
"Helena" Setelah berkenalan Helena melihat Arbi dengan tatapan penuh senyuman seolah mengetahui sesuatu yang baru dan kembali berkata.
"Gadis yang sangat cantik" Dari ucapan itu Arbi tahu Helena salah paham mengira Asyaa adalah kekasihnya, namun Arbi tidak keberatan dan juga tidak ingin menjelaskan,
"Lain kali maukah bermain denganku?" tanya Helena menatap Asyaa dengan lembut,
"akh.. baiklah" baiklah
"Helena kami masih ada urusan dan harus pergi, selamat menikmati makanan kalian ya, sampai jumpa nanti" ujar Arbi
"Baiklah, sampai jumpa"
setelah meninggalkan restoran Arbi mulai bertanya sambil menyetir,
"Bagaimana, apa kamu sudah memikirkan permintaanmu"
"Mm.. bagaimana kalau kita pergi ke tepi danau tempat yang kita kunjungi terakhir kali, aku ingin melihat susana malam di tepi danau pasti sangat cantik"
"meskipun cantik juga tidak secantik dirimu"
"Hahaha apa sih, gombal deh" gombalan Arbi membuat Asyaa tertawa geli.
Sesampainya di sekitar danau ternyata banyak pasangan kekasih yang sedang berkencan, Arbi sangat senang karena dia dan Asyaa juga seperti pasangan kekasih yang sedang berkencan di malam hari, Asyaa melihat tempat penyewaan sepeda dan mengajak Arbi untuk naik sepeda bersama, mereka menyewa dua buah sepeda untuk berkeliling di sekitar danau.
Di sebuah bangku yang menghadap danau duduk seorang pria yang ternyata adalah Rafka, bangku itu adalah bangku yang di duduki Asyaa saat datang ke danau waktu itu, sudah dua puluh menit dia duduk di bangku itu sambil menikmati suasana dan angin malam seorang diri, merasa sudah cukup lama dia duduk di tempat itu, Rafka berdiri untuk pulang, namun saat dia akan pergi ke mobilnya dia melihat Arbi dan Asyaa yang sedang kejar-kejaran naik sepeda, dalam hatinya Rafka merasa sangat cemburu, lagi-lagi dia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang, telepon terhubung.
"Halo Paman.. Arbi di mana?"
"Arbi? Paman tidak tahu dia di mana" Ujar suara dari seberang telepon.
"Aku minta tolong kepada Paman untuk menelponnya, dan katakan padanya aku menunggunya di rumah segera, ada yang ingin aku bicarakan padanya"
"Baiklah nak, Paman akan segera menghubunginya"
Setelah telepon dimatikan oleh Rafka, tidak lama kemudian terlihat Arbi menghentikan sepedanya, melihat Arbi berhenti Asyaa juga berhenti, Arbi mengambil ponselnya yang berbunyi di kantongnya, setelah melihat orang yang menelpon Arbi meminta Asyaa menunggu,
"Sebentar ya.. ayahku menelpon" Asyaa menganggukkan kepala dan setelah itu Arbi mengangkat teleponnya
"Halo ayah, ada apa?"
"Arbi, kakak sepupumu tadi menelpon, dia menunggumu di rumahnya, katanya ada yang ingin dia bicarakan, kamu segera ke sana secepatnya, jangan membuatnya menunggu"
"Kakak sepupu? Mau bicarakan apa? Aku tidak bisa ke sana sekarang ayah"
"Arbi... Apa kamu lupa siapa yang membuat kamu seperti sekarang ini? Dan lagi keluarga kita yang dahulu tidak dipandang meskipun keluarga kerajaan, sekarang menjadi begitu di hormati, kamu pikir berkat siapa jika bukan karena kakak sepupumu Rafka? jangan membantah ayah, cepat segera ke sana"
"Oke.. oke.. aku ke sana segera" Arbi menutup telepon dengan kesal, baru saja dia ingin bersenang-senang dengan Asyaa tetapi justru harus pergi lagi. Arbi melihat Asyaa yang sedang menatapnya penuh tanda tanya?
"Ada apa?"
