
Suasana kelas sangat sunyi, tak ada yang bicara kecuali mahasiswi yang sedang presentasi -Muthia. Sementara Pak Adhi, beliau sedang membaca Proposal Skripsi milik mahasiswi tersebut dengan sesekali menorehkan penanya atau melirik kemanapun dia mau, termasuk pada Kanaya sehingga gadis kaget ketika tatapan mereka bertemu.
Hanya beberapa menit dan Muthia sudah menyelesaikan presentasinya. Ya~ pada Seminar ini, kami memang baru menyelesaikan sampai tiga bab saja. Lalu isinya juga hanya berupa materi atau informasi lainnya, belum sampai hasil penelitian. Masih gampang, karena tinggal nyalin buku dan sedikit berimajinasi untuk menyusun kalimat biar kece.
Setelahnya, Muthia duduk di bangku depan Pak Adhi yang dibatasi meja beliau. Mereka tampak bercakap-cakap, tidak, itu lebih terlihat seperti interogasi. Soalnya tampang Pak Adhi serius banget.
Ah~ Kanaya penasaran, apa yang ditanyakan Pak Adhi. Meskipun sudah duduk di baris ke dua, tetap saja tidak kedengaran. Sayang sekali, dia tidak bisa mendapatkan bocoran, padahal habis ini dia maju.
Malangnya nasibmu, Nak.
"Kanaya Cempaka, silakan maju," ucap Pak Adhi yang sukses membuat Kanaya hampir kena serangan jantung.
"Baik, Pak," jawab Kanaya dan bangun sembari memakai jas almamaternya.
Kanaya berdiri di tengah depan kelas setelah dia menyiapkan presentasinya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Kanaya memberi salam pembuka dan dijawab oleh rekan mahasiswa dan juga Pak Adhi. "Perkenalkan Nama saya Kanaya Cempaka, kelas ×××." Kali ini dia memperkenalkan dirinya. "Disini saya akan mempresentasikan isi Proposal Skripsi saya yang berjudul Analisis ×××."
Klik.
Kanaya menekan remote Proyektor LCD dan slide pada presentasi berganti pada halaman selanjutnya dan dia mulai memaparkan isi Proposal Skripsi secara runut mulai dari;
"Bab 1, tentang latar belakang yang menjadi alasan kita memilih untuk meneliti judul tersebut dan memaparkan masalah-masalah yang ingin kita selesaikan melalui penelitian.
....
Bab 2, berisi teori yang menjadi rujukan sekaligus landasan dalam Skripsi sehingga relevan dan dapat ditanggung-jawabkan keilmuannya. Lalu ….."
"Cukup."
Satu kata dari Pak Adhi mampu mencekat tenggorokan Kanaya dan gadis itu langsung berhenti bicara.
"Mbak Kanaya, silakan duduk." Pak Adhi mempersilakan bangku di depannya.
Kanaya menghampiri bangku tersebut dengan perasaan gentar.
"Dengar!" Pak Adhi bersuara lantang, sehingga perhatian seluruh mahasiswa di kelas teralih padanya. "Saya minta kalian itu untuk presentasi, bukan baca. Kalian tau gak sih, cara presentasi itu gimana?!"
Kayana yang merasa jadi objek pembicaraan sang dosen hanya dapat mendengarkan dalam diam dengan kepala setengah tertunduk.
"Jangan kalian kira, saya tidak lihat berarti saya tidak tau. Bahkan kalian yang duduk di bangku masing-masing, saya bisa dengar kalian mengobrol. Dan karena itu juga saya meminta Mbak Kanaya untuk berhenti. Apa kalian merasa sudah pintar, begitu? Makanya tidak memperhatikan teman yang di depan, atau karena materinya berbeda dan kalian merasa itu tidak penting?" cerca Pak Adhi panjang lebar.
Hah~ Kanaya kira, Pak Adhi nyuruh dia berhenti karena salahnya seorang. Tetapi kini dia sedikit bisa bernafas lega -dengan pelan tentunya.
"Mbak Kanaya!" panggil Pak Adhi sembari mengetuk meja.
Ups! Ternyata Kanaya belum bisa bernafas lega, karena sekarang tampaknya menjadi gilirannya.
"Ya, Pak?"
"Bisa kamu jelaskan kembali isi Proposal Skripsi kamu? Dan tolong dipersingkat."
Lagi? Terus tadi di depan dia ngapain? Udah ngoceh panjang lebar juga.
