That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 41



Di dalam kamar Viana yang sedang menangis, tiba-tiba menghentikan tangisannya, dan langsung berjalan ke lemari pakaian, dia mengeluarkan semua pakaiannya dan diletakkan di dalam koper, di luar Jebby sedang duduk di sofa memikirkan bagaimana dia bisa mendapatkan maaf dari Viana, pintu kamar yang tadinya di kunci terbuka, terlihat Viana menarik koper dan jelas saja akan pergi meninggalkan rumah mereka, Jebby langsung berdiri dan menghalangi jalan Viana untuk pergi,


"Viana, aku mohon maafkan aku, aku mengakui aku salah, tetapi aku mohon jangan pergi dari sini, kamu boleh marah kepadaku, boleh memukulku, tetapi aku mohon jangan pergi" Ujar Jebby sambil menatap Viana dengan penuh penyesalan, Viana tidak menghiraukan Jebby, dia melepaskan tangannya yang dipegang oleh Jebby dan pergi meninggalkan Jebby di apartemen sendirian, untuk saat ini Jebby membiarkan Viana pergi memberikan kesempatan kepada Viana untuk menenangkan diri jadi dia melepasnya, Jebby sangat frustasi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan agar istri dan anaknya kembali padanya, tiba-tiba pintu apartemen kembali terbuka, Jebby mengira itu adalah Viana, dia bergegas melihat ke arah pintu yang datang ternyata adalah Nina yang pulang dari sekolah,


"Kakak ada apa?" Tanya Nina


"Kakak iparmu pergi dari rumah, dia marah kepada kakak" jawab Jebby yang langsung mendudukkan dirinya di sofa,


"Tetapi apa masalahnya sampai kakak ipar pergi dari rumah, apa kakak selingkuh?" Mendengar pertanyaan Nina Jebby langsung menatapnya dengan dingin, respons Jebby membuat Nina mengerti bahwa masalahnya bukan karena Jebby selingkuh,


"Jika kamu tidak selingkuh, lalu apa masalahnya kakak?" Tanya Nina lagi, sesungguhnya Jebby sudah malas menjawab pertanyaan adiknya itu, tetapi dengan enggan dia menjawab,


"Asyaa adalah putri kandung kakak" ujar Jebby dengan lesu karena mengingat Viana yang pergi dari rumah,


"Apaa?" Teriak Nina membuat Jebby langsung menutup telinganya,


"Tidak.. tidak.. aku hanya beracting kaget, karena aku juga langsung curiga saat aku melihat Asyaa yang begitu mirip denganmu" ujar Nina sambil tersenyum, Jebby hanya bisa menggelengkan kepalanya atas tingkah adiknya itu,


"Lalu mengapa kakak ipar marah, bukankah seharusnya dia senang karena sudah menemukan ayah dari anaknya, dan lagi ayah dari anaknya adalah suaminya sendiri"


"Kamu tidak tahu apa yang di alami Viana karena aku" ujar Jebby sambil menceritakan hal-hal yang terjadi pada Viana, mendengar semua penjelasan Jebby Nina baru mengerti mengapa Viana marah,


"Kakak kamu harus semangat, kamu pasti bisa membawa kakak ipar dan Asyaa kembali ke rumah ini" ujar Nina sambil melangkah pergi ke kamarnya, setelah menutup pintu kamarnya Nina tersenyum kemudian mulai menelpon seseorang,


Setelah keluar dari gedung apartemen Viana memanggil taksi, dan pergi ke rumah orang tua angkatnya Hasan dan Maya, sesampai di depan pintu rumah orang tua angkatnya, Viana ragu-ragu untuk masuk, karena ibu dan ayahnya pasti akan bertanya dan khawatir melihat dia membawa koper, setelah mengambil napas dalam-dalam Viana memberanikan diri mengetuk pintu, tidak lama pintu terbuka itu adalah Maya, melihat orang yang di depannya adalah Viana Maya sangat senang dan langsung memeluk putri kesayangannya itu,


"Sayang.. kamu datang hari ini ibu sangat senang, ayo masuk, ayahmu sedang menemani Asyaa bermain" ujar Maya, tetapi saat mau melangkah masuk Maya baru sadar bahwa Viana membawa koper,


"Sayang, mengapa bawa-bawa koper segala?, apa kamu bertengkar dengan Jebby?" Tanya Maya dengan raut wajah yang khawatir, Viana tersenyum dan menggelengkan kepalanya,


"Tidak ibu.. aku tidak bertengkar dengan Jebby, Je..Jebby... dia..dia saat ini sedang perjalanan bisnis selama 1 bulan, jadi aku ingin tinggal di sini untuk sementara, bolehkah bu?" Ujar Viana yang terbata-bata karena baru kali pertama berbohong kepada Maya, dia tahu Maya dan Hasan sangat menyayanginya, itulah sebabnya dia tidak ingin mereka mengetahui masalahnya dengan Jebby.


