
Sudah lebih dari satu minggu ini, Adhi dan Kanaya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Adhi yang sering pulang telat karena harus membimbing Mahasiswa/i nya dan memeriksa skripsi mereka, lalu Kanaya yang memulai kembali penelitian dengan mencari buku, jurnal dan lainnya di perpustakaan -bahkan mereka rela begadang hingga melupakan waktu makan.
Sementara itu, saat ini Kanaya berada di ruang studi sedang mengerjakan skripsi nya sendirian. Sejenak dia melihat pada jam yang ada pada laptopnya, hampir pukul sepuluh malam dan sang Suami belum pulang. Rasa khawatir hinggap menyeruak masuk ke dalam benak, tanpa bisa dia cegah -sebab hingga saat ini belum mendapat kabar. Akhirnya Kanaya mengambil ponsel dan menghubungi suaminya.
Beberapa waktu berlalu, tetapi hanya terdengar suara panggilan sedang dihubungkan dan tak dijawab. Kanaya benar-benar cemas kali ini, tapi dia juga bingung. Haruskah dia menyusul sang Suami ke kampus sekarang?!
Namun tiba-tiba ponsel di tangannya bergetar, ada sebuah panggilan masuk dari Suaminya. Syukurlah~
"Ya halo, Assalamu'alaikum Mas!! Mas di mana? Kapan pulang?" tanya Kanaya dengan nada khawatir.
'Mas masih di kampus, ini mau pulang kok.'
"Mas, aku khawatir tau~ jam segini belum pulang dan gak ada kabar. Mana tadi telepon gak diangkat lagi," keluh Kanaya.
'Maaf Neng, tadi Mas ketiduran.'
Dari nada suaranya, Kanaya tau kalau sang suami sedang tidak baik-baik saja. "Mas pulangnya gimana? Jangan maksain nyetir kalo gak kuat."
Di sisi lain, Adhi membenarkan ucapan Istrinya. Tadi dia tertidur juga karena dia sudah tidak bisa menahan beratnya penglihatan lantaran nyeri pada bagian belakang kepalanya. 'Iya, nanti Mas pesan taksi online.'
"Ya udah, Eneng tunggu. Hati-hati ya~ kabarin juga kalo udah mau sampe," pinta Kanaya.
"Iya, Istriku."
Setelah mengakhiri panggilan dengan suaminya, Kanaya bersiap untuk menjemputnya. Dia keluar dari unit apartemen dan menuju pintu masuk gedung.
o o o O o o o
Kanaya menunggu sembari mundar-mandir sudah seperti setrikaan, dia juga sesekali mengecek ponselnya yang terus dia genggaman. Namun sudah lebih dari dua puluh menit, sang suami tak kunjung sampai.
Kanaya berpikir untuk menghubungi suaminya lagi, tapi sebelum dia menekan tombol memanggil -dia lebih dulu melihat sosok sang Suami yang turun dari mobil taksi sembari dibantu oleh sang supir. Kanaya lantas berlari menghampirinya.
"Neng, kok diluar?" tanya Adhi yang terkejut melihat sang Istri lantaran ini sudah larut malam.
Kanaya tak menjawab, dia langsung mengambil alih untuk memapah sang Suami. "Terima kasih Pak, biar saya saja," ucap Kanaya pada si supir taksi.
"Udah Neng, Mas gak usah dituntun segala … masih bisa jalan sendiri kok ini," elak Adhi.
"Mas gak perlu selalu berusaha biar keliatan kuat kok, hanya karena laki-laki atau Suami. Sekarang kan ada aku, jadi Mas bisa bagi kesusahan Mas juga ke Eneng dan kita hadapi semuanya bareng-bareng," balas Kanaya.
"Bukan Mas sok kuat, tapi emang beneran kuat," ucap Adhi masih berdalih. "Cuman pusing sedikit aja,"imbuhnya.
