
"Paman aku hanya penasaran itu benda apa" ujar Asyaa sambil menunjuk komputer yang dalam keadaan mati, untung saja tadi dia mendengar Bibi Alin menyapa Tuannya, jadi dia masih ada kesempatan untuk segera mematikan komputer, tetapi dalam hatinya sangat kecewa karena dia tidak sempat mengirimkan informasi kepada kakaknya Daren,
Mendengar Asyaa memanggilnya dengan sebutan Paman, pria itu tersenyum cerah, ada rasa bahagia dalam hatinya,
"Ini untuk Asyaa" ujar pria itu sambil memberikan paper bag yang dibawanya kepada Asyaa,
"Apa ini Paman?" Tanya Asyaa penasaran
"Buka saja" jawab pria itu
Asyaa membuka paper bag itu, dan ternyata itu adalah sebuah boneka yang sangat cantik,
"Terima kasih" ujar Asyaa, Asyaa memang senang mendapat hadiah itu, tetapi pandangan Asyaa sering melihat ke arah komputer, pria itu melihat Asyaa yang seperti sangat ingin tahu soal komputer,
"Apa kamu sangat ingin tahu dengan benda itu?" Tanya pria itu. Asyaa langsung menganggukkan kepala,
"Ayo sini, paman akan mengajarimu" ujar pria itu, Asyaa sangat senang, tetapi dalam hati dia juga mencibirnya, huh.. ingin mengajariku? Seharusnya kamu yang aku ajari paman pikir Asyaa dalam hati,
Pria itu duduk di kursi yang berhadapan dengan komputer, saat dia akan memasang colokan listrik komputer, ternyata colokannya sudah terpasang pada stop kontak,
"Hah, colokan listriknya sudah terpasang?" Ujar pria itu, Asyaa yang mendengarnya terkejut, dia baru ingat kalau dia tadi lupa mencabut colokan listrik komputer, dia terdiam karena takut pria itu mengetahui bahwa dialah yang memasangnya,
"Apa mungkin terakhir kali memakainya aku lupa mencabut colokan listriknya?" Ujar pria itu bertanya-tanya sendiri,
"Ada apa Paman?" Tanya Asyaa yang berpura-pura tidak tahu,
"Tidak apa-apa, ayo sini Paman tunjukan soal benda ini" Asyaa mendekat kepada pria itu, setelah Asyaa mendekat pria itu langsung mengangkat Asyaa dan mendudukkan Asyaa di pangkuannya, pria itu mengajari Asyaa menyalakan komputer kemudian dia mengajari Asyaa memainkan beberapa game di komputer, Asyaa berpura-pura takjub melihat semua itu, seolah-olah itu adalah pertama kali dia melihat komputer, pria itu mengajari Asyaa beberapa game yang ada di dalamnya, yang sejujurnya Asyaa tidak peduli soal game yang diajarkan melainkan sedang berpikir bagaimana cara dia memberikan informasi soal keberadaannya kepada orang rumah.
"Maaf" hanya sebuah kata maaf yang terucap dari bibirnya, tanpa bisa mengatakan hal yang lain, karena merasa bersalah kepada Asyaa pria itu menurunkan Asyaa dari pangkuannya,
"Sayang, ada sesuatu yang harus paman selesaikan di ruang kerja paman, kamu bermainlah sendiri" pria itu pergi meninggalkan Asyaa sendirian, Asyaa yang ditinggalkan sendirian merasa sangat senang, setelah dirasa pria itu sudah pergi ke ruang kerjanya dan tidak akan kembali secepatnya, Asyaa segera mengotak atik komputer dan tidak lama dia langsung mengirim pesan ke email Daren, tidak lupa Asyaa juga mengirimkan lokasinya berada sekarang,
Daren yang sudah putus asa duduk di depan komputer menyandarkan tubuhnya di kursi untuk beristirahat sejenak, tiba-tiba dia melihat sebuah email masuk di layar komputer, Daren yang sedang memikirkan keberadaan Asyaa merasa malas untuk membuka email itu, tetapi satu menit kemudian barulah dia memaksakan diri untuk melihat email itu, Daren sangat terkejut karena email itu adalah pesan dari Asyaa yang berbunyi "kakak ini Asyaa, tolong jemput Asyaa", selain pesan itu Asyaa juga mengirimkan titik lokasi dia berada. Daren sangat terkejut tetapi juga bahagia, dia segera menghubungi Jebby,
Jebby yang sedang berada di kantornya dengan penampilan yang acak-acakan sebap tidak istirahat dengan benar karena mencari tahu keberadaan Asyaa, tiba-tiba di hubungi oleh Daren, melihat panggilan telepon dari Daren Jebby segera mengangkatnya,
"Hallo bagaimana? Apa ada petunjuk?"
