That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 93



Di rumah Theo, Freya dan Asyaa yang sedang menonton tv melihat wawancara tersebut, Freya spontan melihat ke arah Asyaa,


"Mengapa kamu melihatku? Bukankah belum ada bukti kalau Tuan Rafka adalah kakak Hanselku kan, lagi pula jika memang dia adalah kakak Hanselku aku tidak bisa berbuat apa-apa bukan" jawab Asyaa sambil tersenyum, tetapi sesungguhnya dalam hatinya merasa tidak nyaman.


"Iya kamu benar" Freya memeluk Asyaa untuk menghiburnya.


Setelah wawancara Rafka kembali ke kantornya diikuti oleh Helena, sesampai di ruangan Rafka, Helena tidak senang karena Rafka seperti menganggap dirinya tidak ada di ruangan itu, Rafka mulai sibuk bekerja dan tidak mempedulikan Helena,


"Mengapa? Apa kamu tidak suka dengan jawabanku soal pernikahan kita?" Tanya Helena menahan rasa kesalnya, Rafka tidak menjawab dan hanya terus membuka lembaran dokumen yang ada di mejanya untuk diperiksa, melihat Rafka yang tidak berniat menanggapi dirinya Helena keluar dari ruangan tersebut dengan keadaan marah.


Setelah kepergian Helena Rafka menghentikan aktivitasnya, dia menyandarkan seluruh tubuhnya ke kursi dan mulai memijat kepalanya, dia di buat pusing dengan jawaban Helena kepada wartawan, dia takut Asyaa melihat wawancara itu.


Di malam hari, Rafka yang hanya memakai celana jeans panjang dan thsirt datang berkunjung lagi ke rumah Theo, dengan alasan ingin bertemu Theo. Melihat di rumah hanya ada Theo seorang Rafka merasa kecewa, rasa kecewa itu bisa dilihat jelas oleh Theo.


"Asyaa dan Freya sedang tidak ada. Tadi Freya berpamitan untuk pergi ke pesta ulang tahun teman SD nya, jadi dia mengajak Asyaa" jelas Theo, mendengar hal itu Rafka hanya diam saja dan berencana untuk pulang.


"Hey, kamu akan pulang? Tadi kamu bilang datang karena ingin menemuiku"


"Karena sudah menemuimu makanya aku akan pulang sekarang" mendengar perkataan Rafka Theo hanya bisa tersenyum pahit.


Di pesta ulang tahun itu ternyata ada Arbi juga, Arbi yang melihat kedatangan Asyaa dan Freya segera menghampiri mereka.


"Freya.. Asyaa, kalian juga datang?" Tanya Arbi dengan antusias


"Ya.. ini pesta ulang tahun teman SD aku, jadi aku datang karena diundang" jelas Freya.


Setelah Freya membawa Asyaa mengucapkan selamat kepada temannya yang berulang tahun, Arbi datang lagi dan berbincang-bincang dengan Asyaa dan Freya, Arbi menyukai Asyaa jadi dia tidak akan melepaskan kesempatan yang datang. Saat acara selesai pukul 11.00 malam, Arbi menawarkan kepada Freya dan Asyaa untuk mengantar mereka pulang, tetapi saat mereka ke luar ternyata ada Martin yang sedang berdiri sepertinya sedang menunggu mereka,


"Mengapa kamu ada di sini?" Freya menghampiri Martin, "Ada yang ingin aku katakan kepadamu, bisakah kamu ikut denganku?" Mendengar pertanyaan Martin Freya diam saja lalu melihat ke arah Asyaa, Martin paham Freya merasa bersalah jika harus meninggalkan Asyaa, melihat hal tersebut Martin datang ke hadapan Asyaa dan Arbi,


"Asyaa.. ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepada Freya, bisakah kamu kembali dengan Arbi?"


"Akh.. iya, aku tidak masalah"


Sebelum naik ke mobil Martin Freya berpesan kepada Arbi,


"Tolong Antar Asyaa sampai rumah, awas jika kau macam-macam" mendengar peringatan Freya, Arbi dan Asyaa hanya tersenyum.


"Freya bagaimana jika kak Theo bertanya mengapa kamu belum kembali?"


