
Beberapa bulan yang lalu sebelum mereka berdua bertunangan, Rafka mengatakan kepada Helena bahwa ada wanita dalam hatinya, dia mengatakan yang sejujurnya kepada Helena yang awalnya rasa kasih sayangnya kepada gadis kecil itu hanya sebatas rasa sayang kepada adik, namun seiring bertumbuhnya gadis kecil itu, rasa ingin memiliki dalam dirinya begitu kuat, dia tidak terima jika gadis kecil itu menjadi milik pria lain, dia mengatakan itu kepada Helena agar Helena bisa memilih mau melanjutkan pertunangan atau tidak, dia juga mengatakan tidak ingin merusak masa depan Helena karena bertunangan dengan orang yang tidak akan pernah mencintainya, namun yang tidak disangka oleh Rafka Helena tetap memilih bertunangan dengannya meski di hatinya ada wanita lain, hal itu hanya diketahui oleh Helena dan Rafka. Helena adalah gadis cantik, cerdas, dan ambisius banyak pria yang mencoba meluluhkan hatinya, namun saat pertama kali melihat Rafka Helena langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, kemudian meminta ayahnya untuk memperkenalkan dirinya dengan Rafka, saat Helena mendengar bahwa di hati Rafka sudah ada wanita lain dia memang merasa kecewa, tetapi baginya tidak masalah, dia yakin bisa membuat Rafka jatuh cinta padanya dan membuat Rafka melupakan gadis yang dicintainya itu, tetapi sudah 5 bulan mereka bertunangan tanda-tanda Rafka mulai menerimanya tidak ada, bahkan makin hari sikap Rafka makin dingin.
"Aku benar-benar cemburu pada gadis itu, dia beruntung karena dicintai dengan begitu tulus" ujar Helena tersenyum pahit, Rafka tetap diam saja dan terus melanjutkan makannya,
"Tetapi satu hal yang harus kamu ingat Rafka, aku tidak akan pernah melepaskanmu, tidak peduli aku bisa membuatmu jatuh cinta atau tidak, bagiku selama kamu adalah tunanganku aku sudah cukup puas, bahkan aku akan segera meminta ayahku untuk segera mengatur pernikahan kita" setelah mengatakan semua itu Helena berdiri, dia tidak bernafsu lagi untuk melanjutkan makan siangnya, sebelum pergi dia menatap Rafka dengan tatapan memperingati. Setelah kepergian Helena Rafka justru kembali menatap ponselnya dan melihat photo yang dikirimkan Theo, namun ponselnya kembali berbunyi, lagi-lagi Theo mengirimkan photo Asyaa dan Arbi yang sedang duduk di taman pinggir danau, di photo itu terlihat Arbi menyentuh rambut Asyaa, sesungguhnya saat itu Arbi hanya melepaskan daun yang tersangkut di rambut Asyaa, namun pengambilan sudut photo membuat Asyaa dan Arbi terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, Theo memiliki beberapa photo, tetapi demi memprovokasi Rafka dia mengirimkan photo saat Arbi dan Asyaa terlihat mesra, melihat photo itu Rafka tidak tahan lagi, dia segera bangkit dan keluar dari restoran, terlihat sopirnya sedang menunggu di depan mobil, melihat Tuannya keluar dari restoran sopir itu segera membuka pintu penumpang untuk Rafka.
"Apakah kita akan kembali ke rumah Tuan?" Tanya sopir tersebut,
"Pergi ke taman di pinggir danau" perintah Rafka
Mobil melaju menuju taman, sesampainya di taman Rafka meminta sopir terus menjalankan mobil dengan pelan, sopir merasa Tuannya begitu aneh, jika ingin menikmati pemandangan taman mengapa tidak keluar saja tetapi malah duduk di dalam mobil, pikir sopir tersebut. Tidak lama kemudian Rafka meminta sopir menghentikan mobilnya, dia pikir Tuannya akan turun, tetapi ternyata tidak, setelah melihat arah pandang tuannya sopir mengetahui bahwa Tuannya sedang melihat ke arah dua orang pria dan wanita yang sedang duduk menghadap danau, yang tampak hanya bagian belakang mereka, karena mobil Rafka tepat di belakang. Theo yang melihat kedatangan mobil Rafka tersenyum licik. Rafka melihat Asyaa yang sering tertawa dan menganggukkan kepala, seperti sangat menikmati obrolannya dengan Arbi, melihat hal itu Rafka tidak bisa menahannya lagi,
dia segera mengambil ponselnya dan mulai menghubungi seseorang, tidak lama kemudian terlihat Arbi mengangkat ponselnya,
"Hallo kakak sepupu, Ada apa?"
