That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 100



Keesokan harinya Asyaa sedang sendirian di rumah, Theo pergi ke markasnya, sedangkan Freya pergi menonton film dengan Martin. Tiba-tiba seseorang datang mengetuk pintu,


"Hallo, selamat siang, apakah dengan Nona Asyaa?" Tanya orang itu setelah melihat Asyaa membukakan pintu.


"Iya.. saya sendiri, siapa ya?" Asyaa tidak mengenali orang itu, namun karena orang itu bersikap ramah, maka dia juga bersikap sopan.


"Saya diminta untuk menjemput anda, karena Tuan saya ingin bicara dengan anda" jelas orang yang berpenampilan pengawal dengan sebuah setelan hitam rapi.


"Tuan? siapa Tuanmu?" Tanya Asyaa penasaran.


"Silahkan Nona ikut saya dan Nona akan tahu siapa Tuan saya" jelas pengawal tersebut.


"Tidak.. aku tidak ingin pergi, sampaikan kepada Tuanmu jika dia benar-benar ingin menemui saya, maka datang sendiri" ujar Asyaa sambil bersiap untuk menutup pintu.


"Tunggu Nona... Saya rasa anda ingin pergi jika hal yang akan di bahas oleh tuan saya yaitu tentang Tuan Rafka, anda dekat dengannya bukan?" Mendengar hal yang akan dibicarakan adalah soal Rafka, Asyaa merasa penasaran dan tidak bisa mengabaikannya.


"Baiklah.. sebentar aku ganti baju dulu" Asyaa masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian, di dalam rumah dia berusaha menghubungi Rafka, tetapi tidak di angkat.


tidak lama kemudian Asyaa keluar sudah berpakaian rapi, setelah menutup pintu rumah, Asyaa mengikuti pengawal tersebut masuk ke dalam mobil.


Mobil melaju dengan kecepatan normal, dalam 20 menit mobil berhenti di sebuah restoran bergaya eropa, pengawal itu membawa Asyaa ke sebuah ruangan vvip, setelah masuk ke ruangan tersebut Asyaa memperhatikan seisi ruangan, kemudian dia melihat seorang pria berumur 50 an sedang duduk di sofa kulit menikmati secangkir teh yang berada di tangannya, pria itu terlihat berwibawa dan mengintimidasi, namun Asyaa yang tumbuh di bawah bimbingan Jebby, Daren dan Hansel, hal itu tidak mempengaruhinya, melihat Asyaa yang terlihat santai namun penasaran, membuat pria itu sedikit terkejut dalam hatinya, tetapi dia juga sadar, putri dari seorang Jebby Arya Putra Pimpinan JB Grup Perusahaan Internasional peringkat 2 dunia terbaik, dan peringkat 1 seAsia, bagaimana mungkin ada rasa takut.


"Duduklah..!" Pria itu mempersilahkan Asyaa duduk di sofa di hadapannya.


"Apa Nona tahu mengapa saya mengajak Nona bertemu?" Mendengar pertanyaannya Asyaa tidak menjawab, melainkan menatap pria itu tanda bahwa dia memintanya untuk melanjutkan penjelasannya. Melihat Asyaa tidak bicara dan hanya memberi isyarat agar tetap melanjutkan penjelasannya pria itu mengangkat sudut bibirnya sekilas.


"Saya tidak butuh penjelasan siapa anda, saya hanya ingin tahu, mengapa anda mengundang saya ke sini?" Asyaa merasa tidak sabaran karena Paman Ali masih berbasa-basi.


"Hahahaa, Nona Asyaa benar-benar Putri Jebby, sifatmu yang ingin langsung ke intinya benar-benar sangat mirip dengannya" dalam hati Asyaa merasa terkejut karena Paman Ali mengenal ayahnya, namun perkataan itu sedikit membuat Asyaa kesal karena Paman Ali terdengar mengejeknya.


"Benarkah..? Wah.. saya harus berterima kasih kepada ayah, karena menurunkan gen yang sangat bagus" Paman Ali yang tidak bisa berdebat lagi dengan Asyaa kembali mengangkat cangkir tehnya dan meminumnya, mengetahui Asyaa tidak suka basa-basi dia juga cukup merasa lega, setelah itu dia mendorong amplop berwarna cokelat yang sejak awal terletak di atas meja tersebut ke hadapan Asyaa.


