
Setelah memberi perintah kepada asistennya Viko, Jebby melangkah pergi sambil menggendong Viana di kedua tangannya, Viana membenamkan wajahnya di dada Jebby, tanpa sadar air matanya menetes karena terharu, dalam hati Viana sangat bersyukur karena merasa dilindungi, 3 tahun lalu saat Viana di fitnah tidak ada satu pun orang yang melindunginya, Jebby pergi meninggalkan Aula sambil menggendong Viana di bawah tatapan semua orang. Dio yang selama ini menyukai Viana tidak menyangka bahwa suami yang di katakan Viana kepadanya ternyata adalah Direktur mereka, begitu pun dengan Anet, dia tidak menyangka bahwa teman dekatnya itu ternyata adalah istri yang disebutkan Direktur mereka di dalam email pemberitahuan Perusahaan.
Setelah kepergian Jebby, asistennya Viko mulai menyelidiki semua yang terlibat di aula itu, "Siapa yang menyuruh kalian memprovokasi Nyonya" Ujar Viko sambil melihat semua orang yang ada di ruangan, terutama Cindy. Viko melangkah ke hadapan Cindy "lain kali jika ingin memprovokasi orang lain, lihatlah terlebih dahulu siapa orang yang ingin kau provokasi" ujar Viko dengan senyum mengejek. Kemudian dari arah pintu beberapa petugas kepolisian datang menangkap Cindy,
"Anda ditangkap atas tuduhan pencemaran nama baik terhadap istri Direktur Jebby, tolong ikut kami ke kantor untuk penyelidikan dan anda berhak menghubungi pengacara untuk mendampingi anda" Ujar salah satu petugas polisi. Cindy tidak bisa berkutik lagi, dia hanya bisa pergi mengikuti petugas polisi, dalam hatinya sangat menyesal, seandainya dia tahu bahwa Viana adalah istri Direktur mereka, mana mungkin dia akan membuat kekacauan. Setelah kepergian Cindy dan para petugas kepolisian,
Viko kembali melanjutkan introgasinya "semua orang yang telah menghina dan menyakiti Nyonya tidak perlu datang lagi ke Perusahaan, kalian semua di pecat, aku memiliki daftar nama-nama kalian" ujar Viko. Orang-orang yang mengejek Viana sangat menyesal sedangkan orang-orang yang tidak terlibat merasa bersyukur karena mereka tidak ikut-ikutan menghina Viana.
Sesampai di gedung apartemen, Jebby menunggu lift sambil menggendong Viana, setelah lift datang Jebby melangkah masuk, sebelum lift tertutup sepasang kakek dan nenek ikut masuk ke dalam lift, Jebby yang melihat kedatangan kakek dan nenek itu menyapa dengan sedikit menundukkan kepala dengan sopan, melihat Jebby sedang menggendong Viana, nenek itu berkata "anak muda zaman sekarang benar-benar sangat manis" ujar nenek itu sambil tersenyum. Viana yang mendengar ucapan nenek itu merasa sangat malu, jadi dia makin membenamkan wajahnya di dada Jebby, "tidak usah malu nak, suami istri harus seperti itu, jangan sampai di ambil oleh perempuan lain, jagalah suamimu baik-baik" ujar nenek itu kembali. Kali ini giliran kakek yang berbicara "anak muda sepertinya kalian pengantin baru, istrimu sangat cantik, dahulu aku juga sering menggendong istriku seperti itu, tetapi sekarang aku sudah tidak mampu lagi menggendonggnya" "apa yang kamu katakan?, Untuk apa kamu menggendongku lagi, aku sangat bahagia bersamamu sampai saat ini" sela nenek itu atas perkataan suaminya. Jebby tersenyum mendengar sepasang kakek dan nenek tersebut. Lift berbunyi tanda bahwa sudah sampai di lantai tujuan, kakek dan nenek itu keluar karena itu adalah lantai tempat tinggal mereka, sebelum keluar nenek itu berkata "semoga pernikahan kalian dilimpahi kebahagian ya" "terima kasih" ujar Jebby.
