That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 102



Mendengar pertanyaan Freya, Asyaa tidak segera menjawab, karena dia tidak tahu bagaimana memberitahukan kepada Freya.


Tiba-tiba ponsel Asyaa berbunyi itu adalah Rafka yang menelpon, sudah berbunyi beberapa lama Asyaa belum juga menjawabnya, Freya yang di sampingnya merasa penasaran.


"Ada apa? Mengapa kamu tidak menjawabnya?"


"Akh.. iya, aku akan menjawabnya" Asyaa bangkit dari sofa dan menjawab telepon di dalam kamar.


"Hallo"


"Hallo Asyaa, bisakah kamu keluar sebentar? Aku ada di depan rumah" Rafka tidak tahan tidak bertemu Asyaa, dia juga ingin melihat keadaan Asyaa, maka dari itu dia segera bergegas ke rumah Theo, rencananya itu adalah terakhir kali dia menemui Asyaa sebelum pelantikan.


"Maaf, sepertinya tidak bisa" Asyaa menolak untuk menemui Rafka yang sudah berada di depan rumah.


"Aku mohon temui aku kali ini saja ya?"


"Maaf"


"Jika kamu tidak keluar, kalau begitu maka aku saja yang masuk ke dalam rumah"


"jangan... Asyaa saja yang keluar" mendengar Rafka akan masuk ke dalam rumah Asyaa segera mengiyakan untuk menemuinya di luar rumah, karena Asyaa tidak mau Freya mengkhawatirkannya.


"Freya, aku ke depan ya.. kak Rafka ingin menemuiku" setelah mematikan telepon Asyaa segera keluar dari kamar, saat melewati ruang tamu di mana Freya duduk menonton tv Asyaa memberitahukan kepada Freya untuk keluar sebentar.


Keluar dari rumah, Asyaa melihat Rafka yang sedang berdiri di samping mobilnya, sesampai di hadapan Rafka Asyaa tidak berbicara melainkan menunggu Rafka yang memulai pembicaraan, Rafka melihat Asyaa dengan teliti, setelah memastikan Asyaa baik-baik saja dalam hatinya merasa lega.


"Asyaa.. maafkan aku, karena aku Paman Ali menemuimu, dan maaf jika ada kata-kata Paman Ali yang menyakiti hatimu, aku.."


"Untuk apa kak Rafka minta maaf, lagi pula kita tidak ada hubungan apa-apa, seharusnya aku yang minta maaf karena kehadiranku menimbulkan kesalahpahaman antara kak Rafka dengan Paman Ali, dan mungkin juga dengan tunangan kak Rafka" ujar Asyaa menyela perkataan Rafka,


"Tidak Asyaa.. a..aku.." dalam hati Rafka sangat sakit mendengar perkataan Asyaa, dia sangat ingin mengatakan bahwa dia adalah kakak Hanselnya yang selama ini dia cari.


"Mungkin dengan begini aku akan lebih fokus mencari keberadaan kakak Hanselku, jika dalam waktu 1 bulan lagi aku tidak menemukannya maka aku akan kembali ke Negara B" Asyaa melihat raut wajah Rafka yang terlihat sangat kecewa, entah mengapa dia juga merasa sakit hati.


"Oh ya.. Asyaa dengar seminggu lagi kak Rafka akan di lantik, semoga lancar ya, dan Asyaa ucapkan selamat. Asyaa masuk ya" Asyaa berbalik pergi melangkah menuju rumah.


"Asyaa" Rafka memanggil Asyaa dengan suara yang tidak pelan tetapi meski begitu Asyaa masih bisa mendengarnya, namun meski mendengar Asyaa tidak menengok ke belakang, tanpa sadar air mata Asyaa menetes sesaat, dia tidak tahu perasaan apa yang dia rasakan.


"Mengapa aku menangis, apa mungkin aku berharap kalau kak Rafka adalah kakak Hansel, mungkin saja kecurigaanku selama ini salah" gumam Asyaa, Asyaa menghapus air matanya sebelum masuk ke rumah.


Setelah pelantikan Rafka menempati ruang kerja kepresidenan, namun dalam hatinya merasa tidak bahagia. Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar, Menteri Pertahanan yang tidak lain adalah ayah Helena datang.


"Paman, silakan duduk" Rafka berdiri dari kursinya dan mengarahkan Arif ke sofa yang ada di ruangan itu.


