Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
Part 26 - Dikerjain Ibu



Adhiandra, dia terpaksa membatalkan bimbingan skripsi dengan mahasiswanya hari ini untuk datang ke rumah orang tuanya atas permintaan sang Ibu yang terus menghubungi dan mendesaknya sejak kemarin. Bahkan setelah sarapan dia langsung pergi, tanpa mengerti apa maksudnya sampai dia harus berangkat sepagi ini.


Hmm~ sebenarnya dia sudah tahu apa maksud sang Ibu memintanya datang, tidak lain karena masalah perempuan yang akan beliau kenalkan padanya. Tetapi di lain pihak, kenapa sang Ayah jadi ikut-ikutan mendukung rencana sang Ibu? Hal itu membuatnya semakin sakit kepala, karena ada dua orang yang kini merengek padanya soal segera menikah.


Tin ... Tin ...


Adhi menekan klakson mobilnya karena pintu gerbang rumahnya tertutup. Tetapi setelah dia membunyikan klakson beberapa saat lalu, belum ada juga yang membukakan gerbang untuknya.


Akhirnya dia terpaksa turun dari mobil untuk membuka gerbang sendiri, namun saat dia hendak membuka gerbang dan melihat ke dalam –ternyata ada sang Ayah di halaman yang sedang memandikan Gatot Kaca dengan semprotan sembari bersiul dan mengoceh tak jelas.


Adhi geleng-geleng kepala, Bapaknya ini kalau sudah main sama anak barunya, beliau lupa sama anak kandungnya sendiri. Lalu Adhi berhenti mendorong gerbang saat melihat Narendra –sang adik bungsu, keluar dari rumah dengan berlari menuju gerbang.


Setelah memparkir mobilnya, dia menghampiri sang Ayah. “Assalamualaikum, Pak,” salam Adhi.


“Walaikumsalam. Oh! Adhi toh yang datang,” jawab Pak Efendi dan Adhi menyalimi punggung tangan ayahnya.


“Perjaka tua ... perjaka tua....”


Adhi melotot tak suka ke arah Gatot Kaca, si Burung Beo hitam. “Pak, si Gatot jangan diajarin ngomong yang aneh-aneh.”


“Yah, Bapak gak tau. Kalo Bapak seringnya ngajarin Gatot itu, nyanyi sama ngitung,” jawab Pak Efendi. “Ibu kamu kali,” imbuhnya.


“Ya ampun,” erang Adhi sembari mengusap kasar wajahnya.


“Perjaka tua ... Perjaka tua!” oceh Gatot Kaca lagi dan semakin membuat Adhi kesal.


“Heh~ Diam gak! Atau mau digoreng?” ucap Adhi pada si Gatot.


“Enak aja, sembarangan kamu ngomong. Burung kamu aja sono,” ucap kesal Pak Efendi lalu menepuk punggung Adhi dengan kencang.


Glup!


Adhi baru saja menelan ludah, rasanya seperti ada yang ngilu.


Namun dari arah belakangnya terdengar suara tertawa lantang, yang tak lain adalah sang adik –Rendra. “Mas! Udah, jangan gangguin kemesraan Bapak sama Gatot. Mending masuk aja sana, udah di tungguin Ibu tuh.”


Adhi tersenyum kecut.


Kalau begitu sama saja habis keluar kandang Singa, terus masuk mulut Buaya.


Dan ternyata benar saja, saat dia masuk ke rumah –di ruang tamu sudah ada sang Ibu yang sudah menunggu dengan duduk cantik di sofa sembari menyesap Teh pada cangkir bercorak bunga.


Bruk!


Adhi menjatuhkan bokongnya kasar ke sofa, mencoba mencari posisi nyaman dengan bersender. Namun sebelum itu, sang Ibu sudah mengintrupsinya.


“Kamu kemana dulu sih, Dhi?” Ibunya mulai ngomel.


“Macet Bu, inikan hari kerja,” dalih Adhi.


Ibu Ranti mendengus. “Dah yuk, jalan! Nanti pasarnya keburu diberesin,” ajak sang Ibu.


“Ngapain Bu?” tanya Adhi yang malas perangainya saat ini.


“Belanja buat bawaan ke rumah calon besan,” jawab Ibu Ranti sumringah.


“Ibu udah nyebut calon besan aja, emang udah pasti jadi?” sahut Adhi sinis.


“Ya, harus jadilah!” sahut Ibu sewot.


