
Keesokan harinya Alex mulai menghubungi teman-temannya tetapi satu pun tidak ada yang berniat membantu, semua temannya memilik alasan yang beragam untuk tidak membantunya, begitupun dengan Rita, semua teman yang di telepon untuk di ajak bertemu semua menolak, Rita sangat kesal biasanya hari itu di grup sosialita mereka akan ada pemberitahuan untuk berkumpul tetapi hari itu tidak ada pesan masuk di grup tersebut, tetapi dia tetap memutuskan pergi ke tempat di mana mereka sering berkumpul, benar saja semua teman-temannya berkumpul mereka saling memamerkan yang dibalut dengan senda gurau, meskipun begitu setiap orang tahu persahabatan itu palsu, Rita sangat marah dia tahu mereka sengaja tidak menginfokan di grup karena takut dia akan datang, tetapi dia tidak bisa memperlihatkan kemarahannya, semua teman-temannya terkejut dengan kedatangan Rita mereka terlihat sangat canggung, meskipun begitu mereka tetap berusaha mengelak,
"Wah.. Rita akhirnya kamu datang juga, aku pikir kamu tidak akan datang" ujar salah satu temannya,
"Hahaha, meskipun tidak ada info di grup aku tetap akan datang ko" ujar Rita dengan senyum palsu
"Loh.. kamu tidak dapat pesan ya? Bukannya aku sudah mengirim pesan ke semuanya? Rupanya aku lupa mengirim pesan padamu" ujar ketua sosialita itu, ketua sosialita adalah orang yang suaminya lebih tinggi jabatannya dibanding yang lain, penjelasan itu mendapat tanggapan dari temannya yang lain,
"Aduh.. jangan seperti itu dong bu, nanti bu Rita mengira kita tidak mengundangnya"
"Rita, kamu jangan sakit hati ya" ujar ketua sosialita tersebut,
"Tentu saja tidak" jawab Rita dengan senyum yang dipaksakan,
Mereka makan sambil bercerita dan saling pamer, Rita hanya diam saja, salah satu temannya bertanya,
"Ada apa Rita? Mengapa kamu hanya diam saja hari ini? Kamu tidak sakit hati dengan kami karena tidak mendapat pesan kan?" Sesungguhnya mereka sudah tahu keadaan keluarga Rita yang terlilit utang dari para suami mereka,
"Tidak.. tidak, saya sama sekali tidak marah hanya karena tidak mendapat pesan, saya hanya memiliki beberapa masalah, saya datang ke sini siapa tahu teman-teman ada yang bisa membantu saya" ujar Rita yang sedikit menunduk
"Masalah? Masalah apa?" Tanya ketua sosialita pura-pura tidak tahu, mereka semua saling bertatapan tanpa sepengetahuan Rita,
"Aku butuh uang, suamiku berhutang sebesar lima miliar, dua hari lagi penagih utang akan mendatangi rumah kami lagi, kami sudah menjaminkan sertifikat rumah, jika kami tidak bisa membayar utang jelas kami akan di usir dari rumah kami sendiri, bahkan harga rumah hanya tiga miliar lebih, jadi tidak cukup untuk membayar utang tersebut" Jelas Rita dengan wajah sedih,
"Aduh.. gimana ya, suamiku sedang membuka cabang Perusahaan yang baru jadi tidak bisa membantu" ujar ketua sosialita,
"Ya, kalau aku.. juga belum bisa membantu, Perusahaan suamiku lagi tidak baik" ujar salah satu temannya,
Semua temannya juga memiliki berbagai macam alasan untuk tidak meminjamkan uang kepada Rita, setelah itu masing-masing juga memiliki banyak alasan untuk segera pergi dari perkumpulan mereka, yang membuat Rita sangat marah adalah dia masih harus tersenyum dan berkata tidak apa-apa saat masing-masing berpamitan kepadanya, Rita ditinggalkan sendirian duduk di ruangan itu,
Alena yang berusaha menghubungi nomor yang tertera di kartu nama itu tidak pernah diangkat, dia sangat kesal hingga melemparkan semua barang-barang yang ada di meja riasnya, tetapi tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda pesan masuk, itu adalah pesan dari Viko, Alena mengira itu adalah Jebby, pesan tersebut berbunyi "datanglah ke kamar hotel JB Grup nomor 96 pada pukul 21.00, aku akan menemuimu di sana, aku tidak mengangkat telepon karena benar-benar sangat sibuk, maaf" mendapat pesan itu Alena yang tadinya sangat marah menjadi sangat senang.
