
Kanaya duduk dengan tidak nyaman sembari mendengar omongan Adel, tentang suaminya ini dan itu. Sesekali dia hanya menyunggingkan senyuman samar untuk menanggapi omongan temannya itu, meski rasanya dia mulai kesal dari waktu ke waktu. Entah ekspresi wajahnya yang tak enak dilihat, disadari atau tidak oleh dua temannya itu. Yang pasti, dia ingin segera mengakhiri topik pembahasan ini –meski sepertinya Adel terlalu bersemangat untuk mengakhirinya.
“Emmm ... Del, maaf. Kalo udah gak ada yang mau dibahas lagi, gue pulang duluan ya? Soalnya revisian skripsi gue masih banyak,” ucap Kanaya akhirnya memutuskan untuk undur diri lebih dulu.
“Hah? Oh, iya Nay ... gak apa-apa kok,” jawab Adel kikuk.
“Ya udah, gue balik duluan ya,” pamit Kanaya seraya beranjak dari kursi dan pergi sembari melambaikan tangan.
Didorong dengan emosi yang hampir meledak yang sedang dia tahan, rasanya dia ingin segera pergi –lantas dia bergegas dan berjalan dengan langkah cepat.
o
o
o
Brukk!!
Kanaya merebahkan dirinya dengan kasar di atas kasur, memandang langit-langit sebelum mengalihkannya ke sisi dinding tempat foto pernikahannya terpajang.
Dia menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri agar bisa menata kembali pikiran dan perasaannya. Lalu perlahan-lahan, muncul pertanyaan –kiranya sejak kapan; hal aneh dan tak nyaman seperti ini mulai mengganggu dirinya? Kenapa? Bagaimana? Dan apa artinya?
Sayangnya, otak gadis itu tak dapat menemukan jawabannya. Lalu tidur menjadi pilihan yang dia ambil, bagaimanapun dia perlu me –refresh otak dan tenaganya sebelum memulai kembali pekerjaannya yang segunung; mengerjakan skripsi, masak dan bebenah. Setidaknya satu jam cukup, ya ... itu yang dia katakan.
Tetapi pada kenyataannya?
“Neng ... Neng ... bangun, Neng!”
Panggilan disertai guncangan lembut membuat Kanaya melenguh sembari meregangkan tubuhnya, dia menerjap sesekali untuk menyesuaikan penglihatannya. “Mas?” ucapnya saat melihat sosok yang membangunkannya.
“Abis ngapain sih, di kampus? Kayaknya kamu capek banget, sampe tidur susah dibangunin,” tanya Adhi yang duduk di sebelah Istrinya.
“Ya?” Kanaya masih belum sepenuhnya sadar dari alam mimpi.
“Gak ganti baju lagi. Udah makan siang belum?” komentar Adhi yang melihat sang Istri masih memakai baju saat dia pergi tadi pagi.
“Emang sekarang jam berapa, Mas?”
“Hampir jam setengah tiga.”
“YA?!” pekik Kanaya yang kaget saat dia mengetahui kalau dia sudah tidur selama itu. “Astagfirullah~ Ya Allah, kok aku bisa lupa? Semoga gak telat,” sesalnya dan segera melompat dari tempat tidur dan melesat ke kamar mandi.
“Kenapa Neng?” tanya Adhi heran sekaligus ikut terkejut. Tak dapat jawaban, dia mengikuti ke kamar mandi dan mengetuk pintunya. “Kenapa Neng? Kamu ada yang masalah apa? Terus apanya yang telat?” tanyanya dan masih tak dijawab, hanya suara air yang terdengar. “Neng?!”
Lalu saat pintu kamar mandi terbuka, Adhi langsung menyerbu Istrinya.
“Stop Mas! Jangan mendekat!” titah Kanaya seraya mundur.
“Hah?” Kelakuan Istrinya saat ini benar-benar membuatnya heran, apalagi dengan pelampilannya yang basah dari wajah, tangan sampai kaki.
“Ehhhh~ jangan sentuh juga!” peringat Kanaya pada tangan suami yang hendak menggapainya.
Mata Adhi terbelalak dan mulutnya hanya terbuka tanpa dapat mengeluarkan kata-kata hingga beberapa saat.
“Mas mundur dulu, aku mau lewat.”
