
Nina sudah kembali ke rumah, Bibi Ajeng selaku orang yang mengurus keperluan Jebby sejak kecil kembali bekerja di rumah Jebby dan ikut membantu merawat Nina,
Sore hari saat Viana akan menjemput Asyaa bersama Paman Santos mobil mereka kembali diikuti oleh mobil lain, hal itu segera disadari oleh Paman Santos, sehingga Paman Santos segera memberitahukan lagi kepada Viana, dan itu adalah mobil yang sama yang pernah mengikuti mobil mereka beberapa hari yang lalu, Viana juga lupa memberitahukan kepada Jebby soal mobil yang mengikutinya pada Jebby sebelumnya karena di sibukkan dengan membantu merawat dan mengurus kepulangan Nina ke rumah, Viana menyadari bahwa mereka dalam bahaya dia meminta Paman Santos menyetir dengan stabil agar tidak membuat orang yang mengikuti mereka menjadi curiga, dia segera menelpon Jebby, setelah telepon terhubung Viana segera berkata,
"Jebby ada sebuah mobil yang mengikuti kami" ujar Viana dengan panik,
"Apa? Kalian ada di mana? Kami ada di jalan........" Bruuukk.. Sebelum Viana menyelesaikan kalimatnya, mobil mereka yang saat itu sedang melewati persimpangan di tabrak oleh truk, Jebby yang mendengar suara tabrakan sontak berteriak,
"Vianaaaaa, halo Viana jawab aku, halo" wajah Jebby langsung memucat, Viko yang sedang berada di ruangan sebelah segera bergegas saat mendengar teriakan Jebby,
"Ada apa bos?" Tanya Viko khawatir, namun pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban, Jebby tidak mempedulikan Viko, dia segera keluar dari kantor dan berlari sekuat tenaga, Viko yang terkejut dengan tingkah bosnya juga spontan ikut berlari, sesampai di parkiran Jebby segera mengendarai mobilnya, dia memang tidak tahu jelas lokasi Viana, tetapi dia tahu Viana saat ini akan pergi menjemput Asyaa, Viko juga ikut mengendarai mobil lain dan mengikuti Jebby, Jebby menelusuri jalan menuju sekolah Asyaa, tidak lama kemudian Jebby melihat ada kecelakaan, sebuah mobil truk menabrak mobil sedan berwarna hitam yang tidak lain adalah mobil Viana, wajah Jebby makin pucat keringat dingin mengucur di dahinya, dia segera turun dari mobil, sesungguhnya kakinya sangat lemas melihat mobil Viana yang benar-benar rusak parah, tetapi dalam hatinya masih berharap bahwa Viana baik-baik saja, dia berusaha melangkah untuk mendekati mobil sedan hitam yang sudah tidak tampak seperti mobil itu, badannya gemetar tetapi dia masih ingin memastikannya sendiri, Viko yang mengikuti Jebby juga sangat syok melihat mobil yang biasa di pakai oleh Viana, dia segera menahan Jebby, karena saat dia turun dari mobil dia mendengar orang-orang mengatakan bahwa seluruh korbannya baru saja dibawa oleh ambulans ke rumah sakit JB grup, Jebby yang sangat syok melihat mobil Viana tidak mendengar percakapan orang-orang yang berada di lokasi kejadian, karena dia hanya terpaku melihat mobil yang biasa dipakai Viana sudah rusak parah, jika mobil serusak itu sudah pasti korbannya juga tidak mungkin baik-baik saja, tetapi Jebby yang berada dalam pelukan Viko terus bergumam untuk meyakinkan dirinya bahwa Viana baik-baik saja,
"Viana baik-baik saja..Viana baik-baik saja..dia baik-baik saja, Viko.. Viana pasti baik-baik saja kan, dia pasti baik-baik saja" Gumam Jebby dalam pelukan Viko,
"Bos, saat ini semua korban baru saja dibawa ke rumah sakit, kita harus segera ke sana untuk memastikannya, mari saya antar" ujar Viko membujuk Jebby dengan hati-hati, mendengar ucapan Viko Jebby segera berbalik masuk ke mobil dan membiarkan Viko menyetir, karena Jebby sudah tidak mampu menyetir badannya gemetar takut terjadi apa-apa pada Viana, Viko mempercepat laju mobilnya agar bisa segera sampai ke rumah sakit,
