That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 74



"Mohon lepaskan aku, aku tidak bersalah padamu" ujar Alex yang langsung berlutut di hadapan Jebby,


Jebby tidak langsung menjawab, melainkan langsung duduk di kursi yang sudah diletakkan Viko di sampingnya,


"Heh, kamu tidak bersalah padaku?" Tanya Jebby sarkas dengan senyum sinis,


"A.. apa maksudmu?" Tanya Alex gugup, tetapi masih saja pura-pura tidak tahu,


"Rupanya kamu masih ingin pura-pura tidak tahu?" Jebby mengambil rokok di sakunya, dan menyalakannya, kemudian dia menghisap rokok itu perlahan, santainya Jebby membuat Alex makin ketakutan, tetapi dia tidak ingin mengakui bahwa dia adalah orang yang menyebabkan Viana koma,


"Kalian pegang dia" perintah Jebby kepada para pengawalnya, dua orang pengawal maju memegangi Alex, Alex makin bergetar ketakutan,


"Apa yang akan kalian lakukan, tolong jangan bunuh aku" teriak Alex, Alex berusaha melepaskan diri dari dua pengawal itu, namun kekuatan Alex tidak sebanding dengan dua pengawal yang sudah terlatih itu,


"Ambilkan tang, yang sudah disiapkan" perintah Jebby lagi, salah seorang pengawal segera memberikan tang tersebut kepada Jebby, Jebby berdiri dari kursinya dan mulai mendekati Alex, Alex makin ketakutan saat Jebby mulai menyentuh jari kaki Alex yang mengenakan sandal, Jebby melirik seorang pengawal, pengawal tersebut mengerti arti dari tatapan Jebby, pengawal itu segera berjongkok dan melepas sandal yang dikenakan Alex, Alex makin pucat karena dia perlahan mengerti Jebby berniat mencabut kuku kakinya,


"Jangan.. tolong.. aku minta maaf, jangan lakukan ini" Alex berusaha memberontak, namun kedua lengannya di pegang oleh dua orang pengawal dimasing-masing kiri dan kanan, dan dua orang pengawal lainnya di bawah, yang memegang kaki kiri dan kanannya, namun tatapan Jebby tidak berubah sedikit pun, seolah dia hanya akan mencabut kuku sebuah boneka yang tidak bernyawa dan tidak merasakan sakit, Viko berdiri diam melihat bosnya akan menyiksa Alex dengan tangannya sendiri, pertama kali Viko melihat kekejaman Jebby kepada musuhnya, saat dia baru menjadi asisten Jebby, saat itu Viko sempat tidak tahan, dia sangat kasihan dengan orang-orang itu, namun lama kelamaan dia menjadi terbiasa, dia hanya menyayangkan siapa suruh orang-orang itu mencari masalah dengan bosnya, dan dia tahu jelas bahwa bosnya tidak akan mengusik orang lain, kecuali orang itu yang mencari masalah lebih dulu. Para pengawal juga sudah terbiasa melihat penyiksaan yang dilakukan Jebby terhadap musuh-musuhnya,


Teriakan Alex menggema di ruangan itu, baru saja satu kuku ibu jarinya dicabut dengan kejam oleh Jebby, darah menetes di lantai namun tatapan Jebby tidak bergeming,


"Siapa yang menyuruhmu mencelakai istriku hingga membuatnya koma?" Ujar Jebby dengan dingin, dan tatapan kejam,


"Ampuni aku.. aku janji tidak akan pernah memiliki hubungan dengan Viana, aku janji tidak akan bertemu dengannya lagi seumur hidup ini, aku janji.. jadi tolong lepaskan aku" ucap Alex dalam tangisnya, keringat dingin bercucuran dari wajahnya yang sudah memucat, menahan sakit di kakinya,


"Kamu memang tidak akan bertemu lagi dengan istriku seumur hidupmu," ucapan Jebby membuat Alex merinding,


"Tidaaakkk, jangan aku mohon, jangaaann" berontak Alex,


"Saat kamu mencelakai istriku, seharusnya kamu sudah tahu bahwa hidupmu akan tersiksa" ujar Jebby sambil menabur garam di luka Alex, teriakan histeris Alex yang kesakitan kembali terdengar, para pengawal melepas Alex, setelah para pengawal melepaskannya, Alex yang kesakitan berguling ke sana ke mari karena rasa perih yang tidak tertahankan pada kakinya, Jebby hanya tersenyum sinis melihat hal tersebut, dia bangkit berdiri,