"Itu... Bilang saja aku pergi bersama Martin"


"Bagaimana kalau dia akan memarahimu saat kamu kembali" Tanya Asyaa khawatir. Mendengar percakapan Asyaa dan Freya Arbi tahu bahwa Theo belum mengizinkan Freya untuk pergi dengan teman laki-laki, kemudian dia memberikan ide,


"Bagaimana jika aku akan mengantar Asyaa saat kamu dan Martin sudah siap kembali ke rumah" Tanya Arbi, Freya dan Asyaa spontan melihat ke arah Arbi begitu pun dengan Martin, Martin merasa sangat terbantu, dia menatap Arbi dengan penuh terima kasih, Asyaa yang melihat dua Martin juga hanya bisa menyetujui untuk tidak pulang sebelum mereka pulang, mau tidak mau dia akan bersama Arbi malam ini, setelah mencapai kesepakatan Martin memeluk Arbi dengan penuh rasa terima kasih kemudian membawa Freya naik ke mobilnya.


"Asyaa.. apakah kamu lapar? Bagaimana kalau kita cari restoran di dekat sini"


"Baiklah" Asyaa mulai merasa nyaman karena Arbi orang yang sangat mudah bergaul dengan orang lain.


"Kamu ingin makan apa?" Tanya Arbi antusias,


"Bagaimana kalau kita cari restoran yang menjual seafood"


"Oookee, kita cari restoran seafood" Asyaa tersenyum melihat tingkah Arbi yang konyol.


Tidak lama berkendara akhirnya mereka menemukan Restoran yang menjual seafood. Setelah memarkirkan mobil Arbi dan Asyaa memasuki restoran itu, mereka memesan udang, kepiting, ikan dan beberapa sayuran, Arbi sangat senang karena sepertinya Asyaa tidak lagi membatasi dirinya, Asyaa terlihat sangat nyaman dan santai seolah Arbi adalah teman yang sudah lama akrab dengannya, hanya beberapa menit menunggu makanan yang mereka pesan di hidangkan,


"Bagaiman jika kita bertanding? siapa yang bisa makan lebih banyak 3 permintaannya akan dipenuhi?" Ujar Arbi.


"Baiklah, yang kalah harus di hukum bagaimana"


"Oke"


Permainan di mulai, Arbi dan Asyaa makan dengan lahap, Arbi melihat Asyaa yang antusias ingin menang maka dia sudah tidak makan lagi, karena dia akan membiarkan Asyaa menang, melihat Arbi sudah berhenti makan Asyaa bertanya,


"Mengapa kamu sudah tidak makan lagi?"


"Akh.. aku sudah tidak mampu, aku sudah kekenyangan" ujar Arbi berbohong, lalu Asyaa juga menghentikan gerakannya, dan melihat makanan yang ternyata dia bisa menghabiskan lebih banyak makanan daripada Arbi.


"Yeay.. kamu lihat makanannya, punya aku tinggal sedikit, itu berarti kamu kalah dan aku menang"


"Baiklah... baiklah kamu menang, apa yang kamu inginkan? aku akan mengabulkan tiga permintaanmu"


"mm... kita pergi dahulu dari sini, nanti aku akan pikirkan di dalam mobil apa yang aku inginkan" mereka berdiri dari tempat duduk, namun tiba-tiba seorang gadis bersama dua temannya datang menghampiri mereka,


"Arbi..?" ucap perempuan itu menyapa,


"Helena? sedang apa di sini?" Tanya Arbi terkejut,


"Aku bertemu dengan teman-temanku di sekitar sini" jelas Helena, kemudian pandangan Helena tertuju pada Asyaa yang berada di samping Arbi, Asyaa juga melihat Helena, dia merasa seperti pernah melihatnya, tetapi dia lupa melihatnya di mana.


"Apa kamu tidak ingin memperkenalkannya padaku?" Arbi paham maksud Helena, dia pun memperkenalkan Asyaa kepada Helena,


"Asyaa perkenalkan ini temanku Helena"


"Halo... aku Asyaa" Asyaa mengulurkan tangannya, yang di sambut oleh Helena.