Sesampai di rumah sakit, Jebby segera keluar dan bergegas masuk ke rumah sakit, Jebby berlari ke bagian UGD, Viko juga berlari mengikutinya, para perawat di bagian resepsionis mengenali Jebby, sehingga mereka segera memberitahukan pimpinan rumah sakit tersebut, pimpinan rumah sakit yang mendengar bahwa Direktur JB Grup datang ke rumah sakit segera bergegas untuk menemui Jebby, saat Jebby baru sampai ke UGD pimpinan rumah sakit juga sampai, diikuti oleh wakil pimpinan dan beberapa dokter kepala bagian,
"Direktur, ada apa datang ke sini?" Tanya pimpinan rumah sakit tersebut dengan senyum ramah,
"Sebuah kecelakaan melibatkan mobil istriku, dan mereka mengatakan bahwa para korban sudah dibawa ke rumah sakit, jadi aku mohon tolong periksalah" ujar Jebby tergesa-gesa, pimpinan rumah sakit dan dokter-dokter kepala terkejut, segera pimpinan rumah sakit menghubungi resepsionis dan meminta salah satu dari mereka agar mengantarkan data-data pasien yang baru saja masuk, tidak butuh waktu lama seorang perawat datang mengantar data-data pasien,
"Maaf Direktur, nama lengkap istri bapak siapa?" Tanya pimpinan rumah sakit,
Pimpinan rumah sakit memeriksa setelah itu pimpinan tersebut menyampaikan,
"Ya benar, ada 3 orang pasien yang baru saja masuk, salah satunya bernama Viana Naraya bersama dua orang lainnya bernama Santos Fauji, dan yang satu bernama Tedy, seorang bernama Tedy meninggal dunia di tempat" ujar pimpinan tersebut,
"Oh ya, kami juga baru saja menelpon keluarga mereka masing-masing untuk memberi tahukan kabar tersebut" ujar perawat yang membawakan kan data-data pasien masuk.
"Lalu di mana Viana, apa yang terjadi padanya? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Jebby kepada perawat itu,
"Pasien masih dalam penanganan di dalam UGD" jawab perawat tersebut, saat Jebby sedang panik dan gelisah menunggu kabar Viana di depan ruang UGD ditemani oleh Viko dan pimpinan rumah sakit serta dokter-dokter kepala bagian, Ghena, Maya, Hasan dan Daren yang menggendong Asyaa datang, setelah keluarga mendengar Viana berada di rumah sakit karena kecelakaan, mereka sangat syok, Daren bergegas menjemput Asyaa, kemudian mereka semua langsung datang ke rumah sakit secepat mungkin. Setelah melihat Jebby mereka bergegas ke arah Jebby,
"Jebby bagaimana keadaan Viana?" ujar Maya yang di rangkul oleh Ghena, Hasan dan Daren juga menatap Jebby karena ingin mendengar jawabannya, mereka semua terlihat sangat khawatir,
"Aku belum tahu bu, sejak tadi belum ada dokter yang keluar" Jawab Jebby dengan suara lemah, Ghena memapah Maya duduk di kursi yang tersedia di depan ruang UGD tersebut, sedangkan Hasan menepuk pundak Jebby untuk memberinya kekuatan, Daren menggendong Asyaa dalam pelukannya,
"Kakak.. apakah ibu akan baik-baik saja" ujar Asyaa dengan suara kecilnya yang menahan untuk tidak menangis,
"Asyaa sayaaang.. ibumu pasti akan baik-baik saja, kita doakan sama-sama ya" ujar Daren, dalam hatinya juga sangat sedih karena kakak kesayangannya tidak tahu baik-baik saja atau tidak, meskipun telah dihibur oleh Daren, air mata Asyaa tetap saja menetes, dia bisa merasakan bahwa semua orang sedang menghawatirkan ibunya, itu artinya ibunya tidak baik-baik saja, Jebby yang sedari tadi gelisah baru menyadari keberadaan Asyaa setelah mendengar suaranya yang bertanya kepada Daren, Jebby mendekati Daren dan mengulurkan tangannya untuk menggendong Asyaa, Asyaa menyambut tangan ayahnya dan masuk ke pelukan Jebby, Jebby berusaha menenangkannya,
"Sayaaang.. jangan khawatir, ibumu pasti baik-baik saja, Asyaa doakan ibu ya" ujar Jebby sambil menghapus air mata Asyaa yang mengalir di pipi chuby miliknya.