"Kalian berjaga di sini, siksa dia sampai mati perlahan-lahan, jangan biarkan dia bunuh diri, biarkan dia mati tersiksa" perintah Jebby,


"Baik" jawab para pengawal serempak, kemudian Jebby dan Viko pergi meninggalkan tempat itu,


Seminggu kemudian, Viko mendapat kabar dari para pengawal bahwa Alex telah meninggal, Jebby hanya menganggukkan kepala, tanda bahwa dia sudah mengerti, Jasad Alex di tinggalkan di pintu rumah kontrakan miliknya di tengah malam, saat Alena dan Rita bangun pagi, mereka melihat Alex yang sudah tidak bernyawa di depan pintu, Alena dan Rita menangis histeris, mereka melaporkan dan ingin polisi menyelidiki kematian Alex, hasil autopsi menunjukan bahwa Alex memang di siksa, namun sudah seminggu berlalu Alex juga sudah dimakamkan polisi masih belum menemukan bukti sedikit pun.


Waktu telah berlalu, Viana masih belum sadar dari koma, hari ini adalah ulang tahun Asyaa yang ke 4 tahun, semua orang berkumpul di rumah sakit, Ghena, Maya, Hasan, Nina, Daren, dan tentu saja ada Asyaa yang berulang tahun, Jebby ingin merayakan ulang tahun Asyaa, namun Asyaa menolak, dia mengatakan ingin merayakan ulang tahunnya bersama keluarganya di samping ibunya, sehingga Jebby hanya mempersiapkan sebuah kue ulang tahun tanpa dekorasi ruangan, meskipun begitu Asyaa tetap bahagia,


"Asyaa, cepat tiup lilinnya, jangan lupa untuk mengucapkan permohonan" ujar Nina yang memegang kue di hadapan Asyaa, di kelilingi oleh yang lainnya,


"Keinginan Asyaa, semoga ibu bisa cepat sembuh dan bisa bermain dengan Asyaa lagi" ujar Asyaa dengan suara kecilnya sambil memejamkan mata membuat permohonan, semua orang yang di ruangan itu mendengar permohonan Asyaa menjadi sedikit sedih, karena Viana yang tak kunjung sadar, Asyaa meniup lilinnya, kemudian memotong kue, potongan pertama di suapkan kepada Jebby, setelah itu Maya, Hasan, Ghena, Daren, dan terakhir Nina, semuanya memberikan kado kepada Asyaa, Asyaa duduk di pangkuan Jebby melirik Viana yang tak kunjung sadar dengan perasaan sedih, Jebby mengerti perasaan Asyaa,


"Sayang, kamu pergi cium ibu" ujar Jebby, Asyaa segera turun dari pangkuan Jebby dan naik ke ranjang Viana,


"Ibu.. hari ini aku ulang tahun yang ke 4, nanti saat ibu sembuh ibu harus memberikan hadiah kepada Asyaa ya," ujar Asyaa tersenyum manis, kemudian mencium pipi kiri dan kanan, serta kening Viana. Karena Jebby tidak tahu apa yang harus dia berikan kepada putrinya, maka dia berjanji akan membawa Asyaa untuk memilih sendiri kadonya, sejak ulang tahun Asyaa, Jebby kembali bekerja di kantor, tetapi dia sering tidur di rumah sakit, semua anggota keluarga bergiliran menjaga Viana di siang hari.


Dua hari setelah ulang tahun Asyaa, di malam hari Jebby membawa Asyaa untuk pergi membeli kado, Asyaa memilih sebuah rumah kecil untuk boneka yang terlihat sangat imut dan indah, sepulangnya mereka dari membeli kado, Viko yang menyetir kaget karena di sebuah jalan yang sepi ada seorang anak seumuran dengan Daren penuh luka terbaring di pinggir jalan, Viko tahu betul bahwa Jebby bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain, jadi dia melewati pemuda itu, Asyaa yang dalam pelukan Jebby juga melihat pemuda itu, tiba-tiba dia berkata,