“Aku ketemu sama perempuannya juga belum, kalau dia nolak gimana?”


“Kamu tuh ya, Dhi! Apa-apa mikirnya udah jelek aja,” omel Ibu sembari mengusel-ngusel kepala sang putra sulung. “Anak itu, kalo orang tua udah setuju –dia pasti nurut aja,” imbuhnya.


“Gak semua anak sama baik dan penurutnya kayak aku, Bu,” jawab Adhi membela dirinya sendiri –sembari tangannya menyisir rambut.


“Kamu apanya yang penurut, sih? Bertahun-tahun Ibu nyuruh kamu nikah, gak pernah didenger,” sahut sang Ibu ketus, namun segera kembali berubah galak. “Udah! Kebanyakan ngomongnya, kapan jalan?” Bu Ranti menarik tangan Adhi agar bangun.


“Kenapa gak sama Rendra aja sih, Bu? Aku baru sampe loh ini, masih capek,” ujar Adhi beralasan.


“Capek abis ngapain? Nyetir sambil duduk juga,” sahut sang Ibu masih berusaha membangunkan putra sulungnya. “Lagian –kan yang mau ketemu calon itu kamu, jadi kamu yang kudu pilih barangnya. Dan sekalian kamu mau Ibu dandanin.”


“Heh? Dandanin gimana maksudnya, Bu?” tanya Adhi heran sekaligus waspada.


“Ke salon, biar muka kamu yang kumel ini jadi kinclong. Terus ini rambut gondrong, juga kudu di rapihin sama dicat lagi kalo bisa –takut ada ubannya. Abis itu kita shopping, baju kamu udah belel –kayak gembel,” ucap Bu Ranti tak ada habisnya mengomentari penampilan sang putra sulung.


“Ya ampun, Bu. Gak usah, makasih banget –aku gak mau! Kalo gitu mending aku pulang aja,” tolak Adhi dan melarikan diri.


◦ ◦ ◦


“Bude, gak bisa dimurahin lagi? Saya –kan beli buahnya banyak,” ucap Ibu Ranti yang sedang menawar harga pada pedagang buah.


Sementara di belakang Bu Ranti, berdiri dengan bosan sang putra sulung sembari memegang kantung belanjaan lainnya. Hah ... akhirnya Adhi ikut berbelanja juga dengan Ibunya, yang pasti karena dia kalah.


Tampaknya sang Ibu berhasil mendapatkan harga yang sesuai keinginannya, karena kini kantung bawaan Adhi kembali bertambah.


“Udah nih Bu?” tanya Adhi dengan suara lemahnya karena mulai lelah kalau harus berkeliling lagi sembari membawa semua belanjaan.


Ibu Ranti melihat-lihat belanjaan sembari mengecek. “Udah kayaknya,” jawab sang Ibu dan membuat Adhi dapat bernafas lega –akhirnya selesai. “Sekarang kita ke mall.”


Adhi membelakakan matanya, kaget. “Hah?! Ngapain lagi, Bu?”


“Kamu lupa ya? Kan mau gantengin kamu, kita ke salon,” jawab Bu Ranti dan tersenyum –jahat.


“Gak mau, Bu!” rengek Adhi memohon, namun tentu saja atak didengar oleh sang Ibu.





“Bu, ini kapan selesainya sih?” tanya Adhi mulai tak sabar karena sudah duduk hampir seharian.


“Diem! Jangan ngomong sama banyak gerak, nanti maskernya retak. Mau malah jadi keriputan kamu?” peringat sang Ibu yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.


Sungguh! Adhi baru pertama kali dicemek-cemek gini. Rambut dicat terus di creambath dan sekarang facial, lalu nanti lanjut manicure pedicure.


Macam-macam aja perawatan perempuan itu, anehnya mereka sabar banget. Untung ini dia gak diminta paket lengkap yang ada lulur terus berendam segala, entah berapa lama dan duit yang harus dia keluarkan nanti. Karena meskipun Ibunya yang menyuruh, beliau tak mau repot-repot keluar uang.


‘Kamu yang perawatan, kenapa Ibu yang harus bayar?’ begitu kata Bu Ranti.


Selesai dengan Facial, sekarang giliran manicure dan pedicure. Tetapi ternyata perawatan ini tak seenak sebelumnya yang pijatannya membuat nyaman. Melakukan perawatan pada kuku, terutama kaki –membuatnya geli. Adhi sampai menarik-narik kakinya saat digosok, benar-benar tak mau diam sampai membuat Ibunya gregetan.


