That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 87



"Aku juga tahu setelah kamu kembali ke Negara ini setiap tahun kamu tidak pernah lupa mengirimkan kado ulang tahun untuknya, padahal jika tunanganmu Helena yang ulang tahun, kamu membiarkan asistenmu yang memilih dan membelikannya, bahkan kamu tidak peduli apa yang diberikan oleh asistenmu jika dia tidak mengatakannya" Rafka tidak bisa membantah dan hanya menundukkan kepalanya,


"Ingat Rafka, Helena itu Putri dari menteri pertahanan kamu membutuhkan dukungan ayahnya, karena pejabat pemerintah yang lain sangat menghormatinya, akan sangat mudah bagimu menduduki kursi kepemimpinan jika mendapat dukungan darinya, jadi kamu jangan merusak apa yang telah kita capai sampai di titik ini, Sedangkan gadis yang kamu sukai itu adalah Putri dari JB Grup Perusahaan Internasional yang mencakup segala bidang, ayahnya memang sangat berpengaruh tetapi tidak bisa memengaruhi pemilihan kepemimpinan Negara kita, meski kamu tidak mempedulikan gadis itu, dia punya ayah yang luar biasa yang akan mendukungnya dan akan melakukan apapun untuknya, jangan sampai hanya karena gadis itu kamu melakukan hal ceroboh, kamu tahu apa yang akan aku lakukan jika seseorang menghalangi jalanmu untuk menduduki kursi kepemimpinan bukan? apa kamu paham?" Rafka tidak menjawab melainkan hanya menganggukkan kepala, tanda bahwa dia mengerti. Setelah berbicara Pak Aji pergi berpamitan meninggalkan Rafka yang duduk di sofa.


Rafka tidak menyangka Pak Aji mengetahui semuanya, dia merasa frustrasi, dia takut demi dirinya Pak Aji tidak akan membiarkan Asyaa begitu saja. Dia segera menghubungi Theo,


"Halo"


"Halo Theo, aku mohon perketat penjagaan terhadap Asyaa, Pak Aji mengetahui semuanya, aku takut dia akan mengambil tindakan terhadap Asyaa"


"Baiklah, jangan panik, aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya"


Tiba waktunya pukul 11.00 siang, Arbi datang ke rumah Theo untuk menjemput Asyaa, Asyaa yang sudah bersiap dari tadi keluar menemui Arbi setelah berpamitan kepada Freya dan Theo.


Setelah kepergian Asyaa, Theo mengambil jaketnya dan bersiap untuk pergi juga,


"Kakak, kamu akan ke mana?" Tanya Freya penasaran,


"Aku ada sedikit urusan" jawab Theo sambil melangkah pergi,


Theo mengikuti mobil Arbi yang membawa Asyaa, tidak lama mobil Arbi berhenti di sebuah restoran mewah, Arbi mengajak Asyaa masuk ke dalam restoran tersebut, setelah memesan makanan Arbi memulai pembicaraan,


"Asyaa, apakah kamu datang ke sini untuk berlibur?"


"Akh.. iya"


"Apakah kamu sama-sama kuliah dengan adiknya Theo"


"Mm.."


"Aku saat ini sedang sibuk karena kakak sepupuku sebulan lagi akan dilantik menjadi Presiden, dahulu Negara ini menganut sistem Monarki konstitusional artinya bentuk pemerintahan di mana pemimpinnya adalah Raja, namun kekuasaan Raja dibatasi oleh konstitusi atau undang-undang dasar. Maka, tindakan Raja harus sesuai dengan konstitusi, tetapi sekarang mereka telah sepakat mengubah bentuk pemerintahan menjadi Presidensial dan kakak sepupuku adalah kandidat satu-satunya untuk menjadi Presiden, nanti jika setelah masa jabatan kakak sepupuku selesai, maka presiden akan di pilih dari pilihan masyarakat tidak harus dari keturunan kerajaan lagi" jelas Arbi.


"Benarkah, kakak sepupumu berarti sangat luar biasa"


"Ya, aku sangat mengaguminya, dia sangat tampan tetapi tidak pernah tertarik kepada wanita, tetapi berkat ayahku akhirnya dia sudah bertunangan dengan seorang wanita cantik dan cerdas"


"Siapa kakak sepupumu itu?" Tanya Asyaa penasaran,


"Namanya Rafka, orang-orang biasanya memanggilnya Tuan Rafka, Lusa dia akan mengadakan pidato di halaman istana, saat ini dia menjabat sebagai menteri koordinator bidang politik hukum dan keamanan di usia yang terbilang masih muda, dan kemudian menjadi kandidat presiden satu-satunya, aku benar-benar sangat bangga padanya" jelas Arbi tersenyum cerah.


