Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 51 - Damai]



Kanaya dan Adhi sedang ada di kamar saat ini, masih saling bungkam meski duduk bersebelahan di atas tempat tidur. Namun keheningan ini, bukan berarti tak ada yang ingin dikatakan –melainkan banyak sekali, hanya sulit untuk diungkapkan.


“Maaf,” kata itu sekali lagi keluar dari mulut Adhi, rasanya belum cukup dan terbayar salahnya pada sang Istri.


Kanaya menoleh dan bicara, “Eneng kan udah bilang, kalo udah maafin Mas.”


Adhi menggelengkan kepalanya pelan. “Enggak, Mas ngerasa harus minta maaf lagi sama Eneng –seperti masih ada utang yang harus dilunasi sampai tuntas.”


Kanaya termenung memandangi sang Suami, dia meneliti setiap inci wajah di hadapannya –ekspresi. Dan mulai berpikir, seperti sudah jadi karakter Mas Adhi kalau suatu masalah harus diselesaikannya sampai tuntas. Kalau tidak, akan terus mengganjal di hatinya.


“Kalo gitu boleh Eneng tanya?”


“Apa?”


“Gimana perasaan Mas setelah bertemu lagi dengan Mbak Sukma?” pertanyaan Kanaya seperti permintaan yang menginginkan kejelasan dan kepastian dari sang Suami, namun sebenarnya itu untuk meyakinkan dirinya sendiri –dia khawatir dan takut akan suatu hal yang tak ingin dia bayangkan sekalipun.


“Mas gak punya perasaan apa-apa dengan Sukma, Neng. Tolong Percaya sama Mas!” jawabnya cepat dan tegas, namun terdengar lirih.


“Iya percaya, Eneng cuman mau tau. Jadi tolong cerita,” pintanya lembut.


Adhi menghela nafas panjang, itu cukup berat baginya untuk jujur –bukan karena dia bohong, tetapi dia takut akan suatu hal yang tak ingin dia bayangkan sekalipun.


“Gak apa-apa Mas, Eneng akan mendengarkan.”


“Waktu bertemu kembali dengan Sukma, rasanya amarah Mas meluap gitu aja –sampai gak mau melepaskan dia sebelum tau alasan dia kenapa pergi dulu. Cuman itu Neng, gak ada maksud lain,” jawab Adhi kemudian meyakinkan Istrinya kembali.


“Iya Mas,” jawab Kanaya sembari mengenggam tangan sang Suami seakan memberitahu bahwa dia mempercayainya. Hanya saja, rasa khawatir tak lantas hilang. “Terus ... setelah Mas dapat jawaban dari Mbak Sukma, gimana perasaan Mas? Kenapa Mas ngerasa harus menjelasakan ke yang lain tentang alasan kepergian Mbak Sukma?”


“Setelah mendengarkan alasan Sukma, Mas ngerasa bersalah juga iba ... dan berpikir, bagaimana kalau hal itu terjadi pada saudara perempuan Mas –rasanya gak adil kalau dia harus terus disalahpahami setelah penderitaan yang dia alami.”


Setelah mendengar jawabnya, Kanaya berpikir kalau suami memiliki rasa empati yang besar –bahkan melebihi dirinya yang seorang perempuan. Lalu dia teringat bagaimana Suaminya itu sering kali menolongnya dulu sebelum mereka menikah. Ya Rabbi, tampaknya dia sangat beruntung memiliki Suami seperti Mas Adhi.


Kanaya tersenyum sumringah tak dapat menyembunyikan rasa syukurnya, lantas dia segera memeluk Suaminya itu –lama. “Eneng percaya sama Mas, 100%!!”


Kini rasa khawatir dan takut akan suatu hal yang tak ingin dia bayangkan sekalipun, sudah sirna –Suaminya tak akan meninggalkannya.


Sangking senangnya, Kanaya tak dapat mengontrol diri dan menyambar bibir sang Suami yang ada di hadapannya.


Chup!!


Hanya kecupan singkat, namun berakibat fatal bagi keduanya. Terkejut? Tentu. Tapi satu-satunya yang menanggung malu hanya Kanaya seorang dan dia langsung berbalik sembari menutupi wajahnya dengan menjatuhkan diri di tempat tidur.


“Neng!” panggil Adhi sembari mengguncangkan tubuh Istri. “Hey~ kenapa ngumpet gitu? Mana sini, Mas mau liat muka yang barusan cium Mas. Gak nyangka, Eneng bakal nyium duluan. Udah berani ya,” godanya.


Kanaya menggelengkan kepalanya kuat, sembari masih mempertahankan posisinya untuk menyembunyikan wajahnya.


Terlalu gemas dengan kelakuan sang Istri, akhirnya Adhi menarik Kanaya hingga dia terbaring terlentang. Adhi tersenyum puas, kini dia dapat melihat wajah bersemu merah milik Istrinya. “Neng~ jangan kira setelah kamu nyuri Start duluan, terus abis itu kamu aman,” ucap Adhi sembari mendekatkan wajah mereka.


“Ya?”


