Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 38 - Mengenal Kita]



Fuuuhhh~ Fuuuuhhh~ Fuuuhhhhh~


Kanaya yang sedang tidur merasa terusik dan bergidik, lantaran hembusan angin yang menerpa telinganya. Dia menggelengkan kepala hingga bergerak kesana kemari untuk mengindari tiupan angin itu, tapi anehnya -angin tersebut seakan mengejarnya.


Gak jelas banget sih, mimpi dia!


Tap!!


Kali ini Kanaya merasa ada sesuatu menyentuh pundaknya.


M*mpus gue, ketangkep!!


Fuuuuhhh~ Fuuuuhh~ Fuuuuuhhh~


Hembusan angin masih menerpanya, malah semakin kuat.


Bangun Nay! Bangun!! Sadar, ini tuh mimpi.


Kanaya berusaha meyakinkan dirinya, kalau dia sedang bermimpi dan harus segera bangun dari mimpi buruknya. Tetapi entah kenapa, rasanya susah sekali.


Siapapun!! Tolong~


Di sisi lain, Adhi khawatir melihat Istrinya yang tidur dengan gelisah. Lalu dia mengguncangkannya seraya memanggilnya. "Neng, bangun Neng … Bangun!!"


Seketika Kanaya langsung membuka matanya karena mendengar suara tersebut, namun setelah lelah bergulat dalam mimpi -dia dikejutkan dengan sosok wajah di hadapannya. "Astaghfirullah!!"


Kanaya masih mengatur nafasnya. "Pak Adhi?" tanyanya seakan tidak mengenali sosok tersebut. Tapi wajar saja, kamarnya saat ini dalam keadaan pencahayaan redup -hingga Kanaya kurang jelas melihat.


"Iya, saya suami kamu. Emang siapa lagi, Neng?" jawab Adhi dengan nada seolah dia tersinggung. "Ya Allah~ Neng, kamu ngeliat saya macam abis liat setan aja. Kamu mimpi apa toh?"


Kanaya mengusap wajahnya. "Horror dah Pak, pokoknya."


"Kamu gak mimpi buruk, karena semalam kita habis ___." Adhi tak melanjutkan ucapannya, baik dia sendiri maupun Kanaya tampak malu-malu karena mengingatnya.


"Enggak Pak, itu tuh mimpinya baru. Masa … ada yang niupin kuping saya, terus saya lari dan masih aja kuping saya ditiup. Serem dah!! Apalagi pas tangannya nahan pundak saya, rasanya jantung saya copot," cerita Kanaya.


Adhi tertawa mendengar cerita Istrinya itu, lalu senyum jahilnya tiba-tiba muncul dan dia mendekatkan wajahnya kembali ke telinga Kanaya. "Maksud kamu, seperti ini?" tanyanya seraya mengulang kembali aksi untuk membangunkan sang Istri seperti sebelumnya.


Fuuuhhh~ Fuuuhhh~ Fuuhhh~


"Ternyata Bapak yang isengin saya pas tidur?! Usil banget, ihhh!!!" ujar Kanaya kesal sembari menghalangi tiupan sang Dosen/Suami dengan tangannya.


Namun tangan Kanaya yang tak mau diam itu, tanpa sengaja menyentuh bibir Pak Adhi. Dia terkejut saat merasakan sensasi kenyal, lembut dan basah di telapak tangannya. Refleks dia segera menarik tangan -dari Bibir Nakal yang semalam dengan Ganas Melahapnya. Lalu menyembunyikan dirinya, hendak masuk ke dalam selimut.


Namun tangan Adhi lebih cepat menahan Kanaya. "Mau ngapain kamu, masuk lagi ke selimut?"


Kanaya menggeleng cepat. Baginya saat ini, Pak Adhi tampak garang di matanya.


"Bangun, Neng~ sudah Subuh ini," titah Adhi. "Atau kamu mau saya gendong ke kamar mandi?" godanya dan mengecup tangan Kanaya yang tengah di pegangnya.


"Enggak! Saya bisa sendiri," tolak Kanaya telak. Dan beranjak bangun dari ranjang dengan kesusahan, karena sibuk menutupi dirinya dengan selimut.


"Neng, masa masih aja malu-malu," goda Adhi lagi yang tampaknya belum puas.


"Pak Adhi! Kok Bapak jadi genit, sih?!" ujar Kanaya kesal.


