
Rafka melonggarkan dasinya sedikit, dia mengusap wajah dengan kedua tangannya, raut wajahnya menunjukkan kelelahan dan kesedihan, Asyaa termenung karena melihat sisi lain dari seorang calon tunggal Presiden Negara M, Asyaa ingin keluar dari ruangan itu, tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya, terlihat Rafka mengambil sebuah bingkai yang berisi foto dari dalam laci meja kerjanya, dia mengusap foto tersebut dengan penuh perasaan dan kelembutan, dia tenggelam dalam perasaannya hingga tidak menyadari kehadiran Asyaa di dalam ruangan itu, padahal jika dia fokus dia bisa melihat Asyaa yang berada di samping lemari buku tepat di hadapannya hanya dengan mengangkat wajahnya.
Ketika dia sedang membelai orang di foto tersebut, Rafka tiba-tiba mengangkat wajahnya, dia melihat Asyaa yang berdiri di samping lemari, Rafka tersenyum dia pikir dia sedang berhalusinasi, Asyaa yang sudah ketahuan pemilik ruangan merasa bersalah, dia bejalan perlahan ke hadapan Rafka, Rafka yang masih mengira dia berhalusinasi memandangi foto yang di pegangnya kemudian melihat kembali ke arah Asyaa yang di hadapannya, dalam hatinya merasa begitu terkejut, tetapi setelah dia memperhatikannya dengan cermat, dia menyadari bahwa Asyaa benar-benar ada di hadapannya,
"Maaf Tuan, aku tidak bermaksud lancang, aku masuk ke sini karena para penjaga mengejarku, aku sedang mencari seseorang, tidak menyangka para penjaga sepertinya salah paham kepada kami" ujar Asyaa menunduk takut, Rafka sangat senang melihat Asyaa di hadapannya, sehingga dia tidak memperhatikan apa yang Asyaa ucapkan, tidak mendengar tanggapan dari Rafka Asyaa makin menunduk, karena dia takut Rafka akan marah besar.
"Sekali lagi maafkan saya Tuan, saya tidak memiliki niat buruk, saya sedang mencari kak Theo dia memimpin keamanan hari ini" ujar Asyaa berbohong, berusaha menjelaskan.
"Tidak apa-apa" jawab Rafka tersenyum cerah, melihat senyum itu hati Asyaa deg degan, dia terpesona dengan senyuman Rafka,
"Apa kamu temannya Freya?" Rafka memulai kembali pembicaraan agar Asyaa bisa lama di ruangan itu,
"Akh, iya" Asyaa terkejut karena seorang Tuan Rafka berbicara santai kepadanya,
"Duduklah" Rafka membawa Asyaa ke sofa yang ada di ruangan itu, Asyaa juga tidak enak hati untuk menolak, jadi dia mengikuti Rafka,
Setelah meminta Asyaa duduk Rafka pergi ke meja teh yang ada di sudut ruangan, dia menyeduh teh di dalam teko, kemudian membawanya ke meja di hadapan Asyaa yang sedang duduk, melihat Rafka membawakan sendiri teko teh membuat Asyaa terkejut dalam hatinya, karena sebagai seorang pejabat semuanya sudah pasti serba di layani, apalagi Tuan Rafka adalah seorang calon tunggal Presiden, hanya tinggal menunggu pelantikan dirinya akan menjadi seorang pemimpin.
