
Di saat Rafka sedang berbicara dengan orang Perusahaannya, tiba-tiba 5 buah helikopter sedang terbang di atasnya, karena jarak helikopter dengan tanah tidak terlalu jauh dapat terlihat logo yang terdapat di helikopter itu adalah logo dari JB Grup, Rafka sangat terkejut karena JB Grup tidak memiliki cabang di Negara M.
Rafka dan beberapa orang pengawalnya pergi ke arah di mana helikopter itu mendarat, setelah mendekat para Kru di helikopter itu turun dan mulai menurunkan kardus-kardus yang berisi makanan dan obat-obatan. Melihat hal itu Rafka bergegas kembali ke tendanya untuk mencari Asyaa, diikuti oleh Asistennya dan dua pengawal, sedangkan pengawal yang lainnya ikut membantu Kru helikopter untuk menurunkan bantuan logistik tersebut.
Sesampainya di tenda, Rafka melihat Asyaa sedang duduk dan menggerak-gerakan kakinya,
"Apa kamu yang melakukannya?" Tanya Rafka sambil menghampiri Asyaa,
"Apa? Melakukan apa?" Asyaa bingung dengan pertanyaan Rafka yang tidak jelas,
"Apa kamu meminta ayahmu untuk mengirimkan bantuan logistik ke daerah ini?"
"Akh... Itu, maafkan Asyaa, Asyaa tidak sengaja mendengar Kak Rafka menelpon, dan sepertinya kak Rafka kesulitan, jadi Asyaa minta tolong kepada ayah, maafkan Asyaa" Asyaa menundukkan wajahnya karena takut akan di marahi oleh Rafka, melihat tingkah Asyaa, Rafka yang awalnya memang marah karena Asyaa tidak memberitahukannya, jadi tidak tega untuk memarahinya,
"Sudahlah.. aku tidak akan memarahimu, terima kasih berkat kamu masyarakat tidak akan kesulitan lagi"
"Mm" Asyaa mengangguk dengan tersenyum.
Di Ibukota Negara M, Daren yang di utus untuk menangani permintaan Asyaa untuk dapat mengirimkan bantuan logistik tinggal di sebuah hotel, terlihat Daren sedang bicara di telepon dengan seseorang, tidak lama kemudian Daren mematikan teleponnya.
"Semoga dia tidak terlalu kesal nantinya" ujar Daren
Asyaa yang sedang dalam masa pemulihan karena kakinya yang keseleo diharuskan oleh perawat agar bisa melatih kakinya untuk berjalan, Asyaa mengiyakan dan dia pergi berjalan-jalan, karena hari sudah sore jadi matahari tidak terik, suasana itu membuat Asyaa berjalan-jalan dengan nyaman,
Disaat dia sedang jalan-jalan tiba-tiba Rafka datang menghampirinya,
"Bagaimana kakimu? apa sudah tidak sakit lagi saat berjalan?"
"Mm.. sudah tidak terlalu sakit, Kakak sendiri sedang apa disini?"
"Aku sedang lewat, kebetulan melihat kamu di sini"
"Oh"
"Aku temani jalan-jalannya ya" Ujar Rafka
"Sungguh?"
"Iya... Ayo"
Mereka berjalan-jalan dengan santai, tidak ada pembicaraan di antara mereka, mereka hanya menikmati pemandangan sore sambil saling menemani dalam diam.
"Kak Rafka tahu tidak, kakak itu seperti seseorang yang berarti untukku" Rafka yang mendengar Asyaa tiba-tiba bicara seperti itu terdiam sejenak,
"Benarkah?"
"Hari sudah mulai gelap, mari kita kembali ke tenda" Rafka mengajak Asyaa kembali ke tenda, sesampainya di tenda, Asyaa segara membersihkan diri, setelah itu Rafka membawakan makan malam untuknya dan Asyaa.
Setelah makan Asyaa merasa sangat lelah, jadi dia segera berbaring, Rafka keluar sebentar karena harus menerima telepon.