Kanaya tidak mau mendengar. "Mending dipapah atau diseret, nih? Pilih!"
"Ya ampun, Neng~ kok kamu jadi galak?"
"Makanya nurut aja … orang aku bukan mau jahatin Mas, tapi bantu."
"Iya maaf," jawab Adhi menyerah.
Sesampainya mereka kembali di unit apartemen, Kanaya masih membantu sang suami.
"Mas, termometernya di mana?" tanya Kanaya yang mencari benda tersebut di sekitar ruang tamu.
"Buat apa?" tanya Adhi yang sedang berganti pakaian di kamar.
Tak ada sahutan, Kanaya sudah menemukannya dan menghampiri Adhi. "Buat Mas. Badan panas gitu juga, masih gak ngerasa?"
"Emang iya?" tanya Adhi yang benar-benar tidak menyadarinya lalu mengukur suhu tubuhnya sendiri dengan menempelkan punggung tangan pada keningnya dan setelah itu dia tidak berkomentar karena sudah mengakui kesalahannya.
"Duduk!" titah Kanaya dan menuntun sang Suami menuju tempat tidur.
"Tunggu Neng, Mas mau pake baju dulu," tahan Adhi.
"Nanti aja pake bajunya, soalnya nanti Mas mau aku elap dan kompres badannya," tolak Kanaya.
"Masa telanjang sih, Neng?! Kan dingin."
Haaaahhhh~
Kanaya menghela nafas, ternyata sang Dosen/Suami bisa juga manja begini sikapnya kalo lagi sakit.
Sesungguhnya Adhi tidak benar-benar polos saat ini -celana boxer nya masih melekat. Tetapi tetap saja, pemandangan tersebut mengalihkan pikiran Kanaya -sejenak- saat dia sadar kondisinya saat ini membahayakan jantung juga imajinasinya.
"Pake selimut aja dulu," ucap Kanaya lalu segera meninggalkan kamar.
"Mau ke mana, Neng?"
"Dapur!" jawab Kanaya namun dia kembali lagi ke kamar karena Termometernya masih dia pegang sedari tadi, lalu dia memberikannya pada sang Suami. "Mas cek dulu panasnya. Aku mau siapin makanan sama air hangat buat kompresnya," titah Kanaya.
Adhi menurut dan menjepit termometer pada salah satu ketiaknya sembari menunggu sang Istri yang tiba-tiba galak dan bawel kembali.
Kanaya kembali ke kamar dengan membawa makanan dan wadah berisi air hangat dalam nampan lalu meletakkan di meja dekat tempat tidur.
"Berapa Celcius panasnya?"
Adhi mencabut termometer dari ketiaknya dan menunjukkannya pada sang istri.
"38,2° … lumayan tinggi ini, Mas," ujar Kanaya cemas.
"Paling cuman masuk angin karena di ruang AC mulu sama kecapean aja," dalih Adhi.
"Ya udah, makan dulu … terus nanti minum obatnya."
"Gak perlu minum obat, Mas juga gak biasa," tolak Adhi.
"Terus nurunin demamnya, gimana?" tanya Kanaya yang tampak geregetan dengan sikap sang suami yang ternyata juga susah diurus kalau sakit gini. "Mau dikerok aja?" tawarnya.
"Dikerok juga gak bagus, Neng. Nanti yang ada makin gampang masuk angin karena pori-pori kulitnya melebar," dalih Adhi.
"Terus maunya apa? Minum obat gak mau, dikerok juga salah," tanya Kanaya yang semakin bingung. "Eneng biasanya kalo sakit itu, dikerokin sama Ibu sampe punggung udah kayak Zebra cross. Terus abis itu, dibalur sama Minyak Kayu Putih."
"Mas biasanya dibikinin minuman anget sama Ibu," jawab Adhi setelah berhasil mengingat kebiasaan sang Ibu ketika dia sakit. Namun sekarang, ternyata dia diurus oleh Istrinya.
