
Semua Tim Relawan Asyaa terkejut, begitu pun dengan Dany yang sudah pernah melihat interaksi Rafka dan Asyaa.
"Apa yang bapak lakukan?" Tanya Asyaa dengan berbisik, namun pertanyaan itu tidak di jawab oleh Rafka, Rafka hanya memandanginya dengan raut wajah yang dingin, mengetahui Rafka sedang marah Asyaa tidak berani bertanya lagi.
Mengetahui dirinya di tatap oleh teman-teman Tim Relawannya, Asyaa merasa sangat malu, dia berusaha menyembunyikan wajahnya di dada Rafka, gerakan Asyaa membuat sudut bibir Rafka sedikit terangkat, Rafka menggendong Asyaa diikuti oleh beberapa Pengawal Presiden dan Asistennya.
"Ada apa ini? siapa Asyaa sebenarnya? Pak Presiden begitu khawatir dengannya, aku sampai terkejut" Ujar Bella
"Iya, aku juga. aku tidak menyangka bisa melihat Pak Presiden begitu dekat, bahkan bisa melihat sisi lain dari Pak Presiden, waaahh.. luar biasa" Timpal Anggota Relawan lainnya.
"Apakah Asyaa adik Pak Presiden?
"Tidak mungkin, Pak Presiden hanya punya dua saudara laki-laki, dan keduanya sudah di penjara"
"Benar juga ya, atau mungkin saja Asyaa adalah sepupu Pak Presiden" Semua anggota Tim Relawan mencoba menebak-nebak hubungan Asyaa dan sang Presiden, kecuali Dany, Dany tahu betul dari percakapan Rafka dan Asyaa yang tidak sengaja dia dengar dua hari yang lalu, hubungan Rafka dan Asyaa adalah hubungan seorang pria yang menyukai seorang wanita, namun Dany tidak memberitahukan kepada Anggotanya.
Setelah sampai di tendanya, Rafka membaringkan Asyaa di kasur lipat miliknya, Asyaa yang begitu diperhatikan oleh Rafka merasa tidak nyaman.
"Pak.. Asyaa tidak apa-apa, hanya keseleo saja jadi.."
"Apanya yang hanya keseleo? bukankah aku sudah mengingatkanmu utuk jangan sampai terluka? tetapi apa ini? baru berapa hari saja kamu sudah keseleo, bagaimana jika kamu akan lebih lama lagi di sini?"
"I..itu tidak akan terjadi lagi" Gumam Asyaa yang bisa di dengar oleh Rafka.
"dan satu lagi, jika kita hanya berdua tolong panggil saja seperti biasa, tidak perlu terlalu formal." mendengar permintaan Rafka Asyaa hanya mengangguk pelan.
Tiba-tiba Rafka memanggil Asistennya, setelah asisten itu datang, Rafka memberi perintah,
"Aldo.. Tolong kamu hubungi istana, dan minta kirimkan helikopter ke sini"
"Apakah Bapak akan kembali hari ini?" Tanya Asisten tersebut.
"Tidak, saya hanya akan mengantarnya pulang, lalu kembali lagi ke sini" Mendengar perintah Rafka kepada Asistennya Asyaa terkejut,
"Tidak.. Asyaa belum ingin kembali, lagi pula Asyaa hanya keseleo, jadi dua hari lagi bisa berjalan normal, Asyaa tidak ingin kembali" Sela Asyaa di antara pembicaraan Rafka dengan Asistennya.
"Kamu harus pulang, aku akan mengantarmu"
"Tidak.. Asyaa mohon, Asyaa belum mau pulang" Asyaa memohon dengan raut wajah yang sangat sedih dan seolah akan menangis, Rafka yang melihatnya menjadi tidak tega,
"Baiklah.. baiklah, aku tidak akan mengantarmu pulang, tetapi kamu harus terus di sini, aku akan memberitahukan kepada Tim Relawanmu kalau kamu akan di rawat di sini, bagaimana?"
"Mm.. baiklah" Asyaa terpaksa menyetujui dirinya di rawat di tenda kepresidenan dibandingkan harus kembali.
