That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 56



Setelah telepon di tutup Jebby sangat marah hingga dia melemparkan telepon kantor ke lantai, Jebby tahu betul orang itu tidak menelpon ke ponselnya secara langsung karena takut posisinya akan ketahuan, kebetulan Viko masuk ke ruangan Jebby dan melihat Jebby yang sangat marah sampai melemparkan barang,


"Bos, ada apa?" Tanya Viko penasaran, Jebby mengatur amarahnya terlebih dahulu, kemudian mengatakan semuanya kepada Viko, mendengar penjelasan Jebby soal telepon yang masuk Viko juga sangat marah, dia juga tidak terima jika Nona kecil yang sangat imut itu harus terluka,


Viana sudah tidak bekerja lagi, karena dia merasa bersalah, jika saja dirinya tidak bekerja dan fokus menjaga Asyaa, Asyaa pasti tidak akan diculik, Ghena dan Maya sering menghibur Viana agar Viana tidak menyalahkan dirinya sendiri tetapi hal itu tidak pernah berhasil, begitu pun dengan Daren, dia terus-menerus berhadapan dengan komputer memeriksa cctv berulang-ulang kali pagi siang dan malam tetapi tetap saja tidak ada petunjuk, sedangkan Hasan juga mengerahkan semua koneksinya tetapi hasilnya nihil,


Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 Asyaa memilih untuk pergi ke kamarnya karena tidak memiliki semangat untuk bermain, Bibi Alin yang sejak tadi menjaga Asyaa sudah lelah juga pergi ke kamarnya, meskipun Asyaa bukan anak yang merepotkan, tetapi Asyaa sering berjalan mengintari vila yang membuat Bibi Alin juga harus mengikutinya dari belakang, tidak lama Bibi Alin segera tertidur, sedangkan Asyaa di kamarnya tidak bisa tidur, dan hanya duduk di kasurnya, dia sudah tidak menangis lagi, karena dia terus berpikir bagaimana cara memberi kabar kepada semua orang di rumah soal lokasinya, tiba-tiba lampu vila mati, Asyaa yang masih kecil sudah pasti takut gelap, dia gemetar ketakutan, dia berteriak memanggil ayah dan ibunya,


Pria yang membawa Asyaa ke vila itu sedang istirahat di kamar yang bersebelahan dengan Asyaa, saat lampu vila mati dia biasa saja dan tidak beranjak dari kasurnya, tetapi satu menit kemudian dia ingat bahwa Asyaa yang masih kecil ada di kamar sebelahnya, dan sudah pasti anak kecil pasti takut akan ruangan yang gelap, pria itu langsung bangkit dari kasurnya dan bergegas ke kamar Asyaa, benar saja, sesampainya di kamar Asyaa dia melihat Asyaa yang sedang ketakutan memeluk boneka beruangnya dengan erat di sudut ruangan, pria itu bergegas menghampiri Asyaa dan langsung menggendongnya,


"Maaf.. maaf, sejenak aku melupakan kamu yang berada di vila ini, maafkan aku" ujar pria itu sambil menggendong Asyaa dan mengelus-elus punggungnya untuk menenangkan Asyaa yang menangis, pria itu tahu bahwa lampu tidak akan menyala sampai besok pagi, jadi dia tidak mungkin meninggalkan Asyaa sendirian, pria itu membawa Asyaa ke kamarnya, karena di kamar Asyaa kasurnya kecil, Asyaa yang menangis dibaringkan di atas kasurnya yang besar dan pria itu juga berbaring di samping Asyaa sambil terus menenangkannya, tidak lama setelah itu Asyaa yang kelelahan menangis hingga tertidur, pria itu pun tertidur di sampingnya,


Keesokan paginya Asyaa bangun dari tidurnya, pria itu sudah tidak ada di samping Asyaa, dia melihat bahwa kamar itu bukanlah kamarnya selama dia di vila ini, tiba-tiba mata Asyaa tertuju pada komputer di atas meja di dalam kamar itu, Asyaa bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar, Bibi Alin yang sedang menuju ke lantai dua melihat Asyaa yang keluar dari kamar Tuannya,