"Gimana tuh, bikinnya?" tanya Kanaya dengan serius.
"Gak tau," jawab Adhi sekenanya, sembari menggelengkan kepala dan mengangkat bahunya samar.
"Ya udah, Mas makan aja dulu. Aku mau tanya Ibu Mertua," ucap Kanaya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Ibu Ranti.
Sedikit tidak enak karena mengubungi Mertuanya di saat menjelang tengah malam, namun apa daya -dia juga tak bisa membiarkan suaminya sakit begitu saja tanpa dia urus.
"Wa'alaikumsalam, Bu~ maaf Naya ganggu malam-malam," jawab Kanaya sungkan. "Itu ... Mas Adhi lagi gak enak badan, terus katanya suka dibuatin minuman anget sama Ibu. Jadi Naya mau tanya, bahannya apa aja ya, Bu?"
'Dia pasti ngerepotin kamu ya, Naya?' tanya Ibu Ranti yang kini terdengar tak enak hati. 'Mana si Adhi?! Dasar itu anak, kalo udah sakit ngerepotin.' Nada bicara Ibu Ranti segera berubah, ganti mengomeli anaknya.
'MasyaAllah, syukur Alhamdulillah~ rasanya Ibu senang dengernya, beruntungnya si Adhi itu dapetin kamu,' ucap Ibu Ranti terharu. 'Kalo dia macam-macam, bilang aja ya ke Ibu. Biar nanti si Adhi Ibu pites.'
Setelah obrolan panjang itu, Kanaya baru mendapatkan resep Minuman Hangat dan ternyata cukup simpel. Lantas Kanaya segera membuat campuran Air Jahe dan Madu.
Saat Kanaya kembali ke kamar, sang Suami telah menghabiskan makanannya. Untung gak susah makannya atau manja minta disuapin.
"Ini di minum Mas," titah Kanaya dan memberikan Air Jahe Madunya.
Adhi meminumnya secara perlahan, selain karena masih lumayan panas -Jahenya juga sedikit terasa pedas hangat saat meluncur di tenggorokannya. Sementara itu, Kanaya sedang mencari baju yang cukup nyaman dan menyerap keringat untuk sang Suami.
"Udah?" tanya Kanaya.
Adhi mengangguk dan menunjukkan gelasnya yang kosong. "Tapi abis itu, rasanya jadi gerah dan keringetan," keluh Adhi sembari menurunkan selimut yang membungkus tubuhnya.
"Ya udah, Mas dielap aja dulu keringetnya," saran Kanaya dan memberikan handuk yang sudah dia peras di air hangat.
"Kirain Mas, kamu yang bakal ngelapin badan Mas," ucap Adhi terdengar seperti permintaan.
Kanaya menghela nafas panjang, tapi tetap dia lakukan.
Pertama Kanaya mengusap keringat di wajah sang Suami, sembari merasakan seberapa tinggi deman pada keningnya. "Masih panas," komentar Kanaya.
"Ya, gak mungkin langsung turun juga demamnya," sahut Adhi dan terkekeh.
Kanaya mendesis. "Kan cuman ngukur doang," gerutunya lantaran tak mau didebat. "Lanjutin sendiri dah," kesal Kanaya dan menaruh handuk kecilnya pada perut sang Suami.
"Yah ... Neng~ bantuin jangan separo-separo."
Sabar Kanaya~ lakuin aja. Semoga suaminya cepet sembuh biar gak rewel lagi.
Setelah selesai mengelap badan sang Suami, Kanaya memberikan baju ganti dan Minyak Kayu Putih. "Diolesin dulu minyaknya biar anget."
"Gak kamu aja sekalian."
Sehat selalu ya, Mas~
Selesai!