"Presentasi kamu terlalu panjang, saya tidak bisa menangkap inti dari pembahasan kamu. Bahkan kamu terkesan hanya membaca slide, belum lagi -nada bicara datar, hanya fokus pada layar dan mengabaikan audience. Kamu tahukan, penilaiannya bukan cuman kamu ngumpulin Proposal Skripsi saja?"
Kanaya memilih mengangguk sebagai jawaban, meskipun sebenarnya dia tidak tahu pasti tentang penilaian Seminar ini, karena Pembimbingnya tidak memberitahu dengan jelas.
"Silakan jelaskan kembali. Kamu tidak jiplak atau pakai jasa ketikkan, bukan?" Sarkas Pak Adhi belum hilang juga.
Akh~ bangku panas dimulai.
Kanaya menjelaskan kembali isi Proposal Skripsi nya, empat mata dengan sang Dosen dan ditambah selingan pertanyaan tak terduga yang semakin membuat mikir tujuh keliling untuk mencari jawaban tepat.
Bisa bayangin, gak? Gimana adrenalinnya terpacu. Asal tahu saja, dibalik jas almamaternya -kemeja Kanaya sudah basah akibat keringat yang terus ngucur sederas tanggul bendungan jebol.
"Kamu ngambil judul tentang Analisis, kamu tahu tidak maksudnya?"
Kanaya menjawab dengan mudah, karena kalimat tentang pengertian dari Analisis tersebut sudah terangkai di pikirannya. Setidaknya itulah yang awalnya dia kira, tetapi ternyata dia salah.
"Itu pengertian dari Ahli ×××," sahut Pak Adhi sembari menunjukkan kalimatnya pada lembar Proposal Skripsi yang ada di paragraf pertama. "Kamu cuman ngehafal doang, kan?" Tuduhnya.
Glek!
Kanaya baru saja menelan ludahnya, dia ketahuan. Karena memang benar dia menghafal dan b*dohnya cuman satu pengertian itu doang. Jadi kalau ditanya yang lain, maka dia langsung minta maaf.
"Ini jenis penelitian yang butuh studi mendalam. Apa alasan kamu sampai memilih judul Analisis?" pertanyaan lainnya yang mematikan dan tidak ada di Proposal Skripsi nya.
Kalau boleh jujur, Kanaya ingin menjawab -dia cuman ngikutin dari Skripsi orang dengan alasan 'Wih, keren nih!' Dan begitulah judul tersebut tercipta.
Tapi kalau dia jawab begitu, bisa-bisa dia kena semprot Pak Adhi.
"Kalau kamu tidak paham, sebaiknya kamu ganti judul. Paling tidak, kamu tidak perlu memakai bagian yang sulit," ucap Pak Adhi yang kini nada suaranya lebih lembut.
Kanaya yang otaknya tadi sempat buntu, berubah menjadi tercerahkan. Ternyata Dosen Gebetannya Adel, gak buruk-buruk amat omongannya.
"Proposal kamu ini, masih sangat kurang kalau mengangkat judul Analisis. Identifikasi masalah, teori, metodologi … semua masih ngambang," imbuh Pak Adhi dan menutup lembar Proposal Skripsi tersebut dan mengembalikannya pada Kanaya. "Lebih diperbanyak referensi dan pahami metodelogi nya. Lalu perbaiki penulisannya juga; masih banyak salah ketik, margin, spasi, cara pengutipan dan daftar pustaka -BERANTAKAN!! Mbak, tolong dibaca lagi buku Pedoman Penulisan Skripsinya. mengerti?"
Kanaya mengangguk.
"Sudah, kamu boleh duduk di bangkumu."
Seburuk itukan Proposal Skripsinya? Bisa lulus Bab selanjutnya kah dia?
"Kalau saya Dosen Pembimbing kamu, Proposal Skripsi seperti ini tidak akan saya kasih ACC dan loloskan untuk seminar," ucap Pak Adhi pelan hampir terdengar seperti berbisik saat Kanaya hendak meninggalkan kursinya.
Jder!!
Bagai petir di pagi bolong yang menyambar pohon sampai terbakar ke akar, mungkin seperti itu perasaan Kanaya yang sedang menahan kesal hingga raut wajahnya berubah kasar.
Kejam bener ni Dosen ngomong begitu. Dikata, selama ini dia ngerjain asal-asalan apa?
Kanaya yang tadinya sudah mengangkat bokong, dia kembali duduk. Matanya menatap lurus ke arah sang Dosen Penguji dengan berani.
