That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 96



Asyaa menceritakan soal Hansel kepada Rafka, Rafka bisa merasakan Asyaa begitu bahagia saat bercerita soal Hansel, Rafka merasa kesal, dia tidak pernah secemburu ini kepada orang lain, meskipun orang lain itu adalah dirinya sendiri.


Setelah sarapan Rafka mengantar Asyaa kembali ke ke rumah Theo, kemudian dia pergi ke kantor. Di kantornya Rafka senyum-senyum sendiri melihat foto Asyaa di dalam bingkai kayu yang sedang di pegangnya, mengingat dirinya bisa melihat Asyaa setiap hari selama dua minggu, bukan cuma melihat tetapi juga bisa menghabiskan waktu bersama Asyaa Rafka sangat senang hingga tidak bisa menghentikan senyumannya, Rafka yang begitu senang meletakkan foto Asyaa di atas meja kerjanya karena dia harus ke kamar mandi, setelah Rafka masuk ke kamar mandi Helena masuk, dia datang karena ingin mengajak Rafka sarapan bersama, dia tahu Rafka kadang malas sarapan jika tidak ada yang mengingatkan. Namun saat dia masuk Rafka tidak ada di ruangan itu, Helena mendengar suara air dari kamar mandi, jadi dia memutuskan untuk menunggu, saat sedang menunggu Rafka tanpa sengaja Helena melihat foto seorang gadis di sebuah bingkai terletak di atas meja, Helena mengambil bingkai itu dan melihatnya, gadis di foto itu terlihat sangat cantik, dia mengingat gadis itu adalah gadis yang sedang bersama Arbi di restoran waktu itu. Tiba-tiba bingkai yang berisi foto itu di tarik oleh Rafka yang kembali dari kamar mandi,Rafka terlihat marah karena barangnya di sentuh,


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Rafka tidak senang. Melihat reaksi Rafka Helena menyadari bahwa itu adalah gadis yang di cintai Rafka selama ini"


"Hah, mengapa kamu yang marah? Seharusnya aku yang marah, tunanganku menyimpan foto seorang gadis, apa aku hanya akan diam saja?" Ujar Helena tersenyum pahit, Rafka tidak membantah dan hanya diam saja, dia kembali duduk di kursinya dan menyimpan foto Asyaa di dalam laci seolah apa yang dibicarakan Helena bukanlah sesuatu yang penting baginya,


"Mengapa? Mengapa kamu melakukan ini padaku? apa salahku? Tidak bisakah kamu mencintaiku sedikit saja? Apa kekuranganku hingga aku tidak bisa dibandingkan dengan gadis yang kamu cintai itu" Teriak Helena, air mata mulai menetes di pipinya. Lagi-lagi Rafka tidak menjawabnya atau menanggapinya sedikit saja, Helena sangat sakit hati dia memilih untuk pergi daripada terus berada di ruangan itu, namun saat dia berbalik terdengar suara Rafka dari belakang,


"Bukankah dari awal aku sudah mengatakan padamu bahwa aku memiliki seseorang yang aku cintai? lalu mengapa kamu masih merasa sakit? seolah aku dengan sengaja menyakitimu, dan satu lagi, kamu adalah gadis yang cantik dan cerdas, kamu juga gadis yang baik, banyak pria yang ingin mendapatkanmu, kamu gadis yang sempurna, satu-satunya kekuranganmu adalah aku tidak mencintaimu"


Air mata Helena makin menetes deras seiring perkataan Rafka yang menyakitkan baginya, dia mengepalkan kedua tangannya erat-erat agar tidak bertindak gila, setelah itu melangkah pergi tanpa menengok ke belakang sedikit pun.


Sesampainya Helena di dalam mobilnya, dia menangis tersedu-sedu,


"Aku tahu.. mencintai orang yang tidak mencintaiku sangat menyakitkan, tetapi bagaimana aku bisa melepaskannya, bagimana aku bisa?" Tangis Helena begitu pedih.


