That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 49



Semuanya kembali ke rutinitas mereka seperti biasa, kali ini Jebby sudah menyerahkan posisi Direktur PT. San Contruction kepada orang lain, sedangkan dia kembali memimpin JB Grup, kantor pusat JB Grup yang awalnya ada di Amerika telah di pindahkan ke Negara B untuk mempermudah Jebby bekerja tanpa meninggalkan istri dan anaknya, saat ini Viana sudah menjabat sebagai manajer di departemen pemasaran PT. San Contruction.


di ruangannya Viana sedang meneliti laporan penjualan, tiba-tiba pintu di ketuk, asistennya berjalan masuk,


"bu Viana, orang-orang dari PT. Edistra Grup sudah tiba, saya sudah mengantar mereka ke ruang pertemuan" ujar asisten tersebut.


"Baik, kamu ikut saya" mendengar laporan dari asistennya Viana langsung bergegas pergi menuju ruangan pertemuan, sesampainya di ruangan, Direkturnya Viana dan orang dari PT. Edistra Grup sudah berada di dalam ruangan, melihat kedatangan Viana Shadik selaku Direktur PT. San Contruction langsung memperkenalkannya kepada Direktur dari PT. Edistra Grup,


"Pak Zayen, kenalkan ini Manajer Pemasaran kami namanya Viana" ujar Direktur Shadik


"Hallo, saya Viana" Viana memperkenalkan dirinya kembali dan tersenyum ramah.


"Hallo, saya Zayen" ujar Zayen dengan senyum di wajah tampannya yang khas


"Direktur Zayen, Viana adalah orang yang menangani proyek ini, jadi Direktur akan sering berkomunikasi dengannya" Ujar Direktur Shadik


"Baik... Mohon kerja samanya Manajer Viana" ujar Zayen dengan senyum yang tidak pernah luntur dari bibirnya.


"Saya akan berusaha pak" Ujar Viana.


Di kantornya Jebby mendapat laporan bahwa ada orang yang diam-diam membeli saham JB Grup dengan besar-besaran, mereka memang membeli satu persatu dengan nama yang berbeda tetapi hal itu membuat Viko curiga sehingga dia menelusurinya, setelah ditelusuri oleh Viko semua saham itu di transfer ke 1 akun bank, yang berada di Australia, Jebby memerintahkan Viko untuk mengamankan saham yang berada di tangan para pemegang saham, jangan sampai para pemegang saham menjualnya,


Waktu jam pulang kantor tiba, Jebby menunggu Viana di depan Perusahaan, Viana berjalan dengan Zayen karena baru saja membahas proyek yang sedang mereka kerjakan jadi mereka keluar bersama, Jebby yang sedang menunggu Viana itu sedang menerima telepon jadi dia tidak melihat Viana yang sedang berjalan keluar, Viana yang melihat Jebby sedang menunggunya langsung tersenyum cerah,


"Pak Zayen, suami saya sudah datang untuk menjemput saya, mari saya perkenalkan kepada suami saya" ujar Viana, Zayen melihat seorang pria tampan berdiri sambil menelpon itu hanya diam saja dan termenung,


"Pak Zayen, ada apa? Saya tadi mengatakan akan memperkenalkan bapak kepada suami saya" ujar Viana kembali, Zayen yang baru tersadar langsung menolak,


"Tidak.. Manajer Viana nanti saya akan berkenalan dengan suami anda, tetapi saat ini saya harus ke toilet karena sudah tidak tahan, anda pulang lah terlebih dahulu" ujar Zayen sambil bergegas pergi, Viana tersenyum,


"Seharusnya dia mengatakan lebih awal kalau dia ingin ke kamar mandi, untuk apa menahannya" Viana melangkah ke arah Jebby, melihat raut wajah Viana yang seperti baru saja tertawa Jebby penasaran,


"Ada apa?, Hal apa yang membuatmu tertawa?


"Tidak.. hanya saja tadi ada rekan kerja dari PT. Edistra Grup bergegas ke toilet, itu sangat lucu karena dia sepertinya sudah tidak tahan lagi" jelas Viana


"Baiklah mari kita pulang, Asyaa pasti sudah menunggu" Jebby membukakan pintu mobil untuk Viana


Di toilet Zayen mencuci wajahnya dan melihat ke arah cermin dengan tatapan yang tajam.