"Asyaa lagi-lagi aku harus minta maaf padamu, aku harus pergi lagi" jelas Arbi merasa bersalah,
"Oh, tidak masalah.. aku baik-baik saja, kamu cepat lakukan urusanmu"
"Tidak.. bagaimana kalau aku akan mengantarmu dahulu"
"Tidak perlu, lagian Freya masih bersama Martin, jika aku kembali sekarang kak Theo akan menanyakan Freya, kamu pergi saja aku akan menunggu Freya di sini"
"Hahahaa.. mana mungkin, kamu adalah temanku, aku juga bisa mengerti, pergilah aku baik-baik saja"
"Tetapi kamu harus janji ya, lain kali kita main lagi"
"Iya.. aku janji"
"Terima kasih" Arbi spontan memeluk Freya karena sangat senang, Asyaa juga terkejut dengan reaksi Arbi, Rafka yang melihat dari jauh hanya bisa menahan amarah. sadar dirinya berlebihan Arbi segera melepaskan Freya kemudian dia berpamitan dan pergi, sebelum pergi dia mengembalikan sepeda yang dia gunakan ke tempat penyewaan.
Setelah kepergian Arbi, Asyaa jadi malas untuk bermain karena hanya sendirian, dia berencana mengembalikan sepedanya tetapi tiba-tiba Rafka datang dengan sebuah sepeda seolah-olah tidak sengaja bertemu Asyaa.
"Loh, Asyaa?"
"Tuan Rafka?" Asyaa terkejut melihat Rafka juga sedang bersepeda di sekitar danau,
"Kamu sendirian?"
"Tadi ada Arbi, tetapi dia sepertinya ada sesuatu yang mendesak jadi harus pergi"
"Arbi.. adik sepupu saya?" Tanya Rafka pura-pura tidak tahu,
"Akh.. iya..iya, Asyaa lupa kalau Arbi pernah cerita bahwa anda adalah sepupunya"
"Kamu tidak perlu berbicara begitu sopan kepadaku, bisakah kita bicara santai saja?"
"I..iya"
"Ma.. maukah bersepeda bersama?" Tanya Rafka sedikit gugup, takut Asyaa menolaknya, Asyaa bisa merasakan kegugupan tersebut, sehingga rasa suka menjahili Asyaa keluar,
"Tidak" mendengar jawaban Asyaa, raut wajah Rafka seketika kecewa,
"Aku tidak ingin bersepeda bersama, bagaimana kalau kita bertanding?" Rafka segera menatap Asyaa takut kalau yang dia dengar salah, melihat reaksinya Asyaa ingin sekali tertawa, kemudian dia mengulang lagi apa yang dia katakan tadi,
"Kita bertanding siapa yang bisa sampai di ujung sana bebas meminta 3 permintaan kepada yang kalah, bagaimana?"
"Baiklah" Rafka sangat senang, dia tersenyum begitu memesona, membuat jantung Asyaa berdetak cepat, tidak mau terjerat dengan senyuman Rafka Asyaa mengalihkan pandangannya, kemudian mengambil ancang-ancang untuk mulai bertanding, sepeda keduanya melaju dengan cepat, mereka masing-masing tidak ada yang ingin kalah, hanya dalam tiga menit mereka sampai, dan pemenangnya adalah Rafka, dia sengaja berusaha memenangkan pertandingan agar bisa membuat tiga permintaan itu.
"Huh, Asyaa sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi masih saja tetap kalah" Rafka tersenyum puas melihat Asyaa yang sedang mengoceh karena kalah.
"Ya sudah, cepat katakan tiga permintaan"
"Aku hanya akan meminta satu permintaan"
"Hanya satu saja? Yakin?"
"Iya hanya satu?"
"Oke, cepat katakan"
Rafka tidak segera mengatakan permintaannya, melainkan dia hanya menatap Asyaa dengan serius, di tatap seperti itu membuat Asyaa salah tingkah,
"Ada apa? Mengapa menatap Asyaa seperti itu?"
"Aku takut kamu tidak ingin memenuhi permintaan itu"
"Tidak ingin memenuhi? Mana mungkin? Selama Asyaa bisa, Asyaa akan memenuhinya, Asyaa janji" setelah Rafka mendengar Asyaa bicara dia baru menyadari bahwa Asyaa sering kali berbicara dengannya dengan menyebut namanya sendiri, sama seperti Asyaa berbicara kepadanya dan orang-orang terdekatnya waktu kecil, Asyaa tidak menyadari perbedaan caranya bicara kepada Rafka berbeda dengan caranya bicara kepada orang lain, mungkin karena dalam hati kecil Asyaa sudah mengenali Rafka sebagai Hansel dengan sendirinya.