"Saya sudah memintanya datang ke hotel kita pukul 21.00" ujar Viko yang sedang melapor kepada Jebby di dalam kamar rawat inap Viana,
"Baiklah, apa kamu sudah mempersiapkan semuanya" tanya Jebby
"Iya bos, semuanya sudah siap" jawab Viko singkat, setelah itu dia pamit pergi,
"Sayang, maaf.. aku akan meninggalkanmu sebentar tetapi kamu jangan khawatir aku akan segera kembali, Daren akan datang menjagamu di sini, aku akan membalaskan dendammu kepada mereka, jadi saat kamu bangun semuanya akan baik-baik saja" ujar Jebby berbicara kepada Viana yang sedang koma itu.
Alena yang sudah tidak sabar bertemu Jebby sudah berdandan secantik mungkin, dia juga memakai pakaian yang sedikit terbuka agar terkesan seksi, Alena datang ke hotel tersebut lima belas menit sebelum waktu janjian, saat dia masuk ke kamar tersebut dia melihat kamar itu sebuah meja sudah tertata sedemikian rupa dengan mawar dan anggur yang menghiasi meja tersebut, terlihat dua buah gelas sudah terisi anggur merah, Alena merasa sangat senang, Alena menunggu dengan sabar hingga pukul 21.00, tetapi Jebby belum juga datang, dia masih berpikir mungkin Jebby sedikit terlambat, hingga pukul 21.30 Jebby juga tak kunjung kelihatan batang hidungnya, Alena mulai tidak sabar dia menelpon nomor yang dia anggap nomor Jebby tersebut, tetapi tidak pernah di angkat, meski sangat kesal dia tidak ingin meminum anggur itu sendirian, dia ingin meminum anggur itu dengan Jebby, sampai pukul 21.50 barulah suara langkah kaki terdengar dari luar, meski sangat kesal sebelumnya Alena menjadi kembali ceria, pintu kamar dibuka terlihat Jebby masuk dengan langkah tegas wajahnya yang tampan membuat Alena terpana sesaat, Jebby yang melihat pakaian Alena tampak rasa jijik sekilas muncul di matanya, meskipun dress itu panjang tetapi terbelah di samping membuat pahanya terlihat jelas, dan juga bagian atas sangat terbuka, seolah dress itu akan lepas saat bergerak sedikit saja, meskipun begitu Jebby tetap berusaha tersenyum,
"Maaf.. apakah kamu sudah menunggu lama" tanya Jebby pura-pura tidak tahu bahwa Alena sudah menunggu selama satu jam,
"Tidak.. tidak.. wajar saja jika Direktur terlambat, Perusahaan anda sangat besar bahkan Internasional pasti kerjaannya juga banyak" ujar Alena dengan menempelkan seluruh badannya ke dada Jebby, dan nada suaranya sedikit menggoda, sesungguhnya Jebby sangat ingin mendorongnya sejauh mungkin tetapi dia berusaha menahannya dengan mengepalkan tangannya erat-erat agar tidak refleks mendorong Alena, dengan terpaksa dia merangkul pinggang Alena dan membawanya ke meja makan, saat mereka duduk pintu di buka dari luar itu adalah petugas hotel yang mengantar makanan, Alena merasa sangat bahagia, dia merasa diperlakukan dengan romantis, setelah menyajikan makanan petugas itu pergi, menu makanannya adalah steik,
"Makanlah" ujar Jebby tersenyum kepada Alena, saat sedang memotong-motong steik Alena berusaha mengajak Jebby mengobrol,
"Saya merasa sangat senang dan merasa sangat terhormat bisa makan malam bersama Direktur, anda benar-benar orang yang luar biasa di usia yang masih muda sudah menjadi Direktur dari JB Grup" ujar Alena,
"Benarkah?" Tanya Jebby singkat,
"Ya, saya sangat mengagumi anda, wanita yang bisa bersama anda pasti sangat beruntung"
"Apakah kamu ingin menjadi wanita yang beruntung itu?" Tanya Jebby santai