That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 44



"Aku ada di kamarku, tolong cepat kemari, aku benar-benar ketakutan" ucap Nina sambil menangis, Daren langsung mengambil jaket dan kunci motornya kemudian segera keluar dari kamarnya, Daren ingin memberitahu Jebby, tetapi saat mendekati ruang tamu Daren melihat Jebby yang memeluk Viana di sofa, Jebby sedang berusaha berbaikan dengan Viana, jika dia mengatakan situasi Nina Daren takut akan mengganggu usaha Jebby membujuk Viana, Jebby dan Viana mungkin masih butuh waktu lama lagi untuk memperbaiki hubungan mereka jika dia mengatakannya, pikir Daren. Jadi Daren membatalkan niatnya untuk memberitahu Jebby dan Viana, saat mendengar langkah kaki seseorang dari belakang barulah Jebby melepaskan Viana, Jebby dan Viana melihat itu adalah Daren yang bersiap keluar rumah,


"Daren mau ke mana?" Tanya Viana penasaran


"Kakak aku izin keluar sebentar ya mau bertemu teman, tolong kasih tahu ayah dan ibu" ujar Daren terus berjalan,


"Baiklah kamu hati-hati jangan cepat-cepat bawa motornya" teriak Viana, Daren hanya menganggukkan kepala dan pergi dengan cepat, melihat Daren yang terburu-buru Viana langsung marah-marah sendiri,


"Benar-benar deh, entah apa yang membuat dia pergi dengan terburu-buru seperti itu" ujar Viana, sedangkan Jebby memandangi Viana tanpa henti, seperti singa yang sedang mengamati mangsanya, maya yang baru saja menidurkan Asyaa di kamarnya sendiri keluar untuk mengambil air minum yang ingin dia bawa masuk ke kamarnya dengan Hasan, dia melihat Viana dan Jebby masih di sofa,


"loh kalian masih di sini? cepat istirahatlah" perintah Maya,


"baik ibu kami akan pergi istirahat, ibu juga cepat istirahatlah" ujar Jebby sambil menggenggam tangan Viana dan menariknya ke kamar Viana yang berada di lantai dua, Maya melihat Jebby yang begitu menyayangi Viana sangat bersyukur dalam hatinya, karena Viana mendapatkan laki-laki yang benar-benar menyayanginya, meskipun Viana dan Daren hanya anak angkatnya, tetapi dia berharap yang terbaik untuk mereka, karena berkat Viana dan Daren hidupnya dan Hasan menjadi lebih sempurna dan banyak kebahagian yang datang dalam rumah tangga mereka.


sesampai di lantai dua ada tiga ruangan, Jebby bingung yang mana kamar Viana,


"yang mana kamarmu?" Tanya Jebby, Viana memutar matanya dan dengan terpaksa membawa Jebby ke kamarnya, sesampai di kamar Viana Jebby mengamati ruangan itu, sedangkan Viana pergi ke kamar mandi, kamar Viana terlihat bersih dan rapi, dan ada beberapa foto yang terpajang di lemari kecil, Jebby mendekat dan melihat foto-foto itu, ada sebuah foto Viana bersama Hasan, Maya, Daren dan Asyaa, ada juga foto Viana bertiga bersama Daren dan Asyaa, foto Viana hanya berdua dengan Daren, dan juga foto Viana yang hanya berdua dengan Asyaa, Jebby mengambil foto Viana dan Asyaa kemudian mengelus foto itu, Jebby tidak menyadari Viana yang keluar dari kamar mandi, melihat Jebby yang memandangi fotonya dan Asyaa dengan penuh perasaan membuat hati Viana sedikit luluh, dia menyadari Jebby juga pasti ingin melihat pertumbuhan putrinya,


"apakah kamu ingin melihat foto-foto Asyaa sejak lahir?" Tanya Viana kepada Jebby, Jebby langsung menganggukkan kepala dengan pelan, Viana tersenyum melihat tingkah Jebby menghadapi persoalan mengenai putrinya, Viana membuka sebuah laci dan mengambil sebuah album foto yang besar, kemudian duduk di pinggir ranjang, Jebby juga langsung menghampiri dan duduk di samping Viana, Viana mulai membuka album foto itu, terlihat foto seorang bayi dan di foto itu bertuliskan "Asyaa baru lahir" Viana juga ikut menjelaskan,


