That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 29



Viko membawa Viana ke ruangan Jebby di rawat, sesampai di depan kamar Jebby, Viko meminta Viana masuk sendiri karena dia masih ada pekerjaan, Viana mengetuk pintu kamar itu kemudian membukanya dan melangkah masuk, Viana melihat sekretaris Manda berdiri di ruangan itu, ruangan itu terlihat seperti ruang tamu, sekretaris Manda menyapa Viana dengan menunduk sopan, Viana juga hanya membalas menunduk dengan sopan, Viana melihat seisi ruangan untuk mencari keberadaan Jebby, ternyata kasur Jebby di batasi tirai antara ruang tamu dan tempat tidur Jebby, Saat Viana melangkah ke arah kasur Jebby, dia melihat seorang wanita paruh baya sedang menyiapkan makanan, semua makanan itu terlihat mewah, Viana meletakkan termos makanan yang di bawanya di meja yang ada di ruang tamu, dia merasa malu untuk memberikannya kepada Jebby, dia juga mengira Jebby tidak akan memakannya karena sudah ada makanan yang mewah yang sedang di siapkan oleh wanita paruh baya itu, Jebby yang melihat kedatangan Viana memberi kode kepada wanita paruh baya yang menyiapkan makanan untuknya agar meninggalkan dia dan Viana, wanita paruh baya itu mengerti dan langsung menuju ruang tamu, wanita paruh baya itu tersenyum sopan ke arah Viana dan melirik termos makanan yang diletakkan Viana di meja ruang tamu, setelah hanya mereka berdua Jebby melihat Viana dengan kesal dan berkata


"mengapa kamu datang, bukankah kamu sedang bekerja" ujar Jebby dengan nada sinis, Viana yang mendengar perkataan Jebby merasa sedih dalam hatinya, sehingga dia pun berbalik badan untuk pergi,


"Kamu benar-benar akan pergi?" Ujar Jebby kembali


Viana menghentikan langkahnya dan menoleh melihat Jebby, dia tidak bisa menahan kesedihannya lagi, sehingga air matanya mulai mengalir tanpa henti.


"Mengapa.. kamu berbuat seenaknya padaku, kamu meminta aku datang maka aku datang, sekarang kamu meminta aku pergi maka aku harus pergi? Tahukah kamu bahwa aku memikirkanmu? Suamiku sakit tetapi mereka tidak ingin aku merawatnya, mereka hanya memintaku bekerja seperti biasa, aku memikirkan apakah kamu sudah sehat atau belum, kamu menganggapku apa? aku ini istrimu atau bukan? Apakah kamu tahu betapa sedihnya aku" Viana berdiri sambil menangis tersedu-sedu,


Jebby terkejut melihat Viana menangis, saat di permalukan, di hina dan di caci maki orang lain karena Cindy, saat itu Viana bahkan tidak menangis, tetapi hanya karena dirinya Viana menangis sampai tersedu-sedu, apa yang sudah dia alami di saat dirinya jatuh sakit dan tidak sadarkan diri pikir Jebby, Jebby langsung mencabut jarum infusnya dan bergegas ke arah Viana,


"Maafkan aku.. maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu?" Ujar Jebby sambil memeluk Viana yang sedang menangis, karena betapa sedihnya dia sampai susah untuk menghentikan tangisannya, Jebby memeluknya dan menghiburnya dengan sabar, beberapa saat kemudian setelah Viana tenang dia baru sadar bahwa Jebby melepaskan infusnya,


"Mengapa kamu turun dari tempat tidur dan melepas infusnya?" Ujar Viana sambil menarik Jebby kembali ke tempat tidur, lalu Viana menekan bel agar perawat datang, ternyata yang datang adalah beberapa orang dokter, setelah dokter datang mereka memasang kembali infusnya setelah itu mereka pergi meninggalkan ruangan Jebby, kemudian Jebby tiba-tiba memanggil kepala sekretaris Manda, kepala sekretaris Manda yang sedang stan by di ruang tamu langsung datang,


"Ada apa Direktur" tanya sekretaris Manda


"Apa yang terjadi saat aku jatuh sakit? mengapa Viana mengatakan kalian tidak ingin dia merawatku?" Ujar Jebby dengan tatapan dingin.


