
Cindy yang melihat Jebby pergi mendatangi Viana. Viana yang sedang berdiri itu mendengar suara dari belakangnnya, saat menoleh dia melihat Cindy yang menatapnya dengan senyum menghina,
"Heh.. benar-benar perempuan yang tidak tahu malu, berani beraninya kamu menggoda Direktur?, Apakah kamu tidak puas dengan posisimu di Perusahaan sampai berusaha merayu Direktur Jebby?"
"Apa yang kamu katakan?" Viana sangat kesal dalam hatinya siapa juga yang merayu Direktur mereka, Jebby adalah suaminya mau berbuat apapun terserah dia.
"Kamu masih pura-pura tidak mengerti? Wanita sepertimu ini yang tidak tahu diri harus diberi pelajaran"
"Huh" Viana hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam untuk meredam kekesalannya, Viana melangkahkan kakinya ingin meninggalkan Cindy, dia tau Cindy tidak menyukainya, tetapi dia tidak mau mencari masalah, saat Viana berbalik badan Cindy menarik lengannya dan akan melayangkan tamparan ke wajahnya, Viana juga sudah tidak bisa mencegah tamparan yang akan datang padanya, sehingga dia langsung menutup matanya, tetapi tamparan itu tak kunjung datang, Viana membuka matanya dia melihat Jebby berdiri di depannya dan menahan tangan Cindy kemudian menghempaskannya, Jebby yang kembali setelah mengganti baju langsung mencari Viana, dia tidak menyangka melihat Cindy yang sedang menindas Viana, Cindy yang melihat Jebby datang sangat takut, tetapi dia tetap masih ingin mengatakan hal-hal jelek soal Viana.
"Direktur Jebby, Viana adalah wanita murahan untuk apa kamu bersamanya?, Dia sangat suka menggoda laki-laki"
"Diam kamu, apa hakmu ikut campur urusanku" Ujar Jebby dengan wajah dinginnya yang sangat menakutkan,
"Tetapi..." Cindy masih ingin bicara tetapi langsung disela oleh Jebby
"Pergi dari sini, dan aku tidak mau melihatmu lagi di Perusahaan" Cindy yang mendengar ucapan Jebby kemarahannya kepada Viana bertambah, dia ingin menjambak Viana tetapi tidak bisa, dia hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat untuk menahan amarahnya. Cindy melangkah pergi, saat melewati Viana dia menatap Viana dengan penuh kebencian, setelah kepergian Cindy Jebby langsung memeriksa Viana apakah ada yang terluka,
"Kamu tidak apa-apa?" Jebby memperhatikan tubuh Viana setelah memastikan tidak ada luka ditubuhnya dia kembali berkata,
"Lain kali aku tidak ingin melihat orang lain menindasmu, hanya kamu yang boleh menindas mereka, apa kamu mengerti?" Viana yang tadinya sangat kesal karena Cindy ingin tertawa karena kalimat Jebby,
"Apakah kamu mengizinkanku untuk menindas orang lain" Tanya Viana yang tidak bisa menahan senyumnya
"Mm, bahkan jika kamu membunuh mereka pun aku akan membantu mengubur mayat mereka untukmu" ujar Jebby di hadapan Viana yang sedang tersenyum manis, Jebby yang melihat Viana tersenyum untuknya tidak bisa menahan diri dan langsung mengecup bibir Viana, merasa Viana tidak menolaknya Jebby melanjutkan ciumannya, Viana merespon dengan memeluk Jebby, respons Viana membuat Jebby menciumnya lebih kuat, Lidah mereka saling bertautan satu sama lain, Viana merasa Jebby benar-benar sangat ahli berciuman bahkan membuat dia sudah hampir kehabisan napas, merasa Viana mulai kesulitan bernapas barulah Jebby melepaskannya, Jebby memandangi Viana dengan kelembutan lalu memeluknya seolah ingin membuat Viana merasakan kasih sayangnya.
***
Setelah bermain selama 3 hari para karyawan kembali ke aktivitas mereka sehari-hari, tetapi para karyawan terkejut dengan info pemecatan terhadap Cindy, tidak ada satupun yang tahu mengapa Cindy dipecat dari Perusahaan.
