Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 28 - Meyakinkan]



Di tengah kesunyian malam Kanaya masih terjaga di tempat tidurnya, karena saat ini benaknya sedang berkecambuk. Meskipun saat berpisah dengan Pak Adhi tadi, Kanaya sudah bilang pada dirinya sendiri kalau tak ingin pusing-pusing memikirkan jawaban dan mengikuti pesan untuk tidur nyeyak, karena dia sudah pada keputusan bulatnya –TIDAK melanjutkan ke hubungan yang serius. Tetapi nyatanya sekarang dia goyah, sebab satu persatu perkataan dari keluarganya.


“Bapak setuju dengan Nak Adhi,” ucap Pak Haris tegas namun terdengar senang dan puas –setelah Kanaya masuk ke rumah sekembalinya mengantar sang Dosen. “Pas Bapak ajak dia ke Pengajian anak-anak, dia mau bantu mengajar dan cukup bagus. InsyaAllah ... kalo dia jadi suami kamu, Bapak bisa tenang ngelepas tanggung jawab ke Nak Adhi untuk bimbingan kamu.”


Kanaya tak dapat menjawab ucapan sang Ayah saat itu, meskipun dia mendengarkan –namun menolak dalam hatinya.


Lalu sang Kakak sulung, Teh Dita masuk ke kamarnya beberapa saat lalu dan bicara padanya.


“Neng, Teteh cuman mau ngomong sebagai orang yang lebih dulu ngalemin. Kesempatan itu gak datang dua kali, Pak Adhi – Dosenmu itu udah calon paling potensial. Dia mapan, dewasa, dapat diandalkan dan ...,” Teh Dita menjeda ucapannya. Mau tak mau, hal itu membuat Kanaya penasaran. “Ganteng,” imbuhnya malu-malu.


“Astaga~ inget Bang Rio, Teh. Terus itu perut juga udah melendung,” timpal Kanaya sinis.


“Heh! Itu tuh cuman penilaian, bukan berarti gue bakal embat calon lo Neng. Tenang aja, gue mah setia sama laki gue. Gak bakal selingkuh, apalagi pelakor. Hidup gue gak sedrama itu, Neng,” sahut Teh Dita.


“Terserahlah, Teh,” jawab Kanaya tak berselera meladeni ucapan sang Teteh.


“Dengerin dulu, Neng!” ujar Teh Dita sembari menarik Kanaya yang hendak berbaring di kasurnya. “Udah, kamu gak usah banyak mikir –terima aja. Bapak juga udah setuju, InsyaAllah ini udah pilihan yang tepat.”


“Teh, plis ya ... ini hidup Eneng. Jadi biar Eneng yang urus,” pinta Kanaya tersirat kelelahan dalam nada bicaranya.


“Iya, Teteh tau itu hidup kamu yang bakal jalanin, tapi Teteh juga mau kamu dapat orang baik dan bahagia,” ucap Teh Dita dan menggenggam tangan sang Adik sembari mengusapnya dengan lembut.


“Kamu masih inget kan, gimana pas jaman Teteh belum nikah sama Bang Rio? Teteh juga sama mikirnya kayak kamu, masih muda mau senang-senang dulu, jalan sama temen atau pacaran aja. Tapi kita tuh perempuan, gak banyak waktu sama pilihan dan laki-laki baik yang memuliakan wanita dengan pernikahan makin langka. Liat Teteh sekarang, nikah pas menjelang kepala tiga –terus susah dan beresiko pas hamil juga melahirkan. Teteh gak mau kamu juga ngalamin kesusahan, jadi ... tolong kamu pikirin lagi dan terima dengan lapang dada,” ucap Teh Dita panjang lebar dan memeluk Kanaya, sebelum dia keluar dari kamar tersebut.


Jadi sampai malam ini, sudah dua orang di keluarganya yang meminta dia untuk menerima sang Dosen. Sementara itu, sang Ibu meskipun tidak membicarakan apapun padanya –tetapi dilihat dari raut wajahnya saja sudah bisa ditebak kalau Ibunya memiliki keinginan yang sama.