Kanaya segera membereskan peralatan makan dan wadah bekas lap keringet dan membawanya ke dapur untuk dia cuci. Lalu setelah itu, Kanaya kembali menghangatkan air untuk kompres sang Suami. Dan saat di kembali ke kamar, Suaminya sudah meringkuk di tempat tidur. Tetapi biarpun begitu, Kanaya tetap mengompres kening sang Suami.
Tiba-tiba Adhi menahan tangan Kanaya yang ada di keningnya dan untuk dikecupnya. "Makasih ya, Neng~ udah sabar ngurus Mas yang sakit dan ngeselin. Maaf juga, jadinya ngerepotin kamu."
Kanaya terkekeh sejenak saat mendengar pengakuan sang Dosen/Suami yang sadar kalau sikapnya saat ini ngeselin. "Enggak kok, gak serepot dan sekesel itu. Lagian kan, udah kewajiban Eneng. Terus pas Eneng sakit, aku sama ngerepotin Mas. Tapi Mas tetap ngurus aku, padahal pas itu kita belum ada hubungan," jawab Kanaya kembali mengingatkan Adhi tentang dia menolong mahasiswi sampai mengantar pulang juga. "Apalagi sekarang, kita udah jadi suami/istri -pasti Eneng bakal ngurus Mas sebaik yang bisa aku lakukan," imbuhnya.
"Ya Allah~ beruntung banget ya, Mas dapet istri perhatian. Gak nyangka."
Kanaya tersenyum. "Tadi Ibu juga ngomong gitu," beritahu Kanaya dan pipinya tampak memerah karena dua kali dipuji -bedanya sekarang Suaminya yang memuji.
Tiba-tiba lagi, Adhi menarik tengkuk Kanaya dan mendaratkan ciuman di bibir sang istri dengan lembut. Kanaya terkejut, namun berusaha menahan dan menarik diri. Sayangnya dia tak cukup kuat untuk membebaskan diri, meskipun suaminya sedang sakit saat ini.
"Mas, kok cium aku? Nanti kalo nular, terus aku ikut sakit … gimana?" sentak Kanaya.
"Masuk angin kayaknya bukan penyakit menular deh, Neng. Lagian Mas juga gak ingusan atau batuk bengek," elak Adhi. "Terus kalau kamu sakit, Ya~ gantian. Nanti Mas yang ngerawat kamu … layanan VVIP Plus-plus," imbuhnya terdengar menggoda.
"Mas kalo udah usilnya dateng, berarti udah sembuh," udah Kanaya dan beranjak menjauh dari sang Suami. "Dah, aku mau tidur." Kanaya merebahkan diri di sisi ranjang lain dan tidur memunggungi suaminya.
Adhi berbalik, tidur menghadap Kanaya. Lalu dia menyibakkan selimut yang kini terasa panas baginya dan beralih memeluk istrinya dari belakang. "Neng, tidurnya madem sini dong. Mas jangan dipunggungin, kalo bisa sekalian peluk -biar tambah anget," pinta Adhi sembari menoel-noel pipi Kanaya.
"Pake selimut, makanya."
"Selimut kepanasan, maunya anget dipeluk kamu."
Kanaya mengalah dan berbalik menghadap sang suami, hingga kini mereka saling bertatapan. "Dah, tidur!" titah Kanaya dan buru-buru melepaskan kontak mata mereka dengan memejamkan matanya.
Namun sang Suami malah bertingkah dengan merayap di tubuhnya dan menyandarkan kepala di dadanya seperti menjadikannya sebagai bantal.
"Berat Mas," protes Kanaya.
Adhi tak menggubrisnya dan semakin dalam mendekat tubuh mereka.
"Jangan macem-macem ya, Mas! Kalo gak, aku tendang." peringat Kanaya.
"Iya Neng."
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
Lekas sembuh ya, Pak Adhi~~
btw, sakit tetep aja usilnya gak ilang dan masih nyosor ..
x x X x x
Makasih udah baca & dukungannya ^^
See you~