That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 89



Di Negara B, Jebby yang keluar dari kamar mandi melihat Viana sedang termenung menghadap jendela seolah menikmati suasana malam, namun Jebby tahu persis bahwa Viana sedang memikirkan Asyaa. Perlahan Jebby berjalan ke arahnya.


"Ada apa? Apa kamu sedang memikirkan putri kita?" Tanya Jebby sambil memeluk Viana dari belakang, Viana yang di peluk tiba-tiba sedikit terkejut,


"Ya.. aku memikirkan putri kita yang sedang mencari Hansel, entah dia sudah mendapatkan petunjuk atau tidak soal keberadaan Hansel, aku berharap dia segera menemukannya, agar Asyaa bisa segera kembali berkumpul bersama kita" mendengar penjelasan Viana Jebby diam saja, dan hanya mempererat pelukannya,


"Oh ya, aku pikir Hansel sudah meninggal setelah kita melihat cctv beberapa tahun lalu, aku tidak menyangka Asyaa begitu yakin bahwa Hansel masih hidup karena kado-kado tanpa nama dan alamat yang sering di kirim ke sini tiap hari ulang tahunnya itu, apa kamu juga berpikir bahwa orang yang mengirim sebuah kado setiap ulang tahun Asyaa itu adalah Hansel?" Tanya Viana sekali lagi,


"Entahlah, aku hanya ingin putriku segera kembali berkumpul dengan kita di sini, dan melupakan anak itu" Jawab Jebby merasa kesal karena mengingat Asyaa yang sendirian di Negara lain demi seorang pria.


Di kamarnya Ayden terdengar sedang berbicara dengan seseorang, "Untuk apa kamu menggangguku malam-malam begini? Di tempatmu saat ini sore hari tetapi di tempatku malam hari, apakah kamu tidak ingin aku tidur tepat waktu?" Ujar Ayden merasa cemberut,


"Hey anak nakal, tidak bisakah kamu sopan sedikit pada kakakmu ini? Awas saja nanti, aku akan mengatakannya pada ibu bahwa kamu bicara tidak sopan padaku" Asyaa yang sedang melakukan Video Call itu dibuat kesal oleh adiknya, melihat kakaknya yang manja, Ayden hanya bisa menarik napas dalam-dalam.


Beberapa detik kemudian Ayden melihat raut wajah Asyaa berubah, tampak dalam panggilan Video itu air mata Asyaa menetes, Ayden mengira kakaknya menangis karena perilaku Ayden yang tidak sopan, dia menjadi merasa bersalah, "Kakak.. maaf, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu, aku hanya rindu bertengkar denganmu, itulah mengapa aku berkata seperti itu" Asyaa melihat adiknya yang merasa bersalah tersenyum dan menghapus air matanya, "Tidak.. kamu tidak melukai perasaan kakak, kakak hanya merasa lelah dan sedih hari ini, itu sebabnya kakak menghubungimu, melihatmu rasa lelah dan sedih kakak sedikit berkurang"


"Apa begitu lelah? Jika tidak sanggup kakak boleh segera kembali, ayah dan ibu juga merindukanmu" ujar Ayden.


"Tidak.. kakak belum bisa kembali, kakak masih harus di sini, kakak yakin kakak akan bisa bertemu dengannya, kamu jaga ayah dan ibu baik-baik dan tolong jangan mengganggu mereka, kalau tidak kamu tidak akan punya adik, hahahaa" tawa Asyaa membuat Ayden juga sedikit merasa tenang, karena itu artinya kakaknya baik-baik saja. setelah mengakhiri telepon dengan ucapan selamat malam Asyaa dan Ayden mematikan teleponnya.


Dua hari kemudian, Freya dan Asyaa bangun jam 8 pagi, setelah sarapan Freya tiba-tiba teringat sesuatu,


"Akh.. Asyaa, cepat ganti baju kita harus pergi, cepat-cepat" ujar Freya sambil berlari ke kamar,


"Memangnya ada apa? Kita akan ke mana?" Asyaa bingung dan menyusul Freya ke kamar.


