That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 58



"Leon" ujar Jebby dengan raut wajah tidak percaya, dengan apa yang dilihatnya,


"Heh, ternyata kamu cukup cepat menemukanku, aku pikir butuh waktu seminggu" ujar Leon dengan senyum mengejek,


"Di mana putriku?" Ujar Jebby dengan nada dingin dan gigi yang ditekan karena menahan amarah yang besar,


"Putrimu? Entahlah" jawab Leon dengan santai,


"Kembalikan putriku atau aku akan membunuhmu" ujar Jebby sambil mengacungkan pistol ke arah Leon,


"Hahahaha.. hahahahaa" Leon hanya tertawa terbahak bahak melihat Jebby yang begitu marah, kemudian dia kembali berkata,


"Kamu ingin membunuhku? Silakan... Aku tidak peduli aku mau hidup atau mati, lagipula aku tidak memiliki apapun, kamu lebih tahu hal itu bukan?" Ujar Leon


"Leon.. sekali lagi aku katakan kembalikan putriku" Jebby tidak peduli dangan perkataan Leon, dia hanya ingin putrinya kembali,


"Bagaimana jika tidak?" Leon hanya menjawab Jebby dengan santai,


"Silakan bunuh aku, aku tidak takut apapun, lagipula Putrimu sudah mati, dia sudah mati, kasihan sekali dia mati seperti itu, yang paling kasihan karena dia memiliki ayah sepertimu, hahahaha hahahaha" Leon memprovokasi Jebby, membuat Jebby sangat marah dan bersiap menarik pelatuk pistolnya yang sudah mengarah ke badan Leon,


Leon melihat Jebby yang benar-benar akan menarik pelatuk pistolnya, dalam hatinya merasa sangat sedih, semua persahabatan dan kebersamaan yang mereka jalani selama ini terlintas dibenak Leon, dia tidak menyangka rasa suka dan rasa cintanya kepada Jebby membuat dia melakukan hal-hal yang tidak berperasaan, dia menculik seorang anak yang tidak tahu apa-apa hanya karena rasa marahnya kepada Jebby, meskipun dia tidak menyakiti Asyaa tetapi dia memisahkan seorang anak dari ibu dan ayahnya berhari-hari, sehingga membuat anak itu terus-menerus bersedih, Leon menutup matanya air matanya menetes, dia bersiap menerima peluru yang akan menebus tubuhnya, bahkan mungkin menghancurkannya yang akan ditembakkan oleh orang yang dicintainya,


Tetapi disaat Jebby akan benar-benar menarik pelatuknya, sebuah bayangan tubuh kecil Asyaa berlari dari dalam rumah, tepat di belakang Leon diikuti oleh bibi Alin yang mengejarnya dari belakang, sebelumnya Asyaa yang sedang duduk di kasur Leon sambil memeluk bonekanya tidak sengaja mendekat ke jendela kamar, Asyaa melihat dari Jendela kamar di halaman ada ayahnya Jebby, kakaknya Daren dan juga Paman Viko, barulah Asyaa menyadari bahwa mereka sudah datang untuk menjemputnya, Asyaa yang berada di kamar Leon di lantai dua berlari turun ke bawah, di saat dia selesai menuruni tangga Bibi Alin melihatnya, sehingga Bibi Alin mengikutinya dari belakang, bibi Alin tidak menyangka di halaman ternyata banyak orang dan melihat Tuannya dikepung dan akan ditembak oleh seorang pria,


Asyaa sampai di samping Leon dan melihat Leon yang sedang menutup mata, kemudian Asyaa juga melemparkan pandangannya ke arah Jebby, dia melihat Jebby yang sudah siap menembak Leon, Jebby dibuat terkejut karena Asyaa tidak langsung datang ke pelukannya melainkan memegang tangan Leon, Leon yang sedang menutup matanya dan bersiap untuk mati itu merasakan sebuah tangan kecil menggenggam jari-jarinya, dia membuka matanya dan melihat Asyaa yang memegang tangannya dan sedang menatapnya dengan senyum manisnya yang menggemaskan, kemudian Asyaa melihat Jebby yang masih mengarahkan pistol ke arah Leon,


