
Setelah pesta selesai dan para tamu sudah kembali Asyaa datang ke hadapan Jebby, Jebby sudah tahu apa yang akan dikatakan Asyaa, dia berusaha menghindar dan pura-pura akan pergi untuk menelpon, tetapi Asyaa tahu ayahnya hanya tidak ingin mendengar permintaannya, dia juga tidak menyerah, dia mengikuti ke mana langkah kaki Jebby sampai Jebby menyerah,
"Apa ayah masih tidak mengizinkanku? Aku sudah 17 tahun ayah, aku bisa menjaga diriku sendiri, aku mohon ijinkan aku ya" melihat mata Asyaa yang berkaca-kaca Jebby sungguh tidak tahan, Jebby memeluk Asyaa dan berusaha menjelaskan,
"Sayang, ayah bukan tidak mengizinkanmu, kamu boleh meminta apa pun ayah akan memberikannya hanya saja ayah tidak rela jika kamu harus pergi meninggalkan ayah dan ibu"
Setahun yang lalu waktu ulang tahunnya yang ke 16 tahun, Asyaa meminta izin kepada Jebby untuk pergi mencari Hansel, namun Jebby tidak mengijinkannya dengan alasan Asyaa belum cukup umur untuk bepergian sendiri, tetapi alasan yang sesungguhnya yang tidak pernah dia katakan kepada Asyaa adalah dia tidak ingin Asyaa mencari Hansel, dia tidak ingin putrinya bergantung kepada pria lain, dan sesungguhnya setelah menyelidiki sekian lama Jebby sudah mengetahui Hansel berada di Negara mana dan siapa Hansel sebenarnya, tetapi dia tidak memberitahukan kepada Asyaa, identitas Hansel membuat Jebby tidak ingin membiarkan putrinya bersama Hansel.
Dahulu Asyaa mengerti mengapa Jebby tidak mengijinkannya karena memang umurnya masih sangat kecil waktu itu, tetapi kali ini dia tidak akan menyerah, melihat harapan yang kuat dan tidak akan menyerah kali ini Jebby tidak memiliki pilihan lain selain mengizinkannya, setelah mendapat izin dari Jebby Asyaa sangat senang dan memeluk Jebby dengan erat, kemudian berlari ke arah Viana dan memeluknya yang sedang duduk di sofa bersama Ayden, Ayden melihat kakaknya begitu senang mencibirnya,
"Huh, dasar wanita" Ujar Ayden yang saat itu sedang membaca buku ekonomi dalam bahasa inggris, Asyaa yang mendengar cibiran Ayden tidak senang dia beralih dari pelukan Viana segera mencubit pipi Ayden dan mengacak-acak wajah dan rambutnya, Ayden yang diperlakukan seperti anak anjing tidak bisa menghindari tangan kakaknya yang ke sana ke mari di wajah dan rambutnya,
"Dasar anak nakal, umurmu baru 7 tahun seharusnya kamu bermain dengan anak-anak lain, mengapa harus mengurung diri di rumah dan membaca buku yang materinya sangat berat, seharusnya kamu membaca dongeng dan bermain"
"Kamu saja yang baca dongeng sana" Ayden kembali merapikan rambutnya yang di acak-acak oleh Asyaa.
Setelah mendapat izin dari Jebby dan Viana Asyaa sangat senang dan kembali ke kamarnya, saat dia memeriksa semua kado yang merupakan hadiah ulang tahunnya seperti biasa, ada sebuah kado tanpa nama dan tanpa kartu ucapan, sejak ulang tahunnya yang ke 5 sampai ulang tahunnya yang ke 17 selalu saja ada sebuah kado tanpa nama dan tanpa kartu ucapan, kali ini hadiahnya sebuah gaun yang sangat indah dan tentu saja Asyaa tahu gaun itu adalah gaun yang berharga fantatis, dalam hati Asyaa berharap itu adalah kado dari Hansel sehingga dia menyimpan semua kado tanpa nama itu sejak pertama kali menerimanya saat umur 5 tahun.
Di Negara M, Hansel yang sedang berada di ruang kerja bertanya kepada asistennya,
"Apa kamu sudah mengirimkan kadonya?"