"Besok kita akan ada rapat, aku minta kamu siapkan bahannya sekarang, karena kamu adalah wakilku"
"Mengapa? Apa kamu sibuk?" Sebelum Arbi menyelesaikan kalimatnya segera di potong oleh Rafka,
"Tidak.. tidak, aku sedang bersama temanku sekarang, aku akan segera kembali dan menyusun materinya"
"Dalam waktu satu jam aku kirimkan aku materinya"
"Baik, kakak" Arbi dan Rafka memang lahir di tahun yang sama namun mereka berbeda 8 bulan, jadi meski umur mereka sama Arbi tetap menghormati Rafka dengan sebutan kakak.
"Asyaa, maaf.. aku harus segera kembali ada pekerjaan mendadak yang harus segera aku selesaikan, aku tidak bisa mengantarmu, maafkan aku" ujar Arbi dengan raut wajah kecewa,
"Tidak.. tidak masalah, aku bisa pulang naik taksi"
"Sekali lagi maafkan aku, lain kali aku akan kembali mentraktirmu" setelah itu Arbi pergi terburu-buru.
Melihat Arbi yang sudah pergi Rafka turun dari mobilnya, dia berjalan ke pinggir danau, dia melihat Asyaa dari samping, jarak mereka hanya 15 meter, Asyaa tidak memperhatikan sekitarnya karena larut dalam kerinduannya kepada Kakak Hanselnya, terlihat Asyaa yang tadinya ceria berubah menjadi sedih, bahkan sesekali terlihat menghapus air matanya, sambil terus menggenggam erat bandul kalung yang dikenakannya, Rafka tahu bahwa kalung yang dipakai Asyaa adalah kalung yang dia berikan kepadanya sejak kecil, karena setiap foto yang dikirim oleh Theo kalung itu terus ada di lehernya, semua foto Asyaa yang dia dapat dari orang-orang suruhannya di Negara B kalung itu tetap ada, bahkan tidak pernah ada foto Asyaa menggunakan kalung lain, melihat Asyaa begitu sedih karena mencarinya membuat air mata Rafka seketika menetes, hanya tuhan yang tahu betapa Rafka ingin berlari dan memeluknya, tetapi jika dia melakukan itu, dia tidak akan bisa melepaskan Asyaa lagi, Theo yang melihat kondisi keduanya dari jauh hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, tanpa bisa melakukan apapun. karena tidak bisa menahan kesedihannya Rafka berbalik pergi berjalan kembali ke mobil, di saat Rafka berbalik tidak sengaja Asyaa melihatnya, punggung orang itu terasa familiar, Asyaa ingin mengejarnya dan melihat siapa orang tersebut, namun karena orang itu terlihat sedih Asyaa mengurungkan niatnya. dia hanya menatap orang itu sampai orang tersebut masuk ke mobilnya. di dalam mobil Rafka tidak bisa menahannya lagi, dia menangis tersedu-sedu, membuat sopirnya kebingungan bahkan untuk bernapas saja sang sopir merasa takut. setelah menenangkan dirinya Rafka meminta sopir untuk kembali ke rumah. Rafka tidak lagi melihat ke tempat Asyaa berada, karena hatinya benar-benar tidak sanggup. setelah melihat mobil yang dinaiki oleh pria itu pergi Asyaa juga pergi, dia ingin mencari taksi, tetapi tidak butuh waktu lama sebuah taksi datang menghampirinya, Asyaa merasa aneh, meski begitu dia tetap naik dan mengatakan alamatnya kepada sopir tersebut.