"Ayah.. maafkanlah Paman, Bibi Alin bilang dia adalah orang baik, dan Asyaa juga merasakan bahwa Paman adalah orang baik, Paman tidak menyakiti Asyaa sedikit pun, justru Paman menjaga Asyaa dengan baik, kemarin malam saat Asyaa di kamar sendirian lampu padam, seluruh ruangan gelap, ayah tahu Asyaa takut gelap, tetapi Paman bergegas datang dan memeluk Asyaa, dan Paman juga menenangkan Asyaa, Paman tidak membiarkan Asyaa tidur sendirian malam itu karena gelap, jadi Paman membawa Asyaa ke kamarnya, semalaman Paman menjaga Asyaa dengan baik dalam pelukannya, tadi juga Paman memberikan Asyaa sebuah hadiah boneka yang sangat cantik, tetapi Asyaa lupa membawanya turun, jadi ayah maafkanlah Paman ya" ujar Asyaa yang memohon kepada Jebby untuk memaafkan Leon, Leon yang melihat Asyaa memohon meneteskan air mata terus-menerus, betapa bodohnya dia karena harus melibatkan anak kecil yang sangat menggemaskan seperti Asyaa, pikir Leon yang kemudian berjongkok lalu memeluk Asyaa dengan erat dengan air mata yang terus menetas tanpa bisa dikontrol oleh Leon, Bibi Alin yang melihat adegan itu ikut meneteskan air mata karena terharu, Asyaa yang sudah tiga hari dipisahkan dari orang tuanya memohon kepada ayahnya untuk memaafkan orang itu, Bibi Alin benar-benar bersyukur karena Asyaa adalah anak yang baik dan pengertian, jika tidak Tuannya mungkin akan mati,


Jebby menurunkan tangannya yang mengarahkan pistol kepada Leon, kemudian dia melangkah untuk mendekati Leon dan Asyaa


"Maaf Asyaa, maafkan Paman yang telah melibatkanmu di dalam dendam Paman, maaf.. maaf" ujar Leon merasa bersalah, Asyaa juga membalas pelukan Leon,


"Asyaa percaya Paman adalah orang baik, Asyaa senang bisa mengenal Paman, Asyaa juga menyukai Paman, karena Paman adalah orang yang tampan seperti ayahku, tetapi Ayahku jauh lebih tampan hehehe" ujar Asyaa dengan senyum manisnya.


"Ya... ayah Asyaa jauh lebih tampan dari Paman" jawab Leon menganggukkan kepala tanda bahwa dia menyetujui kata-kata Asyaa, Jebby yang mendengar percakapan mereka tersenyum, dia bangga kepada putrinya karena bukan hanya memiliki wajah yang imut dan cantik melainkan juga memiliki hati yang juga cantik.


Leon melepaskan pelukan Asyaa, lalu berdiri berhadapan dengan Jebby, Leon yang masih menggenggam tangan Asyaa itu menyerahkan Asyaa kepada Jebby,


"Maaf..Maafkan aku, aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi, maafkan aku karena sudah menyulitkanmu dan telah menyembunyikan Asyaa di sini, maaf.." ujar Leon


"Mm.. " jawab Jebby dengan singkat, Jebby menggandeng tangan Asyaa, dan berbalik untuk membawanya pulang, Asyaa melambaikan tangan kecilnya sejenak kepada Leon sambil berjalan pergi, tiba-tiba Leon berlari ke dalam Vila dengan cepat, tidak lama kemudian dia kembali berlari keluar sambil membawa boneka yang dia hadiahkan kepada Asyaa, tetapi saat dia keluar dia melihat Asyaa dan Jebby sudah masuk ke mobil dan mobil sudah mulai berjalan, dia bergegas lari ke arah mobil, tetapi mobil itu perlahan melaju, Leon menambah kecepatan kakinya sebisa yang dia mampu, dia berteriak memanggil Asyaa, tetapi mobil sudah cukup jauh, Leon tetap berlari mengejarnya, berharap Jebby atau Asyaa melihat ke spion atau menengok ke belakang agar bisa melihatnya yang mengejar mobil mereka, namun harapannya putus setelah mobil menjadi semakin jauh dan sudah tidak terlihat lagi, Leon berhenti mengejar, dia kelelahan dan merasa kecewa karena tidak bisa mengejar mobil Jebby yang membawa Asyaa, dia juga merasa kecewa karena tidak bisa memberikan boneka itu kepada Asyaa.