"Maaf.. Maafkan aku Viana, aku tidak berada di sisimu saat kamu berjuang melahirkan Asyaa, maafkan aku, aku salah, aku bersalah kepadamu dan Asyaa" ujar Jebby yang menangis tersedu-sedu sambil menutup matanya dengan satu tangannya, ini pertama kalinya Jebby menangis dan ini pertama kalinya Viana melihat Jebby yang rapuh, melihat Jebby menangis Viana juga tidak kuasa menahan kesedihannya, air matanya juga ikut menetes, kemudian dia memeluk Jebby dan menghiburnya,


"kamu tidak perlu merasa bersalah, kamu juga mengatakan sudah mencariku begitu lama tetapi tidak menemukanku, dan soal kamu merasa bersalah karena tidak bisa berada di sisi Asyaa saat pertumbuhannya, kamu bisa menebusnya dari sekarang, aku marah kepadamu hanya karena aku tidak tahu harus melampiaskan kemarahan kepada siapa" ujar Viana, Jebby yang berada di pelukan Viana mendengar perkataannya merasa lebih baik, tetapi tetap saja dia tidak bisa menahan kesedihannya,


dalam 15 menit Daren sampai ke apartemen Jebby, tetapi pintunya terkunci, Daren berusaha menelpon Nina tetapi tidak bisa terhubung, karena setelah menghubungi Daren ponsel Nina kehabisan baterai dan mati, Daren yang tidak bisa menghubungi Nina sangat khawatir, dan memanggil-manggil Nina dari luar,


"Nina buka pintunya, ini aku Daren" teriak Daren, Nina memiliki fobia terhadap tempat yang gelap yang di sebut Nichtophobia, orang yang menderita Nichtophobia akan sesak napas jika berada di tempat yang gelap, sejak ponselnya mati Nina sudah mulai sesak napas karena fobia yang dia rasakan, Nina sudah berusaha mempertahankan kesadarannya sejak 10 menit yang lalu sebelum Daren datang, Nina samar-samar mendengar suara Daren yang berteriak memanggil-manggil namanya, tetapi karena fobianya yang kambuh membuatnya sesak napas sehingga membuat dia kesulitan mengendalikan dirinya, Nina berusaha bangkit dari lantai meski dalam kesulitan bernafas tetapi hal itu tidak mudah dia lakukan, tubuhnya lemas karena sudah cukup lama berusaha mempertahankan napas dan kesadarannya.


di luar apartemen Daren yang tidak mendapat tanggapan apapun, langsung mengambil ponselnya dan mengotak atik pintu apartemen Jebby yang menggunakan pin, hanya butuh satu menit Daren mampu membuka pin apartemen Jebby, Daren langsung masuk ke dalam dan mencari keberadaan Nina, saat membuka kamar Nina, Daren melihat Nina yang sudah terbaring di lantai, Daren bergegas lari dan memeluknya, Daren menyadari bahwa Nina sesak napas dan keringat bercucuran di dahinya, Daren yang sangat cerdas langsung mengetahui bahwa Nina memiliki fobia yang gelap jadi dia langsung menyalakan senter di ponselnya, sedikit cahaya itu membuat Nina berangsur-angsur bernapas dengan baik, Daren langsung menggendongnya dan meletakkan Nina di tempat tidur, Daren juga meletakkan ponselnya yang menyala di atas meja di samping tempat tidur agar Nina tidak kambuh lagi, Daren berbalik untuk mengambil air minum tetapi tangannya tiba-tiba di genggam oleh Nina,


"Jangan pergi, aku takut" ujar Nina dengan wajah yang memelas dan suara yang gemetar, Daren melihat memegang tangan Nina dan berusaha menenangkannya,


"Nina aku hanya ingin mengambil air untuk kamu minum, jangan takut aku tidak akan pergi" ujar Daren,


"Tidak.. aku tidak butuh air, aku tidak ingin minum, aku hanya ingin agar kamu tetap di sini menemaniku, aku mohon"


"Baiklah, aku tidak akan pergi" melihat kesungguhan Nina, Daren hanya bisa menurutinya, Daren duduk di kasur menemani Nina yang terbaring lemas, dia tidak bisa ke mana-mana karena tangannya yang di genggam Nina dengan erat meski Nina sudah tertidur, rasa kantuk mulai menyerang Daren sehingga dia pun ikut tertidur di ranjang Nina.