
Tok..tok..tok, pintu kamar rawat yang di tempati Jebby di ketuk, itu adalah Maya dan Hasan sekeluarga yang datang untuk menjenguk Jebby, di hari ke dua Jebby di rawat.
Maya dan Hasan mendengar bahwa Jebby di rawat di rumah sakit datang menjenguk, Asyaa dan Daren juga ikut datang. Saat mereka datang di ruangan itu ada bibi Ajeng dan asisten Viko serta Viana yang sedang menjaga Jebby. Bibi Ajeng terkejut melihat sesosok makhluk kecil yang sangat imut yang begitu mirip dengan Jebby siapa lagi kalau bukan Asyaa, Viko tidak sengaja melihat reaksi bibi Ajeng yang tampak terkejut itu,
"Siapa anak itu?" bisik bibi Ajeng kepada Viko yang berdiri tidak jauh di sebelahnya.
"Dia adalah adik dari Nyonya Viana" jawab Viko sambil berbisik juga. Viko dan bibi Ajeng saling menatap penuh arti.
dia berpikir jika saja dia tidak mengenali Jebby dan Asyaa, pasti dia akan mengira bahwa Asyaa adalah putri kandung Jebby, begitu pun mungkin dengan bibi Ajeng.
"Ibu ayah kalian datang?" Safa Viana kepada Maya dan Hasan.
"Iya, menantu kami sedang sakit, mana mungkin kami tidak datang, ibu bawakan makanan untuk kalian" ujar Maya sambil tersenyum
"Kakak.. aku merindukanmu. Kakak Daren juga merindukanmu" ujar Asyaa sambil berlari masuk ke dalam pelukan Viana.
"Benarkah" tanya Viana melihat ke arah Daren yang sedang tersenyum mengiyakan kalimat Asyaa.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah baik-baik saja?" Tanya Hasan kepada Jebby yang sedang bersandar di ranjang rumah sakit itu.
"Ayah mertua aku baik-baik saja" terima kasih karena ayah dan ibu mertua sudah repot-repot datang menjengukku.
"Kamu sakit begini pasti karena pekerjaan, jika lelah istirahatlah jangan memaksakan diri, bagaimana jika sesuatu yang fatal terjadi padamu? Untung saja hanya demam tinggi" nasihat Hasan
"Iya ayah, aku akan memperhatikan kesehatanku" jawab jebby yang tersenyum getir, jika saja anakmu tidak menggodaku di tengah malam yang membuatku harus mandi air dingin, bagaimana mungkin aku bisa masuk rumah sakit, pikir Jebby dalam hati yang tidak berani dia ungkapkan.
"Paman semoga kamu cepat sehat, biar bisa main lagi nanti sama Asyaa" ucap Asyaa yang sedang berdiri di pinggir ranjang Jebby.
"Terima kasih sayang, Paman janji akan segera sehat biar bisa cepat main lagi sama Asyaa ya.." jawab Jebby sambil mengelus kapala Asyaa
Di dalam ruangan itu Hasan dan Maya sedang berbincang-bincang dengan ceria bersama Jebby dan Viana, Asyaa bermain dan berlarian kesana kemari, Viko mendekati Asyaa dan berusaha mengakrabkan diri, Viko mengelus kepala Asyaa dan mengambil beberapa helai rambutnya, Viko mengira tidak ada yang memperhatikannya, tetapi dia tidak menyadari bahwa hal yang dia lakukan itu dilihat oleh Daren yang sedang duduk bermain ponsel di sofa yang ada di ruangan itu, tetapi daren tidak menghalanginya, karena dalam hati Daren pun ingin mengetahui hasilnya, dia tahu jelas bahwa Viko pasti ingin melakukan tes DNA terhadap Asyaa dan Jebby selaku bossnya, jadi dia tidak akan menghalangi karena dia pun sangat penasaran mengapa Asyaa begitu mirip dengan Jebby. Setelah mendapatkan rambut Asyaa Viko langsung berpamitan kepada Jebby.
"Boss aku masih ada pekerjaan yang akan aku lakukan, aku pamit sebentar" ujar Viko.
"Baik pergilah... jika ada masalah tolong kabari aku" ujar Jebby.
"Baik" jawab Viko, lalu dia melangkah untuk meninggalkan ruangan Jebby, tetapi sebelum itu dia melihat ke arah bibi Ajeng yang menatapnya penuh arti. Daren yang melihat kepergian Viko langsung berdiri dan berbicara kepada Viana,
"Kakak.. bolehkah aku meminjam ponselmu? aku ingin menghubungi temanku tetapi sedikit lagi baterai ponselku akan habis" ujar Daren yang sedikit merasa bersalah karena berbohong kepada Viana. Setelah Viana memberikannya, Daren memeriksa kontak ponsel Viana dan mencari nomor Viko, setelah menemukannya dia langsung menyalin nomor Viko ke ponselnya, setelah itu dia berpura-pura menghubungi seseorang yang sesungguhnya dia hanya menghubungi nomornya sendiri, sebelum dia menghubungi nomornya dia mematikan nada dering ponselnya agar tidak berbunyi saat dihubungi. Setelah itu dia mengembalikan ponsel Viana.
"Mengapa? Tidak jadi menghubungi temanmu?" Tanya Viana yang tidak mendengar Daren menelpon.
"Felix, tolong periksa kedua DNA ini untukku" ujar Viko
"DNA siapa yang ingin kamu periksa?" Tanya Felix selaku dokter dan sahabat Viko
"Iniii...aku belum bisa memberitahumu, kamu tolong periksalah terlebih dahulu, jika hasilnya sudah keluar tolong kirim ke ponselku, berkas aslinya akan aku jemput sendiri nanti" ujar Viko
"Baiklah... aku akan berusaha agar hasilnya akan cepat keluar"
"Kira-kira berapa lama menunggu hasilnya?" Tanya Viko
"Tiga hari, aku akan berusaha tiga hari sudah keluar hasilnya" jawab Felix meyakinkan Viko.
"Baiklah, segera hubungi aku jika sudah keluar"
"Oke, aku akan pergi dan langsung memeriksanya" ujar Felix sambil melangkah masuk ke ruang laboratorium.
Daren hanya melihat Viko dari jauh dan mendengar bahwa hasilnya akan keluar tiga hari lagi, dia pergi dan kembali ke kamar rawat Jebby.
"Kakak Daren, kamu dari mana?" Mengapa tidak mengajakku? Kamu keluar jalan-jalan sendiri, jahat" ucap Asyaa dengan wajah cemberut.
"Kakak hanya pergi ada urusan sebentar, bukan jalan-jalan" jawab Daren sambil mencubit pipi Asyaa.
"Huh...Kakak berbohong"
"Sudah-sudah, kakak Daren ada urusan jadi tidak bisa mengajak Asyaa, sekarang kita pulang yaa, Paman Jebby butuh istirahat" Ujar Maya yang berusaha menenangkan Asyaa yang sedang cemberut terhadap Daren.
"Baiklah, mari kita pulang, tetapi kakak Daren harus gendong Asyaa" ucap Asyaa
"Iyaaa, kakak Daren akan menggendong kamu" jawab Daren sambil mengangkat Asyaa dan menggendongnya,
"Jebby.. ayah dan ibu pergi ya, kamu istirahatlah yang baik, semoga cepat sembuh" ujar Maya
"Terima kasih karena ayah dan ibu sudah mau datang menjengukku"
"Mm.. Viana, jaga Jebby baik-baik ya, jika butuh sesuatu hubungi ibu dan ayah, kami akan berusaha membantumu" ujar maya lagi
"Iya.. ibu, terima kasih"