Tiba-tiba pelayan datang menyajikan makanan, mereka berdua mulai makan sambil bercerita, Theo yang datang untuk melindungi Asyaa diam-diam duduk di salah satu meja yang tidak jauh dari mereka, dia hanya memesan minuman dan duduk seolah-olah sedang bersantai agar tidak dikenali oleh Arbi dan Asyaa, dia mengenakan pakaian serba hitam dan juga mengenakan kacamata dan topi hitam.


"Ke Negara B? Hhmmpp.. pernah, mengapa?" Mendengar jawaban Arbi mata Asyaa berbinar,


"Sungguh?" Tanya Asyaa lagi untuk memastikan,


"Iya, saat itu aku pergi karena ada urusan bisnis di sana, mengapa?"


"Akh.. tidak, aku pikir Tuan Arbi pernah tinggal selama beberapa bulan"


"Tidak, aku hanya berkunjung selama satu minggu dan setelah pekerjaanku selesai aku segera pulang, Negara B sangat indah, aku ingin datang untuk berlibur, tetapi pekerjaanku yang terlalu padat membuat aku tidak memiliki kesempatan" mendengar penjelasan Arbi Asyaa merasa kecewa dalam hatinya,


Tiba-tiba Arbi yang awalnya santai mulai bersikap serius,


"Asyaa, aku tertarik padamu, aku ingin mengenalmu lebih jauh" mendengar pengakuan Arbi Asyaa sedikit terkejut, dan menjadi tidak enak hati.


"Tuan Arbi bercanda, kita baru sekali bertemu dan ini adalah pertemuan yang kedua kalinya, bagaimana mungkin anda yang begitu luar biasa tertarik kepada saya?"


"Asyaa, aku serius.. aku percaya cinta pandangan pertama, tolong biarkan aku mengejarmu ya?" Melihat reaksi Asyaa yang terlihat sedih, Arbi sadar bahwa dia ditolak,


"Maaf Tuan Arbi, anda adalah orang yang baik, di Negara ini selain Freya dan kak Theo hanya anda orang yang saya kenal, saya senang jika bisa berteman baik dengan anda" jelas Asyaa terlihat menyesal,


"Apa ada seseorang yang kamu sukai? Sehingga tidak mengizinkanku, bahkan untuk mengejarmu?"


Asyaa tidak menjawab namun hanya diam saja, diamnya Asyaa membuat Arbi berkesimpulan bahwa di hati Asyaa benar-benar sudah ada orang lain,


"Baiklah, aku juga tidak ingin memaksamu, aku harap kamu bisa mengandalkan aku sebagai teman" ujar Arbi dengan senyum pahit,


"Setelah ini kamu masih mau kan jalan-jalan bersamaku?"


"Mm" Asyaa segera menganggukkan kepala dengan ceria, melihat hal itu rasa kecewa Arbi hilang, baginya selama Asyaa tidak menjauhinya, dia masih memiliki kesempatan untuk mengejarnya.


Theo mengambil beberapa foto dan mengirimkannya kepada Rafka,


Rafka yang saat itu sedang makan siang dengan Helena terlihat tidak fokus, karena dia tahu dari Theo bahwa Asyaa ada janji makan siang dengan Arbi, sebelumnya dia sedang bekerja, tetapi saat jam makan siang Helena datang dan mengajaknya makan siang, Rafka tidak bisa menolak karena jika Pak Aji tahu Asyaa tidak akan aman di Negara M.


begitu ponselnya berbunyi Rafka segera melihat pesan yang masuk, seperti dugaannya, itu adalah pesan dari Theo yang mengirimkan beberapa foto Asyaa yang sedang makan siang bersama Arbi, selama ini Rafka bukanlah orang yang mudah terprovokasi, namun jika hal itu menyangkut Asyaa, dia tidak bisa lagi menunjukkan ketenangan yang selama ini dia perlihatkan, Helena yang melihat Rafka sangat kesal tidak tahan untuk bertanya,


"Ada apa? Tidak biasanya kamu memperlihatkan isi hatimu, kadang aku sering menerka-nerka apakah kamu nyaman, risi, atau senang saat bersamaku, tetapi kali ini wajahmu terlihat begitu kesal, apakah gadis kecilmu baik-baik saja di Negaranya?" Mendengar ucapan Helena Rafka hanya diam saja.