Sesampainya di rumah Jebby dan Hasan di sambut pelukan dan ciuman dari Asyaa, Ghena sedang menyiapkan makanan di dapur, Nina sedang menghapal naskah untuk drama terbarunya di dalam kamar, karena sedang musim panas maka sekolah sedang libur, jadi Nina memutuskan untuk menerima beberapa pekerjaan,


"Ibu, aku sudah bilang tidak perlu memasak, ada bibi Sari yang yang membantu pekerjaan rumah, untuk apa ibu memulangkan bibi sari jika sudah malam?" Ujar Jebby


"Jebby, ibu terlalu bosan di rumah, Asyaa juga sudah sering main sendiri dan dia sering main di dalam kamarnya karena kamu baru saja membelikan komputer untuknya, untuk apa anak seumur Asyaa kau berikan komputer, benar-benar konyol" ujar Ghena


"Oma, aku bisa kok main komputer, oma saja yang tidak bisa huh" ujar Asyaa kesal,


"Oma hanya ingin Asyaa main lagi sama Oma, bukannya justru main komputer terus" Jelas Ghena, mendengar Asyaa dan Ghena yang sedang adu mulut Jebby, Viana, dan Nina hanya bisa tertawa.


Setelah makan Nina berpamitan kepada Ghena untuk pergi keluar, Nina pergi ke sebuah taman dia mengenakan topi baseball untuk menutupi wajahnya agar tidak mudah dikenali, kemudian mencari seseorang, setelah melihat orang itu Nina langsung bergegas menghampirinya dan duduk di sampingnya,


"Mengapa kamu ingin menemuiku malam-malam seperti ini" ujar Daren


"Aku hanya merindukanmu" ujar Nina dengan spontan, Daren hanya melihat ke arah Nina dengan penuh tanda tanya,


"Ya.. aku merindukanmu, aku baru sadar di saat kamu tidak berada di dekatku hatiku terus-menerus ingin melihatku, dan saat itu aku baru tahu bahwa aku mencintaimu" ujar Nina, Daren terdiam dan menatap Nina dengan dalam, di saat Daren akan bereaksi tiba-tiba Nina berkata,


"Hey, mengapa kamu tidak merespon sama sekali? Haishh, bagaimana aku mau mendapatkan teman yang mau membantu melatih dialog-dialog dan adegan untuk naskah baruku" ujar Nina sambil mengeluarkan sebuah buku naskah, Daren hanya bisa menarik napas yang panjang, dia mengira Nina benar-benar menyatakan perasaan padanya.


"Kamu itu pria yang sangat dingin, aku tahu saat aku datang kamu akan bertanya mengapa aku menemuimu malam-malam seperti ini, dan itu adalah dialog pria yang menjadi lawan mainku di drama, jadi aku melanjutkan dialogku tadi"


"Benarkah, lalu setelah mendapat pengakuan dari wanita itu, apa yang pria itu lakukan?" Tanya Daren


"Sebentar aku akan melihatnya" ujar Nina sambil membaca naskah itu,


"Adegan selanjutnya pemeran pria langsung menci.." Nina berhenti karena merasa canggung saat memberitahukan kepada Daren, dia langsung berusaha mengalihkan pembicaraan,


"Oh ya.. Dar.." Nina baru akan mengalihkan pembicaraan Daren mendekat dan memegang kepala Nina kemudian langsung mencium bibirnya, Nina terkejut merasakan bibir Daren yang dingin menyentuh bibirnya, dia melihat wajah tampan Daren sangat dekat dan hanya bisa melihat kelopak mata Daren yang tertutup, Daren mencium dan ******* bibir Nina dengan lembut membuat Nina ikut menutup matanya dan menikmati ciuman dari Daren, setelah satu menit berlalu Daren melepaskan Nina dan melihat wajah Nina yang memerah di hadapannya, Nina merasa sangat malu sehingga dia menutup wajahnya dengan naskah yang di pegangnya, melihat tingkah Nina Daren tersenyum cerah untuk pertama kalinya, Nina mengintip Daren dari balik naskah itu terkejut, karena itu pertama kalinya dia melihat Daren tersenyum semanis itu.


"Apa kamu juga akan beradegan ciuman seperti tadi dalam dramamu?" Tanya Daren


"Iya.. mengapa?" Tanya Nina, setelah mendengar jawaban Nina Daren hanya diam saja dan tidak mau melihat ke arah Nina lagi, melihat reaksi Daren Nina tersenyum karena tahu bahwa Daren cemburu,


"Hahahahaa.. itu bukan ciuman sungguhan" ujar Nina sambil tertawa


"Lalu seperti apa ciuman sungguhan itu? Apa seperti tadi?" Tanya Daren dengan senyum jahil,


"Itu.. i..itu mungkin seperti ini" Jelas Nina yang kembali mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Daren, Daren tidak menyangka mendapat respons seperti itu dari Nina, dia juga tidak ingin kehilangan kesempatan yang diberikan lagi oleh Nina sendiri, dia kembali menekan kepala Nina agar bisa lebih dekat dengannya lagi dan menciumnya dengan lembut dan kadang sedikit arogan.


jangan lupa klik favorit, like , Vote dan komen, berikan saran dan kritik yang membangun ya.. agar author bisa memperbaikinya menjadi lebih baik. Terima kasih 🥰🥰