Rafka merawat Asyaa dengan teliti, meskipun hanya kaki Asyaa yang keseleo tetapi Rafka juga menyuapi makanan untuk Asyaa, Asyaa selalu mencoba untuk menolak, namun Rafka yang sering mengancam akan mengantarnya pulang jika tidak menurut membuat Asyaa mau tidak mau harus menerimanya.
Asyaa yang tidak sengaja mendengar Rafka menelpon merasa kasihan. Sepertinya ada orang-orang yang ingin reputasi Rafka hancur di mata masyarakat, diam-diam Asyaa mencoba menghubungi Jebby,
Di Negara B, Jebby yang sedang memeriksa dokumen-dokumen di kantornya melihat ponselnya berdering, itu adalah panggilan dari putri kesayangannya, tanpa basa basi Jebby segera menjawabnya,
"Halo"
"Ayah"
"Iya sayang, mengapa baru menghubungi hari ini? Ibumu sudah khawatir karena kamu sama sekali belum menelpon sudah beberapa hari, ibumu berusaha menghubungimu tetapi tidak bisa tersambung"
"Apa hanya ibu saja yang khawatir? Kalau ayah bagaimana?
"Tentu saja ayah juga sangat khawatir, jika hari ini kamu belum juga ada kabar, ayah akan menyuruh orang-orang ayah untuk mencarimu, kemudian membawamu kembali ke Negara B"
"Maaf ayah sudah membuat kalian khawatir, Asyaa sibuk karena ikut menjadi Tim Relawan di lokasi bencana di sini, ayah pasti juga sudah membaca beritanya kan?" Mendengar Asyaa menjadi Tim Relawan Jebby sangat marah dia tidak suka Asyaa dalam bahaya, tetapi dia tidak bisa memarahi putrinya itu,
"Ayah, sebenarnya Asyaa menelpon karena butuh bantuan ayah"
"Bantuan? Bantuan apa sayang?"
"Itu... Apa Ayah bisa mengirimkan bantuan makanan dan obat-obatan kepada kami di lokasi bencana?
"Loh.. memangnya kenapa?"
"Iya ayah, para pengungsi kekurangan makanan dan obat-obatan, tetapi Pemerintah di sini belum mengirimkannya, apa ayah bisa membantu?
"Baiklah, Ayah akan segera meminta kakakmu Daren untuk segera ke Negara M untuk mengaturnya, karena kita belum memiliki cabang di Negara M maka hanya bisa meminta kolega-kolega yang berada di sana untuk turun tangan"
"Terima kasih ayah.. jangan lupa kirimkan pakaian, selimut, dan keperluan bayi dan wanita juga"
"Iya... Asal kamu harus janji bahwa kamu akan baik-baik saja di sana"
"Iya ayah, aku baik-baik saja" Asyaa tidak mengatakan kalau dia sedang di rawat karena keseleo, jika ayahnya tahu dia pasti akan segera di jemput meskipun tidak mau.
Setelah berusaha menghubungi beberapa orang, Rafka sadar ada orang dibalik semua makanan dan obat-obatan belum terkirim ke lokasi bencana, sudah tiga jam dia berusaha menelpon sana sini, masih juga tidak ada kepastian. Maka mau tidak mau dia menghubungi seseorang,
"Halo Tuan"
"Tolong kamu kirimkan makanan dan obat-obatan ke lokasi bencana gunakan uang Perusahaanku"
"Tapi Tuan.. Perusahaan baru saja berkembang, dan keuangan juga belum begitu stabil, jika saya menggunakan dana Perusahaan, Perusahaan akan kesulitan nanti" Rafka memiliki Perusahaan yang dia dirikan sendiri, tidak ada satu orang pun yang tahu bahkan Paman Ali, Perusahaan itu dia rintis sejak dia kembali ke Negara M, dan saat ini Perusahaan sudah mulai berkembang, bisa dibilang perkembangan Perusahannya cukup cepat, dia membangun Perusahaan itu karena dia tidak ingin menjadi seorang Presiden, hanya karena ingin membalas jasa Paman Ali Rafka harus menjadi Presiden, Rafka berencana mundur dari Presiden nanti, itu sebabnya dia membangun Perusahaannya sendiri, saat ini Perusahaan itu di kelola oleh orang kepercayaannya.