
Keesokkan paginya, Viana bangun dari tidurnya, dia merasa bahwa semua badannya sangat pegal, saat dia melihat ke arah Jebby, Viana melihat Jebby yang sedang memandanginya dengan senyum puas dan bahagia,
"ciiihh, binatang buas" ujar Viana, Jebby tersenyum mendengar ejekan Viana,
"maafkan aku sayang, aku tidak bisa mengendalikannya, kamu terlalu membuatku gila" ujar Jebby sambil membelai rambut Viana, Viana mengulurkan tangannya ke perut Jebby lalu mencubitnya, di cubit oleh Viana Jebby tidak bereaksi sama sekali karena perutnya di penuhi otot dan juga tidak memiliki lemak sedikit pun,
"sayang sesungguhnya pagi ini aku ingin memakanmu lagi" bisik Jebby di telinga Viana, wajah Viana langsung memerah dan dia melemparkan bantal ke arah Jebby, Jebby menangkap bantal yang dilemparkan Viana ke arahnya dan hanya tersenyum, melihat Viana yang kelelahan Jebby tidak tega untuk memintanya lagi, kemudian dia langsung berdiri dan pergi ke kamar mandi, meninggalkan Viana yang masih berbaring di tempat tidur,
"bagaimana mungkin hanya aku yang sudah hampir mati kelelahan, dan Jebby masih baik-baik saja? bahkan masih ingin lagi, dia benar-benar ingin membuatku mati kelelahan" ujar Viana dengan kesal
beberapa menit kemudian Jebby keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi, Jebby melihat Viana masih menutup matanya di tempat tidur, dia tersenyum puas lalu mendekatinya,
"sayang, kamu tidak perlu masuk hari ini, aku akan membantumu meminta izin kepada atasanmu, meskipun sebenarnya tidak perlu, karena kamu kan istriku, kamu mau masuk atau pun tidak, tidak menjadi masalah"
"baik terima kasih pak Direktur atas perhatiannya" ujar Viana dengan ramah, Jebby tahu bahwa Viana sangat kesal padanya karena membuat dia kelelahan.
"maafkan aku, istirahatlah dengan baik, aku pergi ke Perusahaan dulu" ujar Jebby sambil membelai rambut Viana, sebelum pergi dia memberikan kecupan di kening dan bibir Viana, hal itu membuat Viana tersenyum, dia juga tidak benar-benar kesal kepada Jebby, setelah kepergian Jebby Viana berusaha bangkit dari tempat tidur, saat bejalan ke kamar mandi kakinya gemetaran hal itu membuat Viana memaki-maki Jebby dalam hatinya, Viana tidak jadi ke kamar mandi, dia kembali berbaring dan melanjutkan tidurnya,
Di kantornya Jebby yang sedang memeriksa dokumen-dokumen yang dibawa oleh Viko itu tersenyum, dia tidak bisa menutupi rasa senangnya karena sudah menjadi suami istri yang sesungguhnya dengan Viana, tiba-tiba Jebby teringat Asyaa, seharusnya tadi malam dia membicarakan soal Asyaa kepada Viana tetapi dia lupa,
saat jam makan siang Jebby pulang ke apartemennya dan Viana, Viana yang sedang menonton TV terkejut atas kedatangan Jebby,
"loohh, kamu sudah pulang? mengapa tidak memberitahuku? kalau begitu kan aku memasak untukmu" ujar Viana, sambil menyerahkan segelas air yang dia siapkan untuk dirinya sendiri kepada Jebby yang duduk di sampingnya, setelah meminum air pemberian Viana Jebby membenamkan wajahnya di pundak Viana dan menghirup aroma tubuhnya, Viana merasa tingkah Jebby sangat aneh,
"ada apa? apakah ada urusan kantor yang bermasalah" tanya Viana, Jebby menggelengkan kepalanya,
"lalu apa? apakah kamu sakit" tanya Viana lagi sambil memeriksa dahi Jebby yang sedang berada di pundaknya, lagi-lagi Jebby menggelengkan kepala,
"Viana, aku tahu bahwa Asyaa bukanlah adikmu melainkan dia adalah putrimu"
Viana mendengar perkataan Jebby mengaitkan kedua tangannya bersamaan, dia berusaha menguatkan dirinya sendiri,