“Sebenarnya kamu kenapa sih, Neng? Kenapa aneh banget kelakuannya?” tanya Adhi dan menghalangi jalan sang Istri.
Kanaya menghela nafas –Suaminya gak bisa diajak kerja sama. “Aku dah telat nih, Mas.”
“Telat? Apa yang telat?” gumam Adhi dan mematung di tempatnya –memikirkan kata tersebut.
Sementara Kanaya berlalu dan menuju lemari untuk mengambil sesuatu.
Ting!!
Seperti ada sebuah bohlam lampu yang menyala dalam otaknya, Adhi berbalik dan menghampiri sang istri. “Neng, kamu hamil?” tanyanya antusias.
Brukk!!
Sesuatu yang tengah Kanaya pegang jatuh –sangking kagetnya dia dengan pernyataan tak terduga sang suami. “Ha ... hamil? Aku? Kok bisa ....” Kanaya sedang memproses otaknya yang gagal paham.
“Ya~ bisalah, kita kan suami-istri.”
“Bukan! Bukan!” potong Kanaya. “Kok bisa Mas mikir aku hamil?”
“Eh? Itu ... bukannya tadi kamu bilang, kalau kamu telat? Telat datang bulan, kan? Terus hamil, begitu.”
“Bukan, Mas! Aku telat, belum sholat zuhur,” beritahu Kanaya sembari dia memungut sajadah dan mukenannya kembali.
“Ya ampun, Neng.” Adhi menyisir rambut dengan tangannya sendiri. “Mas kira, kamu telat yang itu,” lanjutnya dan terselip nada kecewa yang tak disadari oleh sang istri.
“Ya Allah, jangan dulu dah kalo telat yang itu. Eneng sama sekali gak kepikiran soal itu dan belum siap juga, apalagi untuk saat-saat krisis kayak gini. Mas paham kan, maksudnya?”
Adhi hanya mendehem sembari mengangguk samar. “Ya udah, Mas mau angetin lauk dulu, abis itu kita makan siang,” ucapnya lalu pergi.
“Ya Mas, makas ... ih.” Belum selesai Kanaya menyahut, suara pintu tertutup sudah lebih dulu terdengar.
Nyut.
Kok rasanya dia seperti diabaikan, ya? Emang dia salah apa? Mas kenapa sih?
“Astagfirullah,” ucapnya saat tersadar kala emosi mulai menguasai dirinya.
o
o
o
Selesai sholat, Kanaya merapikan mukena dan sajadahnya kembali. Lalu dia pergi ke ruang makan, di mana suaminya sudah menunggu dengan lauk yang dibeli di luar dan telah dihangatkan. Mereka makan bersama seperti biasanya, hanya saja -suasananya agak ... canggung. Sang suami diam saja sembari menyantap makanannya -meski adab makan memang sebaiknya begitu, makan dengan tenang. Tetapi kalau begini keadaannya, dia bisa saja terkena gangguan pencernaan.
Lalu karena sikap suaminya seperti itu, Kanaya tak ada pilihan selain mengikutinya -dia sendiri tak berani mengintrupsi. Sayangnya, suasana tak nyaman ini masih berlanjut. Kanaya sampai tersentak saat mendengar derit kaki bangku yang digeser agak kasar, lantas dia mendongakkan kepala dan dilihatnya sang suami beranjak sembari membawa piring bekas makanannya dan langsung mencucinya.
"Eeee ... Mas, biar Eneng aja yang nyuci piringnya nanti," ucap Kanaya menghentikan sang suami seraya beranjak dari duduknya.
"Gak apa-apa, kamu lanjut makan aja," jawab Adhi terkesan dingin. "Ini juga udah selesai," lanjutnya sembari meniriskan piring yang telah dibilas bersih untuk ditaruh di rak. "Dah ya, Mas duluan. Soalnya mau nyiapin materi kuliah," ucapnya terdengar seperti alasan agar bisa meninggalkan gadis itu.
Nyut!
Kanaya kembali merasakan nyeri di dadanya.
Apa sesakit ini rasanya diabaikan?
Belum cukup suasana tak nyaman, saat mereka makan. Lalu sang Suami yang menyelesaikan makannya lebih dulu dan segera mencuci piring, sebelum akhirnya pergi meninggalkannya hingga dia harus makan sendirian.