"Gak masalah dong, kan genitnya sama Istri sendiri. Udah Halal dan gak ada yang ngelarang juga," jawab Adhi santai.


Ugh! Lagi-lagi Kanaya gak pernah bisa ngebantah omongannya Pak Adhi. Mungkin karena statusnya dua kali lebih tinggi darinya -sudah Dosen, sekarang Suaminya pula.


o o o o o


Sementara Kanaya membersihkan diri di kamar mandi, Adhi membereskan tempat tidur mereka yang merupakan sisa penjajahan semalam -bahkan sampai ada bekas pertumpahan darah di sana.


Adhi melihatnya dengan tidak percaya, belum lagi ada perasaan aneh yang muncul dalam dirinya. Ya ampun~ padahal dia bukan anak remaja yang baru puber, melainkan pria dewasa yang sudah berusia lebih tiga puluh tahun -tapi dia masih merasa asing dan malu-malu dengan hal seperti ini.


Apa karena selama ini dia selalu menutup diri -hingga dia kehilangan kepercayaan terhadap suatu hubungan, jadi sekarang dia sulit mengerti perasaannya? Entahlah. Itu bukan pertanyaan yang bisa dia temukan di dalam otaknya, bukan?


Tapi biarpun dia penasaran dengan jawaban yang dia dapat nanti, Adhi memilih tidak terburu-buru dan membiarkan semuanya mengalir saja -apa adanya.


Adhi menghentikan lamunannya dan pergi ke laundry room dengan membawa seprai kotor tersebut untuk dicucinya, lalu beranjak ke dapur untuk menempati janji berikutnya -membuat sarapan pagi ini.


Lalu setelah beberapa saat kemudian, sarapan sederhana yang dibuatnya telah matang. Adhi menyajikannya di meja, sebelum memanggil sang Istri untuk makan bersama.


"Yes Sir, I'm coming!!" jawab Kanaya dengan suaranya yang terdengar mendekat menghampiri dapur. "Bapak masak apa?" tanyanya seraya menarik kursi keluar dari meja makan. "Ohhh …," responnya ketika melihat isi piring dan duduk.



"Toast Bread and Scrambled eggs," jawab Adhi dan meletakan secangkir kopi panas dan segelas susu hangat di atas meja.


Ya ampun~ telor orak-arik aja sama roti teplon ... bergaya banget.


Kanaya terkekeh mendengar jawaban sang Dosen/Suami, lalu teringat sesuatu.


Adhi tampak heran. "Kenapa? Apa yang lucu?"


"Enggak Pak, saya cuman keinget sama temen saya yang paling bawel. Bapak tau kan, Adel?" ujar Kanaya dan mendapatkan anggukan dari Pak Adhi. "Jadi tuh si Adel, kalo kita ngomong pake istilah Inggris, dia bakal langsung komen tuh. Banyak gaya loh, ngomong kayak Bule -makan Singkong Oncom aja!!" ujar Kanaya menirukan Adel. "Ihhh!! Jadi kangen sama mereka, kalo liburan biasa maen mulu," imbuhnya.


"Udah, dimakan dulu sarapannya -nanti telat," titah Adhi.


Kanaya mengangguk dan melahap sarapannya dengan tangan, mengabaikan garpu dan sendok yang disediakan oleh sang Dosen/Suami.


"Enak gak?" tanya Adhi.


"Lumayan," jawab Kanaya seadanya.


Adhi kehilangan senyumannya. "Kamu gak ada niat muji saya, Neng?"


"Saya mah orangnya jujur, Pak. Gak pinter muji berlebih-lebihan, apalagi tujuannya cuman buat ngejilat. Bukan saya banget itu," dalih Kanaya mencari aman. "Tapi makasih Pak, udah dibuatin sarapan," lanjutnya.


"Iya, sama-sama," jawab Adhi lalu menyesap kopinya. "Tapi Neng, kamu mau sampe kapan terus-terusan manggil saya -Bapak? Bisa-bisa nanti orang salah ngira lagi, disangkanya -saya tinggal sama anak, bukan sama Istri," komentarnya.


"Lah~ Pak Adhi sih! Kan sebelumnya saya udah nanya, Bapak mau dipanggil apa? Katanya kalo dipanggil -Abang, kupingnya gatel," balas Kanaya.


"Mas," ucap Adhi.


"Apa?" sahut Kanaya yang belum nyambung.