"Maafkan aku dan asisten Viko Direktur, mungkin karena kami belum terbiasa bahwa anda sudah menikah jadi kami melakukan kesalahan" ujar Kepala sekretaris Manda


"Panggilkan Viko untukku" perintah Jebby, beberapa menit kemudian asistennya Viko datang,


"Viko...Manda Apa kalian pikir aku begitu bodoh? Apa kalian pikir aku tidak tahu bahwa kalian meremehkan Viana?" Ujar Jebby sangat marah, Viko dan kepala sekretaris manda hanya terdiam menunduk dan berkata dengan serempak "maafkan kami boss, kami tidak akan mengulanginya lagi"


"tidak perlu memintaku memaafkan kalian" Ujar Jebby lagi, kepala sekretaris Manda langsung paham dan dia langsung menghadap Viana dan membungkuk untuk meminta Viana memaafkan mereka.


"Mm" Viana hanya menjawab singkat dan menganggukkan kepala.


"Mulai sekarang apapun yang terjadi padaku dan tindakan apapun yang akan dilakukan dokter padaku, semuanya harus disetujui dan di tanda tangani oleh Viana, apa kalian mengerti?" Tanya Jebby dengan nada dingin kepada asistennya Viko dan kepala sekretaris Manda.


"Baik kami mengerti boss" Jawab asisten Viko dan kepala sekretaris Manda serempak.


"Baik.. pergilah" perintah Jebby, setelah kepergian asisten Viko dan kepala sekretaris Manda, Viana melihat makanan yang disediakan oleh wanita paruh baya itu masih utuh, sepertinya tadi Jebby baru akan bersiap untuk makan,


"Kamu belum makan kan? Aku akan mengambilkannya" ujar Viana sambil bersiap mengambil makanan yang disiapkan oleh wanita paruh baya itu, Jebby melihat Viana tidak menawarkan makanan yang di bawanya sedikit sedih, karena Viana tidak percaya padanya dan tidak percaya pada dirinya sendiri, saat Viana masuk Jebby melihat Viana membawa termos makanan, tetapi setelah melihat ada seseorang yang menyiapkan makanan untuknya Viana meletakkan termos makanan itu di meja di mana Viana merasa Jebby tidak bisa melihatnya, tetapi Viana salah karena sejak Viana masuk Jebby sudah memperhatikannya.


"Aku ingin makan sesuatu yang kamu bawakan" ujar Jebby, mendengar perkataan Jebby Viana tersenyum cerah dan pergi mengambil termos makanan yang dia bawa dari rumah.


"Aku memasakkan bubur dan sop ayam untukmu" ujar Viana sambil menuang bubur ke dalam mangkuk setelah itu dia menyuapi sesendok demi sesendok kepada Jebby, Jebby merasa sangat senang meski rasa buburnya sangat sederhana, setelah Jebby menghabiskan bubur dan sop ayam dia memanggil wanita paruh baya itu dan memperkenalkannya ke Viana.


"Vianaa.. kenalkan, ini bibi Ajeng dia adalah orang yang merawatku dari kecil" Viana melihat bibi Ajeng dan menyapanya dengan sopan,


"Halo bibi, aku Viana" safa Viana dengan manis


"Iya" jawab bibi Ajeng yang tersenyum sopan kepada Viana


"Bibi Ajeng tolong siapkan makanannya" pinta Jebby kepada wanita paruh baya itu, bibi Ajeng meletakkan meja kecil di atas ranjang Jebby dan mulai menata makanan yang terlihat mewah itu, setelah menata semua makanan itu, bibi Ajeng berpamitan untuk keluar, Viana yang melihat makanan itu merasa heran dan bertanya,


"Kamu sedang sakit, untuk apa makan makanan berbumbu seperti ini? Bahkan ada yang memiliki cita rasa yang pedas" Ujar Viana


"Siapa bilang ini untukku? Ini aku siapkan untukkmu, aku tahu kamu pasti belum makan kan?" Tanya Jebby, mendengar perkataan Jebby Viana merasa kembali bersemangat, ternyata bukan hanya Viana yang memikirkan Jebby, tetapi Jebby juga memikirkannya, pikir Viana.