Saat Rafka kembali dia melihat Asyaa sudah tidur, Rafka mendekati Asyaa yang sedang tidur, lalu dia memegang tangannya sambil berkata,
"Asyaa.. aku sangat senang mengetahui bahwa aku adalah salah satu orang yang penting dalam hidupmu, kamu benar.. Aku adalah kakak Hanselmu yang kamu cari selama ini, sejak aku bertemu denganmu aku sudah mengenalimu sejak awal, aku sangat ingin mengakuinya di hadapanmu, tetapi saat ini aku tidak bisa, aku harap kamu bisa mengerti, tunggulah sedikit lagi, aku harap kamu selalu bahagia di setiap hari. Aku mencintaimu" kata-kata itu diakhiri dengan kecupan manis di kening Asyaa. setelah mengatakan semuanya Rafka pergi untuk mengurusi sesuatu.
Sesaat setelah Rafka pergi Asyaa membuka matanya perlahan, air matanya menetes seketika, awalnya Asyaa memang sudah mengantuk, tetapi saat seseorang menggenggam tangannya Asyaa sadar dan rasa kantuknya hilang, dia bersyukur bahwa dia belum tertidur, jika tidak.. dia tidak akan bisa mendengar pengakuan langsung dari Rafka bahwa Rafka adalah kakak Hanselnya. Asyaa memegang dadanya, rasa deg-degan, senang dan terharu tercampur aduk, dia tidak menyangka bahwa Kakak Hanselnya mencintainya, dia sangat-sangat bahagia, Asyaa ingin sekali berlari mencari Rafka untuk memeluknya dan mengatakan hal yang sama, tetapi anehnya rasa kantuknya sudah timbul dan tidak bisa ditahan lagi, akhirnya Asyaa tertidur lelap.
Keesokan harinya Asyaa terbangun dari tidurnya, dia terkejut karena menyadari bahwa dirinya sedang terbaring di kasur yang empuk dengan suasana kamar seperti di rumah Theo, Asyaa menggosok matanya dan menyadari bahwa itu bukanlah mimpi, tetapi Asyaa benar-benar sudah kembali ke rumah Theo, Asyaa segera bangun dan pergi keluar kamar untuk mencari Freya, ternyata hari sudah siang, dia melihat Freya sedang makan mi instan di depan tv.
"Kamu sudah bangun?" Freya yang melihat Asyaa sudah bangun segera bertanya.
"Mm.. Freya bagaimana aku bisa kembali ke rumah?" Tanya Asyaa penasaran.
"Bagaimana lagi? tentu saja kamu pulang naik mobil" Ujar Freya menjawab asal-asalan.
"Freya.. aku serius, bagaimana aku bisa kembali?" Melihat Asyaa yang benar-benar penasaran membuat Freya tidak berani bercanda lagi.
"Kamu itu pulang di antar oleh Kak Rafka, dia membawamu pulang naik helikopter jadi cepat sampai, setelah itu dia mengantarmu ke sini naik mobil, dia sendiri yang menggendongmu ke kamar kita, sudah jelas kan?"
setelah menjelaskan semuanya, tiba-tiba bel pintu berbunyi, Freya bangkit dan membukakan pintunya, yang datang adalah Daren, Asyaa sangat terkejut.
"Paman?.." Asyaa berlari dan masuk ke pelukan Daren.
"Bagaimana keadaanmu, apa kamu baik-baik saja?" Daren memeluk Asyaa dengan lembut dan menanyakan keadaannya.
"Aku baik-baik saja Paman.. Aku rindu kalian, melihat Paman aku sangat senang" Daren tersenyum lembut dan membelai rambut halus Asyaa.
"Jika kamu begitu merindukan kami bagaimana kalau kita pulang saja? Paman datang ke sini untuk menjemputmu" Mendengar perkataan Daren Asyaa terkejut. Dalam hatinya bagaimana dia akan pulang, dia baru saja memastikan semalam bahwa Rafka adalah kakak Hanselnya, dia tidak bisa pergi begitu saja, pikir Asyaa.
"Maaf Paman.. tetapi aku belum bisa kembali" Perlahan Asyaa melepas pelukannya dari Daren.
"Mengapa?" Tanya Daren menatap lurus wajah keponakannya yang cantik itu.
"Itu..itu aku tidak bisa mengatakannya, pokonya aku belum bisa pulang saat ini, Paman mengerti aku kan?" Asyaa menatap Daren dengan tatapan memohon, ditatap seperti itu oleh Asyaa Daren tidak bisa menolaknya,
"Baiklah.. tetapi kamu harus janji kalau kamu akan baik-baik saja di sini, apapun yang terjadi jika kamu ingin kembali katakanlah pada Paman, oke..!!"
"Iya.. Terima kasih Paman"