"Maaf Pak, kalau Proposal saya tidak cukup layak untuk Bapak, saya tidak tahu menahu soal itu. Sejauh ini, saya sudah mengerjakannya sesuai dengan apa yang Dosen Pembimbing saya bilang. Meskipun beliau tidak selugas Bapak mengomentari setiap kesalahan di Skripsi mahasiswa satu-persatu, karena memang ada keterbatasan waktu dan beliau cuti lebih awal. Tapi saya masih bersyukur bisa menyelesaikan Proposal ini sesuai tenggatnya dan ikut seminar, biarpun hasilnya sehancur ini. Setidaknya saya sudah mencoba dan berusaha mengerjakan. Kedepannya saya akan perbaiki. Terima kasih, Pak. Saya permisi kebelakang." Kanaya mengakhiri ucapannya dengan satu tarikan nafas dan segera melesat pergi meninggalkan kelas.
Pak Adhi, dia terbengong dengan sesekali mengedipkan matanya. Tampaknya Dosen yang di cap bermulut pedas ini cukup terkejut, karena baru saja mendapat serangan tak terduga dari mahasiswi yang biasanya takluk padanya, hingga dia perlu waktu untuk mencerna apa yang baru saja dia dengar.
- - -
Sementara Kanaya yang saat ini ada di toilet, dia terduduk di closet (WC duduk) sembari menyesali kelakuannya pada sang Dosen Penguji beberapa saat lalu.
"G*la! G*la! G*la banget, emang lo Kanaya!!" ujarnya memaki diri sendiri sembari menjenggut rambutnya.
"Huaaaa … Ibu, Bapak! Maafin Kanaya, bukannya buru-buru lulus, tapi malah nambah semester. Bisa-bisanya sih lo, Nay … proses sama Dosen Penguji." Dia mewek. "Huaaa … Jani, Adel. Maaf kita gak bisa wisuda bareng."
"Huaaa … sukur aja lo, Nay … abis ini jadi babu si Dhika," oceh Kanaya lagi karena teringat taruhannya dengan sang Abang.
Setelah beberapa penyesalannya, akhirnya Kanaya berhasil menghentikan sedih-sedu nya. Dia keluar dari toilet dan menuju wastafel.
Tetapi betapa terkejutnya dia, saat melihat penampakan di cermin yang mengerikan. "Haaaaa!! Siapa itu??!! Jelek banget!!" teriaknya pada pantulan dirinya sendiri yang eyeliner nya tampak luntur hingga belepotan ke pipinya.
Kanaya buru-buru membasuh wajahnya sekaligus membersihkan hidungnya yang penuh cairan bening nan lengket.
Euww!! Mana gak ada tissue.
Lalu setelah itu, kembali ke kelas meski sebenarnya dia enggan dan ingin kabur saja.
••
T
B
C
••
Gimana nasibmu, Nay?
°°°
Butuh perjuangan buat nyelesaiin Part ini ... terutama pas bagian Kanaya protes ke Pak Adhi. Aku perlu nyusun kata-katanya sampai hampir setengah jam (sampai ngantuk dan ketiduran).
Soalnya itu bukan hal yang biasa terjadi, mahasiswa protes ke dosen. Jadi setidaknya bahasa tetap harus sopan dan beralasan.
Selainnya itu, aku juga perlu riset di Part ini, sampai bongkar skripsi aku sendiri dan Googling materi.
Biarpun ini cuman fiksi, tapi aku gak mau mengabaikan informasinya. Karena selain cerita, aku juga mau berbagi pengalaman dan pengetahuan.
Mohon dukungannya, ya~~
#wink
>>>
Okay, lanjut!
Jadi di Part ini aku banyak menuangkan pengalaman pribadi, meskipun kejadian sebenarnya gak persis kayak Kanaya sama Pak Adhi.
Alhamdulillah, Dosen Penguji ku baik. Meskipun aku sempat dibuat kicep juga.
Dan pas aku seminar, sebenarnya masih di dampingin sama Dosen Penguji, tapi mana ada dibantuin. Malah anak bimbingannya ikut dilibas pertanyaan. Dan saat itu, aku merasa di khianati. Hiks …
'Bu, kan Ibu yang nyuruh saya buat begini. Kok disalahin?' Niatnya mau protes gitu. Tapi apa daya, cuman ketahan di tenggorokan. Daku tak seberani Kanaya.
Dan judul skripsi aku, kasusnya sama Kanaya. Dibantai buat ganti judul.
Sok-sok'an pake Analisis, biar keliatan keren.
Btw, aku itu emang nyomot judul dari Tesis (Skripsi nya mahasiswa S2).
Belagu banget emang. Wkwkwk
Kalau soal aturan kepenulisan, Alhamdulillah ... setidaknya pas seminar aman. Hoho …
×××
See you~
Thank you!!