
Setelah mengganti pakaian, Freya dan Asyaa keluar dari kamar, mereka melihat Theo sedang menunggu di sofa sambil membaca buku, melihat Asyaa dan Freya datang Theo segera meletakkan bukunya,. Kemudian memberi kode kepada mereka berdua untuk duduk, namun setelah mereka duduk Theo tidak langsung berbicara dan hanya menatap mereka, di tatap seperti itu membuat Freya makin deg degan.
"Freya, apa tidak ada yang ingin kamu sampaikan kepadaku?" Tanya Theo terlihat santai, namun Freya tahu jelas kakaknya saat ini benar-benar sedang serius.
"Ti.. tidak, tidak ada yang ingin aku sampaikan" jawab Freya ragu-ragu.
"Benarkah? Apa kamu yakin?" Freya menganggukkan kepala bersikeras tidak ada hal yang ingin dia sampaikan, Theo merasa sangat kesal,
"Baiklah.. " Theo mengambil ponselnya kemudian menelpon seseorang, setelah telepon terhubung, Theo berkata,
"Datanglah ke rumah, ada yang ingin aku bicarakan" Asyaa dan Freya makin bingung, dengan tingkah Theo, hanya butuh 10 menit seseorang mengetuk pintu, Theo meminta Asyaa untuk membukakan pintunya. Setelah di buka ternyata yang datang adalah Martin,
"Cepat juga kamu sampainya" ujar Theo penuh arti, Martin yang belum mengetahui situasinya menjawab dengan santai,
"Ya.. kebetulan aku ada di dekat sini, jadi cepat sampai"
"Benarkah?" Melihat ekspresi Theo yang serius Martin mulai menyadari bahwa sepertinya hubungannya dan Freya sudah ketahuan.
"Theo aku bisa jelaskan, aku.."
"Mengapa kalian pacaran diam-diam di belakangku? Mengapa tidak memberitahuku? Terutama kamu Freya" Theo memotong Martin yang berusaha ingin menjelaskan, Freya baru menyadari bahwa hubungannya dengan Martin sudah di ketahui kakaknya saat melihat Martin datang,
"Kakak a..aku, aku tidak bermaksud seperti itu"
"Freya, kalian ingin menyembunyikannya dariku? Apa kalian lupa siapa aku? Kalian pikir orang-orangku yang tersebar di Negara ini tidak akan melaporkannya padaku?"
"Ma.. maafkan aku kakak, aku ingin memberitahumu tetapi aku takut, aku takut kamu akan marah dan tidak setuju, kamu pernah melarangku untuk tidak berpacaran dahulu selama kuliah, tetapi aku mencintai Martin itu sebabnya aku setuju untuk berpacaran dengannya" ujar Freya dengan air mata yang menetes di pipinya, Asyaa yang berada di sampingnya memegang tangan Freya untuk memberikan dukungan kepadanya.
"Theo, jangan salahkan Freya, ini salahku. Aku yang mengajaknya pacaran diam-diam" ujar Martin
"Tidak kakak... Awalnya Martin ingin memberitahumu, tetapi aku tidak mengizinkannya, aku bilang padanya akan memberitahumu jika waktunya tepat, ini salahku" Freya takut kakaknya akan memukuli Martin.
"Apa ini? Apa kalian sedang menunjukkan kepadaku kisah cinta kalian?" Ruang tamu itu menjadi hening, Martin menundukkan kepalanya, menunjukkan bahwa dia merasa bersalah, begitu pun dengan Freya, sedangkan Asyaa hanya diam saja dan tidak tahu harus bilang apa
"Sudahlah, kalian sudah pacaran, tidak ada yang akan berubah meski aku marah-marah" Theo menghela napasnya dengan kesal melihat Martin dan Freya yang seperti itu, mendengar ucapan Theo yang sudah menyetujui mereka meskipun terpaksa, Martin dan Freya segera melihat ke arah Theo dengan tatapan terima kasih.
"Tetapi awas saja jika kamu berani menyakiti hati Freya, aku akan menghabisimu" setelah mengucapkan memperingati Martin Theo pergi keluar karena dia harus kembali ke markas. Asyaa memeluk Freya karena merasa ikut senang, kemudian dia pergi ke kamar memberikan waktu kepada Martin dan Freya untuk berduaan.
Di dalam kamar Asyaa menghubungi Rafka, hanya dalam beberapa detik telepon terhubung, Rafka segera mengangkatnya,
"Hallo, Asyaa?"
