asyaa.


"Coba kamu lihat, apakah wajah Tuan Rafka ini mirip dengan orang yang ada dalam ingatanmu?"


"Iya, dia memang mirip dengan kakak Hansel dalam ingatanku, tetapi bukankah Arbi juga mirip dengan kakak Hansel dalam ingatanku?"


"Kalau begitu kamu harus segera mencari tahu apakah Arbi adalah kakak Hanselmu atau bukan, jika dia bukan kakak Hanselmu maka kita hanya perlu memastikan apakah Tuan Rafka ini adalah Kakak Hanselmu atau tidak" disaat mereka sedang berdiskusi tiba-tiba ponsel Asyaa berdering itu adalah panggilan dari Arbi, tadi di pesta Arbi dan Asyaa saling bertukar nomor ponsel. Asyaa segera mengangkatnya,


"Hallo"


"Hallo Asyaa, apakah aku mengganggu waktu istirahatmu?"


"Tidak, ada apa?"


"Jika kamu senggang maukah makan siang denganku besok?"


"Makan siang ya, baiklah kebetulan besok aku tidak tahu harus menghabiskan waktu ke mana"


"Syukurlah, kalau begitu besok aku akan menjemputmu pukul 11.00 siang"


"Iya" setelah memastikan akan pergi Asyaa menutup teleponnya.


"Kamu akan pergi makan siang dengan Tuan Arbi?" Tanya Freya kembali memastikan,


"Iya.."


"Apa kamu berharap dia adalah kakak Hanselmu karena Tuan Rafka sudah memiliki tunangan dan identitasnya bukan orang biasa?"


"Iya"


"Bagaimana jika dia adalah kakak Hanselmu yang sebenarnya?"


Asyaa tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya.


Keesokan harinya Freya yang sedang membuat sarapan dengan Asyaa melihat Theo yang sedang duduk bersantai sambil menonton tv kebingungan,


"Kakak, apakah kamu tidak akan pergi ke markas? Apa kamu sudah dipecat?


"Dipecat apa, kamu jangan asal bicara" jawab Theo yang tidak mengalihkan pandangannya dari tv,


"Jika tidak dipecat bagaimana mungkin kamu berada di rumah sepanjang hari? dahulu kamu sangat sibuk bahkan jarang mengunjungi ibu dan ayah meskipun ada acara keluarga"


"Aku sedang dibebas tugaskan"


"Sungguh, mengapa?"


"Rahasia kemiliteran, untuk apa kamu banyak bertanya"


"Cih" mendengar jawaban kakaknya Freya berdecak tidak puas.


Tiba-tiba Theo yang sedang menonton tv itu berkata lagi,


"Oh ya Freya, ajak Asyaa berjalan-jalan nanti agar liburannya tidak terasa membosankan"


"Tentu saja Asyaa harus jalan-jalan, tetapi bukan bersamaku" ujar Freya tersenyum cerah ke arah Asyaa yang sedang berada di sampingnya, mendengar Asyaa yang akan pergi jalan-jalan tidak bersama dengan Freya Theo kembali bertanya,


"Tidak bersama denganmu? Lalu akan pergi bersama siapa? Bagaimana kalau tersesat?"


"Kak Theo, Tuan Arbi mengajak aku makan siang dan dia akan datang menjemputku jadi aku tidak akan tersesat" jawab Asyaa.


"Oh... Baiklah kalau begitu" Theo bangkit dan pergi ke kamarnya, di dalam kamar Theo mengirim pesan kepada Rafka dan memberitahukan bahwa Asyaa akan pergi makan siang bersama Arbi.


Rafka yang sedang berbicara dengan Pak Aji di kediamannya merasa tidak senang, Pak Aji yang melihat raut wajah Rafka berubah tiba-tiba merasa sesuatu telah terjadi, karena Rafka bukan orang yang mudah menunjukkan isi hatinya apapun yang terjadi.


"Rafka.. tanggung jawabmu kepada Negara ini sangat besar, setelah Raja meninggal kamu adalah satu-satunya kandidat yang akan memimpin Negara ini, ingat bagaimana perjuangan kita membongkar percobaan pembunuhan, korupsi dan penggelapan, kedua kakakmu, tidak mudah untuk bisa sampai di posisi ini, dan karena kedua kakakmu sudah di penjara, meskipun kamu adalah satu-satunya kandidat tetapi kamu masih harus membutuhkan dukungan dari pemerintah, jika para pejabat pemerintah berkolusi untuk menentang kamu maka kamu tidak akan bisa menduduki kursi kepemimpinan"


Mendengar perkataan pak Aji Rafka menatapnya penuh tanda tanya, seolah Pak Aji mengetahui sesuatu. Melihat Rafka yang menatapnya seolah meminta penjelasan, Pak Aji mengangkat sudut bibirnya.


"Aku tahu apa yang kamu lakukan selama ini Rafka, gadis kecil yang kamu jaga selama enam bulan di Negara B itu membuat kamu mulai goyah, aku akui dia sekarang sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik, usianya 17 tahun kan? Sebentar lagi usianya akan 18 tahun, itu artinya sedikit lagi dia akan masuk usia dewasa" jelas Pak Aji sambil mengangkat gelas dan menyeruput kopinya perlahan, mendengar penjelasan Pak Aji Rafka memang terlihat tenang, tetapi sorot matanya yang terkejut tidak bisa lepas dari pandangan Pak Aji.