“Mas gak bakal kalah dan juga gak mau ngalah sama kamu.”


Kanaya tak tau, entah kenapa tiba-tiba dia merasa panas dan dingin di saat yang bersamaan. Tapi dia merasakan firasat buruk akan hal tersebut.


“Yang tadi, boleh Eneng yang mulai, tapi Mas yang akan selesaikan,” ucap Adhi dengan nafas yang terdengar berat.


Kali ini Kanaya benar-benar yakin kalau dirinya sedang dalam bahaya. “Mas mau ngap ___?!”


Adhi tak memberikan kesempatan untuk Kanaya melanjutkan ucapannya, karena jawabannya lebih mudah bila langsung dilakukan dengan tindakan ketimbang kata-kata.


Ciuman dalam dan intens, cukup membuat pasangan ini kekurangan pasokan oksigen, hingga perlu waktu beberapa saat sebelum lanjut ___.


“Mas!” Kanaya menghalangi bibir sang Suami yang hendak menerkamnya lagi dengan kedua tangannya. “Mas, ini tengah hari bolong loh!” omelnya sembari menunjuk ke jendela yang menampilkan langit terang benderang.


“Emang ada larangan Suami Istri gak boleh begituan pas siang hari?” balas Adhi.


“Tangan Mas kan masih sakit,” dalih Kanaya.


“Gak masalah tuh, Mas baik-baik kok,” jawab Adhi santai.


Dia yang masalah dan gak baik-baik aja, tau!! Argh!! Dia harus alasan apa lagi coba? “Mas, nanti setelah Magrib kan kita pulang,” ucap Kanaya memelas.


“Berartikan masih ada waktu,” jawab Adhi dengan tersenyum penuh makna.


Bendera putihnya berkibar. Kalah, dia kalah! Dia sudah tak bisa berdebat dengan Suaminya.


Sementara itu, lain dengan Adhi yang merasa menang setelah melihat ekspresi sang Istri yang tampaknya sudah memberinya ijin untuk melanjutkan kegiatan sebelumnya.


O


X


O


X


O


Pada akhirnya Adhi dan Kanaya tak jadi pulang hari ini dan kembali bermalam di rumah Eyang karena kondisi Kanaya yang kurang baik lantaran kegiatan mereka siang tadi, atau lebih tepatnya karena dirinya –Adhi yang terlalu bersemangat sampai membuat pinggang Kanaya nyeri.


Tapi yang dikeluhkan dan dipusingkan Kanaya saat ini bukan perihal kegiatan mereka siang tadi, melainkan Skripsinya yang harus tertunda lagi.


“Udah Neng, gak usah dipikirin mulu skripsinya. Enggak akan kelar juga, karena gak bisa dikerjain sekarang,” ucap Adhi mencoba untuk menenangkan sang Istri sembari memberi pijitan di atas pinggangnya yang dialasi handuk hangat.


Tetapi bukannya tenang, wajah Kanaya malah tambah keliatan bete setelah dibilang seperti itu oleh Adhi.


“Ya~ abis mau gimana lagi, kamu juga sekarang sakit. Bangun aja gak kuat –lemes, gimana mau pulang perjalanan jauh? Bisa-bisa pingsan. Mana Mas juga gak bisa gendong, karena tangan lagi begini,” imbuh Adhi sembari menggerakan tangannya yang dipasang penyangga. “Emangnya kamu mau dibopong-bopong sama orang?”


Kanaya dalam benaknya mengumpat. Padahal tadi siang, bilang tangannya gak apa-apa. Sekarang begitu alasannya.


Sang Istri hanya diam, tetapi Adhi tau kalau Istrinya itu kini setuju dengan apa yang diucapkannya. Bagaimanapun itu juga demi kebaikannya.


“Neng, kan udah Mas bilang ... kalau nanti Mas akan bantu kerjain skripsinya. Diketikin malah, kurang apa lagi coba?” bujuk Adhi kali ini.


“Ch! Ngetik pake satu tangan, emang bisa?” tanya Kanaya ragu dan terkesan meremehkan.


“Eh, jangan salah! Mas mah mahir ngetik, lagian yang luka itu lengannya –bukan jarinya,” balas Adhi tak mau kalah.


“Tapi kan tetap aja, tangan Mas lagi sakit. Jadi jangan dulu banyak dipake gerak, takutnya nanti malah kenapa-napa dan lama sembuhnya,” ucap Kanaya balik mengkhawatirkan Suaminya.


“Ya~ terserah Eneng aja lah, Mas mah cuman nepatin janji. Lagian yang tadi siang aja bisa dan gak kenapa-napa, kalau cuman ngetik mah –kecil,” jawab Adhi santai dan menghentikan pijatannya di atas pinggang Kanaya.


“Terus ... berarti besok Eneng gak masuk kelas dong?”


“Iya lah, kecuali kamu punya Pintu Kemana Saja Doraemong.”


Tampang Kanaya langsung bete lagi, orang lagi serius malah dibercandain. Pengen jitak rasanya, tapi gak berani soalnya bukan cuman Suami, Dosennya juga –bisa double dosanya. Sabar~


“Bilang aja ada urusan keluarga.”