"maafkan aku, aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini darimu, aku hanya takut, tetapi jika kamu tidak bisa menerimanya aku bisa mengerti, aku tidak akan mempersulitmu jika kamu ingin kita berpisah" ujar Viana dengan nada suara yang gemetar karena sesungguhnya dia tidak ingin Jebby meninggalkannya, dia sudah mulai mencintai Jebby, ini pertama kalinya dia jatuh cinta kepada seorang pria, apakah harus berakhir seperti ini? pikir Viana
"bagaimana mungkin aku bisa menerimanya Viana? aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri" ujar Jebby, air mata Viana mulai menetes dia berpikir Jebby tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena telah menikahi wanita yang sudah memiliki seorang putri, Jebby melihat Viana yang menangis tanpa suara itu langsung mendekatkan dirinya dan memeluk Viana,
"mengapa kamu menangis, kamu seharusnya menyalahkan aku Viana" ujar Jebby memeluk Viana dengan erat, Viana bingung dan melepaskan pelukan Jebby,
"apa maksudmu?" tanya Viana
"maafkan aku, karena aku tidak bisa berada di sampingmu saat kamu paling membutuhkanku Viana" ujar Jebby,
"apa maksudmu jelaskan dengan baik" ujar Viana menatap Jebby dengan penuh penasaran, jebby menggenggam tangan Viana,
"sudah lama aku mencarimu di Negara C Viana, aku tidak menyangka bisa menemukanmu di Negaraku sendiri, sebelum bertemu denganmu di cafe itu sudah tiga tahun aku mencarimu, makanya saat aku melihatmu aku langsung mengenalimu, tetapi aku terkejut karena kamu tidak mengenaliku dan dari reaksimu saat itu, aku tahu kamu salah mengenaliku sebagai orang yang ingin kamu temui saat itu, karena tidak ingin kehilanganmu lagi itu sebabnya aku tidak meluruskan kesalahpahamanmu padaku"
"bagaimana kamu mengenalku, di mana kita pernah bertemu" tanya Viana dengan tatapan yang begitu dingin, melihat reaksi Viana Jebby terdiam dan takut melanjutkan ucapannya, dia takut Viana tidak bisa menerimanya dan tidak mau memaafkannya, tetapi tatapan Viana membuat Jebby tidak bisa mundur lagi, perlahan-lahan Jebby yang duduk di samping Viana turun ke lantai dan berlutut di hadapan Viana,
"maafkan aku Viana, aku... aku.. akulah yang menidurimu saat itu, a.. aku adalah ayah kandung Asyaa" ujar Jebby sambil menundukkan kepalanya, dia tidak berani melihat wajah Viana, mendengar pengakuan Jebby air mata Viana mengalir tiba-tiba, Jebby yang tidak mendengar respon Viana karena sedang menunduk langsung mengangkat wajahnya dan melihat Viana sedang menangis tanpa suara, Jebby menggenggam tangannya, namun Viana langsung berdiri dan menghempaskan tangan Jebby, Jebby yang memiliki perasaan akan ditinggalkan oleh Viana langsung berdiri dan menahan tangan Viana kembali,
"Viana aku mabuk saat itu, dan aku pikir kamu adalah wanita yang disiapkan oleh para kolega bisnisku, aku akan melemparmu keluar malam itu, tetapi entah mengapa saat melihatmu aku menyukaimu, sebelumnya aku tidak pernah tertarik dengan wanita-wanita yang disiapkan oleh para kolega bisnisku, tapi aku merasa kamu berbeda, kamu.." sebelum Jebby melanjutkan kalimatnya, Viana kembali menghempaskan tangan Jebby dan pergi secepat mungkin ke kamarnya lalu mengunci pintu, Viana menangis tanpa henti mengingat semua yang dia lalui selama ini karena Jebby, jika Jebby tidak menidurinya dia tidak akan di usir dari rumahnya sendiri, dan dia tidak akan hamil Asyaa, Asyaa juga tidak akan tumbuh dengan mengakui Hasan dan Maya sebagai ibunya, dan dia yang sebagai ibu kandung justru dipanggil dengan sebutan kakak, meskipun begitu dia tidak pernah menyesali sedikitpun kehadiran Asyaa dalam hidupnya.