That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 45



keesokan harinya Nina terbangun lebih awal dari Daren, dia melihat Daren yang tertidur di sampingnya karena kelelahan akibat menjaganya semalaman, Nina memperhatikan wajah Daren yang sangat tampan, dia merasa tuhan begitu menyayangi kakaknya Jebby dan juga Daren, sehingga tuhan memberikan ketampanan yang membuat orang iri pada mereka, Nina memperhatikan wajah Daren dari dekat dengan saksama, sehingga dia tidak menyadari Daren yang sudah membuka matanya, saat menyadari Daren sudah membuka matanya dan melihat Nina yang sedang memperhatikan wajahnya, Nina sangat malu membuat wajahnya yang putih langsung memerah, Nina juga langsung menjauhkan jaraknya dengan Daren lagi, sesungguhnya bukan hanya Nina yang salah tingkah tetapi Daren juga jantungnya berdegup kencang saat terbangun melihat wajah cantik seorang gadis di hadapannya, tetapi dia tidak memperlihatkannya dengan jelas,


"aku.. aku.. itu, te.. terima kasih karena sudah menjagaku semalam" ujar Nina terbata-bata karena malu,


"Mm" jawab Daren singkat yang kemudian bangkit dari kasur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. melihat Daren masuk ke kamar mandi Nina berteriak,


"ada sikat gigi yang baru di tempat penyimpanan, kamu pakai saja" ujar Nina,


setelah itu Nina langsung mengambil pakaiannya di lemari dan pergi ke kamar Jebby dan Viana untuk membersihkan diri, setelah membersihkan diri Daren tidak mengganti bajunya karena tidak membawa baju ganti, keluar dari kamar mandi Daren tidak melihat keberadaan Nina di dalam kamar, Daren juga tidak melihat Nina di ruang tamu jadi dia pergi ke dapur untuk membuat sarapan, karena anak manja seperti Nina pasti tidak tahu cara memasak, beberapa menit kemudian Daren melihat Nina keluar dari kamar Jebby dan Viana sudah rapi dan cantik, sejujurnya Daren terpesona, tetapi dia berpura-pura tidak peduli, melihat reaksi Daren yang biasa saja membuat Nina tidak semangat,


"kamu sudah selesai? ayo sarapan" ujar Daren


"Mm" jawab Nina melangkahkan kakinya dengan gontai ke arah Daren yang berada di ruang makan, melihat Nina yang tidak semangat seperti itu membuat Daren diam-diam tersenyum, tetapi Nina tidak menyadarinya, Nina melihat di meja makan ada dua piring nasi goreng,


"kamu memasak nasi goreng secepat itu?" tanya Nina,


"tidak, aku melihat ada nasi di rice cooker, sepertinya kakakmu memasak sebelum pergi semalam, kemudian aku melihat ada bumbu instan untuk nasi goreng di lemari bumbu, lalu aku tinggal menggoreng telur mata sapi, jadi aku bisa cepat membuat nasi gorengnya"


"kakakku semalam tidak ada, apa dia pergi membujuk kakak iparku?" tanya Nina sambil menyuapkan Nasi goreng ke mulutnya,


"Mm" jawab Daren Singkat.


di rumah Hasan dan Maya. Jebby bangun tidur lebih dulu, dia memandangi Viana yang masih tertidur di sampingnya, dia mengulurkan tangannya dan membelai wajah Viana dengan penuh kelembutan, Viana yang merasa gatal di wajahnya terbangun, Viana melihat Jebby yang sedang memandanginya langsung tersenyum,


"untuk apa kamu memandangiku saat aku tidur?" Tanya Viana yang merasa malu,


"aku memandangmu karena kamu sangat cantik" ujar Jebby dengan senyum yang menawan dan mengecup bibir Viana, Jebby bangun dan langsung menggendong Viana, Viana yang tiba-tiba di gendong terkejut,


"aku akan memandikanmu" ujar Jebby dengan senyum jahil, mendengar jawaban Jebby Viana hanya bisa memukul dada Jebby,