Lantas dia harus minta tolong dan pengertian pada siapa? Bang Dhika? Heeee~ dia cuek aja tuh sama Pak Adhi. Dan yang paling gak mungkin adalah dia minta tolong ke adik bungsunya yang bocah kencur, si Sofia.


Benar-benar bikin sakit kepala! Udahlah dia puyeng sama skripsinya, sekarang dia juga harus mikirin soal Dosen Pembimbingnya yang mendadak bakal jadi calon suami.


“Arrrggghhh!!” teriak Kanaya yang dia tahan dengan menggigit bantal agar tidak memancing keributan di malam hari.


Di tengah teriakan kefrustrasian tertahannya, denting ponselnya berbunyi dan mengalihkan perhatiannya. Kanaya lantas mengeceknya, dia menemukan pesan masuk dari Adimas dan seketika hatinya merasa terenyuh.


Adimas :


Besok lo ada acara, Nay?


Kanaya :


Enggak, kenapa Dim?


Adimas :


Ada yg mau gw omongin


Kanaya menghela nafas. ‘Apa yang mau diomongin coba? Gak mungkin putus, kan?’ pikirnya sudah pesimis dan dia melemparkan tatapan ke langit-langit demi menahan cairan yang terbendung dipelupuk matanya.


Kanaya :


Iya. Sekalian gw mau balikin jaket lo


Adimas :


Okay


Kanaya menatap lirih pada balasan singkat dari Adimas, namun dia masih berharap akan ada balasan selanjutnya. Sayangnya hingga Kanaya tertidur dan terbangun esok paginya, dia tak menemukan apapun.


◦ ◦ ◦


Saat ini Kanaya sedang sarapan bersama semua anggota keluarganya, suasananya cukup tenang –berbeda dengan apa yang dia pikirkan sebelumnya yang dikiranya akan kembali direcoki. Namun tenang tak selamanya tinggal, Kanaya mendapat serangan dari seseorang yang tidak dia duga dan remehkan.


“Teh Naya, semalam Om Adhi pulang jam berapa?” tanya Sofia si adik bungsu.


“Kenapa emangnya?” tanya Kanaya meskipun agak risih meladeninya.


“Sofi dapet duit dari Om Adhi,” ucapnya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribuan.


“Terus?” tanya Kanaya.


“Om Adhi baik deh, Teh Naya. Nikah aja ya sama Om Adhi, biar Sofi banyak uang jajannya.”


“Dih! Dasar bocah, udah kena sogok,” timpal Kanaya.


“Enak aja~ Itu Teh Dita juga dikasih, malah lebih banyak,” adu Sofia.


Kanaya langsung melempar tatapan tajam penuh selidik pada Kakak Sulungnya.


“Heh! Ngapain melotot-melotot? Enggak begitu ya, Nay. Teteh udah lebih dulu setuju, sebelum itu duit nempel di tangan. Lagian itu juga bukan buat gue, tapi si Utun,” sanggah Teh Dita sembari memegangi perut buncitnya.


Kali ini Kanaya berbalik arah mencurigai Bang Dhika.


“Ngapa? Lo curiga sama gue juga? Kagak ya, gue bersih,” sungut Bang Dhika.


Setelah sarapan Kanaya kembali ke kamar untuk selanjutnya dia akan pergi menemui Adimas, di taman sesuai tempat janjian mereka. Kanaya mengeluarkan motor matic dari garasi yang hendak dia kendarai.


“Mau kemana lo, Nay?” tanya Bang Dhika tiba-tiba muncul.


“Keluar,” jawab Kanaya singkat.


“Bukan mau kabur kan, lo?” tuduh Bang Dhika.


“Kabur kemana lagi? Buat apa coba? Emang gue kayak lo, yang tiap ngambek –minggat dari rumah,” balas Kanaya.


“Ya udah, gue anter sini,” tawar Bang Dhika.