Setelah puas menangis, Helena menyetir mobilnya dan kembali ke rumahnya, ayahnya yang sedang duduk di sofa melihat Helena yang tadi berangkat baik-baik saja, kini kembali dengan mata yang sembap,


"Helena, ada apa sayang?" Tanya Arif khawatir,


"Tidak ayah, aku baik-baik saja" Jawab Helena berbohong,


"Jangan bohong kepada ayah, katakan ada apa? Apa kamu bertengkar dengan Rafka" Helena diam saja dan tidak menjawab, itu berarti dia membenarkan bahwa dia dan Rafka benar-benar bertengkar, mengetahui hal itu Arif sangat marah dan berusaha menenangkan Helena,


"Sayang, kamu jangan khawatir, ayah akan menemui Rafka nanti, ayah akan bicara dengannya, oke" Helena tidak menjawab lagi,


"Ayah, aku lelah, aku akan ke atas untuk istirahat"


"Iya, pergilah"


Setelah kepergian Helena Arif sangat muram, "berani-beraninya membuat putri yang aku sayangi menangis? Awas saja kamu Rafka" ujar Arif marah-marah sendiri.


Di kantornya Rafka yang sedang sibuk membolak-balikkan dokumen, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar, terlihat Arbi masuk dengan muka cemberut,


"Kakak sepupu, mengapa kamu memintaku datang sesegera mungkin semalam? Tetapi kamu sendiri tidak ada di rumah" mendengar pertanyaan Arbi Rafka hanya melihatnya sekilas,


"Akh.. aku menunggumu, tetapi saat kamu belum sampai, tiba-tiba aku memiliki urusan yang mendesak jadi maafkan aku"


"Kakak sepupu..., kamu sangat mudah bilang maaf? Kamu tahu tidak, aku tidak jadi kencan dengan gadis yang aku suka gara-gara kamu?" Mendengar ucapan Arbi Rafka yang sedang membolak-balikkan dokumen terhenti, pulpen yang ada di tangan kanannya patah seketika karena amarah, Arbi yang melihat hal itu terdiam, dia tidak menyangka kakak sepupunya begitu marah hanya karena dia mengeluh, biasanya meskipun Arbi sangat keterlaluan Rafka tidak bereaksi seperti itu.


"Ka..kakak sepupu, ma.. maafkan aku, aku.. aku tidak bermaksud membuatmu marah, aku janji tidak akan mengeluh lagi" Arbi ketakutan melihat reaksi Rafka yang tidak seperti biasanya, dulu meskipun marah Rafka tidak bereaksi seperti itu.


"Maafkan aku, aku hanya lelah, kamu boleh pergi"


"Ba.. baiklah kakak sepupu, aku pergi dulu, jika lelah dengan pekerjaan istirahatlah, jangan memaksakan diri, jika butuh bantuanku hubungi saja aku"


"Mm" Rafka hanya menganggukkan kepala. Setelah kepergian Arbi Rafka mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, dia juga tidak menyangka akan begitu marah mendengar Arbi menyukai seorang gadis, tentu saja Rafka tahu gadis yang dimaksud oleh Arbi adalah Asyaa, tetapi reaksinya benar-benar di luar kendalinya.


Keesokan harinya Helena menghubungi Arbi untuk mengajaknya melakukan kunjungan ke beberapa panti asuhan untuk memberikan sumbangan, namun Arbi tidak bisa karena dia masih memiliki banyak pekerjaan, biasanya jika ada waktu luang Arbi selalu ikut, Kemudian Arbi merekomendasikan Asyaa karena Asyaa pernah cerita banyak melakukan kegiatan sosial di kampusnya kepada Arbi, jadi dia memberikan nomor telepon Asyaa.


Awalnya Helena ragu untuk menghubungi Asyaa, dia tidak tahu bagaimana menghadapi gadis yang dicintai oleh tunangannya, tetapi dia juga ingin mengenalnya, dia ingin mengetahui apa kelebihannya sampai Rafka begitu mencintainya.


Helena mengirim pesan kepada Asyaa yang berisi,


"Halo aku Helena teman Arbi yang sempat berkenalan denganmu di restoran waktu itu, Arbi memberikan nomormu kepadaku"


"Iya.. Halo, ada apa ya" Asyaa yang di chat tiba-tiba sangat penasaran mengapa Helena menghubunginya, ponsel kembali berbunyi Asyaa segera melihat pesan itu,


"Arbi mengatakan kamu sering sekali melakukan bakti sosial, kebetulan aku akan menyalurkan sumbangan ke beberapa panti asuhan, jika kamu berminat kamu bisa bergabung dengan kami, biasanya Arbi sering ikut, tetapi kali ini dia sedang memiliki banyak pekerjaan jadi dia merekomendasikanmu"


"Sungguh?.. kalau begitu aku mau ikut"


"Baguslah, Arbi mengatakan kamu tinggal di rumah Theo kan? kalau begitu aku akan menjemputmu pukul 09.00 pagi"


"Baiklah.. sampai jumpa"