"Kakakku mengatakan hari ini dia mendapat tugas untuk memimpin keamanan di istana kepresidenan, calon tunggal Presiden Tuan Rafka akan berpidato hari ini"


"Memangnya kita harus pergi ya?" Mendengar pertanyaan Asyaa Freya spontan menatapnya, dengan tatapan tidak percaya,


"Asyaa, kamu mengatakan bahwa Tuan Arbi tidak pernah ke Negara B kecuali untuk urusan bisnis, itu berarti dia bukan kakak Hanselmu"


"Iyaaa.. lalu?" Tanya Asyaa makin bingung,


"Aku juga ingin secepatnya bisa bertemu dengan kakak hanselku, tetapi bagaimana mungkin kakak Hanselku adalah Tuan Rafka, dia adalah calon presiden dan juga sudah memiliki tunangan" ujar Asyaa dengan raut wajah yang sedikit sedih,


"Asyaa, bukankah kamu hanya ingin mengenali kakak Hanselmu, atau kamu benar-benar memiliki perasaan kepadanya?" Tanya Freya menatap Asyaa dengan serius, di tatap seperti itu membuat Asyaa salah tingkah dan mencoba menghindari kontak mata dengan Freya, melihat reaksi Asyaa Freya tahu apa yang dia katakan benar,


"Kamu menyukai kakak Hanselmu hanya karena ingatanmu akan perlakuannya waktu kecil?"


"Aku tidak tahu aku menyukainya atau tidak, yang aku tahu aku merindukannya hingga akan melakukan apa saja agar bisa bertemu lagi dengannya" jawab Asyaa dengan mata berkaca-kaca,


"Kalau begitu ayo bersiap, kita harus pergi ke istana untuk melihat Tuan Rafka, kakak Theo ada di sana, kita hanya perlu minta bantuannya agar bisa masuk dengan leluasa ke istana"


Setalah berganti pakaian, Freya dan Asyaa pergi ke istana Kepresidenan, sesampainya di sana ada Theo yang sedang menunggu mereka dan memberikan dua id card,


"Pakai id card ini, dengan ini kalian bisa masuk ke gedung istana tanpa halangan"


"Terima kasih kakak" ujar Freya dan Asyaa serempak, Theo hanya tersenyum melihat mereka berdua, dia tahu apa yang ingin mereka lakukan tetapi dia membiarkannya dan pura-pura tidak tahu.


Pidato akan segera di mulai, semua orang sudah berkumpul untuk mendengarkan di halaman istana, begitu juga dengan Asyaa dan Freya.


Tidak butuh waktu lama, Rafka berjalan keluar dari istana dan naik ke podium yang sudah disiapkan, semua orang menatap kagum akan ketampanan dan wibawa, serta aura yang terpancar dari dalam dirinya, begitu juga dengan Asyaa dan Freya. Asyaa melihat Rafka seolah dia mengenal punggung itu, punggung yang familier baginya, tetapi sebelum dia memastikan Rafka adalah Hansel dia tidak ingin menaruh harapan yang begitu tinggi takut dirinya akan kecewa.


Rafka menyampaikan pidato tanpa kendala apapun, dan mendapat sambutan meriah dari semua yang hadir di lapangan istana tersebut, setelah pidato ada beberapa kegiatan yang di gelar untuk menghibur masyarakat yang datang, sedangkan Rafka kembali ke dalam istana, karena istana itu milik Raja dahulu jadi Rafka memiliki ruangan tersendiri, Freya segera menarik Asyaa untuk masuk ke dalam istana.


Di istana ada beberapa area yang dilarang untuk tamu, namun karena mencari keberadaan Rafka Freya dan Asyaa tidak menyadari bahwa mereka masuk ke area terlarang untuk tamu, para penjaga yang sempat melihat Freya dan Asyaa mengejar mereka,


"Ada apa? Bukankah kita memakai id card mengapa penjaga mengejar kita?" Tanya Asyaa sambil berlari,


"Aku juga tidak tahu, sepertinya tadi kalau tidak salah dengar, penjaga berteriak jangan masuk area itu" jawab Freya yang lari sambil bergandengan tangan dengan Asyaa, namun tiba-tiba dari arah lain ada penjaga juga yang berlari ke arah mereka membuat tangan Asyaa dan Freya terlepas, Asyaa dan Freya lari ke arah yang berlawanan.


Asyaa yang sangat lelah memasuki sebuah ruangan dan bersembunyi di sana, tidak lama kemudian ada orang yang membuka ruangan tersebut, hati Asyaa deg degan, dia menutup matanya erat-erat karena takut ketahuan, beberapa detik menutup mata tidak ada yang datang, maka pelan-pelan Asyaa membuka matanya. Dia melihat Rafka yang baru masuk dan duduk di kursinya, wajahnya terlihat lelah, Asyaa terdiam tanpa tahu harus berbuat apa.