"Hallo, kakak Rafka aku punya info untukmu..!"
"Benarkah? Info apa?"
"kamu tahu..! hubungan Martin dan Freya ternyata sudah di ketahui oleh kak Theo dari awal dan kak Theo tadi sangat marah" Jelas Asyaa antusias
"Oh"
"Aku sudah tahu dari awal kalau Theo pasti tahu kelakuan mereka"
"Mangapa?"
"Theo adalah sahabatku, dia juga seorang kapten tentara, dia punya orang-orang di mana-mana, mana mungkin dia tidak akan tahu hubungan mereka"
"Lalu mengapa kakak tidak memberitahu kami?"
"Jika aku memberitahukannya lalu apa yang akan kalian lakukan?"
"Setidaknya Freya dan Martin akan segera jujur tanpa di tanya oleh kak Theo"
"Kalau begitu mengapa mereka tidak jujur saja dari awal?"
"Iiiikkhh... Menyebalkan" Asyaa yang tidak bisa membantah Rafka hanya bisa cemberut, mendengar Asyaa yang merasa kesal Rafka tertawa senang.
"Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?" Tanya Rafka mengalihkan topik pembicaraan,
"Asyaa sedang duduk di kamar sambil berbicara dengan seseorang yang menyebalkan"
"Hahahaha.. benarkah?"
"Tentu saja"
"Maafkan aku ya, seharusnya aku memberitahumu"
"Tidak.. aku tidak akan memaafkan kakak"
"Lalu bagaimana agar kamu bisa memaafkanku? Akh iya, tunggu sebentar ya, nanti aku menelpon lagi" Rafka segera mematikan teleponnya, Asyaa merasa bingung dengan Rafka.
Dalam 20 menit Rafka kembali menelpon Asyaa, Asyaa yang sedang membaca buku di dalam kamar segera mengangkat ponselnya.
"Ada apalagi?" Tanya Asyaa tidak sabaran,
"Aku punya sesuatu untukmu, keluarlah"
"Apa? Keluar?" Asyaa terkejut, sekaligus penasaran mengapa Rafka memintanya keluar, dia mengikuti permintaan Rafka untuk keluar, Freya dan Martin sudah tidak ada di ruang tamu, sepertinya mereka pergi berjalan-jalan, pikir Asyaa. Asyaa membuka pintu rumah, terlihat Rafka sedang berdiri di hadapannya sambil memegang ice cream dan kue tart dengan rasa stroberi,
"Kak Rafka, mengapa ke sini lagi? Dan ini..?" Asyaa melihat kue dan ice cream dengan rasa kesukaannya.
"Aku bawakan ini untukmu agar kamu bisa memaafkanku?"
"Tetapi.. dari mana kak Rafka tahu Asyaa suka ice cream dan kue dengan rasa stroberi?"
"Akh... I.. itu, itu aku tanya kepada Freya?" Jelas Rafka berbohong, bagaimana mungkin dia tidak tahu kesukaan Asyaa, dia sendiri yang sering membelikan dan menyuapi Asyaa ice cream dan kue tart rasa stroberi yang diminta oleh Asyaa waktu kecil. Asyaa juga tidak curiga lagi,
"Baiklah.. kali ini aku akan memaafkan kakak" Asyaa segera meminta Rafka untuk masuk, kemudian kue tart dan ice cream yang di bawa oleh Rafka segera di buka, karena Asyaa tidak sabar untuk memakan kue tersebut, setelah suapan pertama Asyaa menawarkan Rafka memakan kue itu bersama-sama, awalnya Rafka menolak karena dia tidak suka makanan yang manis, tetapi karena Asyaa terus memaksa akhirnya dia membuka mulutnya dan menerima suapan kue dari Asyaa, tentu saja Rafka merasa sangat senang, tidak sia-sia dia datang dan membelikan kue itu untuk Asyaa, betapa dia ingin waktu berhenti di saat ini, di mana hanya ada Asyaa dan dirinya, serta tidak perlu memikirkan hal lain, tv yang sedang menyala menayangkan sebuah drama. tiba-tiba menampilkan adegan ciuman romantis antara pemeran utama pria dan pemeran wanita, Rafka dan Asyaa yang sedang duduk di sofa terlihat canggung, karena tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, Rafka segera menutupi rasa canggungnya dengan menegus segelas air yang terletak di atas meja, sedangkan Asyaa mukanya sedikit merah karena malu, namun dia berpura-pura menikmati Ice creamnya dan kue tartnya.