saat jam makan siang tiba, Dio datang menghampiri Viana,
"Viana apakah kamu ada waktu? Bisakah makan siang denganku hari ini?" Tanya Dio dengan senyum manisnya
Viana pernah diberitahu oleh Anet bahwa Dio memiliki perasaan terhadapnya, tetapi Viana tidak terlalu menanggapinya, karena dia pun sudah bersuami, kali ini Dio mengajaknya makan siang, Viana berpikir untuk memberitahu Dio bahwa dia sudah menikah jadi dia menyetujui ajakannya, Dio membawa Viana ke sebuah cafe yang tidak jauh dari kantor, Viana melihat bahwa semua hidangan yang dipesan Dio adalah makanan kesukaannya, Viana paham bahwa Dio mungkin ingin menyatakan perasaannya hari ini, Viana tidak ingin bermusuhan dengan Dio, jadi dia harus mencari cara untuk menolaknya dengan halus nanti, dia tidak ingin kehilangan teman yang baik seperti Dio, sementara makan Viana berpikir keras cara untuk menolak Dio secara baik-baik, disaat itu tiba-tiba ponsel Viana berbunyi, Viana yang melihat panggilan itu dari Anet dia langsung mengangkatnya,
Anet yang berada diseberang telepon terkejut dengan kelakuan Viana,
"Viana apa yang kamu katakan, suami dari hongkong..sudah tidak usah bercanda lagi, bu Riska meminta aku memberitahumu bahwa kita akan ada rapat setelah makan siang"
"Baik-baik suamiku, aku akan segera pulang nanti, ya ya ya.. aku akan memasakkan makanan kesukaanmu, aku tutup ya, aku sedang makan siang dengan temanku, by by suamiku" Viana langsung mematikan telepon dari Anet, setelah Viana selesai menelpon Dio langsung bertanya,
"Viana kamu sudah menikah?"
"Mm, baru beberapa bulan yang lalu" jawab Viana sambil tersenyum seolah-olah tidak mengetahui maksud dan tujuan Dio. Dio sangat kecewa, tetapi dia juga tidak ingin merusak rumah tangga orang lain, ponsel Viana kembali berbunyi, itu adalah telepon dari Jebby, Viana yang tidak ingin Dio curiga bahwa yang tadi menelpon bukan suaminya melainkan Anet, sehingga dia harus meneruskan actingnya.
"Iya suamiku.. aku lagi makan saat ini, nanti aku akan cepat pulang ya, aku tutup sekarang yaa by by suamiku" Jebby yang mendengar panggilan Viana untuknya lupa dengan hal mengapa dia menelpon Viana, Jebby tersenyum seperti orang gila, Viko yang melihatnya langsung menegur bossnya itu,
"Boss.. bukankah kamu akan mengajak nyonya makan siang, mengapa tidak bicara tadi?"
"Dia sudah makan siang" jawab Jebby dengan senyum yang belum pudar dari bibirnya. Viko hanya melihat bossnya dengan tatapan aneh.
***
Hari ini Viana dan Jebby mengunjungi Orang tua angkatnya Hasan dan Maya untuk ikut merayakan ulang tahun Daren, melihat kedatangan Viana dan Jebby, Hasan dan Maya merasa senang, begitu juga dengan Daren dan Asyaa,
Hari ini ulang tahun Daren yang ke 14 sekaligus merayakan Daren yang sudah lulus SMP dan akan segera masuk SMA, Maya sudah memasak sejak pagi untuk merayakannya, sebenarnya Maya dan Hasan ingin merayakan ulang tahun Daren dengan mengundang teman-temannya, tetapi Daren tidak setuju, Daren hanya ingin merayakannya dengan Maya dan Hasan sebagai orang tua angkatnya serta Viana, Jebby dan Asyaa.
"Daren.. kakak ucapkan selamat ulang tahun, dan selamat juga karena sebentar lagi kamu akan segera masuk SMA, kakak berharap kamu dapat mencapai impian-impianmu, kakak akan selalu mendukung apapun cita-citamu, kakak tahu kamu anak yang pintar dan tahu mana yang baik untukmu dan yang tidak" ujar Viana sambil memberikan sebuah kado kepada Daren.
"Terima kasih kakak, aku juga berharap kakak akan selalu bahagia" Daren tersenyum dan mengambil kado yang diberikan Viana, Daren membuka kado pemberian Viana yang ternyata adalah sebuah jam tangan mewah, hal itu membuat Daren merasa Viana pasti telah menghabiskan uang hasil kerja kerasnya selama beberapa bulan hanya untuk membelikannya hadiah, "kakak..kamu tidak perlu membelikan hadiah semahal ini, cukup melihatmu bahagia aku sudah sangat senang" Ujar Daren dengan perasaan bersalah.
"Daren, kakakmu ingin memberikan yang terbaik untukmu, itu artinya kamu begitu penting baginya dibandingkan uang yang dia dapatkan, jadi kamu harus menerimanya ya," Jebby memberikan pengertian kepada Daren untuk menerima hadiah dari Viana tanpa merasa bersalah. Mendengar perkataan Jebby, Daren mengangguk tersenyum dan kembali mengucapkan terima kasih kepada Viana, "dan ini hadiah dari kakak untukmu" Jebby menyerahkan sebuah kado yang lumayan besar untuk Daren.
"Apa ini?" Tanya Daren penasaran
"Kamu bukalah" Ujar Jebby