"Mas?" ucap Kanaya malah balik bertanya.


"Iya, coba!" titah Adhi.


Bukannya segera mengucapkannya, Kanaya malah memalingkan wajah. "Ma … ma …," ucapnya putus-putus dan tak jelas.


"Heh~ yang bener, Neng. Madep sini!"


"Isshhh!! Gak bisa, Pak. Gatel mulut saya pas ngomongnya," gerutu Kanaya.


Adhi berdiri dari kursi dan tubuhnya menyebrangi meja, hingga wajahnya berada sangat dekat di depan Kanaya. "Dicoba! Panggil saya yang bener," desaknya. "Atau perlu saya garukin mulut kamu yang gatel pake bibir saya," ancamnya kali, namun sebenarnya dia hanya sedang menggoda sang Istri.


"Ihhh~ kan orang gak segampang itu bisa ngerubah kebiasaannya, Pa ___," ucap Kanaya terpotong dengan aksi mengejutkan sang Dosen/Suami.


Cup!


Adhi mendaratkan kecupan di bibir Kanaya. "Saya gak main-main waktu bilang, bakal garuk mulut gatel kamu pake bibir saja," ulangnya. "Nah! Coba panggil saya -Bapak- nanti saya cium kamu lagi."


"I … iya, MAS ADHI!" teriak Kanaya.


Adhi tersenyum puas. "Ya udah, diabisin sarapannya. Setelah itu saya antar kamu ke sekolah," ucapnya dan membereskan peralatan makan bekasnya sendiri.


Teringat penelitiannya hari ini, Kanaya buru-buru menyelesaikan sarapannya dan kemudian mencuci piringnya. "Ma … Mas, ini Susunya gimana? Harus di kemanain?" tanya Kanaya sembari memegang segelas Susu yang masih utuh.


"Kamu minumlah! Itu saya buatin untuk kamu."


"Saya gak biasa minum yang ada rasa-rasanya kalo pagi, suka mual," ucap Kanaya.


"Itu Susu Murni kok, lebih sehat malah."


"Saya punya Maag."


"Oh, kalau begitu jangan! Orang yang menderita Maag, alih-alih manfaat ... yang ada nanti makin parah keluhannya. Soalnya ada kandungan dalam susu yang dapat meningkatkan produksi zat asam yang gak baik bagi penderita Tukak Lambung," jelas Adhi.


Kanaya hanya menggumamkan -Oh, sebab selama ini dia tidak tau.


"Berarti kamu juga jangan konsumsi yang ada zat kafein, lemak, gas, soda dan pedas. Terus makan harus teratur dan jangan telat," imbuh Adhi.


"Saya gak segitu parahnya kok, sampe semua makanan dilarang. Malah sarapan Bubur Ayam pake sambel lima sendok, saya gak kenapa-napa tuh," elak Kanaya.


Tak!


Adhi menyentil kening Kanaya, hingga sang empu mengaduh. "Kalau dibilangin, jangan ngeyel!" omel Adhi.


"Beneran Pak!!" Keukeuh Kanaya tak mau kalah.


"Nah! Manggil Bapak lagi?" peringat Adhi.


"Maaf, Mas Adhi~~~," jawab Kanaya memainkan nada bicaranya dengan mendayu-dayu.


"Heh! Malah ngeledek." Adhi memelototi Kanaya.


"Ampun, Pak Adhi!!" teriak Kanaya dan berlari keluar apartemen.


o


o


B


E


R


S


A


M


B


U


N


G


o


o


Yang semalam abis perang, paginya udah damai ya~~


Ayo Neng, belajar manggil -Mas Adhi-


Biar gak disosor mulu bibirnya..


Emang dasar Pak Adhi suka isengin dan godain Kanaya dari awal, tapi kalo sekarang … nambah suka cari-cari kesempatan juga.


x x x x x x


Pas abis nulis Part sebelumnya, aku bingung gimana nasib Kanaya setelah malamnya … tapi baca komentar kalian, akhirnya aku menemukan pencerahan untuk kedepannya. wkwkwk ...


Di Part ini juga, aku nambahin adegan dari Kak Ernasunardi … yang Kanaya masih aja manggil Bapak-Bapak ..


Makasih semuanya~ atas dukungan kalian ^^


Ditunggu komentar-komentar unik dan luar biasa kalian.


Kalo berkenan, bantu VOTE juga … biar Ranking SIBWOL naik ..


See you~