Ugh!
Kanaya ingin menangis saat ini juga, berteriak dan meluapkan emosinya.
Ke mana Suaminya yang selalu bersikap hangat saat makan bersama; mengambilkan lauk untuknya, menunggunya hingga selesai makan dan membantunya mencuci piring.
Kanaya menaruh sendoknya, dia sudah tak berselera makan lagi -meski tinggal beberapa suap lagi untuk menghabiskan makanannya. Tetapi dia tak lantas meninggalkan meja makan untuk membereskannya, Kanaya masih termangu dengan pikirannya yang dipenuhi pertanyaan.
Sebenarnya sejak kapan hal ini terasa salah? Di mana salahnya? Dan apa salahnya?
Sayangnya, setelah bergelut dengan pikirannya, jawaban tak juga dia dapat -malah semakin masuk ke dalam jurang gelap tak berdasar.
Sreg!!
Kanaya mendorong bangkunya kasar dan meninggalkan ruang makan tanpa membereskan makanan dan peralatannya, lalu pergi menemui suaminya yang dia perkiraan sedang ada di ruang kerja.
"Mas?" tebakannya benar saat dia membuka pintu ruang kerja, Suaminya ada di sana -duduk di depan laptop bersama beberapa buku dan lainnya.
Adhi menoleh secepat kilat, dorongan terkejut dan ekspresi wajahnya menunjukkan hal tersebut. "Kenapa Neng?" tanyanya setelah kembali mengontrol raut wajah kembali ke ekspresi datar.
"Ma ... Maaf, Eneng ganggu ya?" ucap Kanaya segera merasa bersalah dengan sikapnya barusan.
"Enggak, ada apa?" tanya Adhi bagai menuntut jawaban.
"Ya, silakan." Adhi memutar kursinya hingga mereka duduk saling bertatapan.
"Mas marah ya, sama Eneng?" Ada nada ragu-ragu dan merajuk dalam pertanyaannya.
"Ya? Ah, gak begitu Neng." Adhi tak lantas menjawab jujur, meski bisa dibilang sedang tidak dalam mood yang baik -tetapi dia juga tak sedang marah.
"Tapi dari tadi Mas ngindarin Eneng mulu, jadi Eneng ngerasa -pasti ada yang salah."
Adhi menghela nafas. "Maafin Mas, Neng. Mas gak maksud bersikap seperti itu ke kamu. Mas yang salah," akunya semakin membuat sang Istri bingung.
"Emang Mas salah apa?"
"Ya?!" Adhi terkejut saat ditanya alasannya. Bagaimana dia harus cerita? Masalahnya, tadi dia cuman 'baper' setelah mendengar jawaban sang Istri.
Kini situasi berbalik, Kanaya yang menuntut penjelasan dan Adhi dalam keadaan canggung untuk menjelaskan.
"Jadi tadi ...," jeda Adhi untuk menarik nafas. "Jadi tadi Mas sedikit kecewa pas denger jawaban kamu, padahal Mas sudah tahu dan berjanji dari awal."
"Soal apa?" Kanaya makin mendekat ke arah Suaminya, dia gregetan karena penasaran dengan alasan sebenarnya dari sang suami yang mendiaminya.
"Itu ... pas Mas salah ngira kalau kamu telat hamil," jawabnya malu mengakuinya.
Kanaya hanya bereaksi dengan mengerutkan keningnya.
"Biar kata kita sama-sama udah tahu dan janji sejak awal dengan orang tua kamu, tapi rasanya ... kesalahpahaman soal kabar kehamilan kamu -sesaat buat Mas berharap dan senang. Lalu dengan perasaan berlebihan itu, dan kamu yang bilang -gak mau hamil dulu ... rasanya Mas seperti dihantam batu kekecewaan."
Ugh!
Kanaya meringis setelah mendengar penuturan sang suami, dia bukannya tak tau soal keinginan Suaminya itu. Karena setiap mereka berkunjung ke rumah orang tuanya, Mas pasti menyempatkan diri untuk bermain dengan Adam -keponakannya, anak dari Teh Dita.
Lalu Kanaya juga, kalau melihat sang Suami bermain dengan keponakannya -sebenarnya dia juga gemas saat melihat mereka. Tetapi untuk mereka punya anak dalam waktu dekat, Kanaya belum siap sama sekali.