“Gak usah, orang cuman ke taman,” tolak Kanaya.


“Jangan batu! Gue tau lo lagi gamang, nanti kalo kenapa-kenapa, repot lagi,” ujar Bang Dhika sok perhatian.


“Lebay loh, Bang,” ejek Kanaya namun akhirnya menurut juga dan dibonceng oleh sang Abang.


Dhika menghentikan motornya saat mendapat tepukan dari belakangnya.


“Disini aja Bang,” ucap Kanaya dan turun dari motor.


“Mau ngapain lo? Ketemu sapa siapa?” tanya Bang Dhika.


“Dimas.”


Bang Dhika terkekeh. “Udahlah Nay, gak usah pake maen petak umpet segala. Kalian udah ketahuan kali,” ujarnya yang tak dapat dipahami oleh Kanaya.


“Apaan sih, Bang? Gak jelas loh.”


Bang Dhika tersenyum miring. “Lo pacaran kan sama Dimas?,” ujarnya dan seratus persen membuat Kanaya terkejut.


“Lo tau dari mana? Kapan?” tanya Kanaya cepat.


“Gak pentinglah, gue tau dari mana. Liat sekali aja gue udah tau dan lo gak usah nyangkal, karena udah gue konfirmasi ke sumber terpercaya,” ujar Bang Dhika menyombong. “Dan gue juga tau, kalo kalian juga udah lama saling naksir,” imbuhnya.


Rasanya dia mau disedot aja ke dasar bumi. Kenapa coba dari sekian orang di keluarganya, si ember bocor ini yang harus tau.


“Dan gue juga tau Nay, kalo kalian lagi ada masalah,” ucap Bang Dhika kali ini dengan nada simpatinya. “Cinta itu gak harus memiliki, Dek,” ujarnya lagi makin kacau lagaknya.


“Sok puitis lo, Bang. Jijik! Pengen gue tempeleng rasanya,” sewot Kanaya.


“Heh! Gue ngasih tau bener ya, denger! Meskipun lo berdua saling cinta setengah mati, tapi kalo bukan jodohnya –gak bakal nyatu. Dan gue ngomong gini, bukan maksud nentang atau maksa lo buat pisah sama Dimas. Bukan juga gue mihak dosen lo, enggak sama sekali!” ucap Bang Dhika yang menaikan nada bicaranya.


“Gue kenal Dimas udah lama, tau sifatnya dan yakin dia anak baik. Tapi gue ngomong gini biar lo melek aja, kalo ini nih ... ada cowok lain yang mau serius bertanggung jawab sama lo. Kenapa gak lo pertimbangin baik-baik.”


Ya Rabbi, rasanya Kanaya mau menulikan pendengarannya saja. Dari kemarin dia terus mendengar desakan seperti ini, apa tidak ada yang mengerti perasaannya saat ini?!


“Itu cuman pendapat gue sebagai cowok dan Abang yang mau Adeknya dapat yang terbaik," imbuhnya sebelum menyalakan kembali mesin motornya. "Udah, lo selesaiin masalah lo sama Dimas. Gue balik,” ucap Bang Dhika dan pergi.


Kini tinggal Kanaya sendiri yang menunggu Adimas dan rasanya tiap detik bagai menghantuinya, karena firasatnya mengatakan hal tak mengenakan akan terjadi.



T


B


C



Kira-kira apa yang mau diomongin sama Adimas? Dan bagaimana keputusan Kanaya??


>>>


Part ini sebenernya belum selesai, tapi aku udah keburu ngantuk dan ngerasa gak enak semalam.


Gak tau dah ya, bener atau gak. Tapi aku tuh kayak denger suara orang nangis sesenggukan. Itu ngetik yang udah ngantuk-ngantuk, seketika seger lagi.


Tapi jadinya gak fokus dan hasilnya banyak typo, karena gak aku cek lagi sebelum up.


Jadi yang ini udah revisi ya~


• • • • •


Terima kasih sudah membaca dan dukungannya.


See You~