
"Ayah tolong kakak itu" ujar Asyaa dengan suaranya yang manis, Jebby cukup terkejut, dia mengira Asyaa tidak melihatnya karena berada dalam pelukannya,
"Apa Asyaa ingin menolong kakak itu" tanya Jebby lagi,
"Ya" jawab Asyaa tegas,
"Putar mobilnya" perintah Jebby kepada Viko, Viko segera memutar mobilnya, Jebby pindah ke bangku depan sambil menggendong Asyaa, sedangkan Viko membantu pemuda itu naik ke mobil dan mendudukkannya di kursi belakang, pemuda itu terluka parah, banyak sayatan pisau di tubuhnya dan juga darah mengalir dari kepala ke wajahnya, mobil mulai dijalankan, Asyaa yang dalam pelukan Jebby melihat pemuda tersebut, pemuda itu sedikit sadar dan samar-samar melihat wajah imut dan cantik di depannya,
"Ayah.. kakak ini akan sembuh kan? Ayah harus tolong dia ya" Tanya Asyaa,
"Ya, kakak ini akan sembuh, ayah janji" jawab Jebby dengan senyum lembut menatap wajah putrinya yang mungin dan cantik, dia menyadari sifat Asyaa yang suka menolong pasti berasal dari Viana, karena dia bukanlah orang yang baik hati dan menolong orang lain jika tidak menguntungkan baginya, percakapan Asyaa dan Jebby dapat di dengar oleh pemuda itu, Viko membawa pemuda itu ke rumah sakit yang sama dengan Viana, setelah sampai Viko mengurus semua biaya dan keperluan pemuda itu, sedangkan Jebby membawa Asyaa ke ruangan Viana.
Dua minggu kemudian pemuda itu mulai sembuh dan sudah bisa pulang, saat hari terakhir Viko mengurus biaya rumah sakit, dia didatangi oleh pemuda itu,
"Tuan aku ingin berterima kasih kepada nona kecil, aku tahu jika bukan karena nona kecil yang meminta ayahnya untuk menolongku, mungkin aku sudah mati" jelas pemuda itu,
"Kamu lebih baik kembali saja, bosku tidak akan mengijinkanmu menemui putrinya" jawab Viko
"Tidak Tuan, aku mohon bawa aku kepada bosmu, aku benar-benar ingin berterima kasih" pemuda itu segera berlutut kepada Viko, Viko yang tidak nyaman menjadi perhatian orang lain segera mengangkat pemuda itu dari lantai,
"Baiklah, aku akan membawamu menemuinya" tampak seulas senyum di wajah pemuda itu,
Viko membawa pemuda itu ke kamar Viana, di mana ada Jebby dan Asyaa, Jebby menemani Asyaa bermain, tiba-tiba pintu di ketuk terlihat Viko masuk di belakangnya diikuti oleh seorang pemuda, Jebby bangkit dan menggendong Asyaa dari lantai,
"Ada apa?" Tanya Jebby
"Bos ini anak yang telah diselamatkan oleh nona kecil, dia memohon untuk menemui anda dan nona kecil untuk mengucapkan terima kasih" jawab Viko
Viko melihat pemuda tersebut tidak berbicara, Jebby memandangi pemuda itu, dia sedikit lebih tinggi dari Daren dan juga sepertinya umurnya sama, pemuda ini juga terlihat sangat tampan, bahkan Jebby merasa pemuda itu lebih tampan darinya dan Daren, Jebby sedikit terkejut karena semua orang tidak ada yang berani menatap matanya secara langsung, tetapi pemuda ini jangankan menatapnya bahkan tidak tampak rasa takut dalam matanya, pemuda itu hanya berdiri diam dan tidak berbicara, Viko menyenggolnya dengan sikunya, namun pemuda itu tetap tidak bersuara, Asyaa yang berada dalam pelukan Jebby meminta untuk turun, setelah Jebby menurunkannya, Asyaa pergi ke arah pemuda tersebut kemudian menggenggam tangannya,
"Kakak jangan takut" ujar Asyaa, pemuda tersebut tersenyum, tatapan matanya yang lembut menatap Asyaa tidak luput dari pandangan Jebby,