"dasar mesum" ujar Viana


"aku hanya mesum kepada istriku sendiri, bukan istri orang lain, apa aku salah?" tanya Jebby yang sudah jelas dia tahu bahwa Viana tidak bisa membantahnya lagi, Jebby membawa masuk Viana ke kamar mandi, beberapa menit kemudian mereka sudah selesai membersihkan diri dan sudah berpakaian rapi, setelah mereka turun terlihat Maya yang sedang sibuk di dapur, Viana menarik tangan Jebby,


"kita mau ke mana?" tanya Jebby penasaran karena tiba-tiba di tarik oleh Viana,


"putri kita pasti masih tidur, ayo kita membangunkannya bersama-sama" ujar Viana sambil tersenyum cerah, Viana membawa Jebby ke kamar Asyaa, benar saja.. saat mereka membuka pintu kamarnya, terlihat Asyaa yang masih tertidur nyenyak sambil memeluk boneka beruang kesayangannya, Jebby melangkahkan kakinya ke samping tepat tidur Asyaa,


"Viana.. putri kita sangat cantik dan menggemaskan" ujar Jebby yang terlihat jelas sangat bahagia,


"Mm, aku baru sadar apa yang dikatakan orang-orang memang benar, bahwa Asyaa benar-benar mirip denganmu" ujar Viana, Jebby mencium kening Asyaa, tiba-tiba dia teringat,


"Viana lalu bagaimana kita memberitahukan kepada Asyaa bahwa dia adalah putri kita? dia kan hanya tau kalau kamu adalah kakaknya" Tanya Jebby yang melihat ke arah Viana, mendengar pertanyaan Jebby Viana juga langsung berpikir,


"iya ya.. bagaimana caranya kita memberitahukan kepada Asyaa bahwa dia adalah putriku bukan adikku?" pikir Viana dengan serius, Jebby dan Viana hanya sibuk dengan pikiran masing-masing tanpa menyadari bahwa Asyaa terbangun setelah Jebby mencium keningnya, Asyaa adalah anak yang cerdas tentu saja dia mengerti apa yang mereka bicarakan, tetapi Asyaa kembali menutup matanya dan pura-pura menggerakkan badannya seperti orang yang baru saja bangun, Jebby dan Viana melihat Asyaa yang sudah bangun langsung menghampiri Asyaa,


"sayang sudah bangun? ayo, kakak akan membantumu membersihkan diri" ujar Viana sambil menggendong Asyaa ke kamar mandi, sedangkan Jebby tetap menunggu di kamar Asyaa, di dalam kamar mandi Asyaa memperhatikan Viana yang sedang menuangkan pasta gigi ke sikat gigi kecilnya, Viana yang menyadari bahwa Asyaa memperhatikannya langsung bertanya,


"ada apa sayang? Apa kamu masih mengantuk?" mendengar pertanyaan Viana Asyaa hanya menggelengkan kepala, jika kakak Viana dan Paman Jebby adalah orang tuaku mengapa mereka mengajarkan aku sejak kecil memanggil kakak Viana sebagai kakak? pikir Asyaa dalam otak kecilnya. Viana memberikan sikat gigi yang sudah diolesi pasta gigi kepada Asyaa, Asyaa menerima sikat gigi itu kemudian mulai menyikat giginya, dengan cepat Asyaa tidak memikirkan lagi soal orang tua yang membingungkan isi pikirannya, yang dia tahu adalah Viana dan Jebby orang tua aslinya, tetapi dia ingin menunggu Jebby dan Viana yang memberitahukannya secara langsung padanya, beberapa menit kemudian Viana membawa Asyaa yang sudah bersih dan rapi keluar dari kamar mandi,


"kalian sudah selesai?" tanya Jebby yang menunggu di dalam kamar Asyaa.


"Mm" jawab Viana singkat, Viana keluar dari kamar Asyaa diikuti oleh Jebby dari belakang, tiba-tiba Jebby mempercepat langkahnya dan berdiri di samping Viana dan mengulurkan tangannya mau menggendong Asyaa untuk menuju ruang makan, Asyaa juga langsung membuka lebar tangannya untuk di gendong Jebby, pemandangan itu di lihat oleh Hasan yang sedang duduk di sofa sambil membaca koran, dan juga di lihat oleh Maya yang sedang membawakan kopi untuk Hasan, Hasan dan Maya tanpa sadar saling memandang satu sama lain seperti menemukan sesuatu.