"Neng, kok kamu jadi ngelamun?" tanya Adhi sembari mengelus rambut sang Istri dengan sayang. "Maaf, Mas bikin kamu kepikiran ya?"
Kanaya menghela nafas sebelum menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, tetapi memang benar kalau soal kesalahan pahaman sang suami bukan alasan utamanya -sebab ada hal lain yang lebih menjadi beban pikirannya saat ini.
"Udah, jangan terlalu dipikirin apa yang tadi Mas omongin. Mungkin Mas lagi baper aja, kali," ucapnya asal dan terkekeh.
Kanaya menimpali dengan tersenyum tipis -nyaris tak terlihat, pikirannya benar-benar tak bisa fokus. Haruskah dia cerita ke Suaminya?
Wajah Adhi kembali berubah gusar setelah melihat respon Istrinya yang tak bersemangat, padahal dia sudah berusaha mencairkan suasana diantara mereka. Lantas dia memutar otak lagi, mencari topik lain.
"Mas," panggil Kanaya dan membuyarkan lamunan sang Suami.
"Hmm?!" Adhi tersentak sejenak. "Ya, kenapa Neng?" lanjutnya bertanya.
Kanaya memilin-milin ujung bajunya, masih ragu untuk bicara.
"Ada apa, Neng?" tanya Adhi lagi.
"Emmm ... Itu," jeda Kanaya. "Aku harus gimana ya, soal Adel?"
"Kenapa emangnya sama temen kamu?"
"Mas kan tau sendiri, kalo Adel udah lama naksir sama Mas ...," ucap Kanaya sepotong-sepotong.
"Terus?"
Kanaya menghela nafas, masa dia harus jelasin maksudnya panjang lebar. "Aku kan nikah sama Mas, cuman keluarga aja yang tau. Ya, biarpun sekarang Jani juga udah tau ... tapi kan, Adel belum dan dia masih sering ngomongin soal Mas."
"Jadi kamu cemburu?" tanya Adhi menarik kesimpulan yang sedikit melenceng, tapi dia tidak berpikir tebakannya salah -karena dari nada bicara sang istri, begitulah yang dia tangkap.
"Hah?! Apa?!!" Kanaya terkejut mendengar pertanyaan yang diluar perkiraannya, meski sebenarnya itu tidak sepenuhnya salah. "Siapa yang cemburu?" elaknya dan memalingkan wajah.
Adhi tersenyum, bersama dengan perasaan senang yang menyeruak dalam hatinya. "Kamu memang seharusnya jujur sama temen kamu."
"Bukannya aku gak mau cerita ke Adel, Mas. Cuman aku takut aja, nanti dia down ... terus nanti dia gak mau bimbingan skripsi lagi.
"Kamu terlalu overthinking, Neng. Ya~ biarpun luka memang perlu waktu untuk sembuh, tapi kalau ngeliat kepribadiannya -kayaknya Adel bukan tipe seperti itu."
"Tetep aja, rasanya berat buat cerita. Aku mikirnya sih, bakal kasih tau Adel kalau skripsinya udah selesai."
"Itu terserah kamu aja, tapi lebih cepat lebih baik."
"Aku usahain."
"Hmmm ... Semangat ya, Istriku," ucap Adhi sembari mengusap puncak kepala sang istri.
"Ihhh ... Aneh banget rasanya dipanggil 'Istriku' merinding aku dengernya," protes Kanaya.
"Sayangku?" Goda Adhi.
"Enggak, enggak mau denger!" Kanaya menutup telinganya.
"Istriku sayang."
"Udah, ah~ Mas!!"
"Aiyang?"
"Apaan sih, geli banget!!" Kanaya langsung membungkam mulut sang suami dengan telapak tangannya agar berhenti mengeluarkan panggilan-panggilan aneh.
Cup!!
"Mas!!" teriak Kanaya ketika telapak tangannya dikecup, dia langsung melepaskannya.
Tetapi Adhi kembali menarik tangan sang Istri. "Pindah ke kamar, yuk?" ajaknya dengan suara yang terdengar manis.
"Nga ... ngapain?" tanya Kanaya gugup.
Adhi hanya membalas dengan senyuman 'penuh arti'.
o
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
o
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~