That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 92



sadar dirinya hilang kendali Rafka berusaha bersikap biasa, setelah membukakan kaleng bir Asyaa, Rafka menyerahkan bir itu. Kemudian dia meminta kaleng bir Freya agar dia bisa membukanya, Freya juga menyerahkan birnya untuk di buka.


Mereka minum sambil mengobrol, baru satu kaleng yang di minumnya, Freya sudah mabuk dan mulai meracau, Theo sangat kesal melihatnya, tetapi bagaimana pun Freya adalah adik kesayangannya,


"Aku akan mengantar Freya ke kamar dahulu" ujar Theo sambil mengangkat Freya yang sudah tertidur.


Rafka melihat ke arah Asyaa yang sedang menunduk di atas meja sambil menutup wajah dengan lengannya, awalnya Rafka biasa saja, namun ketika dia memperhatikan Asyaa dengan saksama, tubuh Asyaa bergetar dan terdengar suara sesenggukan. Dia baru menyadari Asyaa sedang menangis, Rafka mendekat dan memegang bahunya,


"Asyaa... " Rafka memanggilnya dengan lembut, Asyaa, makin menangis tersedu-sedu, Rafka membawanya ke dalam pelukannya.


"Aku merindukannya, aku begitu merindukannya hingga dadaku sesak, mengapa dia tidak menemuiku? Dia sudah janji akan menjagaku selamanya, tetapi buktinya dia tidak menemuiku, maupun menghubungiku, apa yang harus aku lakukan" Asyaa menangis dengan begitu menyedihkan, membuat hati Rafka bagai diiris-iris oleh pisau, tanpa sadar air matanya juga menetes. Dia makin mempererat pelukannya dan membelai Asyaa dengan lembut Hingga Asyaa tertidur dengan air mata yang belum kering di pipinya.


Rafka menggendongnya masuk ke dalam rumah, di ambang pintu Theo yang keluar ingin membicarakan sesuatu dengan Rafka terlihat akan berbicara, namun Rafka segera memberi kode untuk diam karena Asyaa sedang tidur dalam pelukannya. Theo juga tidak jadi berbicara.


"Freya sudah sangat mabuk, takutnya mereka akan saling cakar jika dibiarkan tidur bersama malam ini, biarkan Asyaa tidur di kamar sebelah" bisik Theo, sambil menunjukkan kamar kosong. Rafka membawa Asyaa ke kamar tersebut, kamar itu terlihat bersih dan rapi dengan sebuah kasur besar, Rafka membaringkan Asyaa di kasur tersebut, setelah itu dia mengambil bangku tempat duduk untuk merias dan membawanya ke samping kasur Asyaa, dia tidak ingin meninggalkan Asyaa, momen itu ingin dia nikmati sebaik-baiknya, dia membelai rambut Asyaa secara perlahan, kemudian mengecup kening Asyaa setelah itu Rafka mengecup bibirnya dengan lembut. Menyadari tindakannya seperti orang mesum yang memanfaatkan kesempatan Rafka segera menghentikan perbuatannya. Dia memegang tangan Asyaa dengan lembut seolah yang di pegangnya adalah benda yang mudah pecah jika di genggam menggunakan tenaga.


"Asyaa... Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu, aku ingin melindungimu, bukan maksudku untuk tidak mengenalimu, jika kau bersamaku, aku takut kamu akan dalam bahaya, tidak masalah jika kau membenciku, setidaknya aku tahu bahwa kamu hidup dengan baik, hiduplah bahagia dengan orang-orang yang menyayangimu" bisik Rafka kepada Asyaa yang sedang tertidur, Rafka tidak tidur, tetapi dia justru terus memandangi Asyaa, sampai matahari akan terbit barulah dia kembali ke kediamannya.


Keesokan paginya Asyaa dan Freya terbangun pukul 8 pagi, Theo sudah memasakkan sop pereda mabuk untuk mereka berdua,


"Akh.. kepalaku sangat sakit" Freya mengeluh sambil memijat kepala dengan kedua tangannya,


"Itulah mengapa aku melarang kalian untuk minum, sekarang baru tau akibatnya kan?" Ujar Theo dengan ketus.


"Akh.. kakak. Kamu jangan menambah sakit kepala kami dong" jawab Freya tidak puas.


"Cepat kalian minum sop pereda mabuk, aku akan pergi bekerja, istirahatlah hari ini, jangan ke mana-mana"


"Terima kasih kak Theo" Asyaa berterima kasih karena Theo sudah memasakkan sop pereda mabuk untuk mereka berdua.