Viana masuk ke dalam rumah dia melihat Asyaa dan Hasan sedang duduk di sofa menonton kartun kesukaan Asyaa, melihat Asyaa mengingatkan Viana bahwa ayah kandung Asyaa adalah Jebby, di satu sisi Viana merasa lega karena telah mengetahui siapa ayah kandung Asyaa, tetapi di sisi lain dia merasa marah kepada Jebby, Asyaa yang sedang menonton menyadari kedatangan Viana langsung turun dari sofa dan berlari ke pelukan Viana,


"Mm, kakak akan tinggal di sini, apakah Asyaa senang?" Viana tersenyum dan mencium pipi Asyaa kanan dan kiri,


"Ya, Asyaa sangat senang, tetapi mana Paman Jebby? Mengapa tidak ikut bersama kakak?" Tanya Asyaa kembali sambil melihat ke arah pintu, mendengar pertanyaan Asyaa Viana terdiam sejenak,


"Paman Jebby tidak bisa datang, karena Paman Jebby sedang dinas keluar kota, jadi tidak bisa ikut tinggal di sini bersama kakak," mendengar jawaban Viana Asyaa merasa kecewa,


"Mengapa? Apa Asyaa menyukai Paman Jebby?"


"Ya.. Asyaa menyukai Paman Jebby, Paman Jebby sangat baik dan tampan, jika Asyaa besar nanti Asyaa akan menikahi seseorang seperti Paman Jebby" Jawab Asyaa dengan penuh semangat, Viana, Hasan, dan Maya tertawa mendengar keinginannya"


Tiba waktunya makan malam, Daren juga sudah pulang, dia mengetahui dari Maya bahwa Viana akan tinggal bersama mereka karena Jebby sedang dinas di luar kota, Viana membantu Maya menata makanan di meja, sedangkan Hasan, Daren dan Asyaa duduk manis sambil menunggu makanan selesai dihidangkan, setelah selesai dihidangkan mereka makan dengan senang tetapi Daren bisa melihat bahwa Viana tidak baik-baik saja, setelah mengetahui Viana akan tinggal selama 1 bulan bersama mereka Daren mengetahui ada sesuatu yang terjadi, jadi dia menelpon Nina untuk menanyakan di mana Jebby, dan Nina mengatakan bahwa Jebby berada di rumah dari situ Daren mengerti bahwa Viana sedang bertengkar dengan Jebby,


Setelah makan, Daren berpamitan untuk keluar sebentar kepada Maya dan Hasan,


"Ibu, ayah.. aku izin keluar sebentar ya"


"Loh, kamu baru pulang kok mau pergi lagi?" Tanya Maya


"Ada temanku yang mengajak bertemu, jadi aku harus keluar sebentar, boleh ya bu?" Jelas Daren dan meminta izin,


"Izinkanlah, Daren juga bukan anak kecil lagi Maya, biarkan dia bertemu teman-temannya selagi masih muda" ujar Hasan yang duduk di sofa, mendengar ucapan Hasan Maya hanya bisa menghela napasnya,


"Baiklah, hati-hati jangan membuat masalah di luar, dan jangan pulang terlalu malam, mengerti?"


"Baik bu, aku pergi dulu" Setelah keluar dari rumah Daren naik taksi menuju apartemen Viana dan Jebby, setelah sampai di Unit apartemen Jebby dan Viana Daren langsung mengetuk pintu, tidak lama pintu terbuka itu adalah Nina, melihat kedatangan Daren Nina mengira bahwa Daren datang untuk menemuinya,


"Daren kamu datang untuk menemuiku?" Tanya Nina sambil berusaha tersenyum semanis mungkin, Daren tidak menghiraukannya,


"Di mana kakakmu? Bilang aku ingin menemuinya" ujar Daren,


"Kakak.. dia sepertinya ada di ruang kerja" jawab Nina bingung, mendengar perkataan Nina Daren langsung masuk ke dalam apartemen dan langsung menerobos pintu ruang kerja Jebby,