Melihat amplop yang di dorong ke hadapannya Asyaa tidak segera melihatnya, tetapi dia melihat ke arah Paman Ali seolah menanyakan apa isi amplop itu.


"Bukalah..!" Asyaa membuka amplop itu di bawah perintah Paman Ali, setelah membukanya Asyaa melihat amplop itu berisi foto-fotonya bersama Rafka seperti potret pasangan kekasih, Asyaa juga bisa melihat tatapan Rafka yang melihatnya dengan penuh perasaan, selama ini saat mereka bersama Asyaa tidak memperhatikan hal tersebut.


"Saya ingin bertanya kepada Nona apa hubungan Nona dengan Tuan Rafka?" Tanya Paman Ali yang kembali memberikan selembar foto Rafka dan Helena, melihat foto itu Asyaa baru ingat ternyata Helena yang baru menjadi temannya itu adalah tunangan Rafka yang sebelumnya dia lihat di tv, pantas saja waktu bakti sosial di panti asuhan dia merasa seperti pernah melihatnya.


"Nona jelas pasti sudah tahu bahwa Rafka sudah memiliki tunangan, mengapa Nona masih saja mau diajak makan dan lain sebagainya? Serta menghabiskan waktu dengannya, tidakkah Nona berpikir bahwa Nona akan terlihat seperti perempuan murahan?"


"Apaaa? Perempuan murahan?" Asyaa merasa sangat marah, tetapi dia juga tidak bisa membantah, karena kenyataannya dia memang tahu bahwa Rafka sudah memiliki tunangan, tetapi dia masih saja tidak bisa menolak ajakan Rafka setiap kali meminta bertemu. Asyaa mengepalkan tangannya erat-erat agar dia tidak memukul Paman Ali dengan tinjunya, tentu saja dia tahu bahwa Paman Ali terlihat begitu terlatih dalam hal bela diri, namun dalam hati Asyaa meskipun dia tidak bisa melawan Paman Ali sepenuhnya, dia tetap masih ingin melayangkan sebuah tinju ke wajahnya.


"Rafka sejak kecil nyawanya selalu dalam bahaya, saya bekerja keras agar tidak ada yang bisa membahayakannya sampai saat ini, dan sekarang tinggal selangkah lagi dirinya akan menduduki kursi kepemimpinan, tetapi hal itu terancam gagal karena anda Nona. Apa Anda tahu siapa tunangannya? Tunangannya adalah Putri dari Menteri Pertahanan Negara ini, Menteri Pertahanan adalah orang yang sangat di segani ke dua setelah Raja, tetapi itu sebelum Raja meninggal dan sekarang Raja sudah tidak ada, Menteri pertahanan memiliki banyak pendukung di belakangnya, silakan Nona bayangkan jika Rafka membatalkan pertunangannya dengan Putri dari Menteri Pertahanan apa yang akan terjadi? Tanpa saya jelaskan Nona jelas sudah tahu, saya sebagai orang yang melihat perjuangan Rafka sampai bisa berada di posisi ini akan menghilangkan halangan apapun yang bisa membuatnya jatuh ataupun gagal, saya yakin Nona mengerti dengan maksud saya bukan? Jauhi Rafka atau Nona yang akan menanggung akibatnya" Jelas Paman Ali terlihat serius dan menakutkan.


Setelah memperingati Asyaa Paman Ali pergi meninggalkan Asyaa sendirian di ruangan itu, Asyaa menghela napas dalam-dalam, lalu mengusap wajah dengan kedua tangannya, kemudian dia bangkit berdiri dan keluar dari ruangan itu, setelah dia keluar dari ruangan terlihat Theo yang seperti terburu-buru mendatanginya,


"Asyaa apa kamu baik-baik saja?" Theo memegang kedua pundak Asyaa dan memeriksa dari ujung kaki sampai ujung kepala, dari ujung kepala hingga ujung kaki, setelah melihat tidak ada masalah apapun barulah Theo melepaskannya.