Setelah kepergian Theo Freya dan Asyaa mulai berdiskusi.


"Oh ya Asyaa, apa kamu ingat bagaimana kita kembali ke kamar, dan lagi mengapa kamu tidur di kamar sebelah?"


"Aku juga tidak ingat apa yang terjadi tadi malam, dan soal aku tidur di kamar sebelah aku sama sekali tidak ingat"


"Kalau begitu mereka yang membawa kita ke kamar masing-masing?" Tanya Freya dengan bingung,


"Entahlah, aku tidak tahu, aku juga tidak punya bukti apakah dia kakak Hansel aku atau tidak"


Di sebuah kafe Helena bertemu dengan teman-temannya, mereka berbincang-bincang


"Bagaimana Hel, kapan kalian akan menikah?" Tanya salah satu temannya,


"Entahlah, aku masih belum tahu. Rafka masih sibuk dengan pelantikan"


"Jangan lama-lama loh, nanti kalau Rafka kepincut gadis lain gimana"


"Iya benar sekali Hel, kamu harus cepat-cepat nikah, secara calon suamimu itu idaman semua wanita di Negara kita, memangnya kamu tidak takut?"


Mendengar ucapan teman-temannya Helena hanya bisa tersenyum pahit, tunangannya mencintai wanita lain bagaimana dia bisa menikahinya? Dia sudah berusaha untuk membuat Rafka mencintainya selama ini, namun yang dia dapat hanyalah perlakuan dingin Rafka kepadanya, banyak pria dengan status sosial yang tinggi ingin menjadikannya istri, tetapi tidak dengan Rafka, dia tidak tahu apakah dirinya terhadap Rafka adalah cinta yang telah menjadi obsesi karena Rafka satu-satunya pria yang tidak peduli padanya.


Setelah selesai makan dengan teman-temannya, Helena kembali ke rumahnya dengan wajah lelah, ayahnya yang melihat Helena seperti tidak baik-baik saja segera bertanya,


"Ada apa sayang? Apa kamu baik-baik saja?" Melihat keberadaan ayahnya, Helena segera masuk ke dalam pelukannya.


"Ayah"


"Iya sayang, ada apa?"


"Tidak apa-apa, aku hanya lelah" Helena tidak ingin mengatakan sesuatu yang bisa memicu kemarahan ayahnya, ayahnya begitu menyayanginya karena ibunya sudah meninggal sejak kecil, dan Helena adalah putri satu-satunya, apapun yang diinginkan Helena, ayahnya akan menurutinya.


"Apa kamu bertengkar dengan Rafka" mendengar pertanyaan ayahnya Helena terdiam sejenak, tetapi setelah itu dia menggelengkan kepalanya.


"Jika Rafka menyakitimu katakan kepada ayah, biar ayah yang akan memperingatinya" Helena tidak menjawab namun hanya menganggukkan kepala, jika ayahnya tahu tunangannya tidak pernah mencintainya tetapi memiliki wanita lain dalam hatinya, Helena yakin ayahnya akan menghancurkan karier Rafka bagaimana pun caranya.


Keesokan harinya Rafka harus menghadiri acara amal, mau tidak mau dia dia harus pergi dan membawa Helena ke acara tersebut sebagai tunangannya. Sesampainya di tempat acara, di luar gedung banyak wartawan yang sedang menunggu kedatangan mereka, begitu mereka sampai wartawan segera mengepung mereka untuk di wawancara,


Rafka mendapatkan berbagai pertanyaan soal pelantikan dan kesiapannya menjadi Presiden, setelah semua pertanyaan itu telah dijawab, wartawan mulai bertanya soal hubungannya dengan Helena.


"Tuan Rafka, Nona Helena... kalian sudah lama bertunangan, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan" mendengar pertanyaan tersebut Rafka hanya bisa tersenyum, Helena yang berada di sampingnya segera merangkul tangan Rafka dan menjawab,


"doakan saja ya.., mungkin kami akan melangsungkan pernikahan tahun ini" ujar Helena memperlihatkan senyum cerahnya ke kamera, mendengar jawaban Helena Rafka terkejut dalam hatinya, dia hanya bisa melihat wajah Helena yang sedang menatapnya dengan tatapan memperingati, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam saja, seolah membenarkan apa yang di katakan Helena kepada wartawan.