Namun akhirnya semua penderitaan menyenangkan ini selesai dan hasilnya jelas berbeda kalau melihat penampilannya yang sebelumnya, dia yang abis dari pasar. Rambutnya pasti bau asem keringet, mukanya udah kayak kilang minyak dan kakinya yang dekil abis becek-becekan. Adhi salut sama Mbak salonnya yang gak ngedumel kayak Ibunya sampe ngatain dia gembel nyasar.


'Rambut, muka dan kukunya sudah kinclong. Tetapi untuk ukuran pria, melihat kukunya mengkilap –aneh rasanya,' gumam Adhi sembari menatap pantulan dirinya pada cermin.


“Udah, buru! Jangan ngaca mulu,” protes sang Ibu sembari menarik Adhi yang tengah asik melihat penampilannya setelah di make over.


“Mau kemana lagi sih, Bu?” tanya Adhi.


“Cari baju.”


Ternyata masih belum selesai, pemirsa.


°°°


Ibu Ranti membawa Adhi ke toko pakaian dan sepatu bermerk yang ada di mall itu, lalu menjejalkannya berbagai model untuk dia coba di ruang ganti sebelum dipamerkan pada Ibunya. Intinya hari ini sang Ibu adalah penata modenya.


“Bu, ini kapan selesainya? Tadi katanya buru-buru,” keluh Adhi sudah lelah karena terus diminta berpose sementara sang Ibu memotret dirinya dengan kamera ponsel.


“Sebentar, inikan Ibu foto biar nanti gampang pilih baju yang cocok buat kamu,” alasan Bu Ranti -ada saja.


Lalu wanita paruh baya itu mendekat dan berdiri di samping putranya, dia memanjangkan lengannya yang sedang memegang ponsel lalu menyesuaikan postur mereka dengan layar ponsel.


'Ibunya mau ngapain? Selfie? Belajar narsis dari mana coba?' benak Adhi melihat kelakuan sang Ibu.


Namun Ibu Ranti belum berhasil menyesuaikan angle, karena perbedaan tinggi mereka yang cukup timpang.


“Kamu kok tinggi banget sih, Dhi?” protes Ibu Ranti.


“Heh! Jangan bungkuk, jelek! Nanti lecek bajunya,” omel Ibu Ranti kali. “Nih, kamu aja yang pegang HP nya,” titah sang Ibu dan memberikan ponselnya pada Adhi.


“Ibu kok jadi narsis banget sih?” tanya Adhi namun sebenarnya bukan itu maksudnya bertanya, melainkan sama seperti sang Ibu yang mempermasalahkan tinggi badannya –dia juga demikian dengan kenarsisan Ibunya. “Udahlah Bu, gak usah selfie-selfie. Lagian untuk apa sih?”


“Untuk posting di sosmed lah,” jawab Bu Ranti enteng.


Adhi diam, tak mampu berkata-kata dan menuruti permintaan sang Ibu.


"Say Cheese!"


"Cherry."


"Honey."


"Money."


"Baby."


Cekrek .. cekrek .. cekrek .. 9999++


Rasanya tidak cukup satu kali jepretan untuk sang Ibu, kerena tangan Adhi sampai pegal. Belum lagi omongan anehnya untuk aba-aba sebelum menekan kamera, rasanya Adhi kalah hits sama Ibunya.


"Dah ya, Bu. Kita pulang," mohon Adhi.


°


°


°


Namun ternyata saat tiba di rumah, Adhi belum bisa bersantai. Pasalnya dia harus membuat parsel dari bahan makanan kemasan dan buah-buahan yang mereka beli di pasar.


"Bu, parselnya banyak amat. Emang buat siapa aja?" tanya Adhi.


"Buat kamu bawa ke tempat calon besan lah," jawab Ibu.


"Kalo sebanyak ini, udah kayak buat hantaran aja."


"Ya, gak apa-apa. Namanya kamu dateng ada maksud, kudu bawa sesuatu buat pemulus."


"Kenapa gak beli parsel yang udah jadi aja, Bu? Kan kalo bikin sendiri ginikan ribet." Kali ini Rendra yang mengeluh, karena dia kecipratan getahnya ikut membantu menyusun parsel.


"Kalo parsel jadi itu, udah kelamaan dan berdebu. Belum lagi kadang ada yang kadaluwarsa, terus buah juga udah gak seger," jawab Ibu. "Udah kerjain aja, jangan banyak ngeluh," sentak Ibu pada dua putra.