Rafka menuangkan teh ke sebuah gelas dan memberikannya kepada Asyaa, "Minumlah" Asyaa juga tidak sungkan dan mengambil gelas itu, Asyaa meminum teh itu secara perlahan, kemudian dia berkata "Tuan Rafka, jika anda sedang sibuk saya tidak akan mengganggu anda, silakan lanjutkan aktivitas anda saya akan pulang" mendengar Asyaa akan pulang dalam hati Rafka sangat panik, dia tidak ingin momen langka itu segera berakhir,
"tunggu sebentar, saya tidak sibuk bisakah kamu menemani saya mengobrol sebentar? Jarang-jarang ada orang yang masuk ke ruangan saya, selama ini saya merasa mungkin orang-orang tidak menyukai saya, itulah mengapa tidak ada yang mau datang ke ruangan saya ini, apa kamu juga tidak menyukai saya hingga tidak bersedia duduk sebentar saja?" Rafka tidak memiliki cara lain, selain bersikap menyedihkan agar Asyaa simpati dan mau menemaninya mengobrol, Rafka tahu Asyaa orang yang mudah merasa simpati dan memiliki hati yang lembut, benar saja taktik Rafka berhasil, Asyaa kembali duduk dan bersiap mendengarkan cerita Rafka. Melihat Asyaa yang kembali duduk tampak sekilas senyum puas di bibir Rafka yang tidak di sadari oleh Asyaa.
"Saya sudah menganggap Freya sebagai adik, karena saya dan Theo sudah berteman sejak kecil, terima kasih karena sudah mau menjadi sahabat Freya dan telah menjaga Freya selama dia ada di Negara B"
"Namamu Asyaa kan?"
"Loh.. bagaimana Tuan Rafka tahu nama saya?"
"Akh.. itu, saya pernah mendengarnya dari Theo dan Freya" ujar Rafka berbohong. Mendengar penjelasan Rafka Asyaa mengangguk tanda bahwa dia mengerti.
"Oh ya Tuan Rafka, apakah anda pernah ke Negara B?" Tanya Asyaa memberanikan diri,
"Negara B? Sepertinya tidak pernah, ada apa?" Rafka pura-pura tidak tahu.
"Saya merasa anda mirip dengan seseorang yang sedang saya cari, bersama anda hati saya merasa nyaman, seolah orang itu adalah anda"
"Benarkah? Memangnya siapa yang kamu cari?" Lagi-lagi Rafka berpura-pura tidak tahu,
"Seseorang yang begitu penting dalam hidup saya" ujar Asyaa dengan nada sedih dan sedikit menundukkan kepalanya. Rafka terdiam dan mengepalkan tinjunya, dia takut dirinya akan lepas kendali dan memeluk Asyaa. Tanpa sepengetahuan Rafka Asyaa diam-diam melihat reaksinya, dan melihat Rafka yang berusaha menahan diri.
"Apakah dia kekasihmu?"
"Sejujurnya dia bukan kekasih saya, tetapi perasaan yang dia berikan kepada saya waktu kecil membuat saya bergantung padanya, sejak dia menghilang saya sempat jatuh sakit, saya demam tinggi dan dilarikan ke rumah sakit, bahkan orang tua saya mengatakan bahwa saat itu saya hampir saja meninggal, saya begitu merindukannya, bahkan sampai saat ini rindu itu tidak pernah hilang, semua orang di sekitar saya mengatakan bahwa dia mungkin sudah meninggal karena menolong saya waktu itu, namun saya tidak percaya, dalam hati saya sangat yakin bahwa dia belum meninggal. Suatu hari ulang tahun saya yang ke 5 ada kado tanpa nama yang di kirim ke rumah saya, isinya sebuah gaun yang yang sangat cantik, awalnya saya mengira mungkin orang itu lupa menulis namanya, namun di tahun-tahun berikutnya setiap ulang tahun saya, kado tanpa nama itu terus ada, hal itu membuat saya makin yakin bahwa kado itu dari kakak hanselku yang mereka katakan sudah meninggal, usia 14 tahun saya menyelidiki kado itu di kirim dari mana, selama sebulan menyelidiki akhirnya saya mendapatkan petunjuk bahwa kado itu di kirim dari Negara B, namun karena usia yang masih kecil orang tua saya tidak mengizinkan saya datang ke Negara B waktu itu, sampai akhirnya usia saya yang ke 17 tahun barulah mereka memberikan izin, itulah mengapa saya ada di sini saat ini... Akh maaf Tuan Rafka, seharusnya aku mendengarkan kamu bercerita, bukan aku yang bercerita" sekilas rasa bersalah tampak di mata Rafka, Asyaa tidak melewatkan momen tersebut.