Kanaya mikir, kalau alasannya ada urusan keluarga –berita acaranya apa? Dia kan sebenarnya pergi buat liburan.


“Yang lain?” tanya Kanaya lagi.


“Sakit, kan kamu emang sakit.”


Kanaya tersedak mendengar jawaban itu, karena dia teringat dengan ___.


Enggak ... Enggak! Aish~ kenapa sih otaknya malah mikir ke situ terus?! Berasa jadi orang FikTor!!


Tak lagi memusingkannya, Kanaya segera mengambil ponselnya dan mengirim chat grup pada dua sejolinya, Adel dan Jani.


Kanaya : Hi Guys~ besok gue gak bisa masuk kelas, soalnya lagi gak enak badan. Tolong ijinin ke dosen ya~


Makasih 😘


Tak lama setelah Kanaya mengirim chat tersebut, selang berapa menit dia langsung mendapat balasannya.


Adel : Yah~ berarti besok gak ada yang nemenin gue buat bimbingan dong?


Seketika Kanaya langsung menoleh pada Suaminya dan bertanya, “Mas besok ada jadwal bimbingan?”


“Yah?” Adhi masih mikir. “Oh iya! Ya ampun, kok bisa lupa ya?” Setelahnya giliran Adhi yang mengirim chat pengumuman di grup bimbingannya perihal penundaan untuk mahasiswa yang besok bimbingan karena dirinya sedang dalam masa pemulihan dan permintaan maaf.


Satu persatu mulai ada balasan dari mahasiswa yang kecewa dan bertanya, terutama tentang kapan jadwal selanjutnya. Namun Adhi hanya membalas akan mengabarinya kemudian, lagi-lagi mahasiswa hanya bisa menunggu dosennya.


Kanaya yang ikut membaca chat grup, dia tak enak hati. Biar bagaimanapun, jadwal bimbingan teman-temannya tertunda juga karena dirinya yang tidak hati-hati dan menyebabkan Suaminya mengalami kecelakaan.


“Neng, kenapa mukanya murung gitu?”


“Hah? Oh itu, abis Eneng gak enak sama temen yang gak bisa bimbingan besok.”


“Gak enaknya kenapa?”


“Tangan Mas kan sakit gara-gara Eneng, jadinya Mas gak bisa ngajar deh,” sesal Kanaya.


Adhi mengusap puncak kepala Istrinya. “Ya ampun Neng, kalo gitu Mas juga salah dong.”


“Loh kok, kenapa?” Kanaya bingung.


“Kan alasan sebenarnya kita gak jadi pulang karena Mas bikin badan kamu pada sakit,” jawab Adhi dengan nada usil dan menyengir.


Kanaya mendesis sebal, Adhi tertawa.


“Lagian kalo cuman bimbingan mah, gak perlu repot pake tangan –kan cuman periksa doang, lain kalau ngajar. Dan bukannya mahasiswa itu senang kalo Dosennya ijin, ya?”


Senang banget malah, apalagi kalo Mata Kuliahnya gak asik dan dosennya killer –kelas rasa surga! Pesis model Suaminya ini, Dosen Matematika yang bikin Mahasiswanya mati-matian buat lulus mata kuliahnya.


Setelah memikirkannya, Kanaya hanya dapat tersenyum.


“Tenang aja, Mas jadi Dosen gak kolot-kolot banget kok. Kadang Mas kalo lagi malas ngajar, juga suka bolos ngampus. Itung-itung berbagi kebahagian sama mahasiswa, biar bagaimanapun capek juga ngajar 6 hari dalam seminggu terus ditambah bimbingan dan lain-lain. Dosen juga butuh liburan, jadi kalau ada kesempatan –kenapa gak dimanfaatin?”


“Oh~ Jadi sekarang Mas lagi manfaatin kesempatan?”


“Iya,” jawab Adhi tanpa ragu. “Apalagi sekarang ada Istri yang nemenin, jadi makin betah liburannya.”


“Ingat Mas, Istrinya ini juga mahasiswa yang butuh Dosennya.”


“Nilai dari Dosen, maksudnya?”


“Betul!” jawab Kanaya tanpa mengelak dan terkekeh.


“Hah~ dasar!” Adhi menyentil hidung Istri dan ikut tertawa.


Tok! Tok!


Mendengar suara ketukan pintu, Adhi dan Kanaya langsung menghentikan tawa mereka.


“Udah malam, tidur! Jangan sampai besok ketinggalan kereta lagi,” omel Eyang.


“Iya Eyang,” jawab Adhi lantang.


Ya, tadi mereka memang bangun kesorean karena lelah dan ketiduran setelah ___. Ah sudahlah~ sekarang lebih baik mereka segera tidur sebelum pintunya digedor lagi oleh Eyang.


Adhi lantas beranjak dari tempat tidur untuk mematikan saklar lampu.


Klek!!


O


O


O


B


E


R


S


A


M


B


U


N


G


O


O


O


Makasih udah baca dan dukungannya ^^


See You~