"Nona kecil mengapa kamu keluar dari kamar Tuan dan bukan dari kamarmu?" Tanya Bibi Alin dengan tatapan penasaran


"Tadi malam lampu mati, Asyaa ketakutan untung saja dia datang menolong Asyaa, dia membawa Asyaa ke kamarnya, jadi Asyaa tidur di kamarnya sampai pagi" jelas Asyaa. Mendengar Asyaa yang menyebut namanya Bibi Alin terkejut, karena selama ini Asyaa tidak pernah menyebut namanya,


"Nona kecil, jadi namamu Asyaa?" Tanya Bibi Alin dengan raut wajah senang, melihat Bibi Alin yang begitu senang Asyaa tidak memperdulikannya,


"Di mana Tuan?" Tanya Asyaa sambil mencari-cari keberadaan pria itu,


"Oh, Tuan tadi pergi keluar, ada apa Nona kecil?"


"Tidak ada apa-apa"


"Ada apa Nona kecil?"


"Tidak Bibi Alin, aku hanya merasa nyaman di kamar Paman itu dibandingkan kamarku"


"Benarkah.. Tuan adalah orang yang baik, Nona kecil tenang saja, dia tidak akan menyakitimu" jelas Bibi Alin, entah apa yang membuatnya menculik anak yang menggemaskan seperti ini pikir Bibi Alin dalam hati.


Setelah makan Asyaa berpamitan kepada Bibi Alin untuk bermain di kamar pria itu, Bibi Alin juga mengijinkannya, asal Asyaa tidak mengintari vila saja dia sudah sangat senang,


Di kamar pria itu, Asyaa menyalakan komputer ternyata komputer itu tidak bisa menyala, "mengapa tidak bisa menyala" ujar Asyaa sambil terus menekan tombol turn of, berkali-kali Asyaa menekannya tetap saja tidak bisa menyala, Asyaa merasa kesal, dia pikir hari ini dia bisa mengirimkan lokasinya kepada kakaknya, tetapi sepertinya dia harus gagal, Asyaa merasa putus asa, dan turun dari kursi, rasanya dia ingin menangis, tetapi tiba-tiba dia melihat sebuah colokan listrik yang tidak terpasang pada stop kontak, Asyaa memperhatikannya, dan ternyata benar bahwa komputer tidak menyala karena colokan listrik tidak terpasang, Asyaa memasang colokan listrik pada stop kontak, setelah itu dia mencoba menghidupkan kembali komputer itu, komputer itu akhirnya menyala, dan komputer itu menggunakan kata sandi, tentu saja hal itu sangat mudah bagi Asyaa, dia tahu semua orang pasti sedang mencarinya, dan dia juga tahu pasti kakaknya Daren mencarinya dengan menggunakan semua kemampuannya, Asyaa mulai mengoperasikan komputer itu, dan disaat dia akan mengirimkan informasi kepada kakaknya Daren, Asyaa mendengar suara Bibi Alin yang menyapa Tuannya,


"Tuan sudah kembali?" Safa Bibi Alin dan melihat pria itu membawa sebuah paper bag


"Mm.. di mana Nona kecil?" Tanya pria itu.


"Nona kecil tadi bilang ingin bermain di kamar Tuan, aku mengizinkannya karena jika tidak dia akan membuat aku mengikutinya mengitari vila ini" ujar Bibi Alin, pria itu melangkahkan kakinya menuju kamarnya, sesampai di kamarnya, pria itu melihat Asyaa yang sedang berdiri di depan komputer,


"Apa yang sedang kamu lakukan" tanya pria itu,


"Paman... aku.. aku..ha hanya" ujar Asyaa terbata-bata,


"hanya apa?" tanya pria itu lagi yang memandangi Asyaa dengan penasaran