"Apa kamu pikir aku tidak bisa menjaga putriku?" Tanya Jebby dengan dingin, namun pemuda itu tidak menjawab dan juga tidak membantah, Jebby benar-benar merasa tertarik,
"Siapa namamu dari mana asalmu" tanya Jebby
"Aku Hansel" ujar pemuda itu dengar suara serak, tanpa mengatakan asal usulnya, Jebby juga tidak memaksa, karena dia bisa menyelidiki latar belakang siapapun hanya dengan meminta Viko menyelidikinya,
"Baiklah, kamu boleh menjaga putriku" ujar Jebby, tetapi bukan berarti Jebby tidak mengetahui maksud Hansel ingin berada di samping Asyaa,
Asyaa senang karena ayahnya mengijinkan Hansel untuk menjaganya, itu berarti dia punya dua orang kakak, kakaknya Daren mulai disibukkan dengan ujian jadi tidak punya banyak waktu untuk menemaninya, Asyaa tersenyum,
"Kakak Hansel, namaku Asyaa" ujar Asyaa dengan senyum manisnya,
"Mm" Hansel menganggukkan kepala tanda dia mengerti, Asyaa melihat Hansel yang menatap Viana yang sedang berbaring koma,
"Kakak Hansel itu ibuku, ibuku sakit sampai sekarang tidak bangun Asyaa sedih" Asyaa menundukkan kepala kecilnya tanda bahwa dia sedang sedih, Hansel berjongkok dan memeluknya, Hari-hari berikutnya Hansel selalu menemani Asyaa pergi ke sekolah taman kanak-kanak, meskipun dia yang paling besar di kelas itu Hansel tidak keberatan, justru dia mengikuti apa pun kemauan Asyaa, guru kelas Asyaa juga tidak keberatan, Hansel sejak meminta Viko membawanya kepada orang yang telah menyelamatkannya, dan sejak memperkenalkan dirinya kepada Jebby, tidak pernah terdengar lagi suaranya setelah itu, kecuali saat berdua dengan Asyaa, dia hanya mau berbicara dengan Asyaa.
Saat akhir pekan Daren pergi mengunjungi Asyaa, Daren terkejut melihat Asyaa yang sedang bermain dengan seorang anak remaja laki-laki sepantaran seumuran dengannya, Asyaa yang melihat kedatangan Daren segera berlari dan melemparkan tubuh kecilnya kepada Daren,
"Kakak, Asyaa rindu, untung saja ada kakak Hansel yang menemani Asyaa bermain" ujar Asyaa
"Benarkah" Daren melihat ke arah Hansel, Daren dan Hansel saling menatap, dulu Daren sempat cemburu dengan ketampanan Jebby, sekarang ada Hansel yang lebih tampan lagi disisi Asyaa, dia benar-benar merasa kesal, namun tidak menampakkannya.
"Kakak Daren ini namanya Kakak Hansel mulai sekarang dia yang menjaga Asyaa, Kakak Hansel ini Kakak aku, Kakak Daren" Asyaa memperkenalkan Hansel dan Daren. Daren hanya menganggukkan kepala untuk menyapa Hansel, begitu pun dengan Hansel, dia menjawab sapaan Daren dengan menganggukkan kepala.
Daren sebenarnya adalah paman Asyaa, namun kebiasaanya sejak kecil membuat dia susah melepaskan panggilan itu, yang anehnya kepada Viana Asyaa bisa dengan mudah mengganti panggilannya dari kakak menjadi ibu.
Karena ada Hansel yang menjaga Asyaa 24 jam kekhawatiran Jebby berkurang, meski begitu Jebby sering kali meluangkan waktu sepulang kantor menemani Asyaa bermain sampai Asyaa tertidur di malam hari, Hansel juga sering membawa Asyaa ke rumah sakit untuk menemui Viana, karena Daren dan Nina yang sedang sibuk ujian, sedangkan Ghena ikut membantu Jebby di Perusahaan, Hasan dan Maya juga sering mengunjungi Viana maupun Asyaa.
hari itu seperti biasa Hansel membawa Asyaa mengunjungi Viana sepulang sekolah, Asyaa yang sedang di suapi oleh Hansel tiba-tiba terdiam, Hansel yang melihat ke arah pandangan Asyaa juga ikut terkejut.