"Baiklah, kamu boleh pergi" asisten itu melangkah pergi, tetapi dalam hatinya berpikir, setiap tahun Tuannya sering mengirim kado saat tanggal 7 Januari sehingga kado itu bisa sampai tanggal 8 Januari ke Negara B dan ke alamat yang di tuju, dia sangat penasaran siapa penerima kado itu, Tuannya adalah orang yang sangat dingin, bahkan kepada tunangannya saja dia tidak pernah memilih sendiri hadiah yang akan diberikan, justru Tuannya hanya menyuruh dirinya yang membelikan hadiah untuk tunangan Tuannya itu, apa pun yang dia belikan Tuannya tidak peduli, tetapi setiap mau tanggal 7 Januari Tuannya sering kali secara khusus pergi untuk memilihkan hadiah untuk seorang wanita, dia curiga Tuannya berselingkuh dengan wanita lain, tetapi mengapa jika Tuannya berselingkuh, itu bukan urusannya, pikirnya.
Saat umur 15 tahun Asyaa menyelidiki pengirim kado itu, dia sempat kesulitan menyelidikinya, namun berkat kerja kerasnya dan butuh waktu sebulan sampai dia mengetahui bahwa kado itu dikirim dari Negara M, sejak mengetahui kado itu dari Negara M, Asyaa meminta izin kepada Jebby untuk mencari Hansel ke Negara M, namun karena umurnya yang masih kecil Jebby tidak mengijinkannya saat itu. Saat itu Daren tahu obsesi Asyaa kepada Hansel sangat kuat membuat dia cemburu karena Asyaa lebih menyukai Hansel dibandingkan dirinya, dahulu saat kecil Asyaa sangat menyukainya, sampai kehadiran Hansel membuat Asyaa tidak begitu bergantung lagi kepadanya, tetapi demi kebahagian keponakannya dia tidak ingin menghalangi Asyaa, namun dia juga tidak memberitahu Asyaa meski dia tahu bahwa Hansel berada di Negara M, Daren menyelidiki Hansel bersama Jebby.
Seminggu kemudian Asyaa diantar ke bandara oleh Jebby, Viana, Ayden serta Daren.
"Kamu jaga diri baik-baik di sana, hubungi ayah dan ibu jika kamu kesulitan, ayah dan ibu akan segera datang untuk menemuimu" ujar Viana sambil memeluknya.
"Sayang, apa pun yang terjadi kamu memiliki ayah di sini, ingat itu. Kamu adalah Putri ayah yang sangat berani dan kuat, ayah yakin kamu bisa menghadapinya" Jebby memegang bahu Asyaa dengan lembut dan menatapnya dengan serius, membuat Asyaa seperti Ayahnya ingin mengetahui sesuatu, dia ingin bertanya tetapi sudah pasti ayahnya tidak akan memberitahukannya. Jebby tahu Hansel sudah memiliki seorang tunangan, dia membiarkan Asyaa pergi karena Asyaa yang terus memaksa ingin pergi mencari Hansel, dia berharap setelah Asyaa melihat sendiri Hansel sudah memiliki kehidupan baru Asyaa bisa menyerah dan kembali bergantung kepadanya, dia akan mencarikan pria yang jauh lebih baik dari Hansel untuk Asyaa.
"Asyaa, teleponlah Paman kapan pun kamu butuh bantuan, jika ada yang menyakitimu kamu harus melawan jangan pernah mau di tindas oleh orang lain" ujar Daren memeluknya.
"Paman, aku bukan akan pergi berperang untuk apa begitu banyak wejangan" setelah Daren Asyaa berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan Ayden, terlihat wajah Ayden yang sering menampakkan wajah dingin dan cuek itu tidak bisa menutupi kesedihannya.
"Ada apa? Apa kamu sedih kakak akan pergi?" Tanya Asyaa kepada Ayden.
"Untuk apa aku sedih, aku senang tidak ada yang akan menggangguku saat sedang membaca buku" Ujar Ayden berpura-pura,
"Benarkah? Kalau begitu aku akan pergi" Asyaa berdiri dan berpura-pura tidak peduli kepada Ayden, namun tiba-tiba tangannya di pegang oleh sebuah tangan kecil Ayden.