"Pak Presiden maaf jika saya mengganggu pekerjaan anda"


"Paman Arif panggil aku Rafka saja, tidak perlu begitu formal, saya merasa tidak nyaman"


"Baiklah"


"Ada perlu apa Paman datang ke sini?"


"Aku datang ke sini karena ingin bertanya kapan kamu dan Helena akan melangsungkan pernikahan?"


"Paman, bisakah beri aku waktu? Aku baru saja dilantik, dan masih banyak pekerjaan kepresidenan yang harus aku pahami, Paman mengerti kan?"


"Baiklah.. aku akan memberimu waktu satu bulan, jangan coba-coba untuk mempermainkan Helena, jika tidak aku bisa membuatmu turun dari jabatanmu"


Arif pergi setelah kembali memperingati Rafka, dia tidak ingin putrinya terus digantung tanpa kepastian oleh Rafka.


Setelah menjadi Presiden Rafka kembali datang ke lingkungan rumah Theo, dia sangat merindukan Asyaa, dia ingin melihat Asyaa secara langsung meski hanya dari jauh, dia ingin seperti dulu lagi, bisa makan dan jalan-jalan dengan Asyaa tetapi hal itu mustahil untuk terjadi lagi, karena dia tidak tahu alasan apalagi yang harus dia gunakan agar bisa dekat dengan Asyaa lagi. Setelah menunggu lama akhirnya Asyaa keluar untuk membuang sampah di tempat pembuangan sampah di depan rumah, Asyaa tidak memperhatikan ada mobil di sekitar itu, setelah membuang sampah Asyaa segera masuk ke dalam rumah, Rafka yang bisa melihat Asyaa meski hanya sekilas merasa senang, lalu dia kembali ke kediamannya.


Satu bulan telah berlalu, Arif mengajak Paman Ali dan Rafka makan malam bersama untuk membahas pernikahan Helena dan Rafka, Rafka tahu dia tidak bisa menghindar lagi dari pernikahan ini, Rafka makan-makanan di hadapannya dengan terpaksa, sedangkan Paman Ali dan Arif ayahnya Helena tersenyum dan membahas pernikahan dengan raut wajah bahagia, adapun Helena hanya diam saja, dia bisa melihat bahwa Rafka terpaksa menerima pernikahan mereka. Di saat mereka sudah mau menentukan tanggal pernikahan tiba-tiba ponsel Rafka berbunyi, itu adalah asisten Presiden.


"Halo Pak, maaf mengganggu tetapi ini darurat, sebuah provinsi di daerah barat dilanda gempa berkekuatan 8,7 skala richter, banyak bangunan yang hancur dan terdapat banyak korban jiwa, meski jumlahnya belum bisa di pastikan"


"Baiklah, arahkan semua instansi terkait untuk menyiapkan bantuan medis dan bahan logistik untuk di kirim ke daerah itu secepatnya, dan juga siapkan sebuah helikopter untuk saya pergi ke sana" setelah memberi perintah Rafka segera menutup teleponnya.


"Saya harus pergi, sebuah provinsi di wilayah barat telah di landa gempa, saya harus mengamati tim medis dan bahan logistik yang akan di kirim ke sana apa sudah siap atau belum, dan juga saya akan berangkat ke daerah itu" jelas Rafka kepada Paman Ali, Arif dan Helena.


"Tidak.. kamu tidak bisa pergi ke sana, bisa saja akan ada gempa susulan, kamu adalah Pemimpin Negeri ini, bagaimana jika terjadi sesuatu kepadamu?" Ujar Paman Ali merasa khawatir.


"Iya Rafka, di sana akan sangat berbahaya" timpal Arif


"Paman aku harus pergi, kasian masyarakat di sana, mereka pasti kesusahan, setidaknya dengan kehadiranku bisa memberi semangat untuk mereka yang sedang berduka karena kehilangan anggota keluarga dan tempat tinggal mereka" setelah berpamitan Rafka bergegas menuju istana kepresidenan dan memberi instruksi kepada semua menteri untuk rapat dadakan, hanya dalam 30 menit semua menteri hadir, kecuali yang berhalangan datang, Rafka memimpin rapat dalam waktu satu jam, setelah itu pergi ke provinsi bagian barat menggunakan helikopter bersama beberapa pengamanan presiden.