"Kakak ipar, Asyaa mengirimkan kepadaku titik lokasi dimana dia berada, ayo kita segera pergi ke sana, aku akan mengirimkan lokasinya padamu"
"Benarkah" Jebby terkejut bahagia, dia langsung bangkit dari kursinya, dan berjalan dengan cepat bahkan sedikit berlari, saat dia sampai di parkiran dia juga segera menghubungi Viko dan memberitahukannya, Viko yang mendapat info dari Jebby bergegas ke lokasi Asyaa yang ternyata ada di pinggiran kota, butuh waktu satu jam lebih untuk sampai di sana, Jebby mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, begitu pun dengan Viko dan pengawal yang lain, sedangkan Daren mengendarai motornya, Jebby dan Viko hanya memakan waktu 45 menit sampai di depan sebuah Vila bersama para pengawal, para pengawal segera mengepung Vila itu, Jebby turun dari mobil tidak lupa membawa senjata api jenis pistol, pistol itu buatan Israel bernama Desert Eagle, Desert Eagle ini memiliki kemampuan daya tembak yang luar biasa. Dimana jika pistol pada umumnya hanya bisa menembus sasaran, namun berbeda dengan pistol ini. Desert Eagle mampu menembus target sekaligus membuat target hancur seketika, orang-orang tahu Jebby adalah pewaris JB Grup, tetapi tidak banyak yang tahu jika Jebby memimpin organisasi mafia paling kuat di semua Negara, tidak ada yang mengetahuinya selain Viko bahkan Viana pun tidak, sejak Jebby mengambil alih JB Grup yang diserahkan oleh ayahnya, dia menyerahkan kepemimpinan organisasi mafia yang dipimpinnya secara diam-diam kepada salah satu anak buah kepercayaannya,
Disaat Jebby akan melangkahkan kakinya Daren tiba dengan mengendarai motornya, setelah turun dia bergegas menghampiri Jebby,
"Kakak ipar" safa Daren
"Mm.. mari kita masuk" ujar Jebby dengan tatapan ingin membunuh, Viko dan Daren mengikuti Jebby,
Di dalam Vila belum ada yang menyadari kedatangan Jebby dan rombongan, Bibi Alin sedang memasak di dapur, sedangkan Asyaa berada di kamar pria itu, dia memeluk erat boneka yang baru saja diberikan oleh pria itu, dalam hatinya berdoa semoga ayahnya dan kakaknya Daren segera datang menjemputnya,
Pria itu berada di ruang kerjanya, dia merasa sangat suntuk dan ingin mencari udara segar, pria itu bangkit lalu keluar dari kamarnya, dia berjalan mengarah ke pintu utama Vila, di saat dia membuka pintu utama, pria itu tidak memperhatikan sekeliling, dia hanya berjalan dengan gontai sambil menunduk seperti tidak memiliki semangat hidup, saat dia mengangkat kepalanya dan memandang ke depan dia melihat Jebby yang diikuti oleh dua orang lainnya hanya berjarak sepuluh meter darinya, dia melihat kiri kanan, ternyata dia sudah terkepung oleh para pengawal, Jebby terkejut saat melihat orang yang berada di hadapannya itu yang tidak lain adalah Leon.