Sesampai di apartemen mereka, Jebby mendudukkan Viana di sofa, kemudian dia berlutut di hadapan Viana untuk memeriksa kaki Viana yang keseleo tadi, Jebby bangkit mengambil kotak obat-obatan lalu kembali berlutut di hadapan Viana, dia menyemprotkan obat untuk kaki yang keseleo, kemudian memijat-mijat kaki Viana, Viana melihat Jebby yang sedang serius mengobatinya, Viana hanya bisa melihat bulu mata Jebby yang lentik dan rahang yang tegas itu,
"Itu... Akuuu..ma maafkan aku" ucap Viana terbata-bata,
"Kamu tidak perlu merasa bersalah, semua ini bukan salahmu" Jebby terdiam sebentar kemudian melanjutkan kata-katanya sambil menatap Viana dengan sungguh-sungguh, "Vianaaa.. maafkan aku, karena aku terlambat melindungimu" Viana melihat penyesalan di mata Jebby, Viana benar-benar tidak ingin menyalahkannya, Viana juga tidak tahan melihat Jebby yang begitu memedulikannya, sehingga tanpa sadar dia mengecup kening Jebby yang sedang menatapnya penuh penyesalan, Jebby yang tiba-tiba di cium langsung terdiam karena kaget, Viana sadar bahwa dia terbawa suasana, dia langsung memalingkan wajahnya dan berpura-pura terbatuk.
"Ekhem..ekhem... Jebby, aku haus, bolehkah mengambilkan air untukku?" Jebby yang masih kaget itu langsung berdiri pergi ke dapur mengambilkan air untuk Viana.
Setelah meminum air dari Jebby Viana bangkit ingin ke kamarnya, melihat Viana akan berdiri Jebby langsung paham dan membantunya ke kamar, Viana kembali di gendong oleh Jebby,
Viana hanya mengiyakan sambil menganggukkan kepala, saat Jebby sedang memasak di dapur tiba-tiba Viana datang sambil melompat lompat dengan kakinya yang sebelah, dia sudah selesai membersihkan dirinya dan mengganti baju, kemudian dia mengambil bangku dan duduk di dalam dapur untuk melihat Jebby memasak.
"mengapa kamu tidak istirahat saja, setelah semua masak baru aku akan memanggilmu" ucap Jebby
"Tidak, aku ingin melihatmu memasak" ujar Viana, Jebby hanya tersenyum melihat tingkah Viana.
Setelah Jebby selesai memasak mereka makan bersama, dan setelah itu Jebby mencuci piring seperti biasa, dan Viana menonton TV, Viana sering melirik ke arah Jebby yang sedang sibuk di dapur, beberapa menit kemudian Jebby pun selesai mencuci piring, seperti biasa Jebby membawakan buah yang sudah di potong dan dibersihkan untuk Viana, Jebby menemani Viana menonton sebentar, setelah itu dia berpamitan untuk pergi ke ruang kerjanya, Viana menonton sendirian tetapi sejak Jebby pergi ke ruang kerja Viana sering melihat ke arah ruang kerja, sudah lama Viana menonton, Jebby juga belum keluar dari ruang kerja, Viana mematikan TV dan kembali ke kamar, setelah mengganti bajunya dengan piyama untuk tidur, Viana melihat ke arah pintu, Jebby belum juga kembali ke kamar. Viana kemudian pergi ke dapur pelan-pelan karena kakinya yang sedang sakit, Viana membuatkan segelas susu untuk Jebby, kemudian pergi mengetuk pintu ruang kerja Jebby,
Tok.. tok.. tok.. Viana membuka pintu ruang kerja Jebby, terlihat Jebby sedang fokus mengetik dan menatap layar komputernya,
"Ada apa? mengapa belum tidur" tanya Jebby yang sedikit melirik Viana, dia melihat Viana yang memakai baju tidur yang berwarna pink dengan motif beruang itu membuat warna kulit Viana yang putih terlihat merah muda dan terlihat begitu lembut, dadanya yang cukup besar itu juga terlihat menggoda bagi Jebby, Jebby paham kedatangan Viana.
"Aku mengantarkan susu untukmu, apa kamu lelah aku akan membantumu memijat sebentar" Viana berjalan ke belakang Jebby dan memijat-mijat bahu Jebby, Jebby menangkap tangan Viana dan berkata,
"Tidurlah... Setelah pekerjaanku selesai aku akan kembali ke kamar" Viana merasa kecewa dia melangkah untuk kembali ke kamarnya sambil membatin "dasar pria bodoh, apa dia tidak memiliki keinginan sedikit pun? Aku bahkan sudah menyerahkan diri, tetapi dia tidak ingin menanggapiku? Apa aku benar-benar tidak menarik? Pikir Viana dalam hati. Saat Viana akan sampai ke pintu, tiba-tiba Jebby datang langsung menghadang dan memeluknya, kemudian mencium Viana dengan rakus, lidah mereka saling terkait, bibir dan gigi saling beradu, bahkan Jebby ingin menelan semua napas Viana, sejujurnya Viana ingin berhenti tetapi dia tidak ingin menolak Jebby lagi, dia sudah memutuskan untuk menerima dan menjadi suami istri yang sesungguhnya dengan Jebby.