Tak!


"Bapak!" Jerit Ibu Ranti sembari menepuk punggung tangan sang suami yang nakal memotek pisang.


"Minta Bu, buat si Gatot," jawab Pak Efendi memelas.


"Ih … Bapak ini! Inikan buat dibawa Adhi ke rumah Pak Haris," kesal Ibu.


Pak Efendi menaruh kembali dua pisang yang baru di poteknya.


Bu Ranti tampak menghela nafas. "Udah, ambil aja nih semua. Tapi beliin lagi Pisangnya yang bagus," tegasnya pada sang suami.


Mau tak mau, Pak Efendi harus menuruti ucapan sang istri. "Ren, ayuk ikut Bapak cari Pisang," ajaknya.


"Jalan sendiri! Rendra masih harus bantuin disini," potong Bu Ranti.


"Ya udah Pak, sama aku aja," Adhi menawarkan diri untuk mengantar sang Ayah, selain karena dia hendak kabur dari Ibunya.


"Kamu sana mandi, Dhi. Siap-siap," titah sang Ibu padanya.


Ya ampun.


°°°


Adhi keluar kamar setelah dirinya rapi, dia pergi mencari keberadaan orang tuanya. Namun yang dia temukan, mereka berdua masih bersantai sembari menonton TV.


"Bu, Pak! Kok belom rapi sih? Katanya mau jalan," tanyanya.


"Ya~ ngapain? Orang kamu doang yang pergi," jawab sang Ibu masih fokus pada Sinetron Hidayah Siang yang mereka tonton.


"Sendiri aku, gitu?" tanyanya lagi dan malah ikut duduk di sofa sebelah sang Ibu.


"Iyalah! Masa harus ditemenin. Lagian kemaren kan Bapak sama Ibu udah dateng promosiin kamu, sekarang gantian kamu yang take a deal,” imbuh Ibu.


“Kan aku belum pernah ketemu orang sama keluarganya,” dalih Adhi.


“Ya gampang, nanti tinggal kenalan kan,” jawab Ibu mengentengkan.


“Seenggaknya kasih tau aku dulu, orangnya kayak gimana –biar aku ada gambaran,” pinta Adhi.


Ibu Ranti menatap putranya, Adhi menanti dengan berharap. “Biasa aja ngeliatinnya,” ujar Bu Ranti yang risih ditatap oleh anaknya sendiri dan mencaplok wajah Adhi. “Udah, sana jalan aja. Terserah kamu mau pake strategi apa, intinya asal diterima aja,” imbuh Bu Ranti dan mendorong Adhi untuk beranjak dari sofa.


“Lah, kalo aku yang gak suka gimana?”


“Gak bakal! Orang Bapakmu aja udah suka sama setuju,” jawab Bu Ranti dan Pak Efendi mengacungkan jempolnya.


“Yang mau nikahkan aku Bu, kenapa urusannya sama Bapak?”


Bu Ranti memasang wajah datar, sebelum wajahnya celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. “Pergi sekarang!” omel Bu Ranti sembari mengangkat kemoceng.


Adhi segera berangkat.


“Ya ampun, disuruh nyamperin perempuan aja susahnya minta ampun. Gimana kalo datengin Dedemit, coba?” keluh Bu Ranti sepeninggalan putra sulungnya.


“Bismillah aja Bu, semoga sekarang ini pilihan dan waktu yang tepat,” ucap Pak Efendi.


“Aamiin Pak,” jawab Bu Ranti.


Dan pasangan suami istri itu, kembali melanjutkan untuk menonton Sinetron TV lagi.



T


B


C



Gimana ya, hasil bertamu Pak Adhi ke rumah calon yang tidak dia sangka itu?


Btw, Pak Adhi sama Bu Ranti ini pasangan Ibu-Anak favorit aku xD


Gemes kalo mereka udah interaksi dan seneng banget liat Pak Adhi ditindas sama Ibunya. Hahah ...


Kapan lagi coba, liat Pak Adhi yang nyeremin di kampus ini ciut?


> > > >


Mohon maaf ya, membuat kalian menunggu update.


Adekku bikin gara-gara, laptop dimatikannya pula .. jadi kudu nulis lagi sebagian part


😭😭


Ya ampun, keselnya sampe ke ubun-ubun..


○○○○


Terima kasih sudah membaca dan dukungannya.


See you~